Putriku, Matahariku..

Putriku, Matahariku..
2. Kecurigaan Ibu


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian...


Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk berhenti bekerja dari tempat yang ku sebut sebagai neraka, dan kembali ke tempat Ibu untuk membantu menjalankan usaha kecil-kecilan di perantauan.


Tiba-tiba, suatu hari dimana aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Pusing, mual, dan lemas, pada saat itu pula aku juga menyadari bahwa aku sudah telat datang bulan di bulan.


Aku hanya khawatir apa yang selama ini aku takutkan terjadi, pikiran ku pun menjadi risau dan tidak tenang setelah malapetaka di malam itu.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Ibu dengan raut wajah yang khawatir.


Tiba-tiba saja ibu datang dari belakang dan mengejutkan ku, Ibu yang melihat ku terlihat pucat langsung panik.


"Kamu sakit, Nak? Ayo, kita ke dokter untuk berobat!" bujuk Ibu sambil mengusap lembut punggungku.


Aku pun langsung menggeleng dengan cepat.


"Tidak, Bu. Aku hanya sedikit pusing dan mual. Mungkin masuk angin biasa, nanti boleh minta tolong di kerokin aja Bu?" tolakku dengan seulas senyum.


Ibu yang merasa panik kini sedikit merasa lega.


"Kalau cuma kerokan, ayo sekarang saja! daripada di tunda nanti malah makin jadi masuk anginnya," ujar Ibu dengan lembut.


Aku pun langsung menganggukkan kepala dengan cepat, tanda menyetujuinya.

__ADS_1


"Baiklah, Bu." jawabku sambil menggandeng tangan Ibu.


Tetapi baru saja ibu membuka minyak aromaterapi, aku justru semakin mual. Merasa sudah tidak kuat menahan rasa mual lagi, aku berlari ke dalam kamar mandi, kemudian memuntahkan semua isi dalam perut.


Ibu yang kembali panik, mengikuti ku dari belakang sambil tergopoh-gopoh.


"Kamu sebenarnya kenapa, Nak?" tanya Ibu yang saat ini menaruh rasa curiga kepadaku.


Aku yang merasa terpojokkan, hanya kebingungan dan harus menjawab apa pertanyaan dari Ibu. Lalu perlahan aku menyandarkan tubuhku ke dinding, untuk menahan beban tubuhku yang semakin terasa lemas.


"Hanya masuk angin biasa Bu. Ibu tak perlu khawatir, aku baik-baik saja," sanggahku dengan seulas senyum tipis.


"Jujurlah saja kepada Ibu, Nak. Karena semenjak kamu keluar pekerjaan itu, kamu menjadi sedikit berubah, Nak. Ada apa sebenarnya? Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? Katakanlah sejujurnya kepada Ibu!" desak Ibu sambil menatap lekat wajahku.


Kini aku pun merasa dilema dengan keadaan yang seakan memojokkan aku, sedangkan pikiran dan hatiku yang tidak sinkron membuatku kebingungan.


"Apakah jika aku jujur dan cerita semua pada Ibu, Ibu akan percaya padaku dan akan marah nanti?" tanyaku dengan hati-hati.


Ibu pun terdiam, entah apa yang saat ini sedang Ibu pikiran tentangku.


"Ceritakan semuanya kepada Ibu, Nak! Ibu adalah tempat keluh kesahnya sedari kecil, apa kamu lupa jika hanya ibu yang bisa memahami mu? jadi Ibu mohon, ceritakan sejujurnya semua yang terjadi kepada Ibu!" titah Ibu dengan penuh penekanan.


Aku pun menarik napas dalam-dalam, sebelum aku menceritakan semua pada Ibu.

__ADS_1


Hari ini aku harus siap dengan konsekuensi, yang selama ini aku tutup dan pendam seorang diri.


"Bu, kegadisanku telah di renggut secara paksa oleh Majikanku sendiri. Maka dari itu aku memutuskan untuk berhenti bekerja di rumah itu, pada saat itu Majikanku sedang mabuk berat , kemudian masuk ke dalam kamar ku dan merenggutnya secara paksa, Bu." ucapku sambil menahan sesak di dalam dada.


Sembari bercerita, buliran kristal bening pun akhirnya tumpah dan tak sanggup untuk ku bendung lagi.


"Aa-aapa, Nak?" pekik Ibu dengan suara lantang.


Seketika tubuh Ibu melemas dan luruh ke lantai, kini buliran kristal bening dari pelupuk mata Ibu, ikut tumpah dengan derasnya.


"Lalu kenapa kamu keluar dan memilih berhenti dari rumah itu? mengapa kamu tidak meminta pertanggungjawaban laki-laki biadab itu?" tanya Ibu dengan mata yang memerah.


Dengan suara yang bergetar, aku langsung memeluk erat tubuh Ibu. Karena aku, Ibu menjadi syok dan terpukul.


"Majikanku hanya mengatakan padaku, Bu. Jika dia akan bertanggungjawab atas hidupku, dan siap untuk membiayai kehidupanku. Tetapi dia tidak bisa untuk menikahi ku, karena dia sudah memiliki anak dan istri. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu, Bu." jelasku dengan suara parau.


Kemudian ku ceritakan semuanya secara perlahan pada ibu, dengan derai air mata ku tumpahkan segala isi dalam hati ini kepada Ibu.


"Benar-benar sangat keterlaluan! apa dia pikir harga diri kami bisa mereka beli dengan harta dan kekayaan mereka? apa mereka pikir kita serendah itu?"


Kini amarah Ibu pun membuncah dan meledak seketika, saat dia mengetahui bahwa putri kesayangannya dilecehkan oleh sang Majikannya sendiri.


Kemudian Ibu merenggangkan pelukan kami, dan kembali menatap tajam ke arahku.

__ADS_1


"Lalu apakah yang kamu rasakan saat ini, Nak? Apakah kamu....."


__ADS_2