
Dalam bab ini, Liang Chen dan teman-temannya tiba di kota terakhir dalam perjalanan mereka menuju puncak kekuatan yang tak terbatas. Kota itu dikenal sebagai Kota Bayangan, tempat berkumpulnya para kultivator kuat dan berpengaruh. Di sini, persaingan menjadi lebih ketat, dan hanya yang terkuat yang bisa bertahan.
Ketika mereka memasuki Kota Bayangan, Liang Chen dan teman-temannya langsung merasakan aura kekuatan yang mencekam. Bangunan megah menjulang di sekeliling mereka, dan suara pertarungan terdengar di setiap sudut. Kota ini adalah medan pertempuran bagi para kultivator yang mencari pengakuan dan kekuatan.
Mereka mendengar kabar tentang Turnamen Kultivasi Kota Bayangan yang akan segera digelar. Turnamen ini adalah kesempatan bagi kultivator terbaik untuk membuktikan kemampuan mereka dan mendapatkan pengakuan dari para sesepuh dan tokoh-tokoh kuat. Liang Chen dan teman-temannya memutuskan untuk ikut serta dalam turnamen ini untuk menguji diri mereka sendiri dan menantang para kultivator terkuat di kota tersebut.
Dalam persiapan mereka, Liang Chen bertemu dengan seorang kultivator senior bernama Zhao Wei. Zhao Wei adalah sosok yang dihormati di Kota Bayangan dan telah mencapai puncak kekuatan. Dia menawarkan untuk melatih Liang Chen dan membantunya meningkatkan keterampilan bertarungnya.
__ADS_1
Dengan penuh rasa hormat, Liang Chen menerima tawaran itu dan memulai pelatihan intensif bersama Zhao Wei. Pelatihan itu tidak hanya berfokus pada aspek fisik dan keterampilan bertarung, tetapi juga pada pemahaman yang lebih dalam tentang energi dan harmonisasi dengan alam semesta.
Selama pelatihan, Liang Chen mengalami kemajuan yang luar biasa. Keterampilan bertarungnya semakin terasah, dan dia semakin memahami arti sejati dari kultivasi. Zhao Wei juga berbagi pengetahuannya tentang pentingnya menjaga keseimbangan dan ketenangan dalam pertempuran.
Sementara itu, teman-teman Liang Chen juga menjalani pelatihan mereka sendiri. Masing-masing dari mereka fokus pada keterampilan khusus yang mereka kuasai, memperdalam pemahaman mereka tentang kultivasi, dan mengasah kekuatan mereka masing-masing.
Pertandingan demi pertandingan berlangsung, dan Liang Chen dan teman-temannya berhasil melawan para pesaing tangguh. Mereka menampilkan keterampilan bela diri mereka dengan penuh keberanian dan strategi yang cerdik. Meski menghadapi musuh yang kuat dan licik, mereka tidak menyerah.
__ADS_1
Namun, dalam pertempuran final, Liang Chen harus menghadapi kultivator yang dijuluki "Tangan Kematian". Musuh ini memiliki kekuatan yang luar biasa dan menguasai teknik bertarung yang mematikan. Pertarungan itu menjadi bentrokan antara kekuatan yang kuat dan tekad yang tak tergoyahkan.
Liang Chen menggunakan segala kemampuannya, memanfaatkan warisan darahnya dan keterampilan bertarung yang diperoleh selama perjalanan ini. Meskipun dia terdesak, Liang Chen tidak menyerah. Dalam momen kritis, ia mengeluarkan kekuatan terakhir yang tersisa, mengejutkan musuhnya dengan serangan terakhir yang mematikan.
Dalam keadaan gemetar, Liang Chen berhasil mengalahkan "Tangan Kematian" dan memenangkan turnamen tersebut. Kemenangan ini membuatnya mendapatkan pengakuan dari para sesepuh dan tokoh-tokoh kuat di Kota Bayangan. Liang Chen dan teman-temannya berdiri di atas panggung kemenangan, merayakan keberhasilan mereka.
Namun, meski mereka telah mencapai puncak turnamen, mereka menyadari bahwa perjalanan mereka belum berakhir. Puncak kekuatan yang sejati masih menanti mereka di luar sana. Dengan semangat yang menggebu-gebu, Liang Chen dan teman-temannya bersiap melanjutkan perjalanan mereka, siap menghadapi tantangan dan bahaya yang lebih besar lagi di masa depan.
__ADS_1