
"Lelah sekali aku hari ini, huft!"
"Semoga saja aku betah bekerja disini, bosnya juga baik dan ramah sekali kepadaku," ucapku sembari merebahkan tubuhku di atas ranjang.
Lelah dan letih kurasa, kini perlahan mata ini terpejam. Hanya dengkuran halus kini terdengar dari dalam kamarku.
Saat tengah malam datang, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang beberapa hari ini ku kenal. Dia adalah Pak Romi Hermawan, Majikanku.
Yang membuatku sangat terkejut adalah saat dia duduk di tepi ranjang ku dan dengan lembut membelai surai rambutku.
Aku yang mulai terusik dengan kehadirannya, kini segera menepis kasar tangannya. Akan tetapi, bukannya pergi dan menjauh dariku, kini dia justru mendekatiku.
Hembusan napasnya terasa hangat saat menerpa wajahku, tetapi apa ini? Bau alkohol?
Mataku pun membola sempurna, saat bau alkohol menyeruak masuk ke dalam penciumanku.
'Astaghfirullah? ternyata Pak Romi sedang mabuk!' batinku.
Kemudian dengan cepat aku pun bangkit dan beranjak dari ranjang ku. Akan tetapi, tiba-tiba pergelangan tangan ku seketika di cekal olehnya.
Aku pun kembali terkejut, dan perlahan tubuhku di tarik ke dalam pelukannya.
Aku berusaha untuk melepaskan diri dan memberontak, tetapi bukannya terlepas justru pelukan itu malah semakin erat, sehingga aku sulit untuk bergerak.
Saat aku mendongak menatap wajahnya, pada saat itu bibirku diciumnya secara perlahan. Meskipun aku memberontak dia tak menghiraukan, tetapi justru semakin memperdalam ciuman itu.
Aku hampir saja terbuai oleh permainannya. Namun, aku masih bisa menahan diriku dari permainan Pak Romi. Karena aku sangat sadar jika ini tidak seharusnya dia lakukan kepadaku.
Setelah beberapa saat, ciuman itu pun dilepaskan olehnya. Tetapi satu hal yang membuatku sangat terkejut, adalah bisikan yang baru saja ku dengar.
"Tolong, jangan berteriak! aku hanya ingin bersamamu malam ini,"
Akupun terhenyak, tak menyangka apa yang baru saja kudengar.
Sebenarnya ada apa dengan majikanku ini. Ada masalah apa beliau? Hingga malam ini seperti ini? Bahkan, setiap hari dia sangat terlihat bijaksana tapi cenderung dingin.
"Aa-aapa?"
__ADS_1
"Tidak, Pak! pergiiiii! jangan sentuh Saya!" pekikku sambil memberontak.
Namun, sepertinya dia sudah hilang kendali, sehingga tak menghiraukan teriakan ku.
Seketika tubuhku di dorong kembali ke ranjang dengan kasar. Belum sempat aku menghindar darinya, dengan cepat dia langsung mengungkung tubuhku, sehingga membuatku semakin kesulitan untuk mencari celah.
"Temani aku malam ini sayang! Tubuhmu begitu indah, aku sangat menginginkan mu malam ini,"
"Tidak! pergiiii! jangaaan!"
Dengan sekuat tenaga aku pun memberontak, agar aku bisa melepaskan diri dari Pak Romi. Namun terlambat, dia yang sudah seperti di penuhi dengan ambisi. Dengan napas memburu, dia terus memasuki tubuhku.
Saat ini aku hanya bisa pasrah, meronta pun aku tak mampu. Karena kekuatannya jauh lebih kuat dariku.
Sungguh hancur sudah hidupku, ketika mahkota yang selalu aku jaga dengan sepenuh jiwa dan ragku, kini di renggut paksa oleh Majikanku sendiri.
Setelah puas melampiaskan semua padaku, dia hanya terkulai lemas di samping ku, sambil memeluk tubuhku agar aku tak bisa beranjak dari sisinya.
Aku hanya bisa menangis, meskipun tangisanku sia-sia. Dalam hati aku pun memaki dengan sumpah serapah, karena rasa sakit hatiku kepadanya.
Nasi sudah menjadi bubur. Tak mampu lagi mengembalikan sesuatu yang sudah terjadi.
Sungguh, ingin rasanya aku menyerah saja dan mengakhiri hidupku saat ini juga.
Tetapi, saat aku teringat kembali kepada orangtuaku, aku pun segera menepis jauh-jauh tentang pemikiran sempit itu.
'Tuhan, kuatkah aku! Mungkinkah ini adalah salah satu ujian darimu? Tetapi mengapa harus seperti ini?' keluhku dalam hati.
Beberapa jam kemudian, saat Pak Romi terbangun. Dia pun terkejut ketika mendapati dirinya berada di sampingku tanpa menggunakan apapun kecuali selimut sebagai penutupnya.
Saat itu, aku pun masih terisak sambil merutuki semua yang telah terjadi.
Dengan cepat, Pak Romi langsung mencari pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Maafkan aku, Devi! aku sama sekali tidak sadar melakukan semua ini. Tolong maafkan kekhilafan ku ini!" pintanya sambil menatap sendu ke arahku.
Aku pun langsung memalingkan wajahku darinya, rasanya sangat enggan aku menatap wajah orang yang telah melecehkan ku.
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku akan bertanggungjawab Jawab atas hidupmu dan siap membiayai kehidupanmu. Tapi maaf aku tak bisa jika harus menikahi mu. Karena aku sudah memiliki anak dan istri," ujarnya sambil mendekati diriku kembali.
Aku pun terkejut dengan apa yang baru saja ku dengar.
'Apa? Dia ingin membiayai hidupku? Apakah dia pikir aku menggilai hartanya? Apakah dia pikir harga diriku bisa dibayar dengan uang yang dimilikinya?'
'Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? mengapa aku harus mengalami nasib yang semalang ini?' keluhku dalam hati lagi.
Jujur saja, aku tak mampu untuk berpikir jernih untuk saat ini. Pikiran ku benar-benar buntu dan sangat kacau. Bahkan, aku seperti sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan yang telah hancur.
"Tolong, jangan katakan apapun kepada anak dan istri ku! Aku siap memberikan mu apapun dan berapapun yang kau mau. Tetapi, tolong jaga rahasia ini!" titahnya dengan enteng.
Setelah mengatakan hal itu, dia pun beranjak keluar dari kamar ku. Sedangkan aku hanya mampu terisak dan memaki dia saat pintu telah ditutup rapat.
Aku mencoba untuk bangun dan beranjak dari tempat tidur. Tetapi merasakan bagian bawah tubuhku yang terasa perih dan ngilu, membuat aku meringis kesakitan.
Aku ingin melangkah ke kamar mandi, untuk mengguyur tubuh kotor ini, dan membersihkan kembali jika aku bisa.
Tak ku sangka dan tak pernah terduga. Sekarang aku menjadi orang yang sangat-sangat kotor.
"Tuhan, ampuni aku!" rintihku di sela isakan tangis.
Aku pun tak pernah sengaja ingin melakukan semua ini.
Aku disini hanya ingin bekerja, akan tetapi semua hal yang tak diinginkan terjadi di malam ini.
Ku pasrahkan hidup ini padaMu Tuhan. Jika boleh jujur, aku tak sanggup lagi menjalani kehidupan ini.
Ingin ku menyerah. Karena aku saat ini hanya menjadi manusia yang lemah.
Untuk kembali ke rumah pun aku sangatlah malu. Malu kepada orang tua ku, yang rela selalu menjaga dan mendidik ku untuk lebih mendalami ilmu agama.
Dengan langkah tertatih, aku pun bergegas untuk membersihkan diri dan memikirkan bagaimana langkah yang akan aku ambil selanjutnya.
Apakah aku harus bertahan di tempat yang seperti neraka ini? atau kembali ke rumah ternyamanku?
Dilema dan bimbang yang saat ini aku rasakan.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana.........?"