Putriku, Matahariku..

Putriku, Matahariku..
5. Hinaan dan Cacian


__ADS_3

Memasuki Trimester ketiga..


Apa yang aku takutkan selama ini, kini benar-benar terjadi. Di saat perutku yang semakin menyembul dan membesar, aku tak mampu lagi untuk menutupinya dari orang-orang yang berada di sekitarku.


Pernah suatu hari saat aku sedang berjalan-jalan pagi dan ditemani oleh Ibu, ada beberapa Ibu-ibu yang mengantri untuk membeli sayur menatap dengan sinis ke arahku.


"Eh, itu si Devi, sekarang perutnya makin gede aja ya? Ternyata selama ini kita dikelabui oleh pakaiannya yang serba tertutup itu. Bahkan, setiap kali kita memergokinya, dia selalu berkilah dan berbohong kepada kita," ujar Bu Romlah, salah satu tetangga kami yang sangat suka mencampuri urusan orang lain.


"Iya ya, Ibu-ibu. Kita nggak nyangka banget 'kan? kalau orang yang berpakaian tertutup itu orang baik dan Sholehah? eh ternyata, nggak taunya semua itu cuma buat nutupin kelakuan dan aibnya saja. Tuh, kita lihat contohnya," kini Bu Rika ikut menimpali ucapan Bu Romlah, sambil menatap sinis kepadaku.


Bukan hanya itu saja, masih banyak sekali gunjingan, dan hinaan yang harus setiap hari aku dengar dari mulut pedas tetangga sekitar kami. Tetapi semua itu tidak hanya dilakukan oleh tetangga, dan sekitar rumah saja yang menghina dan menggunjing ku, saudara yang tau pun juga melakukan hal yang sama kepadaku.


Di dalam hati, aku hanya bisa bersabar dan beristighfar, agar aku selalu diberikan kekuatan dalam menghadapi ujian dan cobaan dari orang-orang disekitar ku.


'Tolong kuatkan aku, Ya Allah! aku hanya ingin mempertahankan titipan dan kepercayaan yang Engkau berikan padaku,' pintaku di setiap kali aku merasa sangat tertekan dan hampir putus asa.


Sedangkan Ibu yang selalu mendengarkan hinaan dan gunjingan dari para tetangga, hanya diam sambil merangkul ku. Ibu mencoba agar selalu ada untuk menguatkan aku, yang hanya bisa pasrah dengan keadaan ini.


"Sabar ya, Sayang? ini semua hanyalah salah satu ujian dari Allah SWT untukmu. Jadi kamu harus selalu kuat, karena Ibu yakin kamu bisa melewati semua ini, Nak. Allah SWT sedang ingin mengangkat derajat mu agar lebih tinggi. Jadi bersabarlah, karena suatu hari nanti kebahagiaan akan selalu menyertai mu. Percayalah setelah badai, pasti akan selalu ada pelangi!" nasehat Ibu kepada ku, setiap kali orang-orang disekitar kami yang selalu menghakimi ku tanpa memperdulikan bagaimana perasaanku.


"Iya, Bu. Aku akan selalu mengingat nasehat-nasehat Ibu. InsyaALLAH aku pasti bisa dan kuat untuk menghadapi ini semua," ucapku dengan seulas senyum tipis.


Saat berada di depan Ibu, aku mencoba untuk selalu tersenyum. Meskipun sebenarnya, apa yang aku rasakan sangat berbanding terbalik dengan apa yang terlihat saat ini.

__ADS_1


'Ya Allah, jika Engkau memang menginginkan aku mempertahankan titipan Mu ini. Tolong berikan aku ketabahan dan keikhlasan untuk menjalani ujian ini setiap harinya. Tebalkan telinga dan hati ini untuk menerima gunjingan tetangga dan saudara yang sudah mengetahui bagaimana keadaan ku saat ini,' do'a ku dalam hati.


"Ayo Bu, kita pulang! seperti aku sudah mulai lelah berjalan, dan merasa sangat lapar," ucapku untuk mengalihkan perhatian Ibu dari ucapan Ibu-ibu itu.


"Ooo .. yasudah ayo, Nak. Kamu mau makan apa hari ini? apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Ibu dengan penuh kasih sayang.


"Em, aku mau apa saja, Bu. Hanya saja aku ingin melihat Ibu memasak nanti, hehe.. sepertinya cucu Ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Neneknya," gurauku sembari terkekeh kecil.


Di sepanjang perjalanan, kami pun sedikit bersenda gurau, sekedar untuk melupakan hinaan dan cacian dari orang-orang, yang hanya memandangku dengan sebelah mata.


Mungkin benar kata ibu. Jika suatu hari nanti, entah kapan itu waktunya, pasti akan ada kebahagiaan untukku dan anakku serta Ibu.


Dalam hati aku sangat merasa bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini, meskipun hidupku telah hancur. Namun, di balik ini semua, ada hikmah yang aku ambil.


Aku pun telah berjanji kepada diriku sendiri, jika mulai sekarang aku tak akan pernah menghiraukan ucapan dan hinaan orang-orang yang memandang rendah diriku.


Selagi aku masih bisa berdiri sendiri tanpa menyusahkan orang-orang itu, maka aku pasti bisa menunjukkan kepada mereka semua, bahwa yang mereka hina bisa bangkit kembali.


Sesampainya di rumah, Ibu pun langsung mencari bahan-bahan makanan yang berada di lemari pendingin. Dengan lihainya Ibu memotong dan menyiangi semuanya sendiri, tanpa sedikitpun bantuan dariku.


"Apa ada yang bisa aku bantu, Bu?" tawarku sambil memperhatikan gerakan cepat Ibu.


Ibu pun menggeleng cepat dan menolak tawaran ku.

__ADS_1


"Tidak perlu, Nak. Kamu tinggal duduk manis saja, biarkan Ibu yang menyelesaikannya sendiri. Hari ini Ibu ingin memanjakan putri kesayangan Ibu dan cucu Ibu," tolak Ibu dengan suara lembutnya.


Tak berselang lama kemudian, akhirnya semua masakan sederhana buatan Ibu sudah siap tersaji di atas meja. Aku yang melihatnya kini sudah tidak sabar ingin segera menikmati hidangan yang berada di depanku, hingga air liur ku saat ini hampir saja menetes saat melihat semua hidangan yang terlihat sangat nikmat.


"Ayo, Bu. Aku benar-benar sudah sangat lapar, dan ingin segera menghabiskan semua makanan ini," rengek ku dengan nada manja.


"Baiklah. Ayo, Sayang. Makanlah yang banyak, agar cucu Ibu di dalam sana semakin gemuk dan berisi seperti Ibunya saat ini," gurau Ibu sambil menyodorkan salah satu makanan kesukaan ku.


Aku yang mendengar gurauan Ibu, hanya berpura-pura merajuk dan mengerucutkan bibirku.


Memang tidak salah dengan ucapan yang baru saja Ibu lontarkan, tetapi aku juga tidak ingin dibilang gemuk olehnya.


Akhirnya kami pun saling menikmati makanan yang tersaji saat ini, hingga tak terasa aku pun hampir menghabiskan beberapa lauk yang tersedia.


***


Tak terasa malam pun tiba. Seperti biasa kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Setiap hari kami memang selalu berbagi tugas, agar pekerjaan bisa terselesaikan secara cepat dan semuanya akan terasa ringan.


Jujur saja, sebenarnya aku tak mau menjadi beban ibu, tetapi mau bagaimana lagi, aku tak punya siapapun saat ini yang bisa diajak berbagi keluh kesah ku.


Malam semakin larut, untuk sementara pekerjaan yang belum selesai akan dilanjutkan besok pagi. Terasa sangat lelah, apalagi kandungan ku yang sudah menginjak usia 8 bulan lebih.


Badan yang terkadang tak bisa di ajak bekerja terlalu keras. Tetapi aku sadar, sekarang aku juga sedang membawa satu nyawa lagi dalam diriku.

__ADS_1


'Sabar ya, Sayang. Ibu sedang berjuang untuk mempertahankan mu. Sehat selalu di dalam perut Ibu, sampai nanti kau terlahir di dunia ini. Hingga nanti kamu berada dalam dekapan Ibu, dan Ibu akan selalu menantikan momen itu, Sayang. Ibu sangat menyayangi mu..'


__ADS_2