
William memandang Rere yang kaget melihat kedatangannya itu. Langkah Rere melambat menuruni tangga menuju kerumunan keluarga yang sedang bercengkrama sambil tertawa ringan.
"Rere, kemari sayang. Ada Liam, sudah saling kenal kan?" kata Fiona sambil menggandeng Rere duduk bersama mereka.
Rere duduk di antara Fiona dan Leo. Rere yang terus mencuri pandang menatap William di sadari oleh Leo yang memang duduk di tengah-tengah mereka. Dengan jahilnya, Leo memutar tubuhnya dan menutupi pandangan Rere.
William tampak akrab dengan kakek. Kakek, pria yang susah tersenyum itu tampak menyunggingkan sudut bibirnya dan menatap William dan sesekali menganggukkan kepalanya tampak setuju dengan William.
"Entah apa yang mereka bicarakan, aku sungguh tidak memahami bisnis dan politik. Mendengar mereka berbicara lebih lama lagi, otak kecilku bisa-bisa jadi kram di buatnya." batin Rere.
Di tengah percakapan yang hangat itu, Rere tiba-tiba teringat akan beberapa barangnya yang harus di bawanya dari Semarang. Tapi selalu terlupa saat akan bertanya.
"Kek.. Kakek..." suara Rere yang kecil tidak terdengar tertutup suara tawa Leo dan kakek.
Rere memberanikan diri untuk meninggikan nada suaranya supaya terdengar oleh kakek.
"Kakek!" Suara setengah berteriak yang Rere keluarkan ternyata bertepatan dengan suasana ruangan yang menjadi hening sepersekian detik karena pak Rusli datang memberitahukan jika makan malam sudah siap.
Tentu saja semua orang di ruangan itu menatap Rere penuh tanya.
"Hem.. Tak perlu teriak, aku masih bisa mendengarmu dengan baik." kata Kakek sedikit sinis.
"Anu... itu... ehm... mengenai barang-barang Rere kek." Rere tampak gugup menanyakannya.
"Tanyalah ke Antoni besok. Dia yang urus semua." kata kakek sembari mencoba berdiri dan langsung di bantu Fiona berjalan ke arah meja makan yang letaknya tak jauh dari ruang keluarga itu.
***
Makan malam pertama di rumah baru membuat Rere tampak canggung. Duduk gelisah seperti tumbuh bisul di pantatnya. Berkali-kali Rere membenarkan celana pendek rumahan yang di pakainya. Menaik dan menurunkan lengan bajunya, menyisir rambutnya yang sudah rapi. Rere akhirnya hanya bisa menghela nafas ringan supaya merelaksasikan saraf-saraf yang menegang sedari tadi.
Fiona yang melihat gelagat keponakannya itu mengusap ringan punggungnya dan berbisik lembut "Santai saja ya sayang, makan malam seperti ini hanya sekali sebulan". Kecupan ringan Fiona di pelipis Rere sedikit membuat rere tenang.
William yang duduk tepat di depan Rere, dapat melihat langsung tingkah laku Rere yang salah tingkah saat mata mereka bertemu. Senyum kecil pun terbentuk dari sudut bibir William.
"Kak Liam, ponselnya." Leo yang duduk di sebelah William menengadahkan tangannya meminta ponsel William.
William merogoh saku celananya dan memberikannya pada Leo.
"Ini tradisi kita Rere, tradisi yang di ciptakan kakek sejak adanya ponsel."kata Leo sembari menengadahkan tangannya meminta ponsel Rere.
"Ini kak." Rere menyerahkan ponselnya pada Leo.
Setelah semua terkumpul, Leo memberikannya kepada seorang pelayan wanita yang sudah menunggu di belakang Leo sambil membawa baki. Dan pelayan wanita itu meletakkan baki dengan ponsel itu ke meja yang yang ada di belakang meja makan.
Lalu tak lama setelah itu datanglah makanan yang di bawa oleh beberapa orang pelayan wanita yang lain dan diletakkan di meja masing-masing.
"Wao hari ini steak." celetuk Leo dengan senyum yang terus terukir di wajahnya.
"Liam, hari ini kamu pimpin doa ya." pinta kakek
"BaIk Kek." seraya mengangguk.
Untaian kata terangkai indah meluncur dari bibir William membuat Rere kagum dengan doa yang di panjatkan William. Rere tak kuasa menutup lama matanya, dia ingin melihat sosok William saat membacakan doa.
"...Amin.... " seru William mengakhiri doa yang dipanjatkan.
"Terima kasih William untuk doanya. Doa yang indah. Silahkan makan sebelum dingin."kata kakek.
__ADS_1
"Enak... Siapa yang masak ma? Mama panggil chef restoran mana?" tanya Leo
"Mama masak sendiri dong. Sayangkan ilmu mama belajar jauh-jauh ke Australia dulu." kata Fiona bangga.
"Iya ini enak tante." kata William. Di iringi anggukan semua yang ada d meja makan.
"Oiya.. Clara minta maaf ke Kakek, Mama dan Papa. Karena tidak bisa ikut makan malam hari ini. Karena masih di Surabaya."
"Iya, sampaikan salam untuk Clara ya. Katakan padanya, calon pengantin jangan terlalu kerja keras. Kurang-kurangi kerja luar kotanya." Kata Robert.
Alex hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Alex akan menikah bulan depan sayang. Clara itu nama calon istrinya." jelas Fiona pada Rere.
"Kalo dia sudah di Jakarta, aku kenalkan padamu ya. sepertinya kalian akan akrab." kata Alex.
"Dress." kata kakek tiba-tiba membuat semua mata menoleh pada kakek. Dengan dagunya kakek menunjuk kearah Rere. "Dress untuk anak itu. Siapkanlah."
"Iya pa, Fiona sudah buat janji dengan butik besok jam sepuluh." sembari tersenyum.
"Siapkan juga baju harian dan sepatu dan semuanya. Kau wanita yang lebih tau Fiona." kata kakek lagi.
"Sepertinya mama akan memonopoli Rere setiap hari. Paling tidak biarkan hari sabtu atau minggu Rere main denganku ma." Rengek Leo.
"Minggu jadwal papa dan kakek main golf dengan Rere." Robert tak mau kalah.
"Tidak bisa. Minggu ini jadwalnya padat. Belum kursus table manner, spa, lalu ke acara arisan mama. Jangan ambil Rere dulu donk." Fiona tak mau kalah.
Rere hanya bisa menelan udara kedalam kerongkongannya mendengar jadwal yang harus di ikuti. Mulut Rere terbuka sesekali hendak mengatakan sesuatu, bahwa dia juga ada janji dengan sahabatnya Desi. "Sudah kuduga, kemewahan ini tidak gratis." batin Rere.
"Kalau begitu saya hari Sabtu boleh?" Kata William yang membuat seisi meja makan terkejut dan menoleh padanya.
Rere menoleh kearah William lalu ke arah kakek dengan pandangan kesal dan binggung.
"Anak kecil, jangan melotot ke orang tua." kata kakek.
***
Rere merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya dan menutup matanya. Pikirannya masih teringat bisikan lembut William saat berpamitan pulang. "Aku pastikan kamu akan menerima pernikahan kita sabtu depan."
Rere menutup mulutnya dengan bantal dan berteriak tertahan. Walaupun kesal tapi dia tidak mau membuat gaduh di rumah ini.
"Emang benar ya, gambaran iblis di komik-komik. Selalu di gambarkan sebagai pria tampan ataupun wanita cantik. Ok Rere, kamu jangan jatuh ke perangkap iblis ini."batin Rere. Rere mengepalkan tangannya menyemangati dirinya sendiri untuk berjuang melawan William dan pernikahan konyolnya itu.
Rere terus memandangi langit-langit kamarnya dengan pikiran yang bertabrakan antara bagaimana mengatasi William dan bagaimana cara mengikapi jadwal padatnya itu.
Desi dan kak Rosa! Setidaknya aku harus mengabari mereka keadaanku disini.
Malam pertama Rere di rumah baru, Rere habiskan dengan bercengkrama melalui telphone dengan sahabat dan kakak tirinya itu.
***
Selesai menutup telephone dari Desi, Rere melihat jam dari ponselnya tersebut. 11.17 PM sudah hampir tengah malam. Rere merebahkan tubuhnya, meletakkan ponsel di nakas samping tempat tidurnya, menarik selimut, mematikan lampu dan mencoba merilekskan tubuhnya.
00.07 AM. Mata Rere terbuka lebar. Rere tidak bisa tidur lagi setelah tadi lama sekali tidur siangnya. Rere mengambil ponselnya dan mencoba beberapa games permen yang melegenda itu. Tapi tidak berhasil melewati satu level hingga nyawanya habis, membuat Rere fustasi dan malah semakin sadar.
Rere menatap langit-langit kamarnya dan tiba-tiba bunyi perutnya membuat Rere memutuskan untuk ke dapur.
__ADS_1
Rere membuka perlahan pintu kamarnya. Berjalan mengendap di kegelapan hanya di temani lampu senter dari ponselnya Rere berjalan ke arah dapur.
Rere memandang takjub dapur yang luar biasa indah. Dapur bersih bernuansa putih dengan elektronik modern dengan island besar dari marmer berwarna putih.
Suara perut Rere kembali meminta Rere bergegas mencari sesuatu untuk dimakan. Rere membuka lemari pendingin yang lebih besar dari dirinya itu dan mencari sesuatu di dalamnya.
"Gila! isi kulkasnya aja bisa buat makan anak kost sebulan." gumam Rere.
Rere mengambil apel, anggur, susu dari lemari pendingin dan saat menutup pintu lemari pendingin itu Rere di kagetkan oleh sosok pak Rusli yang sudah berdiri di balik pintu.
"Non Sore sedang apa?" tanya pak Rusli dengan santainya tanpa peduli dengan Rere yang masih shock.
"Bapak bikin kaget aja. Rere laper pak." Rere masih memegangi jantungnya yang sudah agak tenang. "Harusnya Rere curiga ya waktu melihat lampu dapur ini menyala."
"Sini, saya buatkan sekalian." Kata Pak Rusli sembali mengambil box susu fullcream yang di bawa Rere.
"Bapak laper juga y? kalo ada mie instant, Rere mau mie aja pak."
"Jangan makan mie instant terlalu sering. Dirumah ini hanya boleh makan mie instant dua kali sebulan." Kakek yang tiba-tiba datang mengagetkan Rere.
"Bukan saya yang lapar, tapi tuan besar." kata Pak Rusli sambil berbisik kepada Rere.
Tanpa Rere sadari, kakeknya itu sudah berdiri di belakangnya.
"Nona silahkan duduk. Saya siapkan susu hangatnya."Pak Rusli menarik kursi dan segera menuju ke rak penyimpanan gelas.
Rere duduk di samping kakek di breakfast counter sambil melihat pak Rusli memanaskan dua cup susu ke dalam microwave dan mencuci buah dan menyiapkan sandwich. Mereka berdua duduk berdampingan dalam diam. Saling ragu memulai pembicaraan.
Pak Rusli selesai menyiapkan makanannya dan menyerahkan ke Kakek dan Rere lalu pak Rusli undur diri.
"Kamu kenapa mau aku ajak kesini?" tanya kakek sambil menyeruput susu hangat di depannya.
"Karena kakek orang kaya." jawab Rere ringan yang tentu saja membuat Kakek melotot memandanginya. Sedangkan Rere hanya terkekeh.
"Hidup seorang diri tanpa saudara tanpa uang itu berat Kek. Tak seindah drama Korea. Tak semudah itu. Saat tahu ternyata Rere masih mempunyai saudara, selain kak Rosa. Itu sudah membuat Rere senang."
"Rosa, apa dia baik padamu?"
"Kak Rosa itu akan memberikan tangannya saat Rere hanya meminta jari. Kak Rosa masih sering sembunyi-sembunyi mengirimi Rere uang meski tak banyak. Tapi itu sangat berarti bagi Rere. Saat ini usaha suami kak Rosa sedang goyang. Jadi mereka sedang berjuang di Pontianak."
"Lalu kenapa kamu tidak kuliah?"
"Tidak ada uangnya. Lagipula Rere tidak terlalu pintar." kata Rere sambil tersenyum.
"Carilah jurusan yang kamu mau. Kuliahlah dimanapun. Jangan lagi kwatir soal uang. seperti katamu, aku kaya." kata kakek sambil berdiri dan hendak kembali ke kamarnya.
"Kek," Rere yang memanggil kakek, membuat kakek menghentikan langkahnya.
"Mama sangat sayang padamu. Foto kakek selalu ada di dompet mama. Karena itulah aku langsung mengenali kakek di pemakaman. Tapi waktu itu aku ragu. Ternyata Kakek pria baik yang penuh kasih sayang. Karena itu Rere memutuskan untuk mencintai kakek. Jadi siap-siap ya kek menerima cinta Rere yang buesaaarrr"
"Kamu cerewet sekali. Habiskan susu mu itu lalu tidurlah!" Kakek pun melanjutkan langkahnya kembali.
***
Dear Mama,
Kakek sangat imut. Saat Rere bilang akan memberinya cinta yang besar, wajah Kakek merah padam. Imutt sekaliii... jadi gemasss....
__ADS_1
Love,
Rere