Rahasia Istri Idiot

Rahasia Istri Idiot
006 Penggemar Rahasia


__ADS_3

"Ya, untuk hari ini, anda bisa memiliki waktu untuk istirahat sejenak, sudah beberapa hari ini anda hanya tidur beberapa jam dalam satu hari." bacot Thomas yang sebenarnya perhatian, dia tengah berusaha untuk mengurangi jadwal atasannya itu untuk hari ini.


Tapi Carlson malah menatapnya dengan tatapan mematikan. melihat respon Carlson yang seperti itu, tidak tau kenapa Thomas merasa tenggorokan nya tiba tiba kering dan terbatuk batuk.


"Pak, bukan itu maksud saya, saya tahu jika bapak akhir-akhir ini sedang stres memikirkan Istri anda itu, tapi berbicara tentang dia" Thomas berfikir sejenak, menggantung pembicaraan. "Menurut orang kita, hari ini dia datang ke kampus tempat saudara sepupu anda Arya kuliah, dan mereka juga sepertinya secara kebetulan bertemu di sana." Lanjut Thomas menjelaskan karena sudah tanggung basah dipelototi oleh Carlson.


Memang semenjak pernikahan mereka Carlson tidak pernah pulang ke paviliun kediaman Dirja Ningrat, dengan alasan sibuk di kantor dan pulang ke apartemen nya yang lebih dekat dengan kantor untuk hanya sekedar mandi dan tidur menjadi dalih.


Mendengar apa yang di katakan oleh Thomas, Carlson sedikit mengangkat satu alis nya heran.


"Apakah kakek mencoba membuatnya pintar atau apapun itu?" tanya Carlson dengan gerakan acuh, padahal dalam hati dia cukup penasaran tentang kehidupan istri nya itu.


"Saya juga tidak tahu pak, tapi sepertinya kakek sama sekali tidak tahu masalah ini" terang Thomas.


"Kalau begitu apakah aku bisa mengatakan jika dia sedang berusaha mementaskan diri?" Ucap Carlson yang terdengar sedikit konyol.


"Hahahaha, anda terdengar sedikit senang tentang ini pak" Ejek Thomas.


"Apa yang kamu bicarakan, sana keluarlah!" perintah Carlson.


"baik, nanti jika ada perkembangan tentang nyonya muda, tentu saja saya akan melaporkan nya kepada anda pak" ucap Thomas sebelum menutup pintu ruangan Carlson dan pergi dari sana.


Memang awalnya Carlson sendiri yang menyuruh Thomas menyiapkan seseorang untuk mengikuti gadis itu jika dia keluar rumah, karena dia cukup khawatir istri idiot nya itu melakukan hal hal aneh yang nantinya bisa merugikan dirinya sendiri.


"Aku merasa sedikit aneh tentang identitas gadis itu" ucap Thomas kepada dirinya sendiri sambil berjalan keluar dari ruangan Carlson.

__ADS_1


Karena memang dia yang merupakan sahabat Carlson dari mereka sekolah dulu hingga sekarang, hingga Carlson yang membantu membayar biaya pengobatan ibunya di rumah sakit, oleh sebab itu Thomas sangat teliti jika itu bersangkutan dengan kebahagiaannya.


"tapi apa sebenarnya yang aneh, aku sepertinya harus menambahkan orang untuk menyelidiki gadis itu, aku tidak ingin melewatkan apapun." Gumam Thomas sambil melangkah pergi ke ruangannya sendiri.


*Di kampus universitas gadjah Mada.


Melisa tengah sibuk menelfon dengan seseorang.


"iya ma, aku melihatnya sendiri di kampus ku barusan, sepertinya dia datang dan berniat menggoda mas Arya." ucap Melisa penuh emosi.


"Hmm, kita harus segera bertindak sebelum papamu mengetahui dia kembali ke Indonesia" ucap mama Melisa gelisah.


"Jadi apa yang harus kita lakukan ma?" Suara Melisa terdengar sedikit tergesa-gesa dan tidak sabaran.


"Tenang saja, akhir-akhir ini kecelakaan di jalan raya sering terjadi" ucap Tari, mama Melisa itu penuh arti.


Dan yang di hawatirkan oleh Tari mamanya Melisa adalah suaminya mengetahui tentang kembalinya Terra ke indonesia. Pada dasarnya mereka berdua menghawatirkan prianya masing masing.


di depan kampus Gadjah Mada Terra tengah menunggu taxsi online yang baru saja di pesannya melalui aplikasi.


"Sesuai aplikasi ya mbak?" Tanya driver itu kepada Terra.


"Iya pak." Jawab Terra singkat karena dia sudah haus dan cukup lapar, karena pagi tadi dia melewatkan sarapan.


Beberapa menit berlalu sampai driver itu menghentikan mobilnya tepat di depan kafe sekaligus restoran yang di maksud Terra, dengan dekorasi yang sangat nyaman, dan adem.

__ADS_1


"Terimakasih mas, simpan saja kembaliannya." ucap Terra sambil memberikan uang sekaligus tips kepada driver itu.


"Terimakasih mbak, semoga mbak sehat selalu, saya pikir mbak tadi tidak suka kepada saya karena bau atau apa, ternyata mbak sangat baik, sehat selalu mbak, anak bayi saya di rumah pasti juga ikut mendoakan kesehatan dan rejeki mbak." Ucap driver itu dengan penuh syukur atas tips yang di berikan oleh Terra itu yang jumlahnya cukup lumayan untuk membeli kebutuhan bayinya di rumah.


"Iya mas, terimakasih" ucap Terra sambil pergi meninggalkan driver itu, sebenarnya tadi saat di dalam mobil, Terra melihat satu kantong kresek kecil berisi pempers bayi yang sepertinya di beli eceran oleh driver itu, jadi Terra berfikir mungkin dia memiliki bayi di rumah. Karena Terra memang menyukai anak-anak dan bayi jadi dia memberikan sedikit uangnya kepada driver tersebut, dan benar saja, ternya dia memang memiliki seorangpun bayi.


Dengan mood yang sudah membaik, Terra berjalan kedalam kafe itu dengan senyuman di wajahnya. Sontak tamu tamu lain yang juga kebanyakan dari universitas yang sama tengah berkumpul dengan sahabat sahabat nya itu menoleh ke arah Terra yang baru saja datang.


"Siapa itu, dia sangat cantik." Ucap salah satu pemuda yang ada di sana.


"hei, aku tau, mungkin dia juga mahasiswa di kampus kita, pagi ini aku melihatnya di Rektorat" ucap pemuda itu, yang sepertinya dia adalah mahasiswa, atau mungkin nanti akan menjadi mahasiswa Terra.


"Jadi dia anak dari fakultas apa, aku baru kali ini melihatnya, padahal kita nongkrong di sini hampir setiap hari" balas yang lainya sambil terus memperhatikan Terra yang kini tengah berdiri dan berbicara dengan barista, mungkin dia tengah memesan sesuatu di sana.


Di seberang meja mereka Arya juga Tengah memperhatikan tindakan pemuda itu dari awal, dan dia hanya memperhatikan dari jauh, ingin bertindak sebagai penonton.


"Coba kamu ke sana untuk berkenalan." Saran salah satu dari pemuda itu.


"Hei, kamu jangan konyol, kamu kira ini zaman apa, datang datang langsung minta kenalan." Ucap salah satu dari mereka berusaha menasehati.


"Jadi kita harus membiarkan gadis secantik itu begitu saja?"


"Tentu saja tidak, jika Dika pernah melihatnya di rektorat berarti dia juga mahasiswa di kampus kita, pelan pelan saja, atau dia malah akan semakin menjauh" ucap pria yang lain sambil menatap ke arah Dika dan ucapannya terdengar lebih dewasa dari yang lain.


"Masuk akal, bagaimana kalau nanti kita ikuti saja dia, mana tau dia habis makan siang ini kembali ke kampus, dan saat kita udah tau dia dari fakultas mana, misi kita akan tambah mudah, " ucap salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Benar benar, sekarang kita ngopi aja dulu dengan tenang." Ucapnya.


__ADS_2