
Saatnya telah tiba...
Tak terasa kini kandungan ku sudah memasuki bulan ke sembilan, di mana waktu yang terasa sangat dekat dengan hari perkiraan lahir anakku.
"Nak, kamu jangan terlalu lelah ya? Kamu harus lebih banyak istirahat, agar nanti jika tiba saatnya kamu melahirkan, kamu bisa berusaha semaksimal mungkin untuk melahirkan anakmu dengan normal," nasihat Ibu kepadaku.
Aku yang mendengar nasihat Ibu, lalu tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Baik, Bu. Aku sekarang juga sudah mengurangi pekerjaan yang berat-berat, jadi Ibu tenang saja. InsyaALLAH semua akan baik-baik saja dan normal nantinya," ucapku dengan penuh keyakinan.
Ibu pun mengAaminkannya, lalu mengusap lembut puncak kepalaku sambil mengulum senyum.
"Yasudah, kalau begitu kamu beristirahatlah dulu. Ibu mau keluar sebentar, ada sesuatu yang harus Ibu beli." pamit Ibu, kemudian berlalu meninggalkan ku sendiri di dalam kamar.
Kemudian ku pandangi langit-langit kamar ku, sesaat aku pun berpikir, 'Akankah hinaan dan cacian ini, akan selalu ada hingga aku melahirkan anakku ke dunia ini? Ya Allah, semoga aku kuat dan Bisa untuk melewati setiap ujian dariMU,"
Tak terasa kantuk pun mulai menyerang ku, akhirnya aku pun mulai terlelap, kini hanya dengkuran halus yang terdengar dari dalam kamarku.
Beberapa hari kemudian....
Suatu hari, saat aku sedang duduk di dalam kamar. Tiba-tiba perutku terasa mulas, dan aku pun segera ke kamar mandi. Akan tetapi, rasa mulas semakin lama terasa semakin sering dan semakin sakit.
Saat terasa di bagian bawah terasa sangat basah (air ketuban pecah), aku pun mulai merintih karena merasakan sakit yang sudah tak bisa ku tahan. Kemudia aku pun mencoba untuk memanggil Ibu.
"I-ibu?" panggilku dengan sedikit berteriak.
Setelah beberapa kali aku memanggil Ibu, akhirnya Ibu pun datang dengan tergesa-gesa dan merasa sangat terkejut.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Nak! air ketuban mu sudah pecah, kamu tahan sebentar dulu ya? Ibu mau mencari pertolongan dulu kepada tetangga kita," ujar Ibu sambil terseok-seok saat berlari untuk mencari pertolongan.
Beberapa saat kemudian...
Setelah mendapatkan pertolongan dari tetangga yang masih memiliki rasa simpati kepada kami, akhirnya mereka pun turut membantu ku menuju ke bidan terdekat. Untung saja aku sudah mempersiapkan segala keperluan untuk persalinan nanti, jadi kami bisa langsung berangkat.
Setelah sampai di tempat persalinan, sang Bidan dan satu perawatnya segera membantuku untuk berbaring di ranjang yang telah tersedia di sana.
"Maaf, Bu. Air ketubannya sudah pecah, sebentar saya cek dulu pembukaan nya ya?" ujar sang Bidan dengan ramah.
Setelah selesai di periksa, kemudian sang Bidan tersenyum lebar kepada kami.
"Alhamdulillah, sudah pembukaan sembilan. InsyaALLAH sebentar lagi akan pembukaan sempurna," ujar sang Bidan lagi sambil tersenyum.
Aku yang merasakan kesakitan yang sudah tak tertahankan, ketika rasa mulas itu datang dan pergi dan seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari bawah sana. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa, agar semuanya lancar dan tidak terjadi apa-apa kepada anakku.
"Apakah masih lama, Bu? Saya sudah tidak tahan lagi, rasanya ingin mengejan saat ini juga, karena di bawah sana ada sesuatu yang terus mendesak ingin keluar," keluhku sambil menggenggam erat tangan Ibu.
"Tolong, jangan mengejan dahulu ya, Bu? karena pembukaan belum sempurna, maka Ibu harus menahannya sebentar lagi saja. Atur napas Ibu ya? tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan secara perlahan. Lakukanlah itu untuk mengatur napas Ibu, semua itu bisa sedikit untuk meredakan rasa sakit tersebut," terang sang Bidan dengan sabar.
Ibu yang berada di sampingku, kini juga ikut serta untuk menguatkan aku.
"Kamu pasti bisa, Nak! kamu putri Ibu yang kuat dan hebat," tegas Ibu yang mencoba untuk meyakinkan ku.
Tak berselang lama, akhirnya pembukaan telah sempurna. Kini saatnya sang Bidan memberikan instruksi kepadaku, agar aku mengikuti arahan darinya.
"Bismillah, Nak, banyak berdoa kepada Allah SWT. Percayalah bahwa segala urusan mu akan dipermudah olehnya. Kamu pasti bisa, Sayang!" ucap Ibu yang selalu memberikan semangat kepadaku, tanpa sedikitpun beranjak dari samping ku.
__ADS_1
Setelah beberapa kali tarikan nafas ku terputus. Akhirnya aku bisa melahirkan anakku dengan selamat secara normal.
Oooeek... oooeek..
Tiba-tiba suara tangisan bayi terdengar, aku pun langsung mengucapkan beribu-ribu kata syukur kepada Allah SWT. Karena telah mempermudah proses persalinan ku dan semuanya bisa berjalan dengan normal.
"Alhamdulillah," ucapku lirih, di sela isakan tangisku.
Dengan penuh perjuangan dan derai air mata, akhirnya rasa sakit yang sejak tadi aku rasakan, kini semua itu telah tergantikan oleh hadirnya sang buah hati tercinta ku.
Di sela tangis haru, kini Ibu memeluk dan menciumi ku.
"Alhamdulillah, Sayang. Kamu hebat, kamu kuat. Ibu bangga kepadamu, Nak. Selamat ya? hari ini kamu telah menjadi Ibu baru, Sayang." ujar Ibu sambil menatap lekat wajahku.
"Alhamdulillah, Bu. Bayinya terlahir sempurna, jenis kelaminnya perempuan, dan coba lihatlah sebentar! dia sangat manis dan cantik seperti Ibunya," ujar sang Bidan sambil memperlihatkan bayiku.
Aku pun tak mampu untuk berkata-kata lagi, dan hanya mampu menganggukkan kepalaku.
Hanya ada rasa haru dan bahagia, karena perjuangan ku untuk mempertahankannya, akhirnya memberikan kebahagiaan yang sangat luar biasa.
Setelah anakku dibersihkan, kini sang Bidan meletakkan bayi itu di atas d4d4 ku. Seperti pada umumnya, sang bayi harus melakukan kontak fisik terlebih dahulu kepada Ibunya, dan melakukan IMD.
Sejenak ku pandangi wajah putriku, akan tetapi sekilas aku pun melihat sosok pria badjingan itu dari balik wajah putriku. Namun, aku segera menepisnya, karena bagaimana pun dia hanyalah putriku dan tetap menjadi milikmu.
Bahkan, seandainya orang itu mencari dan berhasil menemukan kami, aku tidak akan pernah membiarkan dia mengambil putriku. Tetapi aku rasa semua juga mustahil, karena setelah kejadian itu, dia sama sekali tidak pernah mempedulikan bagaimana hidupku saat dia telah berhasil menghancurkannya.
"Apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk putrimu, Sayang?" tanya Ibu yang kini menyadarkan dari lamunanku.
__ADS_1
Dengan penuh semangat, aku pun tersenyum dan menganggukkan kepalaku.
"Tentu saja sudah, Bu. Namanya adalah........"