Pschyco Man

Pschyco Man
Melewati batasan alexander 1


__ADS_3

Pagi menjelang, suara kicauan burung bersautan dengan merdu. Sorotan cahaya matahari terlihat menerangi sebuah kamar dengan cat putih dan hitam itu melalui jendela besar disisi depan ranjang. Kamar yang terlihat agak berantakan dengan selimut yang setengahnya menyentuh lantai, lemari kecil yang tergeletak di lantai membuat isinya berserakan, serta obat yang berserakan.


Tok Tok Tok


"Presdir, pagi ini anda ada rapat. apakah anda sudah bangun?"


Lelaki di dalam yang masih tergeletak di lantai sedikit mengerang dan perlahan membuka matanya. Kepalanya sedikit pusing dan badan yang pegal pegal akibat semalaman tidur di lantai. Mata coklat itu dia edarkan mencari seseorang.


Tok Tok Tok


"Presdir?"


Pandanganya beralih ketika seseorang memanggilnya lagi dari balik pintu. Dengan masih agak lemas lelaki itu berdiri dan membuka pintu kamarnya. Menampilkan asisten pribadinya yang sudah rapih.


Lelaki berkaca mata itu terkejut melihat penampilan berantakan dari pria di depanya.


"Anda tidak apa?" tanyanya kawatir namun yang di tanya hanya diam dan masuk kembali kedalam kamar.


Lagi lagi pemandangan di dalam kamar membuat lelaki kaku itu kembali terkejut dan kawatir. Dia menatap sang presdir yang kini sedang duduk di atas tempat tidur dengan agak lemas.


"Apakah anda ingin saya membatalkan rapatnya?" tanyanya dengan kawatir.


"Tidak usah. Kamu bereskan semua ini, dan siapkan pakaianku. Aku mandi dulu" setelah mengatakan itu dia berlalu ke kamar mandi. Sang asisten menatap punggung presdirnya dengan cemas kemudian membereskan kekacauan di kamar itu.


"Sepertinya dia semalaman kambuh" gumamnya dengan memasukan kembali laci laci yang berantakan.


"Apakah nona anna datang lagi" gumamnya lagi setelah menghitung obat yang berserakan.


Sementara itu di dalam kamar mandi, lelaki itu 'Alexander' menatap pantulan wajahnya dalam diam. Pikiranya kembali kepada malam tadi dimana gadis kecil itu terus menemaninya.


"Hah. seharusnya aku tidak tidur. jadi aku bisa menikmati waktu bersamanya" gumanya kemudian membasuh wajahnya dengan air.


Setelah 20 menit, alexander keluar dan mulai bersiap siap. Dengan elegan alexander dan asistenya berjalan menuruni tangga. memasuki mobil dan menuju kantornya.


Sepanjang rapat Alexander terlihat tidak begitu fokus, pikiranya terus teringat pada wajah mungil dan cubby 'Anna'.

__ADS_1


"Presdir. Anda sepertinya kurang sehat. saya akan antar anda pulang" ujar asisten itu menghampiri presdirnya.


"Tidak. antar aku ke hotel saja." ujarnya menyambar jasnya.


"Dan minta wanita itu kesana. malam ini" perintahnya lagi kemudian berjalan keluar lebih dulu.


"Baik."


**********************************************


Hotel moon


**************



Pada salah satu kamar hotel, lampu dihidupkan dengan remang, membuat ruangan tersebut terlihat agak samar. Dari ujung balkon terlihat seorang lelaki bertubuh tegap tengah berdiri dengan segelas wine di tangannya, menatap kedalam ruangan yang remang remang itu. Lelaki itu 'Marcus alexander' meneguk minumanya kemudian berjalan memasuki ruangan tersebut lalu meletakan gelasnya pada sebuah meja di ruangan tersebut. Kemudian pandanganya beralih pada cermin rias dekat pintu, berjalan perlahan menuju cermin itu. Alexander berdiri menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu gagah dan berotot. Mata coklatnya terus menatap pada cermin dalam diam dengan fikiran yang entah kemana.


CTEK


GREP!


Sebuah tangan ramping melingkar memeluk tubuh kekarnya dari belakang. Dengan tangan yang bergerak meraba menelusuri tiap sudut tubuh kekar Alexander. Tangan tersebut berputar putar dan mengusap lembut dada bidang itu. Dari pantulan cermin Alexander hanya menatap diam gerakan nakal tangan tersebut dengan mata yang tajam.


"Tuanku begitu tampan dan memikat" ujar wanita itu dengan menatap menggoda pada alexander.


"Aku jadi khawatir, akan banyak wanita di luar sana yang menginginkan tuanku untuk naik ke atas ranjang tuanku" lanjut wanita itu dengan manja. Alexander memutar tubuhnya menghadap wanita cantik yang hanya mengenakan pakaian dalam itu.


"Tapi aku yakin tuanku tidak seperti itu"seru wanita itu lagi dengan merangkulkan tanganya pada leher panjang Alexander.


"Wanita wanita itu tidak akan cukup untuk memuaskan tuanku bukan. karena tuanku sudah memiliki aku" kini tangan itu bergerak nakal dengan membelai dada bidang Alexander lalu turun pada perut kotak kota milik alexander hingga berhenti pada area yang private.


"Arghh!" Erang wanita itu karena alexander mencengkram kuat pergelangan tanganya. Saat akan menyentuh yang seharusnya tidak di sentuh.


"Kau benar, dan salah satu wanita wanita itu bukankah dirimu?" ujar alexander tajam dengan mata menusuk dan memancar tajam.

__ADS_1


"T-Tuan Tuanku bagaimana mungkin aku berani" geleng wanita itu dengan menunduk. merasakan aura dingin dan mencekam dari alexander.


"Bukankah kau baru saja melakukanya" wanita itu semakin berkeringat dingin ketakutan ketika tatapan Alexander semakin mengerikan. Auranya bahkan sampai memenuhi isi ruangan.


"Beritahu aku apa hukuman bagi mereka yang melewati batasan dariku" bisik Alexander yang seperti ancaman.


Meski wajah tampan itu melihatnya dengan datar, namun mata coklat yang sangat tajam milik Alexander itu seperti mengancamnya dan akan membunuhnya detik itu juga.


"M-ma-maafkan s-sa-saya tuan!" Tubuh wanita itu sudah sepenuhnya bergetar hebat dengan keringat dingin yang hampir menetes.


"Katakan" perintah Alexander dengan semakin mengencangkan cengkramannya hingga pergelangan kecil itu memerah memar.


"Arghh!!!"


"Arh. s-saya. Itu m-mereka yang melewati batasan, ak-akan berakhir tragis, dan terhina" Wanita itu menjawab dengan terbata karena bergetar ketakutan. Rasanya seperti menghadapi malaikat maut.


"Kalau kau tau. lalu kenapa masih..."


BRUK


"Maafkan saya tuan marcus. saya mohon ampuni nyawa saya. saya tidak akan berani selancang itu lagi. saya tidak akan berani mengulanginya. saya janji tuan" wanita itu seketika langsung berlutut dibawah kaki alexander. Menatap wajah kejam Alexander dengan merinding dan penuh keringat.


Alexander menatap tubuh berlutut wanita di depannya dengan jijik dan penuh ancaman. Lama Alexander membiarkan tubuh itu berlutut di bawah kakinya. Baru kemudian Alexander berlutut berhadapan dengan wajah di depanya. Tangan kekar itu terulur mencengkram wajah mulus itu dengan kasar.


"Kau membuatku muak dengan bersikap menjijikan seperti ini" Setelah menghempaskannya. Alexander bergegas berdiri melempar baju wanita itu ke tempat sampah di luar kamar hotel. Sedangkan tas wanita itu dia lemparkan keluar jendela. Membuat sang pemilik membatu terkejut.


"Berterimakasih lah aku tidak menghabisimu " wanita itu menatap ngerih pada wajah alexander.


"Te.terimakasih tuan mar..."


"Cepat keluar!" perintah Alexander dengan pandangan membunuh. Membuat wanita itu menelan salifnya dengan susah. Kemudian segera berdiri dan berjalan ke arah pintu.


BLAM


Telat setelah wanita itu keluar, alexander menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


**********************************************


__ADS_2