Pulau Duyung

Pulau Duyung
Victoria Barrent


__ADS_3

Pada jam enam lewat sedikit, akhirnya  Rebbeca  bangkit . Dia ingin ke kamar nya. Mandi dan beristirahat. 


Dia bangkit dan mengambil sebatang lilin . Memyulutkannya dan pergi menaiki tangga menuju kamarnya. 


Ketika dia membuka pintu kamarnya. Dia terhenti hidungnya mencium sesuatu. Ya bau kaporit. Dia yakin dia mencium bau itu . Bau yang sama pada saat anak itu tenggelam.


"Nona saya ingin berenang ke sana. Boleh ya ? "


Anak kecil manja . Selalu saja merengek.  Jika dia tidak ada dia . Chris pasti sudah menjadi orang kaya dan bisa menikahi gadis yang di cintainya. 


Ya Chris.  Dia bisa melihat senyum Chris. Chris  ads di sana dan menunggu nya. 


Tiba tiba angin jendela berhembus kencang. Kikin yabg di pegang Rebbeca padam. Semua menjadi gelap gulita. Tiba tiba saja dia menjadi takut. Takut pada kegelapan.  


"Tenang saja." Rebbeca  berkata 


Keempat  orang lain nya ada di bawah . Di lantai atas ini hanya ada dia sendiri.  Tidak ada seorang  pun di kamar itu. 


Tapi bau itu jelas. Dia tidak berkhayal. Itu juga bukan ilusi. Dia menciun nya sangat jelas bau kaporit air kolam renang itu. 


Dia merasa sangat yakin ada orang lain di kamar ini. Dia mendengar sesuatu. Ya dia yakin. Dan ketika dia berdiri tiba tiba dia merasakan sesuatu memgikat pergelangan kaki nya.


Dia melihat ke bawah. Basah , rambut pirang basah. Genangan air tampak wajah Cindy pucat dengan rambut basah .


Rebbeca  menjerit. Dia menjerit sampai suaranya habis. Jeritan kengerian dan ketakutan. 


Dia tidak mendengar suara derap langkah kaki menuju kamar nya. Pintu yang di dobrak. Dan empat orang yang muncul di kamarnya. 


Lalu dia menyadari cahaya empat lilin yang mendekati nya. Seseorang  mendekati nya. Ternyata itu Dr Greece. 


"Ada apa ? Apa yang terjadi ? Kenapa kau menjerit?"


Wajahnya pucat, bibir nya kering. Dia berusaha berbicara tapi suara nya tak bisa keluar. Tiba tiba pandangannya menjadi gelap. Rebbeca  pingsan.


Dia setengah sadar ketika dia merasakan tangan tangan memijat pelipis kepalanya. 


Dia mendengar  seseorang berteriak "Ya Tuhan apa ini ? "


Dia langsung  sadar. Dia membuka matanya dan melihat ke arah yang di katakan. Ternyata itu adalah sebuah rumput laut panjang basah dan berlendir.  Benda itulah yang mengelilingi pergelangan kakinya tadi. 


Dia mulai tertawa histeris. Dia berkata


"Rupanya itu hanya rumput laut. Rumput laut."


Tiba tiba dia merasa kepalanya berputar. Sekali lagi Helen memijit kepalanya agar rasa sakit nya berkurang. 


Waktu berjalan lambat, mereka semua menawarkan minuman kepadanya. Seseorang  memberikan segelas whisky. Dia hampir saja akan meminumnya , ketika dia menyadari sesuatu. Dia bertanya


"Dari mana minuman ini ? "


Fraster berkata


"Saya ambil dari bawah."


Rebbeca  berteriak histeris  lagi


"Saya tidak akan meninumnya."


Semua diam. Kenudia Dave tertawa dengan keras. Dia berkata


"Bagus sekali nona. Walau anda baru sadar dari ketakutan luar biasa itu. Tapi anda tetap waras. Akan saya ambilkan botol baru."


Dia keluar dengan cepat menuruni tangga. Dan kembali membawa botol baru. 


Rebbeca  berkata dengan suara lirih


"Saya sudah tenang sekarang. Saya akan minum teh saja."


Sambil di bantu oleh Helen . Rebbeca  berjalan tertatih tatih menuju kamar mandi. Dia mencuci wajahnya dan kembali. 


Fraster berkata dengan nada marah.


"Whisky itu sungguh tidak apa apa. "


Helen berkata


"Bagaimana anda yakin ?


Fraster berkata dengan  marah


"Saya tidak menaruh apa apa. Jika itu yang anda maksud."


Helen berkata cepat


"Saya tidak mengatakannya kalau anda yang melakukannya.  Bisa saja orang lain yang melakukannya."


Dave kembali membawa sebuah botol minuman baru dan pembuka botolnya. 

__ADS_1


Dia memberikan kepada Rebbeca  sebuah botol baru. 


"Ini nona , ini masih baru. Tidak ada yang perlu di curigai"


Tubuh Rebbeca bergetar hebat. Helen memegang gelas nya dan Dave menuangkan whisky  ke dalamnya.


Dia berkata


"Sebaiknya anda mi um ini nona Cluster. Anda baru saja terguncang dengan hebat."


Rebbeca  menyesap minunan itu sedikit. Perlahan lahan wajah nya yang pucat tampak sedikit berwarna.


Dave berkata  sambil tertawa


"Wah ini adalah pembunuhan yang tida sesuai  dengan rencana."


Rebbeca  berbisik


"Menurut anda itu yang di maksud ? "


Dave menganggukan kepalanya.


"Mengharapkan anda mati karena ketakutan. Ini mungkin kan dokter ? "


Helen menggelengkan kepalanya.  Dengan ragu dia berkata


"Ini cukup sulit. Sebab non Cluster  uda dan masih sehat. Kecuali nona memiliki riwayat penyakit jantung bawaan"


Dia mengambil gelas yang dipegang Fraster. Mencelupkan jarinya ke dalam dan mencicipinya. Roman mukanya tidak berubah. Dia berkata


"Ini tidak apa apa "


Fraster maju dengan garang. Dan berkata


"Kalau anda mengatakan saya memasukan sesuatu ke minuman itu akan saya hajar anda."


Rebbeca  yang telah sadar bertanya


"Dimana nyonya Barren?"


Ketiga orang tersebut saling pandang. 


"Aneh rasanya dia tadi mengikuti kita. "Kata Fraster.


"Saya juga mengira begitu. Bagaimana menurut anda dokter."


Helen berkata


Mereka saling pandang lagi.


Dave berkata


"Ini aneh sekali."


Debgan nada panik Fraster berteriak


"Kita harus segera mencarinya."


Dia berlari menuju pintu. Dan yang lainnya mengikuti dia. 


Ketika mereka memuruni tangga. Helen berkata


"Mungkin dia ada di ruang tamu."


Mereka menuju ruang tamu. Greece  memanggilnya  dengan keras


"Nyonya Barrent. "


Tidak terdengar jawaban. Rumah besar itu sepi. Di pintu masuk ruang tamu Helen berdiri diam masih mematung. Yang lain bergerak .aju. seseorang menjerit.


Victoria  Barrent  duduk di kursi dengan diterangi tiga buah lilin. Helen maju dan memeriksanya. Jalannya sedikit limbung seperti orang mabuk.


Dia membungkuk dan melihat ada noda coklat di kepalanya.  Dia menoleh dan berkata


"Kepalanya di pukul dari belakang. "


Fraster berkata


"Dengan apa ? "


Helen menjawab 


"Benda tumpul."


Rebbeca  terkejut sampai tidak bersuara. Tiba tiba Dave Hudson tertawa. Tawa lengkingan yang mengerikan. Ledakan tawa nya mengejutkan tiga orang lainnya. 


Rebbeca  berteriak

__ADS_1


"Baru tadi pagi kau berkata dia pelakunya."


Raut wajah Hudson berubah menjadi gelap. Dengan geram dia berkata 


"Ya dan ternyata satu orang tidak berdosa. Sudah terlambat."


Mereka mengangkat  tubuh Victoria Barren ke kamar nya dan meletakannya di atas tempat tidurnya. 


Lalu mereka turun lagi ke bawah. Dave berkata


"Lebih baik kita makan dulu sekarang. "


Keempat orang itu menuju dapur. Membuka lemari tempat penyimpanan makanan. Membuka sekaleng nanas, sekotak ham dingin. Dan sosis. Mereka makan dalam diam.


Rebbeca  berkata


"Saya sudah cukup."


Mereka mengakhiri makan. Dan bersama sama kembali ke ruang tamu. 


Fraster berkata


"Tersisa empat orang sekarang. Siapa berikutnya?"


Helen berkata


"Kita harus waspada. Sangat waspada."


Fraster mengangguk menyetujuinya. Dia berkata


"Itu yang di katakannya. Tapi nyatanya dia juga mati."


Helen berkata dengan nada putus asa


"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"


Hudson tertawa. Dia berkata


"Tentu saja apa yang terjadi pada nona Cluster akan membuat kita panik. Nona Cluster  berteriak, kita berlari lari ke atas."


Diaberhenti dan melanjutkannya


"Tapi tipuan seperti itu tidak akan terjadi lagi."


Fraster berkata


"Mungkin."


Helen berkata dengan suara lirih


"Salah satu dari kita berempat pembunuhnya. Tapi kita tidak tahu siapa."


Fraster berkata


"Saya tahu."


Rebbeca  berkata


"Saya tidak ragu."


Helen berkata dengan pelan


"Aku rasa aku juga sudah mengetahuinya."


Dave berkata


"Aku punya pendapat."


Sekali lagi keempat orang itu saling pandang. 


Rebbeca  berkata


"Saya lelah saya akan pergi tidur dulu."


Hudson berkata


"Baiklah saya juga akan ke kamar untuk beristirahat."


Fraster berkata


"Ya baiklah."


Helen berkata ragu ragu


"Saya rasa itu ide yang baik. Walau saya rasa tidak akan ada yang bisa tidur."


Mereka berjalan menuju pintu.

__ADS_1


__ADS_2