Princess Catfish & Prince Charming

Princess Catfish & Prince Charming
Rahasia Mama


__ADS_3

"Rere, sebenarnya kedatangan kami, untuk menjemputmu." Alex mulai menjelaskan setelah melihat Rere tenang.


"Maksudnya?" Rere meminta penjelasan yang lebih kepada Alex.


"Menjemput kamu pulang Rere. Pulang ke keluargamu. Disini kamu sendirian. Biarkan kami menjagamu."


Leo hanya diam tertunduk sedangkan sang pangeran hanya menatap Rere tajam. Mereka seakan mempersilahkan Alex untuk menjelaskan semua.


"Disini rumahku. Aku takkan kemana-mana." Rere lalu terdiam, "Lagipula kenapa baru hari ini kalian mencariku? Kemana keluarga saat mamaku sangat membutuhkan uluran tangan?" akhirnya sesuatu yang menganjal hati Rere terlontar dari bibirnya yang sedari tadi tertahan kelu.


Leo tampak hendak menjawab sesuatu atas serangan Rere, tapi tangan William menahannya dan memberikan kode dengan gelengan kepala kecil supaya Leo mengurungkan niatnya.


"Rere, itu pertanyaan yang tidak bisa kami jawab. Bukan kapasitas kami untuk menjawabnya. Kau pasti pernah dengar istilah, urusan orangtua anak-anak tak usah ikut campur. Baiknya kau tanyakan sendiri pada kakek." Alex mencoba menjelaskan.


"Tapi kalian bukan anak-anak lagi sekarang."


"Kami akan selalu jadi anak-anak Rere. Yah walaupun aku akan menikah, Leo akan wisuda tahun ini. Tahun ini William bertunangan. Tapi kami masih anak-anak di mata kakek dan orangtua kami." Alex menyandarkan tubuhnya dan tersenyum memandangi kedua Leo dan William.


Rere terdiam menunduk. Pikiran Rere teralihkan fokusnya dengan kata 'tunangan' yang tadi dikatakan Alex. Layu sebelum berkembang. Pupus sebelum berjuang.


"Ikut kami Rere, dan tanyakan langsung pada kakek & ayahku."


"Aku lapar." kata William yang membuat Rere menelan kembali kata-kata balasan untuk Alex.


"Ah benar juga, kita terakhir makan siang tadi." kata Leo sambil memegangi perutnya.


"Ada rekomendasi Re?" tanya Alex


Sekarang jam 20.35 dimana ya warung makan yang buka. "Kalian bisa makan di restoran fast food. Gerai Pizza ada di dekat sini."


"Oh no Rere. Kami ingin makan makanan khas. Jangan ajak kami makan fast food." kata Leo


"No, aku tidak mengajak kalian. Aku hanya menunjukan restoran. Aku tidak ikut kalian makan." kata Rere sambil berdiri hendak beranjak keluar dari suasana ini. "Ini sudah malam, aku mau pulang dan tidur. Lagipula aku tidak lapar."


Kruyukkk.... Suara perut Rere sepertinya tidak bisa di ajak kerjasama dengan mulutnya.


Sontak mereka bertiga tertawa mendengar suara khas perut orang lapar itu.


Wajah Rere memerah, rasanya ingin sekali Rere menenggelamkan mukanya ke ember adonan martabak Budhe Wati.


"Tunjukan arahnya Rere, makanan khas Semarang yang kamu rasa enak."


Rere sibuk mencari sesuatu di tas ranselnya. Setelah mendapatkannya, Rere segera menuju motor matic biru yang terparkir di depan minimarket ini.


Rere mengenakan helm dan menarik retsliting jaketnya hingga menutupi lehernya. Saat hendak menyalakan motornya tangan kanan Rere di cengkram seseorang.

__ADS_1


William memegang pergelangan tangan kanan Rere "Mau apa? Kau ikut kami saja. Bahaya seorang gadis naik motor malam-malam."


Rere menatap William lalu menghembuskan nafasnya kasar." Sepertinya lebih berbahaya bagi seorang gadis naik ke mobil bersama 3 orang pria yang baru di kenalnya sore ini."


William melotot mendengar jawaban Rere. Mereka saling bertatapan tak mau kalah. Sepertinya genderang perang sudah mulai di kumandangkan.


"Sepertinya William mendapat lawan yang sepadan." Bisik Leo pada Alex dan disetujui Alex dengan anggukan.


"Sudah...sudah.. Rere, kamu tunjukan arahnya ya. Kami akan mengikutimu dengan mobil itu dari belakang." kata Alex menghampiri William dan Rere dan menunjuk mobil SUV putih yang terparkir ujung parkiran minimarket ini.


Alex menepuk pelan helm yang dikenakan Rere dan tersenyum, "Kau benar-benar mirip mama mu."


***


Di dalam mobil.


"Kak, Rere lincah juga ya bawa motornya." kata Leo pada Alex yang sedang konsentrasi menyetir mengikuti Rere.


"Selincah apapun, tetap saja dia wanita. Bahaya naik motor." William tiba-tiba berpendapat. "Waktu kecil dia sangat putih dan mengemaskan. Sekarang lihat dia, terlalu banyak terkena matahari hingga kepalanya menjadi keras dan menghitam pula kulitnya"


Alex dan Leo hanya tersenyum karena ini pertama kalinya William di bantah oleh seorang wanita.


"Kak itu Rere kasih lampu sen ke kiri. Sepertinya kita sampai." Kata Leo menunjukkan ke Alex.


Warung makan tenda sederhana di pinggir jalan raya. Dengan tutup terpal warna gelap dan spanduk depan berwarna kuning dan hanya bertuliskan "Warung Makan Mba Tum". Di samping tenda warung ada banyak orang duduk bersila di atas tikar yang terbentang luas dengan formasi melingkar dengan rombongan mereka masing-masing.


"Biasanya beginian yang enak Dek."Kata Alex.


Dok.. Dok.. Dok..


Rere mengetuk kaca mobil dan memberi kode dengan tangannya untuk menurunkan kaca mobilnya.


"Ya Re, kita makan disini y?" tanya Leo sembari menurunkan kaca mobilnya.


"Kalian suka gudeg kan. Aku harap kalian bisa makan lesehan ya. Kalian yang memintaku memilih. Aku hanya memilih yang terlintas di kepalaku saja." Rere terus berbicara tidak membiarkan ketiga pria itu menjawab."Kak Leo ikut aku ya. Kak Alex dan Kak William cari tempat duduk dulu aja." Rere membuka jaketnya dan melingkarkannya ke pinggangnya. " Ayo kak Leo kita mau perang nie."


Yes mereka akan perang, perang melawan para penikmat kuliner malam. Seni makan di tempat populer seperti ini adalah caper kepada penjualnya supaya kita dilayani. Kita harus tidak boleh mengalah. Berani bersuara dengan suara yang lantang dan tegas menyuarakan lauk apa yang kita mau makan.


Berjajar berbaskom-baskom berbagai jenis lauk yang menggugah selera dengan gudeg sebagai pemeran utamanya, ada pula pemeran pendukung seperti ayam opor, koyor, sambel goreng, petai goreng, dan masih banyak lagi.




__ADS_1


Empat piring nasi gudeg sudah ada di depan mereka. Walaupun William dan Alex sedikit ngeri dengan lemak dan santan kental di piring mereka, tapi tampaknya itu enak. Karena sedari tadi Alex dan William mengamati sekelilingnya mereka semua makan dengan lahap. Terlebih piring Rere yang beda sendiri dari mereka. Ada petai di piringnya yang membuat Alex dan William terdiam.


"Kenapa? Mau petai juga?" Tawaran Rere di sambut gelengan keduanya.


"Petai itu ibarat petasan di malam tahun baru. Pemeriah suasana." Rere tersenyum menggoda mereka.


Mereka menyantap makan malam mereka dengan sangat lahap. Melihat mereka bertiga makan dengan lahap, Rere tersenyum puas, layaknya seorang Jendral menang perang.


"Kamu tahu tempat ini sudah lama Re? Sering kemari?" tanya Leo.


"Kakak lihat bangunan Belanda di situ?" Kataku sambil menunjuk bangunan Belanda yang nampak masih terawat itu. "Itu SMA ku. Dan lihat toko dengan pintu besi berwarna hijau itu? itu tempat aku kerja partime sewaktu SMA sepulang sekolah. Itu toko bahan kue, putri pemiliknya adalah sahabatku di SMA. Tapi sekarang toko itu sudah tutup karena orangtua sahabatku itu memutuskan untuk menutup toko dan pindah ke Jepara untuk menemani putri tertuanya yang baru saja melahirkan. Sedangkan sahabatku itu saat ini kuliah di Jakarta"


Alex, Leo dan William mengangguk tanda memperhatikan cerita Rere.


"Oia Kak, kalian bisa tahu aku kerja di Flomart itu dari siapa?" tanya Rere penasaran.


"Data karyawan. Aku bisa buka akses seluruh karyawan Flomart. Waktu itu iseng aja meminta datamu ke HRD. Dan ternyata ada. Dan dari situpun aku tahu kamu tinggal sendirian." Alex menjelaskan.


"O.. Kaka orang Head Office. Jadi ke Semarang sekalian sidak gitu? Atau ada yang mau buka gerai baru?"


"Tidak, kami datang khusus untukmu. Minggu pagi kami akan pulang. By the way Re, kamu tahu siapa CEO perusahaanmu bekerja?" tanya Alex.


"Ya tentu saja, namanya mirip nama belakang mama. Florentia Putri Sugiharto, Alexander Putra Sugiharto." kata Rere penuh percaya diri dan bangga.


Alex mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Sebuah KTP. Dan di berikan kepada Rere. Rere menerimanya dengan heran.


"Baca." perintah Alex


Mata Rere terbelalak melotot seperti hampir copot " Alexander Putra Sugiharto."


"Kamu pikir, nama Flomart dari mana? itu nama mamamu" kata Leo sambil mengusap gemas rambut sepupunya itu.


"A... Pa!!" Rere kaget dan sedikit berteriak.


"Rere tutup mulutmu. Bau sekali seperti mulut monster" Kata Leo sembari menyumpal mulut Rere dengan tangannya.


Ternyata ketiga pria di depannya sudah menutup hidung mereka dengan jepitan jari dan mengibas udara di depan wajah mereka dengan telapak tangan.


"Maap" Rere menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


***


Dear Mama,


Rahasia apa yang mama simpan dariku? Sepertinya aku akan menemukan banyak hal mengejutkan setelah ini.

__ADS_1


Love,


Rere


__ADS_2