
Ia tidur diluar tepat didepan pintu dengan kain panjang di sekelilingnya. Dan sebuah kain putih menutupi matanya. ia tidak terbiasa dengan hal ini, mau atau tidak ia harus merasakan kegelapan sementara sampai ia bisa mengontrol kekuatan matanya sendiri. karena mata itu akan berpengaruh baginya dikemudian hari.
Keesokan harinya.
" gege..... kau dimana?" Ucap ye ling meneriakkan namanya.
Ia seketika terbangun. Kini ye ling menabraknya saat menuju keluar mencari sang suami.
" to... tongkat ku" ucap anak itu wan lingge kehilangan tongkatnya ia berpura pura untuk masuk kedalam.
" kau siapa?"
" aku... aku.... wan lingge"
" wan lingge?"
" i... iya"
" kenapa kau bisa disini?"
" aa... aku tersesat tadinya saudara laki laki ku ingin mengantarkan ku ketempat yang paling indah namun ia membawaku kesini"
" lalu dimana saudara laki laki mu?"
" katanya ia ingin pergi sebentar aku menunggunya sangatlah lama aku tersesat"
" kenapa dengan matamu nak kenapa ditutup?"
" uhhh ma... maaf apakah mengganggu?"
" ti... tidak "
__ADS_1
" jika mengganggu maafkan aku. Aku tidak bisa melihat dari kecil makanya mataku ditutup"
" ahh maafkan aku aku tidak mengetahuinya"
" tidak masalah nona" ucapnya ragu.
" ehhh aku sudah memiliki seorang anak yang seumuran denganmu jika kau ingin kau bisa memanggilku ibu"
" be.. benarkah?"
" iya"
" akhirnya aku memiliki ibu"
" emang kau tidak memilikinya?"
" tidak emm maksudku punya tapi ia telah meninggal dunia sejak aku masih kecil aku dititipkan di sebuah desa dekat sini mereka sangatlah membenciku karena aku buta"
" 4... 4 tahun bu"
" 4 tahun? Kebetulan anak anakku juga akan berumur 4 tahun bulan depan baiklah apakah kau bisa masuk?"
" aa... apakah boleh?"
" iya ayo masuk" ucapnya sambil menuntun wan lingge masuk.
" ibu.... siapa yang datang?"
" kalian memiliki teman baru namanya wan yau"
" wan lingge? Namanya seperti namanya ayah"
__ADS_1
" apakah kau juga sehebat ayahku lingge?" Ucap wan seo
" apakah kau bisa terbang?" tanya wan joe anak anak itu sungguhlah antusias bertanya karena rasa penasaran yang selalu mereka rasakan. dan terkadang mereka juga penasaran seperti apa diluar sana hingga ayahnya juga menceritakan banyak hal yang ada disana.
" hmmm tidak"
" kenapa matamu ditutup?"
" anak anak sudah ayo makan"
" dimana ayah bu?"
" ayahmu pergi semalam ia pergi tanpa memberi tau terlebih dahulu" ucapnya kesal memajukan bibirnya kedepan.
Ia menawari wan lingge makanan dan memberinya makanan tidak hanya itu ia juga membantunya menyuapi makanan itu kepada wan lingge. Wan lingge menerimanya dengan senang. Setelah mereka selesai makan wan lingge diberikan sebuah kamar untuk ia tinggal. Wan lingge tersenyum.
" ibu... apakah aku boleh bermain dengan mereka? Tapi aku sedikit malu pada kondisiku yang seperti ini "
" kenapa kau harus malu? Kau boleh bermain dengan mereka setelah kau istirahat"
" baiklah bu maaf telah merepotkanmu"
" tidak masalah masuklah" wan lingge masuk kedalam kamar itu ye ling merasa tidak enak hati pada anak itu tapi ini perintah dari sang suaminya ia tidak ingin suaminya kecewa dengannya namun ia merasa kasihan pada anak itu.
Ye ling kembali membuka pintu itu tampak jelas kamar yang begitu indah didalamnya ada sebuah jendela besar dekat tempat tidur.
" waah kamar yang cukup luas"
" bagaimana kau bisa tau bahwa kamar ini cukup luas?"
"Ahh ibu... aku tau karena aku seperti merasakan aliran qi yang cukup kuat. Bahkan ada aliran qi kegelapan disini, tekanan ini hanya ada di menara kehormatan dinegara wan makanya aku mengetahui bahwa disini cukup luas"
__ADS_1