
David Hudson di periksa oleh Fraster. Semua pakaian nya di lucuti. Koper di bongkar. Lemari dan laci di periksa.
"Sudah selesai ?"
Akhirnya Fraster keluar dari kamar. Dia berkata
"Tidak ada. Anda tidak keberatan jika kami periksa semua kamar."
Rebbeca berkata
"Silahkan."
Victoria berkata
"Biar saya yang memeriksa tubuh nona Cluster dulu di kamar. Setelah itu baru abda masuk dan memeriksa kamar. "
Fraster mengangguk
Kedua wanita itu masuk ke kamar. Victoria sibuk memeriksa seluruh badan Rebbeca. Setelah selesai dia keluar ruangan. Dan giliran Tuan Fraster masuk ke kamarnya untuk mencari pistol itu. Tuan Hudson juga ikut.
Mereka membuka semua laci lemari tapi tak menemukan pistol itu di sana. Akhirnya mereka keluar .
Fraster menggelengkan kepalanya . Dia berkata
"Tidak ada."
Victoria berkata
"Baiklah lebih baik sekarang kita menyimpan obat obat ini dulu di tempat yang aman. "
Rebbeca berkata
"Sepertinya di dapur ada sebuah kotak tempat menyimpan peralatan perak."
Fraster berkata
"Itu baik. Lalu bagaimana dengan kunci nya ?"
Victoria diam saja. Dia tidak menjawab. Bersama sama mereka turun ke lantai bawah menuju dapur. Di buka lemari nya di dalam nya terdapat sebuah kotak kayu berbahan beludru merah. Di masukkan semua obat obat itu ke dalam sana. Kotak itu di kunci. Lemari nya pun di kunci. Lalu di berikan asing masing kunci kepada Fraster dan Hudson. Fraster memegang kunci kotak. Hudson memegang kunci lemari.
Victoria berkata
"Saya rasa anda berdua adalah yang paling baik untuk menyimpan kunci ini dari pada kami para wanita. Akan sangat sulit untuk pembunuh tersebut membuka lemari tanpa kedua kunci tersebut. "
Dia meneruskan kata katanya
"Sekarang kita harus mencari tahu di mana pistol tuan Hudson berada."
Fraster berkata
"Harusnya tuan Hudson sendiri yang bisa menjawab pertanyaan itu."
Hudson berkata dengan sengit
"Anda terlalu keras kepala. Sudah saya katakan bahwa pintol itu hilang."
Victoria bertanya dengan pelan
"Kapan terakhir anda melihat pistol tersebut."
__ADS_1
Hudson berpikir sejenak. Dia menjawab
"Semalam, sebelum tidur saya meletakannya di sana."
Victoria merenung
"Pasti seseorang telah mengambil nya tadi pagi , ketika sedang ribut ribut. "
Rebbeca berkata
"Pasti ada di sini. Kita harus mencari nya. "
Helen berkata dengan wajah muram
"Saya rasa itu sulit. Says yakin pembunuh itu cukup memiliki waktu untuk menyembunyikan pistol berserta suntikan ku juga. Kita tidak akan dengan mudah bisa menemukannya."
Fraster menghela napas dengan kasar. Dia berkata
"Rasanya saya tahu di mana alat suntik itu. Silahkan ikuti saya."
Dia bergerak menuju pintu depan. Dia berjalan ke belakang. Di dekat jendela ruang makan dia menemukan jarum suntik tersebut.
Fraste berkata dengan nada puas.
"Ini adalah satu satunya tempat di mana dia bisa membuang benda ini. Setelah membunuh Tuan Hart dia melempar alat suntik itu keluar jendela."
Rebbeca berkata dengan nada mendesak.
"Sekarang kita harus mencari pistol tersebut. "
Victoria berkata
Berlima mereka mencari pistol itu di seluruh rumah. Ruang bawah tanah, gudang sampai atap di cari pun pistol tetap tidak ada di mana mana.
Sekarang tersisa lima orang. Lima orang yang saling menatap dengan takut dan curiga. Metekq tidak perlu melakukannya secara sembunyi sembunyi lagi.
Tidak ada percakapan , hanya keheningan. Mereka saling pandang, mencurigai satu sama lain. Otak mereka terus berputar dengan kata kata salah satu dari mereka adalah pembunuh nya. Salah satu. Siapa ?"
Tuan Dave Hudson duduk diam sambil menatap ke empat orang yang ada di depan nya. Matanya tajam mengawasi. Nyonya Victoria Barrent duduk di kursi dekat jendela. Sambil minum dia tersenyum, sepertinya dia menikmati permainan ini. Rebbeca Cluster menjadi gugup, sikap tenang mya hilang seketika. Tangan nya gemetaran . Ketakutan terpancar jelas di matanya. Fraster berjalan mondar mandir. Matanya merah dan terlihat akan memakan orang. Syaraf nya menjadi lemah. Dia menjadi gampang terkejut. Helen Greece lah yang paling parah keadaannya. Matanya berair , tubuhnya gemetar. Dia bahkan hampir menjatuhkan gelas yang di pegangnya.
Helen berkata suaranya gugup hampir tidak terdengar.
"Bagaimana jika kita membuat sesuatu. Api unggun misalnya untuk isyarat asap."
Fraster berkata
"Tidak kah kau lihat cuacanya."
Hujan turun dengan sangat deras. Angin bertiup sangat kencang. Membuat mereka semakin terkurung di sini.
Dave berkata
"Tenang saja, kita akan bisa membuat isyarat atau rakit apabila waktunya tiba."
Helen berkata histeris
" Waktu ? Justru kita tidak punya waktu. Malam ini bisa saja kita mati semua."
Victoria berkata dengan pelan
__ADS_1
"Kita harus waspada. Jika kita waspada semua akan selamat."
Makan siang telah selesai.
Kelima orang tersebut pergi ke dapur dan membuka lemari penyimpanan makanan. Banyak kaleng makanan dan kaleng buah. Juga terdapat roti kering. Mereka membuka kaleng kaleng makanan itu dalam diam. Meletakan nya di masing masing piring dan makan di sudut ruangan.
Kemudian bersama sama mereka kembali ke ruang tamu yang besar. Duduk dalam diam dan saling memperhatikan.
Mereka mulai berpikir
"Aku yakin pelakunya nya pasti Helen. Dia seorang dokter. Dia memiliki obat. Kesempatan nya selalu bagus. Aku yakin dia sudah gila. Aku harus mengatakannya kepada yang lain. Tapi tunggu. Dia melihat ku. Matanya berkilat marah. Aku harus hati hati sangat hati hati. "
"Aku mampu melindungi diri ku sendiri. Aku sudah sering berada dalam situasi gawat. Aku selalu selamat. Ya selalu. Dewi keberuntungan selalu memihak ku. Ini pun begitu. Aku pasti keluar dari pulau terkutuk ini."
"Ini semua gila. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus bisa keluar dari sini. Tunggu aku yakin gadis itulah pelakunya. Ya hanya dia yang bisa melakukanya. Dia tenang terlalu tenang. Harusnya dia bisa histeris seperti ku. Aku akan mengawasi nya."
"Jam berapa sekarang ? Baru jam tiga. Kenapa lambat sekali. Aku harus bisa menemukan pistok terkutuk itu. Aku yakin dia berbohong. Dia pasti menyimpan nya. Tapi di mana . Dimana. Kami sudah mencari kemana mana tapi benda itu tidak ada. Dimana dia menyembunyikannya nya. "
"Aku harus tenang. Tidak ada yang tahu. Ya ini sudah di mulai. Hari akhir sudah datang. Semua di mulai dari dia. Dia..."
Jam berbunyi menunjukan pukul empat. Mereka terlompat kaget.
Rebbeca berkata ragu ragu
"Ada yang ingin teh ?"
Sunyi. Akhirnya Fraster berkata
"Aku satu."
Rebbeca berdiri dan berkata
"Akan saya buat. Tunggu sebentar di sini."
Nyonya Victoria Barren berkata dengan lembut.
"Nona kami akan ikut anda dan melihat tehnya sendiri.
Rebecca sedikit tertegun. Tapi dia mengerti. Dengan sedikit tertawa dia berkata
"Baik."
Akhirnya lima orang tersebut masuk ke dapur. Rebbeca dan Victoria menyiapkan teh. Helen mengambil sedotan baru dan meminumnya menggunakan sedotan tersebut. Fraster dan Dave membuka botol whisky yang baru dan meminumnya.
Dave tersenyum
"Kita harus waspada."
Mereka berlima kembali lagi ke ruang tamu. Ruang tamu tampak gelap. Dave menekan tombol lampu. Akan tetapi lampu tidak mau menyala.
Victoria berkata
" Ada satu kotak lilin di ruang makan. Kita bisa menggunakan nya."
Dave berkata
"Biar saya ambilkan."
Dave Hudson pergi ke ruang makan dengan cepat dia kembali lagi membawa korek, sekotak lilin dan cangkir untuk alas nya.
__ADS_1
Lima lilin di nyalakan dan di tempatkan di sisi masing masing kelima orang tersebut. Jam baru menunjukan pukul lima sore.