Putriku, Matahariku..

Putriku, Matahariku..
3. Ikhlas dan Sabar


__ADS_3

Tiba-tiba Ibu menggantungkan ucapannya, seperti ada rasa takut dan khawatir dalam sorot matanya.


"Entahlah, Bu. Aku juga tidak tau apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Ada sesuatu yang berbeda dalam diriku, tetapi aku tidak terlalu memikirkannya. Akan tetapi, yang membuatku semakin khawatir adalah rasa mual dan muntah saat aku mencium bau yang menyengat," ujarku dengan suara parau.


"Apakah kamu ha-hamil, Nak?" tanya Ibu dengan raut wajah sendu.


Kemudian aku menggelengkan kepala cepat, karena saat ini aku memang belum berpikir sejauh itu.


"Aku juga tidak tau, Bu. Aku sendiri juga tidak berpikir hingga sejauh itu, aku hanya berpikir jika masuk angin biasa," ujarku sambil menyandarkan kepalaku di bahu Ibu.


"Kalau begitu, kamu harus test atau cek secepatnya, Nak. Karena Ibu hanya takut jika yang saat ini ibu pikirkan terjadi, tetapi semoga saja itu tidak benar-benar terjadi."


Beberapa saat kemudian.


Setelah beberapa saat aku dan ibu untuk saling menguatkan. Aku pun bergegas untuk ke apotik, untuk membeli beberapa testpack, dan memastikan apa yang aku dan Ibu takutkan tidak terjadi.


Lalu aku pun melakukan sesuai petunjuk yang tertera di sana, dan dengan perasaan yang was-was aku menantikan hasilnya keluar.


Setelah beberapa menit menunggu, perlahan ku angkat benda pipih dan panjang itu.

__ADS_1


Dan....


"Astaghfirullah!"


"Ap-apa ini?" pekikku dengan mata yang membola sempurna, kini buliran kristal bening pun kembali membasahi pipiku.


Tiba-tiba Ibu berlari dan datang menghampiri ku, saat Ibu mendengar teriakan ku dari dalam kamar mandi.


"Ada apa, Nak? Mengapa kamu berteriak?" tanya Ibu dengan raut wajah yang khawatir.


Dengan tangan yang bergetar hebat, ku ulurkan benda pipih itu kepada Ibu, agar Ibu melihatnya sendiri.


"I-ini, Bu. Apa yang Ibu khawatirkan saat ini benar-benar terjadi padaku. Ya Tuhan kenapa semua harus terjadi?"


"Sabar, Sayang. Kamu harus ikhlaskan semua yang terjadi. Apapun yang terjadi saat ini adalah salah satu ujian hidup untukmu. Semoga kamu bisa menjalani semua dengan ikhlas dan sabar," ujar Ibu yang mencoba untuk menguatkan ku.


Saat ini Ibu mencoba untuk kuat, padahal sebenarnya Ibu pun sangat rapuh. Bagaimana tidak?


Anak yang di jaga dan rawatnya dengan penuh kasih sayang. Secara tidak langsung dan tidak diketahuinya, telah di rusak bahkan dihancurkan oleh seorang laki-laki biadab yang tidak memiliki rasa tanggungjawab.

__ADS_1


Hati ibu mana yang tidak teriris mendengarkan dan menyaksikan sendiri, jika putrinya saat ini berbadan dua sebelum memiliki pendamping hidup.


"Bu, apakah aku harus menggugurkan kandungan ini? Aku tak akan sanggup jika harus menanggung malu ini, Bu. Apa kata orang-orang nanti, jika Devi yang terkenal dengan pendiam kini menjadi seorang gadis liar yang mengandung tanpa seorang suami?" ujarku sambil memegangi perutku yang masih rata.


"Astaghfirullah! jangan pernah berpikir seperti itu nak! Cobalah untuk belajar ikhlas, ibu akan selalu berada di sampingmu sayang. Jadi jangan pernah berpikir untuk melenyapkan dia (calon anak). Dia tidak bersalah, nasi sudah menjadi bubur. Jadi kita hanya bisa pasrah dan ikhlas untuk menerima semua ujian dari Allah SWT," nasehat Ibu saat melihatku yang sedang putus asa.


"Tetapi, Bu. Jika aku mempertahankan calon bayi ini, mungkin nanti akan menjadi aib untuk keluarga kita. Bahkan, orang-orang akan cemoohan dan menggunjing kita, Bu. Jujur saja aku sangat malu, Buu....."


Aku hanya bertanya dalam hati 'Tuhan kenapa Engkau memberi cobaan yang begitu berat untukku saat ini? Apakah aku mampu untuk menjalani hari-hari ku nanti?'


Sakit? Pasti!


Ibu mana yang tidak sakit hatinya, saat putrinya mengalami kejadian yang tak pernah dia inginkan, bahkan sama sekali tidak pernah dia bayangkan.


Hancur? Jelas!


Ibarat sebuah kaca yang dibanting dengan kuat, maka saat itu juga kaca itu hancur, dan berserakan. Bahkan, kaca tersebut tak mampu lagi untuk di satukan agar menjadi utuh kembali.


Meskipun aku terus menyesali semua yang telah terjadi, tetapi aku tidak bisa melawan takdir, kecuali aku sendiri yang merubah takdir itu dengan melenyapkannya.

__ADS_1


Saat ini, aku hanya bisa pasrah. Entah nanti apa yang akan aku lakukan, aku belum tau dan belum terpikirkan olehku.


"Kamu pasti bisa, Nak. Kamu adalah wanita yang kuat dan tangguh, jadi jangan sekali-kali kamu berpikir untuk melakukan hal yang paling dibenci oleh Allah SWT! Biarkan dia hidup dan hadir diantara kita, karena Ibu yakin suatu saat kamu pasti akan bangga memilikinya," nasehat Ibu lagi.


__ADS_2