
Marcus alexander adalah pria tampan yang kaya raya dan penuh martabat. seorang pria dingin dan arogan yang di agung agungkan banyak wanita karena ketampanan dan hartanya. pria impian setiap wanita.
ada banyak wanita wanita cantik yang merelakan harga diri mereka demi bisa naik keatas ranjang pria kekar itu. bagi wanita wanita ini tidak ada yang lebih penting dari memuaskan tuan alexander.
Bagi mereka menjadi wanita simpanan alexander saja sudah menjadi sebuah kehormatan. wanita wanita penggila harta ini akan kehilangan hargadiri dan mahkota mereka ketika berserah pada pria kejam seperti alexander.
namun meski banyaknya wanita yang mengantri untuk menghangatkan ranjang pria kekar itu. tetap saja sampai saat ini tak ada satupun yang benar benar bisa menaiki ranjang seorang marcus alexander. mereka yang melewati batas dengan menginginkan hal lebih, maka berarti mereka sudah tak menginginkan nyawa mereka.
Alexander akan menjadi pria yang lembut dan penuh perhatian hanya saat dia menginginkanya. namun sayangnya sampai detik ini tak ada yang mendapat perlakuan lembutnya.
sang sekretaris wanita yang selalu bersanding di sampingnya dan mengikuti di manapun alexander pergipun tak bisa melewati batasnya sebagai sekretaris. dia bisa dekat dengannya namun tak bisa lebih dekat lagi pada tuanya.
Bagi alexander wanita hanya tempatnya melepas stres dan melampiaskan emosinya. dan sang sekretaris seperti adik untuknya, tak lebih. karna itu dia memperlakukan sekretarisnya berbeda dengan wanita wanita lainya.
"Presdir. Anda mendapat undangan pesta dari perusahan LW" ujar lili sekretaris cantik dengan tubuh ideal menyerahkan sebuah undangan.
" Ya. kau pergilah cari gaun yang pas. dan temani aku pergi undangan itu" alexander memberikan kartu goldnya pada sekretaris lili.
"Baik. saya permisi" wanita itu mengambil kartu di tangan alexander lalu berjalan keluar dengan wajah yang memerah.
Lili adalah wanita beruntung yang mendapat perhatian dan segala kemewahan dari alexander. dia bahkan mendapat kehormatan dengan selalu berada di samping alexander dan menjadi pasanganya di setiap acara.
alexander berdiri di hadapan cermin besar dengan piama menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu gagah dan berotot. mata coklatnya memancar tajam dengan alis tebalnya.
GREP!
Sebuah tangan ramping melingkar memeluk tubuh kekarnya dari belakang. tangan itu bergerak membara menelusuri tiap sudut tubuh kekar alexander. tanganya berbutar butar dan mengusap lembut dada bidang itu. Alexander hanya diam menatap dari cermin gerakan nakal tangan itu dengan mata yang tajam.
"Tuan alexanderku begitu tampan dan memikat." ujar wanita itu dengan menatap menggoda pada pada alexander.
"Aku jadi khawatir, akan banyak wanita di luar sana yang menginginkan tuanku untuk naik ke atas ranjangnya" lanjut wanita itu dengan nada manja. alexander memutar tubuhnya menghadap wanita cantik yang hanya mengenakan pakaian dalam itu.
"Tetapi aku yakin tuanku tidak seperti itu" seru wanita itu lagi dengan merangkulkan tanganya padaa leher panjang alexander.
__ADS_1
"Wanita wanita itu tidak akan cukup untuk memuaskan tuanku bukan. karena tuanku sudah memiliki aku" kini tangan itu bergerak nakal lagi dengan membelai dada bidang alexander lalu turun kebawah hingga area yang begitu privat.
"Argh!!" Erang wanita itu karena alexander mencengkram kuat pergelangan tanganya, saat akan menyentuk yang tidak harusnya di sentuh.
"Kau benar. dan salah satu dari wanita wanita itu bukankah dirimu" ujar alexander tajam dengan mata menusuk. membuat wanita itu menciut takut.
"Tu-tuanku ba-bagaimana mungkin aku berani" ujarnya dengan terbata. keringat dingin memenuhi kening wanita itu karena tatapan menakutkan alexander dan tanganya yang sudah kebas.
"Benarkah. bukankah baru saja kau melakukanya?" wanita itu semakin berkeringat dingin ketakutan ketika tatapan alexander semakin mengerikan. aura dalam ruangan itu bahkan sampai terasa dingin dan menyeramkan juga.
"Beritahu aku apa hukuman bagi mereka yang melewati baatasan dariku?" alexander bertanya dengan mendekatkan wajahnya dan berbisik seperti sebuah ancaman.
Meski wajah tampan itu melihatnya dengan datar namun mata coklat yang sangat tajam milik alexander itu seperti mengancamnya dan akan membunuhnya detik itu juga.
"M-ma-maafkan s-sa-saya tuan" tubuh wanita itu sudah sepenuhnya bergetar hebat dengan keringat dingin yang hampir menetes.
"Katakan" tukas alexander lagi dengan semakin mengencangkan cengkramanya hingga pergelangan kecil itu memerah memar.
"Arh. saya. Itu me-mereka yang melewati batasan, akan berakhir tragis" wanita itu menjawab dengan bergetar dan terbata. Rasanya seperti menghadapi malaikat maut yang kapanpun siap mencabut nyawanya.
"Kalau kau tahu. lalu kenapa kau masih...."
BRUK
"Maafkan saya tuan alexander. saya mohon ampuni nyawa saya. saya tidak akan berani selancang itu lagi. saya tidak akan mengulanginya. saya janji" wanita itu seketika langsung bersimpu berlutut dibawah kaki alexander. menatap wajah kejam alexander dengan merinding yang penuh keringat.
alexander menatap tubuh berlutut wanita di depanya dengan jiji dan penuh ancaman. lama alexander membiarkan tubuh itu berlutut di bawah kakinya. baru kemudian alexander berlutut berhadapan dengan wanita di depanya. tangan kekar itu terulur mencengkram wajah mulus itu dengan kasar.
"Kau membuatku muak, dengan beraikap menjijikan seperti ini" setelah menghempaskanya. alexander bergegas berdiri melempar baju wanita itu kedalam tempat sampah di luar kamar hotelnya.
"Keluar. sebelum aku melemparmu!" perintahnya dengan penuh ketegasan. dengan cepat wanita itu berdiri lalu berlari keluar kamar.
"Berterimakasih lah karena aku tidak menghabisimu" wanita itu menatap ngeri pada wajah marah alexander.
__ADS_1
"Terimakasih tuan alex..."
BLAM
ucapan wanita itu terpoting tepat saat tuan alexander menutup pintu kamarnya dengan kasar.
dengan geram wanita itu mengepalkan tangannya hingga kulitnya memutih. untuk pertama kalinya wanita itu di permalukan. dia bahkan sudah merelakan hargadirinya demi merayu alexander namun pria tegas itu sama sekali tidak tergoda dan malah melemparnya keluar kamar dengan tidak hormat.
pria kejam itu bahakan tidak memberinya pakaian sehelaipun.
CKLEK
SRUK
BLAM
wanita itu hampir tersedak ludahnya saat sedang mengutuk alexander. namun dengan tiba tiba pria itu membuka pintunya dan melemparkan beberapa ratus tibu uang padanya.
"Hah. jantungku hampir copot" gumamnya memegang dadanya dengan lemas. matanya dia edarkan kesekeliling untuk melihat apakah ada orang yang memperhatikan atau tidak.
baru saja akan mengambil bajunya di tempat sampah yang di buang alexander tadi. namun matanya menangkap cctv yang sedang merekamnya.
"Haiss. sialan. marcus alexander" geramnya.
Di dalam alexander menyemprotkan cairan pembersih dan pewangi keseluruh ruangan yang sudah di sentuh wanita murahan tadi. lalu melepas piamanya dan membuangnya ketempat sampah. setelah itu masuk ke kamar mandi membilas tubuhnya yang kotor di sentuh wanita tadi.
*******************TBC***********************
terimakasih bagi semua pembaca yang sudah membaca cerita ini dan sudah menyukai cerita ini. Terimakasih banyak pada semua pembaya yang telah menyimpan cerita saya dalam perpustakaan kalian.
Mari terus dukung author dengan terus membaca, mengukai, dan menyimpan cerita author sebagai cerita favorit kalian. karena tanpa dukungan kalian saya bukanlah apa apa.
Terimakasih semuanya. author mencintai kalian.
__ADS_1