
Mereka berada di pantai lagi. Dave bertanya
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?"
Rebbeca diam saja. Dia tidak menjawab. Dave melanjutkan.
"Apa yang anda pikirkan ?"
Dengan nada putus asa Rebbeca berkata
"Oh Tuhan. Apa yang bisa kita lakukan? Apa yang akan terjadi ? Tolonglah . Aku takut sekali. Aku sudah tidak sanggup lagi."
Dave tidak menghiraukan kata kata Rebbeca. Dia melanjutkan kembali.
"Udara bagus. Langit cerah. Bulan akan muncul. Sebaiknya kita mencari tempat untuk beristirahat. Saling berjaga sampai pagi. Kita tidak boleh tidur."
Dave milirik Rebbeca sekilas. Dan berkata
"Sebaiknya anda mengambil baju yang lebih tebal di kamar anda. Jika anda memakai baju setipis ini sampai malam nanti anda pasti akan kedinginan."
Rebbeca tertawa. Suaranya parau.
"Saya akan lebih kedinginan jika saya mati nanti."
Dave berkata dengan suara lembut.
"Tentu . Tapi percayalah saya akan melindungi anda."
Rebbeca tiba tiba merasa takut. Dia segera berdiri. Dia berkata dengan nada kasar.
"Mari pergi. Saya tidak sanggup di sini berlama lama."
"Baiklah. "
Mereka berjalan bersama sama sepanjang pantai. Mereka juga melihat matahari tenggelam. Tiba tiba Rebbeca tertawa terbahak bahak.
"Sayang kita tidak bisa berenang. Coba saja kalau kita berenang. Kita mungkin selamat."
Dave sedang melihat lihat tebing yang curam. Dia berkata cepat.
"Coba lihat ke sini. Itu apa ?"
Rebbeca melihat ke arah yang di tunjuk Dave. Dia berkata
"Itu hanya sebuah kain."
Dave tersenyum. Dia berkata
"Saya kira sebuah rumput laut. "
Rebbeca berkata
"Mari kita ke sana dan memgecek nya."
Mereka berjalan menuruni anak tangga di samping tebing yang curam.
Dave berkata
"Ya itu hanya sebuah kain."
Rebbeca mendekat untuk bisa melihat lebih jelas. Tiba tiba dia berseru
"Itu orang ."
Ya itu adalah orang. Orang itu terjepit antara dua batu besar. Rebbeca dan Dave semakin mendekati nya. Betapa terkejutnya mereka.
Sebuah wajah berwarna biru bengkak di seluruh wajah. Rebbeca menjerit
"Ya Tuhan itu Dr Greece. "
Waktu demi waktu berlalu. Tapi bagi Rebbeca waktu berjalan sangat lambat. Dua orang yang sedang memandang mayat yang terjepit antara dua buah batu besar.
Tanpa isyarat atau pun aba aba. Meteka berdua mengaangkat wajah nya dan melihat satu sama lain.
Dave tiba tiba tertawa . Suara nya agak histeris. Seperti nya syaraf syaraf tangguh nya suda mencapai batas. Dia berkata
"Jadi begitulah nona Cluster. "
__ADS_1
Rebbeca berkata
"Tidak ada seorapun di pulau ini kecuali kita berdua."
Suara Rebbeca hampir tidak terdengar.
Dave berkata
"Benar . Dengan begini kita tahu di mana kita berada kan."
Rebbeca berkata
"Bagaimana dengan tipuan patung perunggu itu?"
Dave mengangkat bahunya . Dia berkata
"Tipuan yang bagus nona. Sangat bagus."
Mereka saling memandang lagi.
Rebbeca berkata dalam hati.
"Wajah tampan tapi sekarang wajah nya terlihat seperti seekor serigala buas. Serigala yang siap menerkam mangsanya."
Dave berkata dengan nada geram
"Jadi ini adalah akhir dari cerita ini. Ini adalah kebenaran nya. "
Rebbeca berkata dengan nada tenang
"Ya benar."
Dia menatap laut. Dan kemudian memandang pada mayat di bawah sana. Dia bergumam
"Kasihan Dr Greece. "
Dave membuang lidah dan berkata
"Kasihan. Kenapa harus kasihan ?"
"Apakah kau tidak mempunyai rasa kasihan ?"
Dave berkata dengan nada mengejek.
"Jangan harap saya memiliki rasa kasihan kepada anda."
Rebbeca diam. Dia memandang mayat Dr Greece. Dia berkata
"Sebaiknya kita mengangkat nya dari sini."
Dave berkata
"Untuk apa ? Untuk menyatukan dengan mayat mayat yang ada di dalam vila. Saya tidak peduli. Lebih baik dis di situ."
Rebbeca berkata lagi dengan lembut
"Paling tidak kita mengangkat nya agar dia tida terseret ombak."
Dave tertawa mengejek. Dia berkata
"Boleh saja."
Mereka berdua berusaha menarik tubuh Dr Greece ke atas. Tentu bukan pekerjaan mudah.
Dengan napas tersengal senggal Dave berkata
"Sudah cukup?"
Rebbeca berkata
"Ya. "
Suara dingin itu membuat Dave menoleh. Dengan cepat dia sadar bahwa pistol itu telah hilang dari saku nya.
Rebbeca sudah berdiri dengan dua tangan menggenggam erat pistol. Di todongkan nya sejata itu di hadapan Hudson.
Hudson dengah nada geram berkata
__ADS_1
"Jadi itulah yang menjadi alasan rasa kasihan anda."
Rebbeca menganggukkan kepalanya.
"Ya benar. "
Dengan tenang dan wajah datar tanpa emosi. Rebbeca menodongkan pistol itu pada Dave Hudson.
Hudson menyadari bahwa sekarang dewa kematian sedang menghampirinya. Bersiap mencabut nyawanya jika dia lengah sedikit.
Namun demikian, dia memutar keras otaknya. Dis berkata dengan nada marah .
"Berikan padaku."
Rebbeca tertawa. Tawa yang mengerikan.
Dave berkata lagi
"Berikan pistol itu."
Otaknya dengan cepat berputar. Apakah sebaiknya membujuk gadis itu. Memohon pada gadis itu. Akhirnya dia berkata
"Dengarkan aku nona."
Dan kemudian dia meloncat seperti harimau. Menuju tempat Rebbeca. Dengan otomatis Rebbeca menarik pelatuk pustok tersebut.
Tersungkur lah tubuh Hudson dan jatuh ke tanah. Dia diam tidak bergerak. Rebbeca mendekati nya dan melihat darah segar keluar dari lubang lukanya. Peluru nya menembus jantung Dave Hudson.
Tiba tiba Rebbeca menjadi lega. Perasaan senang timbul di hatinya.
Tidak ada lagi ketakutan dan kecemasan mencekam nya. Akhirnya dia sendirian di pulau ini.
Sendirian dengan sembilan mayat. Tapi dia tidak peduli dengan itu
Yang penti g dia hidup. Dia berhasil bertahan hidup. Dialah pemenangnya.
Dia duduk di pantai tersenyum bahagia. Akhirnya dia terbebas.
Matahari sudah tenggelam, ketika Rebbeca berjalan menuju rumah.
Dia merasa lapar dan juga mengantuk. Dia lelah, dia ingin berbaring tidur di kamarnya kasur yang empuk.
Dengan hati yang senang dia berpikir besok pagi akan ada kapal datang untuk menyelamatkan dia. Sekarang dia busa tidur nyenyak. Tidak ada lagi ketegangan, kecemasan dan jetakutan yang melandanya sekarang. Karena dia seorang diri disini.
Dia berpikir, tadi pagi dia begitu takut. Bahkan waktu Fraster mengajaknya untuk makan siang di sana dia menolak. Tapi sekarang dia suda tidak takut lagi. Bagi dia itu hanya rumah biasa sekarang.
Lagi pula dia sudah melewati bahayanya. Dia merasa dirinya sangat pandai. Dia menipu Hudson. Merampas pistol nya dan menembak nya. Menembak pembunuh yang sudah membunuh delapan orang yang lain.
Rebbeca berkata pada dirinya sendiri.
" Aku senang semua telah selesai. Akhirnya aku bisa tidur dengan tenang."
Sambil tersenyum , dia melangkahkan kaki di teras vila itu. Dia bergumam pada dirinya sendiri.
"Orang biasa tidak akan bisa tidur dengan mayat . Apalagi mayatnya ada di setiap kamar."
Dia menuju dapur. Di lemari kaca dilihatnya lah tiga boneka porcelain. Diambil dua buah dan di lemparkan nya keluar.
Sisa satu boneka di tinggalkan nya di lemari kaca. Rebbeca keluar dari dapur dan menaiki tangga menuju lantai dua.
Ruangan sudah mulai gelap karena matahari sudah sepenuhnya tenggelam. Tiba tiba dia merasa lelah. Dia berjalan dengan perlahan sekali. Ketika sampai di lantai dua , dia menjatuhkan pistol nya.
Dia berpikir
"Alangkah sepinya rumah ini sekarang. "
Dia berjalan terus menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya. Walau ruangan nya gelap tapi sinar bulan masuk melalui jendela.
Dia bisa melihatnya sekarang. Sebuah tali tergantung. Tali itu seolah memanggilnya. Di bawah taki itu sudah tersedia bangku.
Seolah olah tanpa di suruh Rebbeca bergerak sendiri. Dia menaiki bangku kecil itu. Melingkarkan tali itu di atas leher nya.
Dia tersenyum dan berpikir
"Inilah akhir segalanya. "
Dia menyepak kursi kecil itu. Dan tergantung lah dia di sana.
__ADS_1