Rahasia Istri Idiot

Rahasia Istri Idiot
003 Hadiah Dari Menantu


__ADS_3

"Jelas ini adalah kamar laki laki yang sekarang telah menjadi suami ku," pikir Terra.


"Tapi tidak perlu terlalu di pikirkan, toh dia dia terlihat tidak tertarik sama sekali pada ku." Gumam Terra dengan santai sambil berjalan ke dalam kamar mandi untuk bersiap siap menghadiri acara makan malam di kediaman tua tempat kakeknya.


Ya Terra sekarang telah menganggap laki laki tua baik hati itu seperti kakeknya sendiri.


Setelah selesai Terra melangkah keluar dari kamar nya, dia menggunakan gaun sederhana bewarna biru muda lembut dengan panjang sampai lutut kaki nya, yang memperlihatkan kaki jenjang miliknya. Dan rambutnya yang indah sedikit bergelombang jatuh alami di punggungnya.


"Nyonya muda sopir sudah siap untuk mengantar anda." Ucap pelayan kepada Terra penuh hormat saat dia keluar dari kamar.


"Tidak perlu, aku akan berjalan ke sana, toh juga tidak jauh." Ucap Terra santai sambil berjalan keluar rumah.


Karena memang semua rumah anggota keluarga Dirja Ningrat berada di dalam satu lingkungan elite.


"Tapi nyonya... " sambil mengikuti langkah Terra dari belakang.


"Tidak apa apa, aku akan jalan jalan sekalian mengenal lingkungan daerah di sini" Jelas Terra tetap melanjutkan langkahnya.


"Baiklah, tapi aku akan menemani nyonya muda sampai ke kediaman tuan besar." Ucap pelayan itu mengalah.


"Baiklah." Ucap Terra tidak begitu peduli.


dia berjalan menuju kediaman tua di ujung kolam teratai yang indah.


Arya yang juga menuju kediaman tua menggunakan mobil kesayangannya melihat seorang gadis yang dia temui di bandara dua hari yang lalu, dia terlihat santai berjalan di lingkungan rumahnya.


"Apa yang di melakukannya di sini?" Pikir Arya.


Tittttzzz tiiiittttt.... suara klakson mobil Arya yang tiba-tiba mengejutkan Terra.


Terra menoleh ke belakang dan melihat sebuah mobil mendekat ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Arya setelah menurunkan kaca mobilnya.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan di sini," balas Terra sinis.


Mendengar itu Arya berusaha memutar otaknya.


"Mungkinkah gadis ini yang di nikahkan kakek dengan kakak sepupunya yang sekarang dia ketahui masih berada di Amerika," pikir Arya tidak rela.


Karena memang dia baru saja pulang dari study nya di luar kota.


Melihat Arya hanya diam membisu di atas mobilnya, Terra kembali melanjutkan langkahnya tampa memperdulikan Arya.


Melihat itu Arya menyunggingkan senyuman menyeringai yang khas miliknya.


"Lihat saja nanti, kamu akan datang memohon kepadaku, kamu kira tinggal di kediaman Dirja Ningrat ini sesederhana yang kamu pikirkan." Pikir Arya sambil menyaksikan kepergian Terra masuk kedalam kediaman tua kakeknya itu.


Terra yang datang untuk kedua kalinya ke kediaman kakek Tomo masih di buat takjub dengan ukiran ukiran dan ornamen pada dinding kayu yang terlihat sangat elegan itu.


Di tambah dengan tiang tinggi menjulang di kedua sisi pintu masuk. membaut kita merasa akan masuk kedalam sebuah museum dan bukannya rumah.


Di dalam Terra melihat kakek tengah asik berbincang dengan seorang gadis yang mungkin seusia dengannya.


"Nak kamu sudah datang?" Sapa kakek Tomo melihat Terra yang hanya diam berdiri di ambang pintu.


"Ah iya kakek," Sambil berjalan mendekat ke arah ruang tamu dimana semua orang terlihat asik berkumpul dan bercengkrama.


"Ayo duduk disini dulu, sambil menunggu saudara ipar sepupu mu yang lain." Ucap kakek Tomo kepada Terra.


"Baik kakek," ucap Terra patuh, sambil duduk


Belum sempat Terra mencecahkan pantatnya di kursi empuk itu, terdengar lagi suara seseorang yang baru datang.


"Aku datang," ucap Arya sambil melangkah mendekat ke arah mereka.


"Apakah aku terlambat? sepertinya semua orang telah berkumpul di sini." Ucap Arya sambil melihat ke arah Terra.

__ADS_1


"Hahaha tentu saja tidak." Ucap kakek Tomo sambil berjalan mendekat ke arah cucunya itu.


"Terra kemari, kenalkan ini adalah sepupu nya Carlson Arya." Ucap kakek Tomo memperkenalkan Arya Kepada Terra.


Terra berjalan mendekat ke arah kakek Tomo.


"Hallo." Kata Terra memberi salam kepada Arya, yang ternyata adalah sepupu dari suaminya Carlson. Tapi itu tidak berarti apapun bagi nya karena pernikahan ini sementara, jadi dia tidak perlu repot-repot menjalin hubungan baik dengan semua saudara suami sementaranya itu.


"Kakak ipar, aku dengar kamu baru kembali dari New York, apakah kamu membawakan kakek suatu hadiah, karena saya dengar kamu sengaja kembali ke indonesia untuk menikahi sepupuku," ucap adik perempuan Arya, Selin.


Mendengar selin berbicara seperti itu, semua orang mulai mengarahkan tatapan kepada Terra, termasuk Arya.


"Yah sepertinya, drama di keluarga ini telah di mulai," pikir Arya dalam hatinya, karena dia tahu seluruh keluarganya tidak menyukai menantu pilihan kakek itu.


Arya menatap lurus ke arah Terra yang hanya berdiam diri mematung di tempatnya.


Melihat reaksinya, semua orang tahu jika dia tidak menyiapkan apapun.


"Kali ini aku akan membantu mu tampa kau minta, tapi selanjutnya kau harus memohon kepadaku gadis sombong, lihat menghadapi ini saja kau tidak mampu, bagaimana kedepannya, aku yakin mereka tidak akan bersikap lunak kepadamu." Batin Arya dalam benaknya sambil terus menatap lurus ke arah Terra.


"Hei, sudah lah, ini semua salahku karena mendadak menyuruh Terra untuk segera kembali ke Indonesia, jadi tentu saja dia tidak memiliki waktu untuk menyiapkan semacam hadiah atau sesuatu yang lain." Ucap kakek Tomo melihat suasana yang sedikit kaku, kakek Tomo segera menengahi mereka, jelas tujuannya untuk membela Terra, karena dia juga tahu jika Terra tidak menyiapkan hadiah apapun untuknya, terlihat dari sikap kaku gadis itu.


"Kakek....." ucap Arya yang nampaknya juga ingin mengucapkan sesuatu untuk membela Terra, tapi terhenti oleh suara lantang dan percaya diri dari gadis itu.


"Adik ipar, terimakasih telah mengingatkan ku, aku hampir saja lupa untuk memberikan hadiah yang telah aku siapkan kepada kakek, dan aku juga telah menyiapkan hadiah kecil untuk kalian semua, semoga kalian menyukainya," ucap Terra tenang.


"Bibi, bolehkah aku meminjam pelayan di sini untuk mengambilkan hadiah yang aku maksud, di kediaman ku?" Tanya Terra yang kini tatapannya tertuju kepada bibi suaminya itu.


"Ah? ya, tentu saja boleh." Ucap bibi Mega terbata bata.


Melihat itu, reaksi Selin terlihat sangat kesal.


"Sial, bagaimana dia telah menyiapkan hadiah terlebih dahulu, bukan hanya tidak bisa mengerjainya, aku secara tidak sengaja malah membantunya," pikir Selin dalam hatinya kesal.

__ADS_1


Arya pun tambah menatap lekat mencari kebenaran di balik wajah gadis itu.


"Bagai mana bisa, tapi kelihatannya dia juga tidak sendang becanda jika dia telah menyiapkan hadiah." Pikir Arya sambil mengingat-ingat kembali saat pertemuannya di bandara dengan Terra.


__ADS_2