Princess Catfish & Prince Charming

Princess Catfish & Prince Charming
Kakek


__ADS_3

Di dalam mobil perjalanan kembali ke hotel setelah mengantar Rere pulang.


"Menurut kakak, siapa Brian ya? Mantan Rere?" Tanya Leo dari kursi belakang.


Alex yang sedang menyetir mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saja. Rere kan manis."


"Tahu gak kak, julukan dia apa? Ice Princess. Nih lihat komentar di IG dia. Kebanyakan pria yang bilang dia patah hati." Leo menunjukkan foto dari handphonenya.


William dengan kasar merebut handphone Leo dan mencatat sesuatu dengan handphonenya. Lalu setelah selesai, William memberikan kembali handphone Leo pada pemiliknya.


Leo dan Alex hanya memandang heran tingkah William. Tidak pernah dia sekasar itu.


***


Dengan tubuh gontai Rere berjalan memasuki kamar kostnya yang gelap. Rere merobohkan tubuhnya di atas kasur busa yang belum lunas di cicilnya.


"Hi my prince terima kasih sudah menemani aku. Tenang, bulan ini kamu lunas." Kata Rere sambil mengusap-usap kasur yang dinamainya Prince itu dengan tangannya. Kasur kebanggannya karena di belinya dengan gajinya walau mencicil.


Pikiran Rere melayang ke kejadian hari ini. "Kenapa dia wangi banget sie.." gumam Rere. Wangi tobacco dan vanila yang hangat dan maskulin. "Ah.. jadi pingin peluk dan membenamkan wajahku ke dadanya." Rere lalu memukuli kepala sendiri karena berfikir seperti itu. Mana tadi dengan celana pendek, polo shirt dan sandal aja tetap tampak tampan.


Dengan malas Rere memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lengket karena seharian berkeringat dan debu yang menempel akan menyebabkan gatal jika tidak mandi.


Baru saja selesai mandi, Rere melihat handphonenya menyala tanda ada notifikasi yang menyala.


Ternyata notifikasi Sms Saat dilihatnya ternyata nomor asing.


0811xxxxxx : Ini William


0811xxxxxx : save no ku


0811xxxxxx : Sudah di baca dan di lihat videonya?


Rere kemudian mengambil flashdisk dari tasnya.


0811xxxxxx : Rere...


Rere: Malam kak. Belum kak, Rere ngak punya Laptop ataupun PC. Besok baru akan pinjam ke tetangga kost


Rere : sudah malam, pinjam laptop sekarang kurang etis


Prince William : Besok kerja jam berapa?


Rere : shift pagi kak. Masuk jam 8.


Prince William : Tidurlah. Sudah malam.


Rere : Kak boleh tanya sesuatu?


Prince William : Tanyalah


Rere : Kenapa kakak setuju menerima pertunangan ini?


Prince William calling...


Rere kaget melihat tiba-tiba William menelphonenya hingga hampir melempar handphonenya.


"Halo ka.." sapa Rere gugup.


"Pertanyaanmu ini akan aku jawab setelah kamu melihat isi flashdisk." suara William di balik telephone sangat tegas dan tenang.


"Ah... kenapa suaranya pun sangat indah begini." batin Rere.


Rere menengadahkan tubuhnya di atas kasur dan memandangi stiker berbahan glow in the dark bermotif bintang-bintang yang tertempel di plafon kamar kostnya. Pikirannya melayang peristiwa hari ini yang membuatnya seperti


Sedangkan William di kamarnya duduk terdiam memandangi kerlap kerlip lampu kota yang terlihat memukau dari jendela kamarnya. Di tangan kirinya memegang handphone dan tangan kanannya segelas minuman berwarna coklat transparant. Di teguknya perlahan wiskey dingin itu.


"Nomor yang anda tuju.." suara ramah khas mesin operator telephone memberitahu William bahwa penerima telephone tidak tersambung.


Tangan William terkulai lemas menatap handphonenya.

__ADS_1


***


Pagi hari di minimarket Flomart tampak masih sepi, Rere tampak sibuk mengepel lantai sedangkan Arif sibuk di area meja kasir.


Tok.. tok... tok...


Terdengar suara pintu yang terbuat dari kaca di ketuk beberapa kali oleh seseorang. Rere menghampirinya untuk menyampaikan bahwa minimarket belum buka. Tapi ternyata itu hanyalah kurir yang mengantar tas jinjing berbahan kulit berwarna hitam. Tampak jelas sejenis tas laptop.


"Ini ada kiriman buat Princess Catfish" kata pria itu.


Rere memutar bola matanya, mendengar hal itu Rere sudah tahu siapa pengirimnya.


"Terima kasih pak." Rere menerima tas itu dan membiarkan pria itu pergi.


Tring.. Notifikasi chat Rere berbunyi.


Prince William : Sudah sampai laptopnya?


Rere : sudah. Tapi sepertinya saya tidak butuh ini kak.


Prince William : Itu hadiah ulangtahun dariku. Kalo gak suka buang aja. Aq gak suka barang bekas.


Lama Rere tidak menjawab karena Rere binggung harus menjawab apa.


Prince William : Cukup bilang terima kasih saja Lele.


Rere geram dengan kalimat terakhir William.


Rere : Terima kasih kak


Prince William : ok


Notifikasi chat kembali bergema.


Leo : Pagi Rere, kami pulang dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik dan segera menyusul kami ke Jakarta ya.......


Rere : Pagi kak. Hati-hati di jalan. Salam untuk kak Alex. Saya pikirkan dulu ya kak.


***


Matahari sudah meredup. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, sudah waktunya Rere kembali ke kostan. Keadaan kembali seperti semula. Tanpa ketiga pria itu ketenangan kembali mengelilingi Sore Putri Handoko.


Sesampainya di kamarnya, Rere membuka laptop yang baru di dapatnya.


"Waoo... ini laptop mahal." guman Rere.


Laptop tipis berwarna putih dengan logo buah apel yg tergigit.


"Ini gimana operasikannya? Mana ngak di kasih manual booknya. Takut aku jual y pak William." Gerutu Rere pada laptop barunya.


Akhirnya setelah beberapa saat, Rere berhasil menyalakan dan mengoperasikan laptop tersebut meski butuh waktu untuk membiasakan diri karena OS (Operating system) nya berbeda dengan yang biasa Rere gunakan di sekolah dulu dan di Warnet.


Selesai mandi, dengan handuk yang masih melingkar di lehernya, Rere mengambil flashdisk yang kemarin di berikan oleh William.


Hanya ada 1 buah Folder dengan judul "Princess Catfish". Dengan malas Rere mengeklik folder tersebut.


Terdapat dua buah file didalamnya. 1 microsof word dan 1 buah Video. Video di klik terlebih dahulu oleh Rere.


Tampaklah sebuah pemandangan yang tidak asing. Suasana hangat gelak tawa. Seorang wanita cantik dan suaminya bercakap dengan sepasang suami istri di depannya.


"Will, kamu aja ya yang jadi suami Rere ya.. Kalau kamu yang jadi suaminya tante merestui dengan ikhlas." wajah wanita itu tampak berseri berbicara dengan seorang remaja yang duduk agak jauh dengannya.


Seseorang di balik kamera mengacungkan jempolnya. Lalu di iringi gelak tawa semuanya.


Tak lama setelah itu terdengar suara gadis cilik yang menangis. Pria yang memegang kamera berlari mendekati gadis cilik itu.


"Princess jangan menangis ya... nanti berubah jadi Princess Catfish." katanya sambil terus merekam dan mengulurkan tangannya untuk gadis kecil itu.


Gadis itu menerima uluran tangannya. Bergandengan berdua menuju mamanya dan melingkarkan tubuh kecilnya dalam dekapan sang bunda.

__ADS_1


Rere melihat video itu tak bergeming. Tak terasa bulir bening menetes deras dari pelupuk matanya. Rere menangis sejadi-jadinya. Rasa rindunya yang dalam kepada kedua malaikatnya yang selama ini tertahan. Keikhlasan yang di tampilkan dengan senyum dan tawa, tumpah berhamburan tak terkontrol tak kala melihat gambar bergerak di depannya. Suara tawa yang dirindukannya. Gerak tubuh yang ingin di peluknya erat. "Mama... Papa... Sungguh aku rindu." Suara Rere lirih tercekat suara tangis yang di tahannya. Tangis dalam diam.


***


Rere kembali menyempatkan datang ke makam keluarganya. Hari ini dia shift siang. Minggu ini dia tidak off karena menggantikan Arif yang mau naik gunung dengan klub pecinta alam yang dia ikuti.


Sesampainya di depan makam, dilihatnya seorang kakek-kakek berdiri dengan tongkat di tangannya. Berdiri tegak di depan kedua pusara orang taunya di temani seorang pria muda yang menggenakan jas rapi berwarna abu-abu.


Rere mendekat. "Permisi, kakek kenal orangtua saya? Terima kasih sudah datang."


Kakek itu hanya menolehkan kepalanya saat mendengar suara Rere.


Dengan cekatan Rere melakukan ritual membersihkan makam tanpa mempedulikan pandangan kakek itu yang memandangi tiap gerakan Rere.


Selesai Rere berdoa kakek itu sudah tidak ada. Rere kembali ke motornya dan saat akan menyalakan motornya, sebuah lengan menghadang gerakannya.


"Nona, Bapak Philip Sugiharto ingin bertemu. Silahkan naik ke dalam mobil."


Rere menoleh ke belakang, di pandanginya mobil mewah berwarna hitam yang terparkir gagah di belakangnya.


"Tidak! jika ingin bicara ikuti saya. Kita bicara di tempat yang lebih layak." Rere memutar keadaan.


Pria itu mengambil handphonenya dan menyampaikan apa yang Rere katakan kepada kakek yang menungguinya di dalam mobil.


"Baik Nona, kami akan mengikuti anda. Baiknya anda berhati-hati mengendarai motor ini." Pria itu memasuki pintu depan mobil dan duduk di sebelah driver.


***


Sesampainya di Flomart, Rere memarkirkan motornya dan melepas peralatan perang yang di kenakannya. Mendekati mobil dan mengetuk kaca mobil samping driver dimana di lihatnya pria itu duduk.


"Silahkan tunggu di kursi depan itu. Saya absen dulu."


Pria itu menoleh kebelakang, meminta persetujuan. Pria tua itu mengangkuk setuju.


"Baik Nona, kami tunggu di mobil sampai Nona keluar. Silahkan lakukan apa yang harus Nona lakukan."


Tak lama Rere keluar toko dengan tiga buah botol air putih ditangannya. Kakek itu hanya melirik botol yang di berikan Rere tanpa menoleh ke arah Rere.


"Jadi ada apa kakek datang? Mau jemput Rere?" tanya Rere yang membuat kedua pria di depannya itu terkejut.


Kakek itu hanya berdehem memalingkan wajahnya memberi kode pada pria muda itu.


"Nona, perkenalkan saya Antoni. Saya sekretaris pribadi tuan Philip Sugiharto. Maksud kedatangan kami.."


Rere mengangkat tangannya menghentikan Antoni untuk berbicara. Dengan terus menatap kakek yang di depannya.


"Jika kakek yang berbicara dan mengajakku, maka aku akan ikut saat ini juga."


Kakek itu mengetuk tongkat yang sedari tadi di genggamnya. "Kurang ajar! sombong sekali."


"Yang sombong itu kakek. Mau mengajak cucunya pulang, tidak sedikitpun mulut itu terbuka menyapaku."


"Benar-benar mirip ibunya."gumam kakek.


"Kakek yang lebih mirip mama. Hidungnya, matanya, bibirnya. Dan gaya marahnya."Rere tersenyum.


Kakek memerah malu dengan apa yang dikatakan Rere. Antoni juga hanya bisa tersenyum melihat ekspresi atasannya yang jarang dilihatnya.


"Ikutlah denganku." suara kakek sangat pelan berbeda saat dia mengertak tadi.


"Apa kek? Rere ngak denger lho." Rere mengoda kakeknya itu.


"Jangan ngelunjak" Suara kakek kembali ke volume awal.


***


Dear Flo,


Aku akan mengajak anakmu tinggal denganku.

__ADS_1


Love,


Philip yang selalu akan menjadi ayahmu.


__ADS_2