Princess Catfish & Prince Charming

Princess Catfish & Prince Charming
Kutukan


__ADS_3

"Rere, tempat kamu tinggal banyak gadis muda cantik ya." kata Leo yang duduk tepat di belakang Rere.


"Kakak, jangan jadi pedofile y. Mereka kebanyakan masih anak semester satu."


"Wah jahat kamu Re. Kau pikir aku umur berapa? Aku masih 22. Masih muda donk." Leo memajukan wajahnya berada di tengah-tengah kursi antara Rere dan William.


"Nah kalo mereka berdua ini memang om-om Re. Kak Liam 30 tahun, Kak Alex 32 tahun."


Info dengan bumbu yang tidak penting yang Leo sampaikan membuahkan jitakan dari Alex dan William. Leo hanya meringis mengusap kepalanya.


Rere tersenyum geli dengan tingkah mereka. "Ternyata selisih 10 tahun denganku. Pantas saja tampak sangat dewasa dan tenang." gumam Rere dalam hati sambil memperhatikan pria yang di sebelahnya.


"Kak sudah sampai, aku turun dulu di sini. Kakak parkir di situ y. Susul aku kalau kalian mau" Kata Rere menunjuk ruas jalan yang lengang yang sepertinya bisa digunakan untuk parkir.


Komplek pemakaman umum yang tak jauh dari kostan Rere tampak sepi karena ini bukan malam jumat kliwon. Di mana ini hari biasa yang memang jarang orang berjiarah.


Rere membawa sekeranjang bunga mawar dan seikat bunga sedap malam di tangannya. Langkah Rere tampak ringan mengarah tujuan yang sudah sangat dia hafal.


Sesampainya di depan pusara sederhana kedua orang tuanya Rere mengambil kanebo yang sudah dia siapkan dari dalam tasnya. Rumput liar satu persatu dia cabuti. Tak banyak yang tumbuh tapi sungguh menganggu. Batu nisan Rere bersihkan dengan seksama.


Rere dapat merasakan ke tiga pria itu sekarang sudah berdiri di belakang Rere. Rere menggenggam tangannya dan memejamkan kedua matanya. Dengan hati tenang Rere berbicara pada Tuhannya untuk menjaga kedua orang tuanya.


Dear God,


Kedua malaikatMu yang Kau kirimkan untukku telah kembali padaMu.


Aku sayang mereka tapi sepertinya Kau lebih sayang mereka.


Hingga meminta mereka kembali begitu cepat.


Ketiadaan mereka bagai dongeng di hidupku


Tak tak dapat kusentuh tapi akan selalu kurasa


Dear God,


Sampaikan rinduku pada mereka.


Katakan aku baik, aku sehat.


Sampaikan cintaku pada mereka


Katakan aku bahagia, aku berjuang.


Dear God,


Sampaikan pelukku untuk mereka.


Seperti ku damba hangat peluk mama.


Sampaikan kecupanku untuk mereka.


Seperti ku haus manis kecup papa.

__ADS_1


Amin


Rere membuka matanya dan menoleh kebelakang. Mereka satu persatu membuka mata selesai memanjatkan kata indah untuk Tuhan. Entah apa yang mereka sampaikan. Tak penting bagi Rere, melihat ada orang lain berdoa bagi orangtuanya itu cukup bagi Rere. Rere tersenyum manis berterima kasih untuk setiap kata yang mereka panjatkan.


Kembali ke dalam mobil melanjutkan ke tujuan berikutnya. Dengan formasi yang sama.


"Rere, kak Leo boleh menanyakan sesuatu? Tapi tak perlu kau jawab jika kau memang tidak mau menjawabnya"


"Boleh, tanyakan saja kak."


"Om Handoko & tante Flo, bagaimana mereka... hem..." Leo tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Meninggal?" Lanjut Rere dengan senyuman." Tanyakan saja kak, itu bukan hal tabu yang membuatku malu." Rere memutar duduknya menyamping sehingga mudah memandangi ketiga pria itu yang sedari tadi menunggu jawaban Rere.


Rere memposisikan kembali duduknya menghadap depan.


"Papaku meninggal saat umurku sepuluh tahun. Papa meninggal karena serangan jantung setelah mengetahui anak buah kepercayaannya mengkianatinya dengan kerjasama palsu yang menyebabkan seluruh investasi dan aset papa habis hanya menyisakan rumah dan motor yang aku pakai itu."


"Kau tahu apa yang hebat? Mama. Mama merawat aku dan kak Rosa sendirian. Sepuluh tahun vacum bekerja dan minim pengalaman, mama menghidupi kami berdua dengan berjualan apa saja. Baik itu produk pasar maupun produk MLM. Tapi tahu apa yang menyedihkan? Mama. Mama tidak pintar menagih bayaran yang dijanjikan pembeli. Hingga kerap kali modalnya terhenti beberapa bulan."


"Siapa Rosa?" Tanya Leo. " Bukannya anak tante Flo cuma Rere y?"


"Kakak tiriku. Anak papa dengan mantan istri sebelumnya. Sekarang dia sudah menikah dan tinggal dengan suaminya di Pontianak. Karena kuatir padaku kak Rosa menunda menikah. Kalau tidak kubujuk, mana mau dia menikah. Bisa jadi perawan tua dia." Rere menceritakan kakak tirinya dengan tersenyum.


"Umurku 15 mama meninggal karena kecelakaan. Sebelumnya dia harus dirawat dua bulan lamanya di ICU. Oleh karena itu aku tidak lagi tinggal di rumah itu."


"Kak boleh berhenti sebentar ke depan saja. Aku cuma mau melihatnya sebentar." Kata Rere menunjuk ke arah rumah 2 tingkat dengan halaman yang sangat luas.


"Huft... " Rere menghela nafas lega "Lanjut kak" kata Rere sambil tersenyum.


"Iya kak. Aku lega karena rumahnya belum juga laku. Aku berdoa tiap malam supaya akulah yang membeli kembali rumah itu. Jadi orang lain tidak boleh membelinya."


"Hahahaa... ada-ada saja kau Re."


"Emang kalian tidak pernah menginginkan sesuatu hingga berdoa supaya tidak ada yang boleh memilikinya selain kalian?" Rere memandangi ketiganya heran.


Alex memandang tajam ke arah William yang dengan pandangannya dapat membentuk lubang di kepala William. Wiliiam menatap Alex dari kaca spion dan memberi kode dengan matanya. "What?". Alex hanya menggelengkan kepalanya.


"Rumah itu di beli dengan harga sangat murah. Waktu itu aku dan Kak Rosa terpaksa menjualnya. Demi biaya pengobatan mama. Aku selalu lewat jalanan ini paling tidak seminggu sekali untuk melihat tanda di jual itu. Tanda itu baru terpasang 2 bulan terakhir ini."


"Rere kita makan dulu yuk. Sekarang hampir jam 12. waktunya makan siang." Alex melihat jam tangannya 11.45 AM


"Makan bakso mau kak? tak jauh dari sini ada bakso enak."usulku saat melihat area jalanan ini.


***


"Kita sudah sampai kak. Kakak parkir di supermarket depan saja ya. Susah dapat parkir depan warung makannya." Kata Rere sambil menunjuk sebuah supermarket yang memiliki halaman parkir yang luas itu.


Bakso Bang Kribo di daerah Banyumanik di jam makan siang seperti ini memang sangat ramai pengunjung. Untung saja Rere berhasil mendapatkan tempat duduk setelah menunggu rombongan keluarga selesai makan.


Bakso daging sapi dengan kuah hangat mengebul yang tercium aroma gurih yang manjakan hidung. Yang istimewa adalah adanya jeroan di dalamnya. Sawi menghiasi tengah mangkok mempercantik sajian di depan Rere.


__ADS_1



"Rere ini apa?" tanya Leo sambil mengangkat potongan babat dari mangkok.


"Jeroan kak. Kakak ngak suka? Masukan sini ke mangkokku." dengan senang hati Rere mendekatkan mangkoknya ke dekat mangkok Leo yang duduk di sebelahnya.


Tiba-tiba Alex dan William juga memasukkan potongan jeroan ke mangkok Rere.


Rere tersenyum seperti mendapat bonus kuartalan. Rere mengambil bakso kecil dari mangkoknya dan memberikan masing-masing satu ke mangkok Leo, Alex dan William.


"Jeroannya banyak sekali. Kalau kuhabiskan semua, perutku akan meledak."


***


"Re, setelah ini mau kemana?" William menayakan tapi tak juga mendapat jawaban Rere. William menoleh, ternyata Rere tertidur.


"Alex, kita kemana sekarang? Rere tidur."


"Ke hotel aja. Aku juga mengantuk."


***


"Re.. bangun Re... Kita sudah sampai."William menepuk lembut pundak Rere. Alex dan Leo sudah keluar dari mobil meninggalkan William berdua dengan Rere.


Wajah tidur Rere terlihat tampak lelah bibirnya terbuka dan mengeluarkan suara nafas yang khas. Rere memalingkan wajahnya ke arah kiri menggunakan seatbelt sebagai sandaran. Rambutnya yang pendek membuka akses leher jenjangnya terbuka tanpa pertahanan.


William memandang ceruk leher Rere yang tanpa disadari tangannya bergerak merapikan rambut Rere yang berserakan menutup wajah Rere. William perlahan bergerak mendekati telinga Rere, berguman sesuatu membisikkan perlahan kepada Rere.


Brug!


Rere yang tiba-tiba terbangun mengangkat kepalanya reflek membuat kepala William dan Rere saling berbentur.


***


Tiga puluh menit sebelumnya sebelum sampai di warung makan.


"Kakak tahu, akulah yang menyebabkan mama dan papa meninggal. Aku dan kutukan yang mengikutiku."


"Selalu saja kejadian itu saat umurku kelipatan lima. Umurku 5 tahun, 2 minggu setelah aku berulangtahun rumah kami di masuki perampok yang menyebakan papa masuk rumah sakit karena kepalanya dipukul perampok."


"Umurku 10 tahun, 5 minggu setelah aku berulangtahun, papaku meninggal. Umurku 15 tahun, 8 minggu setelah aku berulangtahun mamaku meninggal. Dan kini umurku 20 tahun sebulan lagi. Peristiwa apa yang akan terjadi padaku kali ini."


"Aku dan kutukan yang mengikuti. Aku harap segera berakhir."


***


Dear Princess Catfish,


Kutukanmu umur 20 adalah aku. Menikahlah denganku dan akhiri wasiat leluhur ini. Biarlah kita saja yang tersakiti. Jangan ada lagi yang lain.


Kutukanmu umur 25 adalah aku. Karena aku akan menceraikanmu apapun yang terjadi. Karena aku tak akan pernah mencintaimu. Ada dia dan selalu dia di hatiku.


Regards,

__ADS_1


Prince William


__ADS_2