
"maafkan aku kakak, tapi apakah kabar kamu baik baik saja, semenjak meninggalkan rumah?, aku kwartir, karena kakak pergi begitu saja dan tidak membawa uang sepeserpun." ucap Melisa seperti menyiratkan kepada Arya jika Terra telah membiayai hidup nya dengan cara yang tidak benar.
"apa urusan mu" ucap Terra sambil melangkah pergi meninggalkan kan mereka berdua.
"ada apa dengan nya?" tanya Arya sambil memperhatikan Terra yang berjalan menjauh dari mereka.
"semenjak papa menikahi ibu, dia sudah sangat membenci kami, kata ayah dia hidup di luar negeri dengan om om kaya untuk membiayai kehidupan mewahnya di sana. hingga kini dia pulang pun, tidak ada satu orangpun dari kami yang mengetahui ini." ucap Melisa dengan wajah sedih.
Arya sedikit menyeringit mendengar ucapan Melisa, tidak tahu mengapa, tapi jelas Arya merasa Terra bukan perempuan seperti yang dikatakan oleh Melisa.
"itu, aku ada janji menemui profesor teddy, aku pergi dulu." ucap Arya
*Di Amerika.
"selamat pagi pak" ucap Thomas menyapa arya yang telah duduk di kursi kebesarannya.
"ya, apa agenda ku hari ini?" tanya Carlson kepada asistennya itu.
"pagi ini, bapak ada pertemuan dengan Mr. Adam, setelah itu ada bisa menangani dokumen untuk persiapan proyek kerjasama kita dengan perusahaan AGH Corperation.
saat makan siang nanti anda juga memiliki janji temu dengan klien di hotel Ameera." jelas Thomas kepada atasannya itu.
"baiklah, apakah hanya itu?" tanya Carlson cukup heran karena tidak biasanya jadwalnya tidak memeras otak dan tenaga ini.
"ya, untuk hari ini, anda bisa memiliki waktu untuk istirahat sejenak, sudah beberapa hari ini anda hanya tidur beberapa jam dalam satu hari," bacot Thomas yang sebenarnya perhatian, dia tengah berusaha untuk mengurangi jadwal atasannya itu untuk hari ini.
tapi Carlson malah menatapnya dengan tatapan mematikan. melihat respon Carlson yang seperti itu, tidak tau kenapa Thomas merasa tenggorokan nya tiba tiba kering dan terbatuk batuk.
"pak, bukan itu maksud saya, saya tahu jika bapak akhir-akhir ini sedang stres memikirkan istri anda itu, tapi berbicara tentang dia, menurut orang kita, hari ini dia datang ke kampus tempat saudara sepupu anda arya kuliah, dan mereka juga sepertinya secara kebetulan bertemu di sana." ucap Thomas menjelaskan karena udah tanggung basah dilototti oleh Carlson.
__ADS_1
mendengar apa yang di katakan oleh Thomas, Carlson sedikit mengangkat satu alis nya heran.
"apakah kakek mencoba membuatnya pintar atau apapun itu?" tanya Carlson.
"saya juga tidak tahu pak, tapi sepertinya kakek sama sekali tidak tahu masalah ini" terang Thomas.
"kalau begitu apakah aku bisa mengatakan jika dia sedang berusaha mementaskan diri?" ucap Carlson yang terdengar sedikit konyol.
"hahahaha tuan, anda terdengar sedikit senang tentang ini" ejek Thomas.
"apa yang kamu bicarakan, saya keluarlah!" perintah Carlson.
"baik, nanti jika ada perkembangan tentang nyonya muda, tentu saja saya akan melaporkan nya kepada anda pak" ucap Thomas sebelum menutup pintu ruangan Carlson dan pergi dari sana.
"aku merasa sedikit aneh tentang identitas gadis itu" ucap Thomas kepada dirinya sendiri.
karena memang dia yang merupakan sahabat Carlson dari mereka sekolah dulu hingga sekarang, hingga Carlson yang membantu membayar biaya pengobatan ibunya di rumah sakit, oleh sebab itu Thomas sangat teliti jika itu bersangkutan dengan kebahagiaannya.
*Di kampus universitas Indonesia.
Melisa tengah sibuk menelfon dengan seseorang.
"iya ma, aku melihatnya sendiri di kampus ku, sepertinya dia datang dan berniat menggoda mas Arya." ucap Melisa penuh emosi.
"hmm, kita harus segera bertindak sebelum papamu mengetahui dia kembali ke indonesia" ucap mama Melisa.
"jadi apa yang harus kita lakukan ma?" suara Melisa terdengar sedikit tergesa-gesa dan tidak sabaran.
"tenang saja, akhir-akhir ini kecelakaan di jalan raya sering terjadi" ucap Tari, mama Melisa itu penuh arti.
__ADS_1
"aku serahkan semuanya pada mama, kita tidak bisa membiarkannya terlalu lama di sini, semua yang telah kita rencanakan bisa berantakan" ucap Melisa kepada mamanya, dalam hati, Melisa sebenarnya lebih menghawatirkan jika Terra menggoda Arya, laki laki yang selama ini telah di dicintainya.
dan yang di hawatirkan oleh Tari mamanya melisa adalah suaminya mengetahui tentang kembalinya Terra ke indonesia. pada dasarnya mereka berdua menghawatirkan prianya masing masing.
di depan kampus UI Terra tengah menunggu taxsi online yang baru saja di pesannya melalui aplikasi.
"sesuai aplikasi ya mbak?" tanya driver itu kepada Terra.
"iya pak," jawab Terra singkat karena dia sudah haus dan cukup lapar, karena pagi tadi dia melewatkan sarapan.
beberapa menit berlalu sampai driver itu mengentikan mobilnya tepat di depan kafe sekaligus restoran itu, dengan dekorasi yang sangat nyaman, dan adem.
"terimakasih mas, simpan saja kembaliannya" ucap Terra sambil memberikan uang sekaligus tips kepada driver itu.
"terimakasih mbak, semoga mbak sehat selalu, saya pikir mbak tadi tidak suka kepada saya karena bau atau apa, ternyata mbak sangat baik, sehat selalu mbak, anak bayi saya di rumah pasti juga ikut mendoakan kesehatan dan rejeki mbak" ucap driver itu dengan penuh syukur atas tips yang di berikan oleh Terra itu yang jumlahnya cukup lumayan untuk membeli kebutuhan bayinya di rumah.
"iya mas, terimakasih" ucap Terra sambil pergi meninggalkan driver itu, sebenarnya tadi saat di dalam mobil, Terra melihat satu kantong kresek kecil berisi pempers bayi yang sepertinya di beli eceran oleh driver itu, jadi Terra berfikir mungkin dia memiliki bayi di rumah, karena Terra memang menyukai anak-anak dan bayi jadi dia memberikan sedikit uangnya kepada driver tersebut, dan benar saja, ternya dia memang memiliki seorangpun bayi.
dengan mood yang sudah baik, Terra berjalan kedalam kafe itu dengan senyuman di wajahnya. sontak tamu tamu lain yang juga sedang bersantai atau berkumpul dengan sahabat sahabat nya itu menoleh ke arah Terra yang baru saja datang.
"siapa itu, dia sangat cantik." ucap salah satu pemuda yang ada di sana.
"hei, aku tau, mungkin dia juga mahasiswa di kampus kita, pagi ini kau melihatnya di rektorat" ucap pemuda itu, yang sepertinya dia adalah mahasiswa, atau mungkin nanti akan menjadi mahasiswa Terra.
"jadi dia anak dari fakultas apa, aku baru kali ini melihatnya, padahal kita nongkrong di sini hampir setiap hari" balas yang lainya sambil terus memperhatikan Terra yang kini tengah berdiri dan berbicara dengan barista, mungkin dia tengah memesan sesuatu di sana.
di seberang meja mereka Arya juga Tengah memperhatikan tindakan pemuda itu dari awal, dan hanya memperhatikan dari jauh.
"coba kamu ke sana untuk berkenalan." saran salah satu dari pemuda itu.
__ADS_1
"hei, kamu jangan konyol, kamu kira ini zaman apa, datang datang langsung minta kenalan."ucap salah satu dari mereka berusaha menasehati.