Putriku, Matahariku..

Putriku, Matahariku..
7. Berdebat dengan Bapak


__ADS_3

"Tentu saja sudah, Bu. Namanya adalah..... Diandra Firdasari," jawabku sambil memandangi wajah teduh putriku.


Ibu pun langsung mengulum senyum, sambil mengusap lembut puncak kepalaku dan bergantian memandangi wajah putriku.


"Nama yang sangat cantik, secantik sang pemilik namanya. Benar-benar terlihat sangat manis dan menggemaskan sekali, Ibu sudah tidak sabar untuk menggendong cucu Ibu," puji Ibu dengan penuh antusias.


Aku pun kembali mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT, atas sebuah kebahagiaan yang selalu aku nantikan.


"Iya, Bu. Dia cantik dan manis sekali, sungguh aku sangat bahagia memilikinya,Bu." ucapku dengan penuh rasa haru.


Setelah beberapa jam kemudian...


Dan Bidan pun datang kembali ke ruang rawat ku. Kemudian sang Bidan memberikan suntikan pertama kepada putriku di salah satu kakinya.


Kemudian sang Bidan beralih menghampiri ku, dengan sabar dan telaten dia mengajukan beberapa pertanyaan kepada ku.


"Bagaimana Bu? apakah sudah membaik sekarang?" tanya sang Bidan dengan ramah.


"Alhamdulillah sudah, Bu. Apakah hari ini saya sudah boleh pulang?" ujarku kepada sang Bidan dengan seulas senyum.


Perlahan sang Bidan kembali memeriksa keadaanku, dan memastikan jika kondisi sudah stabil dan aman jika pulang nanti.


"Saya cek semua dulu ya, Bu? jika memungkinkan untuk pulang, nanti saya informasikan. Kita juga harus menunggu reaksi suntikan pertama kepada putri Ibu. Semoga saja putri Ibu tidak rewel dan panas, karena ini adalah imunisasi pertama untuknya," jelas sang Bidan dengan seulas senyum.


"Baik, Bu. Semoga semua baik-baik saja, dan kami bisa pulang hari ini," ucapku sambil tersenyum kepadanya.


"Kalau begitu, saya izin undur diri dahulu sebentar ya Bu? Saya harus menyiapkan beberapa berkas untuk Ibu bawa pulang," izin sang Bidan, kemudian dia pun langsung berlalu dari kamar rawat ku.


Setelah semua di periksa dan hasilnya sangat baik, akhirnya kami diizinkan untuk pulang ke rumah hari ini juga. Karena kondisi ku juga sudah berangsur membaik dan sudah bisa berjalan secara perlahan.


***


Sesampainya di rumah, beberapa tetangga berbondong-bondong menghampiri dan menyapaku.

__ADS_1


'Ada apa dengan mereka? Tidak biasanya mereka berbicara ramah padaku!' batinku yang menaruh rasa curiga kepadanya.


"Selamat ya Devi. Akhirnya kamu sudah melahirkan bayi kamu dengan selamat, dan lihatlah bayimu ini, MasyaALLAH sangat manis dan cantik sekali," puji Bu Resa sambil memberikan selamat kepadaku.


Bu Resa adalah orang yang telah menolong dan membawaku ke tempat Bidan bersalin, karena dia aku sampai tepat waktu di sana.


"Iya, Bu. Terimakasih banyak, karena tadi sudah mau kami repotkan, Bu." ucapku dengan suara lembut.


"Iya, sama-sama, Devi. Semoga kalian sehat-sehat ya? coba lihatlah! rasa sakitmu tadi, terbayarkan sudah dengan sosok malaikat kecil yang hadir di dalam hidupmu," ujar Bu Resa dengan tulus.


Aku pun mengAaminkannya, dan tersenyum kepada Bu Resa.


"Apakah dia seorang putri? dia terlihat sangat cantik sekali, sama seperti dirimu, Dev." puji Bu Romlah saat melihat putriku.


Dia adalah orang yang selalu menghina ku, dan kini justru ikut memuji putriku. Padahal sebelumnya, dia yang suka mengompori tetangga di sekitar kami, agar ikut menghujat ku.


'Apakah dia sedang mencari muka di depan Bu Resa? Aahh.. biarkan sajalah. Aku pun tak akan mengambil pusing tentang tetangga julid ini.


Tidak hanya ada Bu Romlah, akan tetapi ada beberapa Ibu-ibu lainnya, yang dulu ikut mencaci dan menghinaku, karena hamil tanpa suami.


Namun, setiap ucapan selamat dan doa dari beberapa Ibu-ibu tersebut, selalu aku aamiin kan. Entah itu tulus atau tidak, hanya mereka dan sang Pencipta yang tau.


Setelah semuanya meminta izin untuk undur diri dari rumah kontrakan kami, akhirnya aku bisa menghela napas lega. Kemudian aku pun merebahkan tubuhku sejenak di samping putriku yang telah terlelap dalam tidurnya.


**


Hari berganti hari, tak terasa kini ku lewati bersama dengan Ibu dan putri kecilku.


Pada suatu hari, dimana hari ini adalah hari yang sangat tidak aku harapkan. Bahkan kehadiran seseorang itu tidak pernah terpikirkan olehku.


Ya, memang kehadiran bapak ke rumah, membuatku merasa muak dengan sikap dan perilaku yang selama ini turut serta mencaci dan merendahkan ku.


"Hai, Devi? Waw, akhirnya kamu sudah melahirkan ternyata. Apakah dia seorang bayi perempuan? benar-benar terlihat sangat cantik dan manis. Tetapi wajahnya mengapa-"

__ADS_1


Belum selesai Bapak berbicara, aku pun langsung memotong ucapannya. Karena aku sangat paham, kemana arah obrolan pembicaraannya nanti.


"Hem, tumben bapak ke sini, ada apa? tumbenan sekali mengingat kami. Apakah kamu diusir oleh wanita murah4n itu? sehingga kamu kembali ke rumah ini, untuk meminta belas kasihan kami?" sindirku sambil tersenyum getir.


PLAAAKK!!


"JAGA UCAPANMU, DEVI! BAGAIMANA PUN DIA, DIA ADALAH IBU TIRIMU!" hardik Bapak setelah tamparan keras mendarat di pipiku.


"Dan apakah salah jika aku menjenguk cucuku yang sangat manis ini?" tanya Bapak dengan nada yang mulai merendah, saat melihat putriku.


"Oh, benarkah jika putriku ini adalah cucumu? Sejak kapan Bapak menganggap putriku sebagai cucumu? Bukankah Bapak sendiri yang mengklaim kami sebagai pembawa sial?" tanyaku dengan suara yang sedikit meninggi.


Entah keberanian darimana, biasanya aku hanya diam dan menerima setiap hinaan dan cacian darinya. Kini dengan lantang aku pun menjawab setiap ucapan dan bentakan dari Bapak.


"Wah, hebat kamu ya? sekarang kamu sudah mulai berani ya kepada Bapak?" bentaknya dengan keras.


Aku yang tidak terima dengan perlakuan Bapak yang selalu semena-mena kepadaku, kini aku pun ikut tersulut emosi olehnya.


"Memang sejak kapan kau menganggap ku sebagai putrimu? Huh? Bahkan aku pun selama ini telah mencampakkan kami (aku dan Ibu)! Dan aku juga tidak pernah merasakan kasih sayang darimu. Apakah aku salah jika selama ini menganggap mu sudah MATI?" makiku dengan suara lantang.


PLAAKK!!


Kedua kalinya tamparan keras mendarat kembali di pipiku, benar-benar terasa sangat perih dan panas.


"TERUS PAK! LAKUKANLAH SEPUASNYA! JIKA PERLU BUNUH SAJA AKU DAN PUTRIKU SAAT INI JUGA! BIAR TIDAK ADA LAGI YANG MEMBUAT AIB DI DALAM KELUARGA BAPAK! BUKANKAH SELALU ALENA YANG SELALU ANDA BANGGAKAN!" pekikku dengan lantang.


Aku yang tersulut emosi, sudah tidak mampu membendung air mata lagi. Akhirnya air mataku pun mengalir dengan derasnya.


Oooeek... oooeek...


Kini putriku juga ikut menangis dengan keras, sehingga membuat Bapak juga tidak bisa berkutik lagi.


"HENTIKAN, PAK!"

__ADS_1


__ADS_2