
"Maksud kakak apa?" tanya Rere kesal.
"Baiknya kita bicara di tempat yang lebih nyaman." Kata William sambil keluar dari mobil. Lalu berjalan kearah pintu Rere dan membukannya.
Rere mengikutinya berjalan menuju pintu akses menuju sebuah mall besar di Semarang.
Rere mengikuti William dengan setia. Di lihatnya semua mata gadis yang mereka lewati, semuanya selalu menoleh kembali kebelakang sambil berbisik dengan temannya. Baik tua ataupun muda, baik yang sedang jalan dengan sahabat atau pasangan. Semua pasti mengagumi William. Langkah William sangat percaya diri dengan terus memainkan kunci mobil yang sedari tadi di genggamnya di tangan kanannya dan memasukkan tangan kirinya ke saku celana. Sesekali William menyisir rambut tanpa pomade dengan jari-jarinya. Dipandanginya punggung William yang tampak bidang dan gagah. "Dari belakang aja aura ke gantengannya terasa kuat, ngak heran cewek- cewek ini pada heboh." gumam Rere.
Suasana mall di hari sabtu seperti ini memang sangat ramai. Banyak pasangan muda mudi dan keluarga menghabiskan waktu di mall. Untuk berbelanja, makan siang , atau hanya untuk sekedar cuci mata.
"Baiknya kita bicara di lounge club hotel saja supaya lebih nyaman." Wiliam berjalan menuju ke arah hotel yang bagunannya menjadi satu dengan mall. "Mall ini terlalu ramai. Berisik."
Sesampainya di depan executive club lounge, William melihat sekeliling sambil terus memainkan kunci mobil dan sesekali menarik rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya yang panjang.
"Kita bicara di kamarku saja. Ramai juga lounge nya. Tak ada tempat." William memutar tubuhnya dan bergerak menjauh dari lounge. "Kamarku naik 2 lantai lagi."
William menekan tanda naik dan menunggu lift terbuka untuk mengantar mereka ke atas.
***
"Silahkan masuk"William membuka pintu kamar dan mempersilahkan Rere masuk terlebih dahulu.
Rere ragu masuk kamar itu tapi rasa penasarannya terhadap apa yang di bisikan William di mobil membuatnya mengubur rasa ragunya sejenak.
William membawa 1 botol air mineral dan 1 kaleng minuman bersoda dan 2 gelas kosong dari minibar dan meletakkannya di meja ruang tamu dengan sofa berwarna abu-abu itu. William memilih duduk di depan Rere.
William memajukan tubuhnya,dan menggunakan lututnya yang tertekuk untuk meletakkan sikutnya. Jemari tangannya saling terkait. Dengan tatapannya yang tajam William memandangi Rere. "Kamu calon istriku."
"Bisa jelaskan kak? Aku sedikit bodoh dalam hal ini." Rere mulai mengerutkan dahinya.
"Perjodohan kita sudah di mulai semenjak mamamu menikahi ayahmu 20 tahun yang lalu."
"Jangan mengada-ada kak. Mama dan papaku tidak pernah mengatakan apa-apa?"
"Orangtuamu sudah menerima pertunangan ini." Disandarkan punggungnya ke sofa yang di dudukinya. Kaki kanannya bertumpu ke kaki kirinya.
"Bohong!"Nada suara Rere naik 1 oktaf.
Mereka terdiam beberapa menit dengan pikiran mereka masing-masing. William mengambil botol air, dan menuangkan ke dalam gelas lalu menggeser ke arah Rere. Lalu di ambilnya kaleng soda, membukanya dan menuangkannya ke dalam gelas perlahan lalu meminumnya.
"Rumah tadi, kau menginginkannya kan? di lihat dari lokasinya, sepertinya harganya cukup mahal." kata William memecah keheningan mereka berdua.
"1, 7M" jawab Rere.
"Aku bisa memberimu 2.5M jika kau mau jadi istriku."
"What?? Kakak pikir aku wanita macam apa? Aku akan beli rumah itu dengan tabunganku sendiri" Rere melotot dengan wajah memerah menahan amarah.
Rere mengambil gelas berisi air dan meminumnya kasar. Mengelap bibirnya dengan kain lengan bajunya.
William tertawa mengejek statement Rere. Lalu di pandanginya tangan gemetaran Rere.
"Berapa gajimu bekerja di minimarket? 2 juta? 3 juta?Dengan gaji segitu, kamu hanya bisa menabung 750.000 sampai 1 juta perbulannya. Untuk mengumpulkan 1.7M kamu harus menabung 141 tahun. Pada saat itu mungkin kamu sudah mati dan harga rumah itu sudah menjadi 3M atau bahkan 5 M." William kembali meneguk sodanya.
Rere hanya bisa menelan salivanya. Dalam hatinya Rere membenarkan hal itu. Itu memang sudah terkalkulasi oleh Rere sebelumnya.
__ADS_1
Rere merebahkan tubuhnya kesandaran kursinya. Rasanya kalah 0-1 dengan si Prince Charming. "Kau pintar sekali bicara."
"Kemapuan bicaraku sama sepertimu. Aku hanya memahami lawan bicaraku. Apa yang kupunya, apa yang dia butuhkan."
"Ini prank kan kak?" kata Rere yang tiba-tiba mendekatkan tubuhnya ke meja dan memutar kepalanya mengamati sekelilingnya. Jangan-jangan ada kamera tersembunyi pikirnya.
William mengangkat kedua bahunya. "Silahkan jika tidak percaya." William memberikan flashdisk yang di simpan di sakunya kepada Rere. "Ini buktinya. Ada file perjanjian pranikah kita dan sebuah video. Baca baik-baik, pahami tiap pasalnya dan tontonlah videonya nanti dikostan."
Rere mengambil dan memasukkan ke dalam tas ranselnya.
Handphone William bergetar.
"Halo... kami di kamarku." William bergerak menuju pintu kamar. Dan membukanya.
Rere memutar tubuhnya mencari siapa yang akan datang. Ternyata Leo. Rere sedikit lega karena dia tak harus berdua saja dengan William dengan suasana yang canggung ini.
Leo menghampiri mereka dan duduk di samping Rere.
"Rere nyalon yuk. Creambath sepertinya enak nie." kata Leo sambil mempraktekkan kepalanya dipijit.
Rere heran karena baru ini ada pria yang mengajaknya ke salon untuk creambath. Rere sendiri kesalon hanya untuk potong rambut.
"Kakak aku anterin tapi aku ngak ikutan creambath ya."
"Why?"Tanya Leo heran. Baru ini ada gadis yang tidak suka perawatan rambut.
"Rere dan salon itu musuh kak. Setiap kali mencium bau salon, pasti tidur. Jadi cuma potong rambut saja baru ke salon."
"Ah.. atau aku creambath kamu potong rambut?" ide jenius Leo tiba-tiba muncul.
"Tidak boleh!" Teriakan William mengagetkan mereka berdua.
"Mr William yang terhormat! Rambut saya urusan saya!" tegas Rere.
Akhirnya Rere dan Leo berjalan-jalan berdua saja. Leo selayaknya anak muda pada umumnya, selalu berfoto-foto di sudut-sudut yang menarik lalu di upload di sosial media.
Semarang kota kecil tak sedikit Rere berhenti untuk bertegur sapa dengan teman SMP atau teman SMA nya yang tak sengaja bertemu. Akhirnya dari pertemuan-pertemuan tak sengaja itu beredarlah gosip di sosial media, Ice Princess Rere memiliki pacar yang tampan.
Ice princess itu julukan Rere semasa sekolah. Putri cantik yang dingin terhadap lawan jenis. Dingin tapi bukan berarti sombong.
"Re, akun IG mu apa? Follow aku donk, nanti aku Folback." kata Leo sambil memperlihatkan nama akunnya.Mereka saling memfollow di sosial media. Dan ternyata follower Leo sudah 500K. Sedangkan Rere hanya 400 saja.
"Luar biasa kakak keren... Fotonya bagus-bagus pula." Puji Rere.
"Ah biasa aja Re. Itu jadi keren karena angle, cahaya dan filter yang tepat." mereka berdua terkekeh.
"Kamu mau coba? sini aku fotoin." tawaran Leo di tolak halus oleh Rere. Tapi Leo memaksa.
Di depan sebuah counter baju Leo mengarahkan gaya Rere.
"Re kamu miringin kepalamu sedikit, pegang ranselmu dengan kedua tangan, buka kakimu. Jadi ranselnya kamu pegang di depan. di antara kaki y. Kepalanya agak di angkat." Leo memberantaki rambut Rere.
Cekrek.. Ganti gaya.. Cekrek...
"Lihat nie, yang like sudah 256. Padahal baru upload beberapa menit." kata Leo memamerkan hasil jepretannya.
__ADS_1
Handphone Leo tiba-tiba bergetar. Muncul nama Kak Alex di layarnya.
"Halo, ya kak. Ni masih sama Leo di bawah. Ok. ok. Leo tanyakan dulu y kak" kata Leo pada lawan bicaranya via telephone.
"Re, di ajak ngopi dulu di St*rb**, nanti di antar pulang ke kost."
"Daripada St*rb**, aku lebih suka kopi klotok di ungaran kak." gumam Rere tanpa ada maksud apapun.
Leo memandang Rere dengan handphone masih bertengger di telinganya. "Ok kita ke ungaran." kata Leo sambil mengedipkan sebelah matanya.
***
Kopi Klotok Sadar. Warung kopi yang terletak di alun-alun Bung Karno Ungaran. Sama seperti warung kopi pada umumnya. Tapi jangan salah sangka, warung kopi yang terletak di lereng gunung Ungaran ini selalu ramai di kunjungi para penikmat kopi. Cara penyeduhan yang masih tradisional menjadikannya istimewa.
"Istimewanya apa Re?" tanya Kak Alex.
"Itu kakak lihat?" kata Rere menunjuk tungku tanah liat dengan bara api di atasnya.
"Klotok itu artinya seduh jadi satu, jadi kopi bubuk, gula dan air di seduh di atas bara api itu sampai ke titik didih yang di inginkan. Dan tidak pakai kipas angin tapi pake kipas dengan tangan. Jadi kakak harus sabar y, pesan jam 7 bisa jadi nanti jam 9 kalau rame begini?" Rere tersenyum jahil karena melihat ekspresi kaget ketiga tamu dari Jakartanya itu.
Mereka berempat duduk di atas tikar yang disediakan pengelola. Malam minggu seperti ini tempat seperti ini selalu ramai anak muda.
Handphone merk korea berwarna putih milik Rere bergetar.
Call Desi
"Istriku... Kamu mendua... " Teriak Desi saat video callnya di angkat Rere.
"Heee.... Berisik sekali..." Rere menutup sebelah telinganya.
"Aku dapet info dari Sari, tadi lihat kamu di mall sama cowok. Siapa dia? Ganteng gak? Baik gak? Kalo ngak lebih ganteng dari Brian, aku ngak restui. BTW kok kamu ngak cerita?" Desi terus bicara tanpa bisa di sela.
"Hi aku Leo. Salam kenal. Lebih ganteng dari Brian? Siapa Brian? Pacar Rere ya?" kata Leo sembari merebut ponsel Rere
Desi terdiam kaget karena pria yang di gosipkan itu masih bersama Rere di jam yang sudah larut ini.
Rere merebut kembali ponsel dari tangan Leo"Ini Leo sepupuku, Des. Nanti malam aku telephone lagi y."kata Rere sembari memutus sambungan video call sahabatnya itu.
L*ne...
Notifikasi apps chat asal Korea terdengar dari handphone Rere.
Desi : Kamu jangan ketiduran.
Desi : Ceritakan semua dari hulu ke hilir.
Rere : Nanti aku chat lagi ya. Ngak enak sama sepupu2ku.
"Sepertinya aku harus cerita semua ke Desi. Aku butuh opininya."batin Rere
***
Dear Mama,
Menurut mama, apakah Kak William sedang menge-prank Rere?
__ADS_1
Love,
Rere