Rahasia Istri Idiot

Rahasia Istri Idiot
004 Memenuhi Undangan


__ADS_3

"Ah bagaimana aku bisa melupakannya, jika aku bertemu dengan gadis aneh yang menabrak ku karena dia terlihat membawa cukup banyak barang, ah, mungkin saja itu adalah hadiah yang telah di siapanya terlebih dahulu." Bagaimana aku bisa lupa pikir Arya frustasi.


"Hahaha terimakasih cucuku, aku memang tidak salah menilai mu," ucap kakek Tomo bangga.


Sebenarnya dia tidak membutuhkan hadiah apapun dari menantunya ini, tapi jika dia tidak membawa hadiahnya hari ini mungkin itu akan menyulitkan kehidupan nya di sini kedepannya.


Karena anak perempuan dan cucu perempuan nya tidak akan membiarkan ini begitu saja. dia takut jika cucu menantunya ini akan di tindas oleh mereka, tapi siapa sangka, ternyata menantu nya itu tidak perlu di khawatirkan. batin kakek Tomo lega. "Sepertinya dia bisa beradaptasi dengan baik," batin kakek Tomo lega.


Beberapa menit kemudian.


"Nyonya muda, apakah kotak ini yang anda maksud?" Tanya dua orang pelayang yang membawa beberapa kotak dan beberapa kantong belanja yang kelihatanya cukup mahal.


"Benar, bawa kemari, aku akan memberikannya kepada kakek langsung, semoga kakek nanti menyukainya." Ucap Terra yang kini menoleh ke arah kakek, sambil menyerah kan satu kotak kayu kecil segi empat dengan ukiran yang indah.


"Apa ini?" Kata kakek Tomo sambil membuka kotak itu.


"Itu adalah cincin giok hijau zamrud kakek." Ucap Terra menjelaskan apa hadiah yang dia bawakan.


"Sayang, ini terlihat mahal, kamu tidak perlu repot-repot." Ucap kakek Tomo dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Sama sekali tidak kakek, sebenarnya itu sudah lama aku simpan, dan sekarang aku ingin memberikan nya kepada kakek." Ucap Terra menjelaskan, kerena dia juga tak ingin kakek merasa terbebani.


"Aku juga membawakan ini untuk bibi, paman, Selin dan Arya." Ucap Terra ramah sambil tersenyum kepada semua orang.


Itu membuat amarah Selin bertambah kesal kepadanya.


"Lihat saja wanita ******, kamu kira kamu sudah menang? " Ucap Selin sambil menyeringai licik melihat Terra.


Setelah membagikan hadiah kepada semua orang, mereka melanjutkan makan malam dengan tenang, walaupun hati Mega sangat tidak suka melihat Terra yang mencuri perhatian kakek Tomo dari putrinya. Dalam hati mereka masih telah merencanakan suatu yang jahat terhadap Terra.

__ADS_1


Setelah selesai acara makan malam Terra kembali ke kediamannya sendiri, dia duduk di tepi ranjangnya.


"Untung saja aku membawa kembali hadiah hadiah itu, sepertinya mereka sangat agresif dan tidak membuang buang waktu sama sekali," batin Terra. Mengingat kembali bagaimana Selin ingin menempatkannya pada suasana canggung. tapi untung saja dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya.


Karena Terra tahu jalan yang akan dia tempuh di keluarga ini tidak akan mudah.


*


Keesokan harinya Terra dengan bersemangat bersiap siap untuk berangkat ke kampus tempat dia akan mengajar atau menjadi dosen kedepannya. Karena Universitas itu sebenarnya telah beberapa bulan yang lalu mengirim kan undangan untuk menjadi tenaga pendidik di Universitas mereka kepada Terra, hanya saja waktu itu dia belum ada niat untuk kembali ke Indonesia.


Tapi sekarang karena dia telah berada di indonesia jadi Terra Kembali teringat akan undangan tersebut dan berniat mengajar di sana selama dia menjalankan rencananya di Indonesia, sekalian untuk menutupi tujuannya yang sebenarnya.


Terra berjalan cukup jauh untuk sampai ke gerbang utama kediaman Dirja Ningrat yang memang terdapat beberapa bangunan megah, selain rumah utama untuk tempat tinggal anak dan cucunya dalam satu lingkungan yang elit di Jakarta.


Terra sengaja berjalan kaki ke depan dan naik taksi ke tempat tujuan nya, karena dia tidak ingin terlalu mencolok dengan menggunakan mobil sport yang di berikan oleh kakek kepadanya.


Sampainya di kampus Terra langsung menuju ruang Rektorat untuk melaporkan kedatanganya.


"Mahasiswa tidak dapat bertemu secara langsung dengan bapak Rektor, kecuali telah memiliki janji terlebih dahulu." Ucap wanita ini sedikit tidak ramah.


"Maaf mbak, saya memang belum memiliki janji dengan beliau, tapi saya yakin beliau akan bersedia bertemu dengan saya" Terang Terra kepada wanita itu.


"Apa maksud mu, tidak semua orang bisa bertemu dengan beliau, apalagi mahasiswa seperti mu!" Ucap wanita itu sambil menilai penampilan Terra dari atas sampai bawah yang memang dia saat ini menggunakan pakaian bermerek yang telah di siapkan di kamarnya.


Melihat wanita di depannya tidak bersahabat, Terra teringat akan nomor telfon dan kartu nama yang di lampirkan dalam surat undangan itu, jadi Terra berniat mengambil amplop itu dari dalam tasnya.


"Hai, kita bertemu lagi" Ucap seorang pria tiba tiba menyapa Terra.


Mendengar suara seseorang berbicara kepadanya Terra mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Dia melihat Arya tersenyum ke arahnya, dia tidak bisa mengartikan itu senyuman apa.


"Hai, mas Arya, ada yang dapat saya bantu?" Tanya wanita itu ramah, 90 derajat berbeda dengan cara dia berbicara kepada Terra sebelumnya.


"Iya, saya sedang mencari bapak dekan." Ucap Arya mengatakan maksud dan tujuannya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Arya kepada Terra yang hanya berdiri diam di tempatnya.


"Apakah mas Arya mengenal gadis ini?" Tanya wanita itu, yang walaupun umurnya jauh lebih tua dari Arya tapi karena sepertinya dia menghormati pemuda itu jadi dia sengaja memanggil Arya dengan sebutan mas.


"Iya, dia adalah teman saya," jawab Arya kepada wanita itu.


"Wah kalau begitu silahkan masuk, kebetulan Rektor lagi ada di ruangannya, dan seperti nya beliau juga tidak sibuk." Ucap wanita itu ramah. benar benar bertolak belakang dengan sikapnya kepada Terra sebelum Arya datang.


"Benarkah? terimakasih," ucap Arya sambil berjalan pergi menuju lift. Karena memang ruangan Rektor berada di lantai atas.


"Apakah kamu tidak jadi ingin pergi?" Tanya Arya yang melihat Terra hanya berdiri diam di tempatnya.


"Ah iya, tentu saja." Ucap gadis itu sambil mengikuti langkah Arya.


*Di dalam lift.


"Kenapa kamu ingin menemui Rektor, apakah kamu ingin kuliah di sini, tapi cukup dengan menemui dekan II atau kemahasiswaan untuk melaporkan kepindahan mu" ucap Arya, yang juga mengira bahwa Terra masih seorang mahasiswa.


Memang umurnya masih sangat muda dengan gelar yang telah di dapat nya sekarang ini, yaitu di akhir 22 tahun, dia telah menyelesaikan dua pendidikan S-I manajemen dan ekonomi dan 1 gelar magister. Dan terakhir mendapatkan gelar doktor di New York.


"Ya, bisa di bilang begitu," ucap Terra memalas, jika tidak mengingat Arya sudah menolongnya di pintu depan tadi, Terra sama sekali tidak menginginkan berurusan dengan pria ini.


"Sebenarnya kalau kamu mengatakannya semalam, aku bisa membantu mu, dan kamu tinggal masuk kuliah, tidak perlu repot-repot mengurus administrasinya seperti ini," ucap Arya kepada Terra.

__ADS_1


"Terimakasih tuan Arya, anda tidak perlu repot-repot." Ucap Terra sambil keluar dari pintu lift yang kebetulan juga telah terbuka dan pergi dari sana.


__ADS_2