Putriku, Matahariku..

Putriku, Matahariku..
4. Nasehat Ibu


__ADS_3

Tak terasa kini kandungan ku sudah memasuki trimester kedua. Kini rasa mual pun juga sudah mulai jarang terjadi. Namun, semakin hari perut semakin terlihat menyembul, tetapi aku mencoba untuk menutupinya dengan pakaian longgar dan tertutup.


Saat keluar rumah pun aku juga merasa was-was kepada para tetangga. Karena aku takut jika mereka menyadari, bahwa aku sedang berbadan dua saat ini.


Tepat hari ini aku keluar untuk membeli sayur-sayuran dan beberapa bahan makanan yang habis. Akan tetapi saat dalam perjalanan, tiba-tiba aku di kejutkan oleh tetanggaku yang selalu ingin tau urusan orang lain. Bahkan, dia suka menyebarkan berita hoax yang belum tentu akan kebenarannya.


"Eh, Devi, tumben kamu yang beli sayur? Ibu kamu kemana kok tumben belum kelihatan?" tanya Ibu Romlah yang saat ini sedang mencoba untuk mengimbangi langkah kakiku.


"Em, iya Bu, Ibu saya sedang tidak enak badan, jadi saya yang beli sayur dan beberapa persediaan bahan makanan yang habis," sahutku dengan seulas senyum.


"O.. begitu. Eh, iya Dev, kamu makin gemuk aja sekarang? Badan kamu juga mulai berisi, tidak seperti waktu kamu pertama datang kesini, kelihatan lebih kurus gitu," ucap Bu Romlah yang mulai mengorek informasi tentang ku.


Aku pun terhenyak, dan terdiam sejenak.


'Apakah Bu Romlah menyadari jika aku sedang menyembunyikan sesuatu ? Apakah dia juga menaruh rasa mencuriga kepadaku? Ya Tuhan, tolong jangan sampai dia menyadarinya!' batinku, sambil menautkan jariku untuk menetralkan rasa gugup yang sedang menyelimuti ku.


"Em, mungkin saat ini Saya merasa tenang dan damai, Bu. Pikiran juga ikut tenang karena bisa berkumpul dengan orangtua Saya," dustaku sambil menatap lurus ke depan, tanpa menoleh ke arah Bu Romlah.


Entah sampai kapan aku bisa menyembunyikan kandungan ku, yang semakin hari pasti akan terlihat sangat jelas, dan tidak mungkin bisa untuk ku tutupi kembali.


"O, begitu ya? Tetapi kamu baik-baik saja 'kan, Dev? Soalnya saya lihat, kamu juga banyak berubah sekarang," tanya Bu Romlah lagi, yang masih mencoba untuk mengintrogasi ku.


"Alhamdulillah Saya baik, Bu. Kalau begitu Saya permisi terlebih dahulu ya, Bu? Ini belanjaan Saya sudah semua, Saya juga ingin memasak terlebih dahulu," pamit ku dengan sopan.


Setelah berpamitan kepada Ibu-ibu yang berada di sana, kemudian ku percepat langkah kakiku, agar aku bisa segera mengindari Ibu-ibu yang masih berkutat di tukang sayur.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, napasku pun naik turun tidak beraturan. Kemudian aku pun langsung duduk dan menetralkan kembali napas ku.


"Kamu kenapa, Nak? kok berjalannya tergesa-gesa, sehingga napas kamu tidak beraturan seperti itu?" tanya Ibu saat melihatku menyandarkan tubuhku di kursi.


Lalu ku ceritakan semuanya kepada Ibu, apa yang baru saja terjadi. Sehingga membuatku merasa sangat resah.


"Aku ketemu Bu Romlah yang suka kepo urusan orang itu, Bu. Sepertinya dia mulai curiga padaku, karena perubahan yang terjadi padaku saat ini. Katanya aku semakin berisi dan inilah itulah. Huh! apakah aku harus bersembunyi di dalam rumah terus, Bu? Agar orang-orang tidak mencurigai ku," keluhku sambil memejamkan mata sejenak.


Kini Ibu berjalan perlahan dan menghampiri ku.


"Tidak seperti itu, Nak. Perlahan cepat atau lambat, orang-orang pasti juga akan tau tentang apa yang selama ini kamu sembunyikan dari mereka. Yang terpenting sekarang adalah jaga kondisi dan kesehatan kamu. Jangan terlalu banyak dipikirkan ucapan orang-orang nanti! Kamu harus bisa lebih bersabar dan ikhlas untuk menghadapi semuanya nanti," nasehat Ibu kepada ku, sambil tersenyum tipis.


Hanya Ibu yang selalu menjadi penguat untukku, dan Ibu lah yang selalu menjadi tempat ternyaman untukku bersandar.


Dalam setiap do'a, aku selalu meminta agar aku bisa diberikan kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi kerasnya kehidupan ini. Semoga saja aku bisa melewati semua ujian dan cobaan yang silih berganti, akan ku ambil hikmah dibalik kejadian ini.


Ibu pun membalas pelukanku, sambil mengecup lembut keningku.


"Ibu hanya ingin selalu ada untuk kamu, Nak. Karena Ibu sangat menyayangi mu, hanya kamulah satu-satunya harta paling berharga yang Ibu miliki selama ini. Jadi apapun dan bagaimana keadaan mu sekarang atau nanti, Ibu tidak akan pernah meninggalkan mu dan akan tetap berada di sampingmu. Kecuali, Allah SWT yang memanggil Ibu terlebih dahulu untuk kembali kepadaNya." ujar Ibu dengan suara lembutnya.


Kemudian aku pun mempererat kembali pelukanku kepada Ibu.


"Aku akan selalu berdoa kepada Allah SWT, agar ibu diberikan kesehatan dan umur yang panjang, serta bisa menemani ku untuk membesarkan anak yang masih berada didalam kandungan ku, Bu." ucapku dengan suara parau.


Setelah mengatakan itu, kini buliran kristal bening pun akhirnya luruh kembali.

__ADS_1


"Ssstt! Jangan menangis, Sayang! Tidak baik jika Ibu hamil banyak pikiran dan stress, Nak. Jangan terlalu dipikirkan ucapan orang-orang nanti, biarkan hidup ini berjalan seperti air mengalir dan mengikuti arusnya. Percayalah! Jika suatu hari nanti, kebahagiaan akan menghampiri mu dan buah hatimu. Mereka tidak pernah tau bagaimana jika berada di sisimu, Nak. Jadilah wanita yang tangguh dan kuat, jangan biarkan ucapan mereka meruntuhkan pertahananmu dan keteguhan hatimu."


Kini nasehat-nasehat Ibu yang selalu memotivasi ku, agar aku tidak pernah goyah dan menjadi wanita yang lemah.


"InsyaALLAH, Bu. Semoga aku selalu kuat untuk menghadapi setiap ucapan orang-orang nanti. Dan seperti yang Ibu katakan tadi, biarlah semua berjalan seperti air mengalir, entah kemana nanti arus akan membawaku, saat ini aku hanya bisa mengikuti dan menjalaninya dengan ikhlas." ucapku sambil menegakkan kembali wajahku.


"Oo .. iya, Bu. Hampir saja aku lupa jika belum memasak, aku juga merasa sangat lapar, Bu. Aku masak dulu ya, Bu? Ibu istirahat dulu saja. Nanti setelah makanan siap, aku akan memanggil Ibu kembali dan kita akan makan bersama." pintaku kepada Ibu dengan suara lembut.


"Apa tidak apa-apa jika kamu masak sendiri, Nak? apa perlu Ibu membantumu?" tawar Ibu yang saat ini masih berada di sampingku.


"Tidak, Bu. Lebih baik Ibu beristirahat terlebih dahulu, agar Ibu bisa segera sehat kembali," pintaku lagi sambil meyakinkan Ibu.


"Yasudah. Kalau begitu Ibu ke kamar dulu ya, Nak? Ibu juga berharap agar segera sehat kembali, dan bisa membantumu untuk membereskan rumah ini," ujar Ibu dengan raut wajah sendu.


"Baik, Bu. Jika Ibu membutuhkan sesuatu, panggil saja aku," ucapku dengan seulas senyum.


Sesaat kemudian, suasana terasa hening. Karena aku berada di dapur sendiri, meskipun aku bisa tersenyum dan tertawa saat di depan ibu. Tetapi di saat sendiri seperti ini, pikiran ku mulai berkelana dan merenungi nasibku.


Entah kemana arus ini akan membawa arah kehidupanku nanti, meskipun aku selalu mencoba untuk ikhlas. Akan tetapi tak bisa ku pungkiri, jika aku juga merasa takut dan tertekan dengan keadaanku saat ini.


Hamil di luar nikah, dan nanti anakku juga lahir tanpa seorang ayah. Apakah aku siap dengan segala konsekwensinya nanti?


Setelah semua makanan telah siap dan tersaji di atas meja, aku pun bergegas untuk memanggil Ibu yang masih beristirahat di kamar.


"Ibu, bangun dulu, yuk! kita makan sama-sama. Nanti setelah makan, Ibu bisa beristirahat kembali,"

__ADS_1


"Oh, maaf, Nak. Ibu ketiduran ya? ya sudah, ayo!"


Akhirnya kami pun makan bersama dengan tenang dan nyaman, meskipun hanya makanan sederhana, tetapi kami sangat mensyukuri nikmat Allah SWT yang telah DIA berikan kepada kami.


__ADS_2