
Semilir angin yang menerbangkan ujung renda rok putih gadis kecil itu, hujan daun kering yang berjatuhan di kepalanya seakan memahkotai rambutnya yang tergerai indah dan matahari yang mulai mengantuk tapi seperti enggan untuk pergi, yang pelukan hangatnya menemaninya bermain senja itu.
Gadis kecil itu menggambar di tanah dengan ranting pohon yang ditemukannya. Dia menggambar kupu-kupu dan bunga. Sementara di sudut beranda itu mama nya menatapnya penuh cinta. Sesekali mamanya menyeruput kopi hangat dari cangkir putih di depannya. Gadis itu menoleh dan melambaikan tangan dan di balas pula lambaian tangan. Kali ini mamanya tak sendiri. Ada papa dan dua orang yang tidak di kenal. Mereka bercengkrama dan tertawa sesekali.
Saat asik menggambar di tanah tiba2 seperti ada bayangan di depannya. Saat menengadahkan kepala dia melihat ada 2 orang anak laki-laki yang berdiri di depannya merusak sebagian gambarnya. Rasanya mau marah tapi takut.
"Hai anak kecil siapa nama mu?" tanya seorang remaja laki-laki yg di depan.
"Lele Handoko" katanya sambil menunduk dan mencoba menyingkirkan kaki bocah itu.
Remaja laki-laki itu tampak menahan tawa di pipinya.
"Umurmu berapa?" tanya bocah yang satunya yang usianya tampak tak jauh beda dari gadis cilik bernama Lele itu.
"Lima tahun." masih mencoba menyingkirkan kaki bocah-bocah nakal itu.
"Oi Wil! Ni calon istrimu. Namanya Lele. Catfish" Mereka lalu meninggalkan Rere menuju bocah 1 lagi yang di panggil mereka Will.
Mendengar hal itu Rere mengangkat kepalanya. Dan dari kejauhan dilihatnya bayangan seorang anak laki-laki yang duduk tenang di bangku taman. Wajahnya tak terlihat jelas hanya siluet nya saja. Bocah itu menolehkan kepalanya kearah Rere dan dengan santainya dia mengucap
"Ogah, jelek.."
Rere mendengar hal itu merasa tertusuk hatinya dan mulai meneteskan air matanya.
Di umurnya yang ke 5 tahun pertama kalinya Rere merasakan sakit hati.
Kring... Kring...
Jam weker itu terus berteriak tak henti henti membangunkan pemilik kamar ini yang lagi-lagi memimpikan mimpi menyebalkan itu. Mimpi yang terkadang datang di malam-malamnya menghiasi tidurnya. Mimpi yang sama yang hampir dia pikir itu adalah kejadian nyata. Mimpi yang terus mengingatkannya tentang sakit hati. Mimpi yang kata-katanya tertanam di alam bawah sadarnya. Jelek.
Dari balik selimut itu tampak tubuh mengeliat dan meraba meja belajar samping kasur untuk mencari sumber suara ribut itu untuk menghentikannya.
Rere meraih jam weker yang meraung raung dan duduk tenang. Sambil menguap dia menekan tombol untuk menghentikan ocehan pagi jam weker kesayangannya ini. Jam weker ayam yg sudah sulit sekali dicari ini sudah setia menemaminya semenjak dia mulai bisa membaca waktu.
"Woaam... Jam setengah 6 ya..." gumamnya.
Matanya menerawang kosong memandang jendela yang masih tertutup rapat. Pikirannya melayang mengatur rencana aktivitasnya pagi ini. Tangannya sibuk menggaruk pinggang belakangnya dan sesekali dia menguap.
Rere berjalan sempoyongan menuju pintu, melepas daster, menggantungkannya ke paku yg tertancap di daun pintu kamarnya dengan bertelanjang dada Rere berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya. Kebiasaan lama yang selalu membuatnya di sentil, jika Rere melawan maka mama nya tak segan-segan menjewer telinga anak gadisnya itu. Di pukul mama nya pagi-pagi buta, membuatnya berteriak menganggu ketenangan rumah yang dulu mereka tempati.
__ADS_1
"Sekarang aku malah kangen di jewer mama." tangan nya mengusap-usap telinga kanannya itu.
Byurrr.... Aahhhh... Suara guyuran air dingin yg membasahi tubuh membuat Rere berteriak.
Suasana yang tidak asing di kostan ini. Hampir semua penghuni kost akan berteriak jika mereka mandi pagi. Tinggal di daerah perbukitan memiliki hawa yang lebih dingin. Tak jarang kabut masih turun di pagi dan sore hari. Air panas adalah kemewahan di kost ini.
Gadis ini bernama Sore Putri Handoko usianya kini 20 tahun. Gadis rata - rata dia menyebut dirinya sendiri. Tingginya hanya rata rata tinggi wanita Indonesia 160cm. Dengan berat badan 52 kg. Tidak kurus tapi juga tidak bisa di bilang gemuk. Wajah nya oval, matanya almond dengan bibir yang penuh tampak sexy saat sedikit terbuka tapi saat tersenyum membuatnya tampak sangat manis. Terlebih gigi kelincinya yang menggemaskan. Tak jarang pria-pria berhenti sejenak hanya untuk menatap sernyumnya. Tapi karena kenangan buruknya saat umur lima tahun itu, membuatnya tumbuh menjadi gadis yang tidak percaya diri. Yang selalu menganggap orang berbohong saat mengatakan dia cantik. Dan bahkan menolak beberapa pria yang ingin dekat dengannya. Rere benar-benar tidak tahu pesonanya sendiri.
***
Rere segera mengecek handphone setelah mendengar notifikasi sms berbunyi.
Leo : Rere, nanti pulang kerja kami akan menjemputmu y..
Rere : Tidak perlu kak. Hari ini aku off. Ada hal yang mau aku lakukan pagi ini. Sisa harinya aku mau tidur.
Rere : Kakak jalan-jalan aja ke Umbul Sidomukti Bandungan. Disana bagus kak.
Leo : Ini William, 10 menit lagi kami sampai di depan kostmu.
"What...Orang ini memang menyebalkan." Rere meletakkan ponsel di atas kasur dan segera bersiap.
Notifikasi sms dari ponsel kembali berbunyi.
"Apa-apaan mereka. Cepat sekali mereka sampai. Ini bahkan belum 10 menit."
Rere : Iya. Tunggu sebentar. Lagi mo pake sepatu.
Saat Rere keluar kamar kost tampak heboh para gadis penghuni kostan berhamburan keluar.
"Sari ada apa? ada yang dilabrak istri orang lagi?" tanya Rere pada Sari penghuni kostan sebelah kamarnya yang sepertinya habis dari luar.
Rere tinggal di kostan khusus wanita. Tapi di sekeliling banyak kostan. Kost Rere terletak di dekat kawasan kampus Negri ternama di Semarang. Sepanjang jalan ini banyak jenis kostan. Baik kostan campuran, kostan keluarga ataupun kostan khusus pria. Peristiwa labrak melabrak bukan hal lumrah yang di lihat sehari-hari. Rere kira peristiwa itu terulang lagi. Karena baru dua hari terjadi di kostan depan yang memang sangat bebas tanpa filter. Hanya dengan sebungkus rokok atau nasi goreng, lawan jenis dapat menginap.
"Ini lebih heboh Mba. Patung David dari Yunani ternyata beneran nyata? Aku mau ambil Handphone dulu. Mau aku foto." katanya terkekeh sambil berlari masuk ke kamarnya.
Aku keluar kostan dengan susah payah. Tumpukan gadis remaja penghuni kostan memenuhi pintu yang tak seberapa besar itu.
Pantulan sinar matahari yang mengenai kap mobil berwarna putih yang terparkir di depan rumah kost memang menyilaukan tapi lebih menyilaukan pria-pria yang berdiri di depannya. Dengan kacamata hitam, rambut rapi tanpa pomade, kulit bersih terawat. Dan pakaian mereka yang nampak mahal namun sederhana.
__ADS_1
William menggenakan kemeja casual berbahan soft jeans berwarna biru muda yang lengan panjangnya terlipat sebawah siku. Celana chino warna khaki dengan sepatu loafer berwarna navy blue. William tampak cool bertengger di depan kap mobil melihat jam yang melingkar dilengan kirinya.
Leo menggenakan tshirt pink dan celana pendek selutut berwarna putih dan sepatu kets yang terlihat mahal di mataku. Leo aktif melambaikan tangan ke gadis-gadis yang tersenyum malu-malu menatap mereka.
Sedangkan Alex menggenakan Polo shirt putih dan celana chino biru tua yang dia lipat ujungnya. Sepatu loafer berwarna coklat tua.
Mereka seperti sedang pemotretan untuk majalah fashion. Mereka sangat stylish. Pantas saja gadis-gadis ini menjadi heboh.
Rere menatapi penampilanya sendiri. T shirt kuning yang warnanya mulai memudar karena terlalu sering dicuci. Dan kemeja kotak berbahan flanel dengan warna dominan merah serta celana jeans yang sudah mulai mengendur di beberapa bagian karena terlalu sering dipakai. Sepatu sneaker buluk yang warna hitamnya berubah menjadi abu-abu.
Ah... kenapa juga aku minder kalau bersama mereka. Aku berasa seperti San Chai dari drama Meteor Garden. Kurang 1 tokoh lagi maka lengkap sudah batin Rere
"Rere," Leo memanggil dan melambaikan tangannya.
Gadis-gadis itu memandang Rere. dengan tatapan yang beragam. Iri, cemburu, ngak percaya, kaget, bahkan wajah butuh penjelasan seperti yang muncul dari wajah Sari pun tercetak jelas.
Rere menutup mulutnya dengan kerah kemeja yang dipakainya dan bergegas masuk ke dalam mobil duduk di depan di samping kursi pengemudi. Rere menenggelamkan tubuhnya supaya tidak terlihat dari luar. Lalu kudengar suara tiga pintu mobil tertutup. Mesin mobil pun sudah dinyalakan.
"Duduk yang benar dan pakai seatbeltnya."
Walaupun Rere menutup wajahnya tapi dia tahu itu suara William.
Rere segera membetulkan posisi duduknya dan memasang seatbelt. Saat Rere menoleh ke samping ternyata William lah yang mengendarai mobil bukan Alex seperti semalam.
"Tunjukan saja arahnya. Lele Handoko." katanya tanpa menoleh dan tanpa ekspresi.
Sepertinya aku tidak salah dengar, dia memanggilku Lele kan?
Pikiranku melayang ke mimpi yang menghantuiku kembali akhir-akhir ini.
Dia adalah pria yang sama yang mengataiku "Ogah, Jelek."
Aaa......
***
Dear Mama,
Mama, takdir apa pula ini? Pria dari mimpiku ternyata nyata senyata kehadiran dia yang duduk di sampingku saat ini.
__ADS_1
Love,
(Rere) Lele