
PERJAMUAN 2
"Wah... lihat itu, aku iri" ucap salah satu Pangeran.
"Kenapa yang disana bukan aku?"
Bibir Pangeran Kevin masih menempel dengan Alletha. ******* bibir Alletha, tapi tidak dengan Alletha. Pipinya pun berubah merah merona. Tau lampu menyala Alletha langsung mendorong Pangeran Kevin.
"Lihat, dia cocok jika bersama dengan Pangeran Kevin" bisik Ayahanda di telinga Ibunda.
"Ya, mereka sangat serasi" jawab Ibunda.
"Bagaimana jika kita jodohkan mereka?" saran Ayahanda.
"Terdengar bagus" jawab Ibunda antusias.
"Nanti kita diskusikan saja" tambah Ibunda.
Alletha masih menatap mata Kevin. Tangan Alletha memegangi bibirnya. Tak habis fikir, Pangeran Kevin mengambil ciuman pertamanya. Susah payah Alletha menjaganya dan sekarang malah direbut darinya.
"Maaf Pangeran" Allyra membungkuk dan melangkah pergi.
Pangeran Kevin belum menjawab, Alletha sudah berbalik dan melangkah. Baru selangkah gak tak terduga terjadi begitu saja, yang membuat semua orang kaget bukan main.
"Alletha, aku menyukaimu" ucap Kevin tiba-tiba.
"Bisakah kau membalas perasaanku?" tambah Kevin.
Alletha mendengar pernyataan Kevin seketika menghentikan langkah nya. Dengan wajah yang sangat kaget dan tidak percaya, matanya membentuk bulatan sempurna. Alletha membalikan badannya menatap kembali Kevin di hadapannya.
"Apa maksud mu Pangeran?" tanya Alletha.
"Apakah kurang jelas? aku menyukaimu. Aku ingin putri jadi ratu ku" jelas Kevin.
"Apa yang kau dari aku? masih banyak putri lain di penjuru negeri yang lebih dari pada aku. Kanapa memilih ku?" tanya Pangeran.
"Aku tidak butuh putri lain. Aku hanya butuh kamu" jawab Kevin serius.
Semua orang menatap mereka, terkejut dengan Kevin yang sangat berani untuk meminta Alletha menjadi Ratu nya.
"Aku berjanji aku selalu membuatmu serasa bahagia" jelas Kevin.
"Aku tidak butuh janji. Aku butuh sebuah kepastian, ketulusan, dan sebuah bukti" jawab Alletha.
Selesai mengatakannya Alletha meninggalkan ruangan itu menuju taman istana. Wajah Kevin berubah jadi sedih. Tapi Kevin masih punya tekat kuat untuk mendapatkan Alletha. Ia bersumpah akan melakukan apapun agar Alletha menerimanya.
**Taman Istana***
Alletha duduk di bawah pohon sambil memandangi langit malam yang penuh bintang dan bulan. Alletha masih terbayang akan perkataan Kevin.
__ADS_1
Tapi semakin memikirkan nya, membuat Alletha semakin bingung dengan perasaan nya. Keheningan malam membuat Alletha manjadi tenang dan damai. Tanpa sadar Alletha menutup matanya.
"Kevin, kau menyukai Alletha?" tanya Ayahanda pada Kevin.
"Mungkin. Jantungku berdetak kencang malah terasa hampir kelas saat melihat Alletha" jawab Kevin.
"Sayang.. kamu harus berjuang mendapatkanya" Ibunda memberi semangat Kevin.
"Sebenarnya apa itu cinta?" tanya Kevin dalam hati.
Kevin dihampiri seseorang, Pangeran Hendrick. Pangeran Hendrick membawa 2 gelas yang berisi anggur.
"Pangeran Kevin" sapa Pangeran Hendrick.
"Pangeran Hendrick, kenapa?" jawab Kevin dan sedikit bertanya.
"Aku tau kau menyukainya, jadi berjuang lah" semangat Pangeran Hendrick sambil memberikan gelas anggur pada Kevin.
"Terimakasih" jawab Kevin mengambil gelasnya.
"Temui dia di taman istana" saran Hendrick.
Kevin lagsung segera menghabiskan anggurnya dan menuju taman istana. Kevin mencari dimana Alletha. Akhirnya Kevin menemukan Alletha duduk di bawah pohon..
Kevin mendekati Alletha. Duduk disampingnya. Tapi baru disadari Alletha ternyata tertidur disana.
"Dia sangat imut saat tidur" puji nya dalam hati.
Tapi apa boleh buat, tidak ada jalan lain menuju kamar Alletha. Kevin dengan sangat percaya diri mulai melangkah. Saat melewati ruang utama, para tamu melongo melihat Kevin yang menggendong Alletha. Wajahnya mulai memerah karena malu. Rasa percaya dirinya seketika anjlok.
"Iya, aku tidak kau kamarnya dimana? gawat! gimana nih?" ucap Kevin dalam hati.
"Itu ada Hendrick. Tapi masa iya aku kesana, aku gendong Alletha" gerutunya.
"Udahlah terobos aja!"
Kevin pun mendekati Pangeran Hendrick yang lagi ngobrol dengan salah satu tamu. Merasa ada yang mendekatinya Hendrick menolah kebelakang, terkejut melihat Kevin yang menggendong Alletha. Pikirnya metode yang Hendrick berikan berhasil.
"Pangeran Hendrick, dimana kamar Alletha?" tanya Kevin.
"Apa aku tidak mendengarnya dengan jelas, bisa kau ulangi?" pinta Hendrick yang berpura-pura tidak mendengar ucapan Kevin.
"Dimana kamar Alletha.." jawab Kevin mendekatkan mulutnya ke telinga Hendrick.
"Apa kamar Alletha?!" teriak spontan Hendrick. Ternyata dia memang sudah berniat mengerjai Kevin.
"Bang*at! nih orang sengaja?!" protes Kevin dalam hati.
Orang-orang yang mendengar teriakan Pangeran Hendrick langsung amat sangat kaget. Suasana pun seketika sunyi. Orang-orang terdiam. Raja dan Ratu pun kaget.
__ADS_1
"Kau bisa bicara lebih pelan" geram Kevin.
"Kamar Alletha diatas sebelah kanan" jawab Hendrick.
Kevin yang sudah geram dengan Hendrick lagsung pergi menuju kamar Alletha. Menggendong nya menaiki anak tangga yang memutar itu. Mata orang-orang masih tertuju dengan mereka. Orang-orang lun mulai berbisik-bisik.
"Lihat secepat itu mereka melakukan nya?"
"Apa benar mereka melakukan itu?"
" Aku tidak punya kesempatan lagi"
"Pasti mereka akan melakukan hal itu dikamar putri"
Gosip-gosip tidak sedap pun terdengar, mereka mengira Alletha dan Kevin akan melakukan adegan itu.
********
"Sini duduk di sebelah ku" suruh Alletha halus.
"Terimakasih!" jawab seorang Cowok.
"Putri ini untukmu. Aku membuatnya sendiri" tambah cowok itu menyodorkan mahkota dari bunga. Lalu memasangkannya di kepala Alletha.
"Terimakasih!" jawab Alletha tersenyum ke arah cowok itu. Tiba-tiba tempat yang indah itu berubah menjadi gelap.
"Cepat! cepat bawa dia ke kamarnya! panggil dokter cepat!" perintah Raja.
"Baik!" jawab para prajurit.
"Cepat ambil air hangat dan kain! cepat!" teriak seseorang dari dalam kamar.
Alletha ada di tempat itu, ia menagis sejadi-jadinya. Alletha menagis melihat cowok itu bersimbah darah. Tangan Alletha dipenuhi darah cowok itu. Ia duduk lemas di samping pintu besar itu. Tangisannya terdengar ke keseluruh ruangan. Sesekali berketiak seperti orang kesurupan.
Seseorang menghampiri Alletha, orang itu tak laim adalah ibu dari cowok itu. Ratu terlihat menagis histeris melihat keadaan anaknya dikamar itu yang sudah dipenuhi dengan darah. Tangan Ratu melayang, menampar pipi Alletha kecil.
"Apa yang sudah kau perbuat? Kenapa kau membawanya ke tempat itu?!" marah Ratu pada Alletha kecil.
Alletha tidak bisa berkata-kata, tangannya hanya bisa memegangi pipi nya yang memerah dan sakit.
"Kau bodoh! kenapa? kenapa kau lakukan itu?!" tambah Ratu.
"Lihat dia! lihat!. Dia melakukan itu demi menolong mu!"
Tangan nya kembali melayang, tapi Ratu berhasil ditenangkan oleh beberapa pelayan. Ratu meronta-ronta meminta pelayan melepaskan nya.
"Putri pergi. Tolong pergilah" ucap salah satu pelayan.
Dengan berat hati Alletha kecil berlari dari ruangan itu. Sepanjang larinya ia terus menangis. Sampai penjaga memberi hormat pun tidak ia hiraukan, Ia tetap berlari sekencang mungkin meninggalkan istana itu.
__ADS_1
Di depan istana Alletha kecil langsung masuk ke dalam kereta kudanya dan menyuruh sangat kusir cepat pergi meninggalkan tempat itu.