Putriku, Matahariku..

Putriku, Matahariku..
8. Pulang Kampung


__ADS_3

"HENTIKAN, PAK!"


Tiba-tiba Ibu datang dari depan rumah sambil berlari tergopoh-gopoh.


"Biarkan saja, Bu! biarkan semua orang tau, bagaimana sifat asli seorang laki-laki pecundang sepertinya!" maki ku yang tak ingin kalah dari Bapak.


Bapak pun semakin tersulut emosi, karena ucapan yang baru saja aku lontarkan kepadanya.


Dengan cepat Ibu berjalan melewati Bapak, dan segera mengambil putriku yang saat ini masih menangis. Kemudian Ibu pun keluar kembali sambil menggendong putriku dan mencoba untuk menenangkannya.


"Apa kamu pikir Bapak masih Sudi untuk menganggap mu sebagai anak? Kamu hanyalah anak pembawa sial yang membuat aib dalam keluarga!" hardik Bapak dengan rahang yang mengeras dan tangan yang terkepal kuat.


"Aku pun tak Sudi jika harus mempunyai Bapak sepertimu. Jika aku bisa memilih, aku tak ingin menjadi anakmu. Oh, bukan! karena lebih tepatnya seorang anak yang tak pernah engkau harapkan!" sindirku dengan suara lantang.


Kini bapak semakin tersulut oleh emosi, rahangnya yang semakin mengeras dan gigi bergemeletuk, seperti hendak meledakkan amarahnya kembali saat itu juga.


Aku pun sudah tidak asing lagi dengan ucapan dan makian yang terlontar dari mulut Bapak yang sangat pedas itu.


Memang sejak dari kecil aku telah terbiasa mendapatkan kekerasan dari beliau, entah kekerasan fisik maupun batin.


Karena aku sudah merasa kebal dengan hal-hal seperti ini. Sehingga saat ini aku pun memberanikan diri untuk bertindak tegas kepada Bapak.


"Apa kau sudah bosan untuk hidup? Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu kepadaku, Anak sialan!" hardiknya lagi.


"Apa Bapak pikir aku takut? Untuk apa aku berbicara baik kepada mu? Sedangkan setiap kali bertemu denganku, Bapak selalu saja menyiksa fisik dan batin ku. Apakah pantas seorang Bapak yang seharusnya disegani dan dihormati, kini justru malah menyiksa fisik dan batin anak kandungnya sendiri?" sindirku lagi dengan sorotan mata yang tajam.


Saat ini aku sama sekali tidak peduli dengan tetangga disekitarnya. Entah bagaimana penilaian mereka kepadaku nanti, aku pun tidak mempedulikan hal itu. Karena rasa sakit ini sudah sangat membekas terlalu dalam, sehingga tidak bisa begitu mudahnya disembuhkan oleh apapun.


"Kamu tidak akan pernah bisa hidup tenang! karena telah berani melawan Bapak, Devi!" kini sumpah Bapak pun langsung terlontar begitu saja.


Aku yang mendengarnya, hanya bergeming dan terpaku ditempat. Saat ini aku benar-benar tidak menyangka jika Bapak akan menyumpahi putrinya sendiri.

__ADS_1


Kemudian setelah mengatakan sumpah itu, Bapak langsung berlalu begitu saja dan meninggalkan ku yang masih terpaku di tempat.


Kadang aku sering bertanya pada diriku sendiri, 'apakah benar aku anak kandung Bapak? Mengapa perlakuan nya padaku sejak kecil begitu kasar?


Sungguh lelah aku dengan keadaan ini. Mungkin jika tidak ada ibu, entah akan jadi apa dan seperti apa aku.


Aku coba untuk bangkit dan berdiri tegak. Aku percaya jika Allah SWT tidak akan mengujiku di luar batas kemampuan ku. Semua ini hanya ujian sementara untukku, sebelum kebahagiaan sesungguhnya datang menghampiri ku.


Aku harus percaya dan yakin kepada diriku sendiri.


Setelah tersadar kembali, aku pun langsung terduduk di tepi ranjang dan memandang lurus ke depan.


Tap...


Tap...


Tap...


Kini terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahku, saat aku menyadarkan diriku kembali, aku melihat Ibu yang masih menggendong putriku yang kembali terlelap.


*Beberapa bulan kemudian*


Setelah ku putuskan untuk kembali ke kampung halaman, aku pun menguatkan mentalku terlebih dahulu, agar tetap tegar dan kuat saat menghadapi ucapan dan cacian orang-orang nanti.


"Kamu yakin? Ingin di kampung saja merawat putrimu seorang diri?" tanya Ibu yang masih enggan untuk berjauhan dengan cucunya.


"InsyaALLAH aku yakin, Bu. Jika nanti aku mendapatkan gunjingan dan cacian dari saudara dan tetangga di kampung, aku akan mencoba untuk tegar dan ikhlas agar aku bisa menjalani dan melewati setiap harinya." ucapku dengan penuh keyakinan.


Ibu pun hanya bisa pasrah saat mendengar keputusan yang telah aku lakukan, karena tidak mungkin aku akan terus bergantung kepada Ibu.


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan mu, seandainya nanti ada yang menyinggung dan menyakiti hatimu, cukup di pendam dan tak perlu membalas ucapan mereka. Tetap tersenyum agar kamu terlihat kuat ya, Mak?" nasehat Ibu saat sudah benar-benar pasrah.

__ADS_1


"Baik, Bu. Semoga aku bisa untuk melewatinya dengan sabar dan ikhlas. Ibu hanya perlu mendo'akan aku dari kejauhan. Karena do'a Ibu adalah salah satu dari hadirnya semangat untukku." ucapku sambil tersenyum.


"InsyaALLAH, Nak. Do'a Ibu tidak akan pernah putus untukmu. Semoga suatu hari nanti, kamu akan menemukan kebahagiaan mu yang sesungguhnya," do'a Ibu sambil mengusap lembut rambutku.


"Aamiin. Terimakasih, Bu." ucapku sambil memeluk Ibu dari samping.


***


Setelah tiba di terminal bus antar provinsi. Aku langsung berpamitan kepada Ibu, dan menaiki kendaraan panjang tersebut.


Di sepanjang perjalanan, aku meyakinkan diriku sendiri. Jika aku bisa hidup mandiri bersama dengan putriku, dan aku juga harus yakin bisa menjadi orangtua tunggal yang bisa merawat dan membesarkan putriku.


Sekitar 9 jam, kami melakukan perjalanan yang panjang dan jauh. Akhirnya bus yang kami tumpangi memasuki kawasan kota kelahiran ku.


Tak berselang lama kemudian, akhirnya kami pun sampai ditujuan akhir kami. Setelah bus berhenti, aku pun bergegas untuk turun dan segera memesan ojek pangkalan yang sudah standby di terminal itu.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja, akhirnya kami sampai di depan rumah sederhana yang selalu menjadi tempat ternyaman untukku kembali pulang.


"Alhamdulillah. Akhirnya kita sampai juga, Sayang." syukurku sambil tersenyum tipis kepada putriku.


Putriku yang saat ini masih terjaga, hanya terkekeh kecil dengan celotehan yang terdengar sangat menggemaskan.


Ceklek!


Akhirnya pintu pun terbuka dan aku segera masuk ke dalamnya, dan menuju ke arah kamarku. Kamar yang sudah lama ku tinggalkan dan yang selalu ku rindukan.


Uhuk... uhuk...


Ternyata kamarku sedikit berdebu, dan membuatku terbatuk-batuk. Mungkin juga karena sudah lama ku tinggalkan dan sama sekali tidak ada yang membersihkannya.


Perlahan aku pun menyapu dan mengepel lantai yang berdebu, serta membereskan seisi rumah yang hampir tertutup oleh debu-debu yang cukup tebal.

__ADS_1


Hampir seharian aku membersihkan rumah, akhirnya pekerjaan pun terselesaikan dengan baik. Sekarang hanya tinggal merenggangkan otot-otot ku yang terasa sangat pegal.


"Alhamdulillah...."


__ADS_2