
Selesai sarapan, Alletha, Wilson, Hendrick, dan Kevin menemui Ayahanda di ruangan pribadinya. Mengetuk pintu dengan sopan.
"Ayahanda.." ucap Wilson di balik pintu besar itu.
"Masuk anak-anakku" jawab Ayahanda dari dalam ruangan.
Mereka masuk dengan sopan dan berjongkok memberi salam pada Ayahanda.
"Salam Ayahanda.." ucap mereka kompak.
"Bangunlah.." jawab Ayahanda.
"Kemari duduk di sini" tambah Ayahanda menyuruh mereka duduk di sebuah kursi yang lengkap dengan meja.
Kursi-kursi itu ada banyak dan juga ada beberapa yang susah di tempati alias di dudukin. Ya taulah yang dudukin tuh pasti Mentri nya, Panglima, ketua pasukan, dan yang paling penting 3 jendral nya, Alletha, Wilson, dan Hendrick.
Alletha dan yang lain duduk di kursinya masing-masing. Di atas meja sudah ada peta wilayah Negeri Sembilan Api. Alletha bingung dengan rapat yang di adakan Ayahanda. Misal mau perang, tapi ga mungkin kan, baru aja 3 hari selesai perang masa mau perang lagi?
"Ayahanda maksudnya apa ini?" tanya Alletha.
"Alletha, ada 3 wilayah yang mengepung Camellia. Wilayah Barat daya, Timur laut, dan Utara" jawab Ayahanda serius.
"Mereka semua bekerjasama untuk menghancurkan Camellia dan seisinya. Kita di beri waktu 7 hari untuk memilih. Berpegang atau mengalah" tambah Ayahanda.
Alletha kaget dengan ucapan Ayahanda. Baru pertama kali Ayahanda memutuskan hal yang seperti ini. Mereka ingin melawan tetapi mereka kalah dalam hal jumlah prajurit. Sebagian besar prajurit sudah mati saat perang 3 hari yang lalu. Alletha tidak Terima dengan pernyataan sangat Ayah langsung angkat bicara.
"Ayahanda, kita harus kembali bergerak untuk melawan. Kita di rendahkan! mereka menganggap kita lemah! Camellia tidak selemah itu" tegas Alletha.
"Alletha, jika kita melawan kemungkinan besar kita akan kalah" jawab Wilson.
"Ingat sebagai besar prajurit sudah mati dalam perang 3 hati lalu dan sisanya belum benar-benar pulih sepenuhnya" tambah Hendrick.
"Tapi kita tidak bisa diam jika direndahkan, Ayahanda tolonglah.." Alletha memohon.
"Alletha perhatian kesehatan mu, kamu juga belum pulih sepenuhnya" jawab Ayahanda.
Alletha terdiam mendengar ucapan sangat Ayah. Ini memang merupakan masalah yang serius dan harus serra di tangani dengan cepat, jika tidak pasti akan menimbulkan kekacauan di mana-mana.
__ADS_1
Melihat hal itu, Kevin ingat dengan masalah kerajaan nya juga. Kerajaan Parsifal juga menjadi target utama wilayah Barat daya timur laut, dan utara. Kevin angkat bicara mengenai hal ini.
"Ayahanda, sebelumnya mohon ijin berbicara.." pintar Kevin.
"Silahkan" jawab Ayahanda.
"Ayahanda, bisakan kerajaan kita bekerjasama untuk melawan 3 wilayah itu?" tanya Kevin serius.
"Tentu bisa. Tapi kenapa?" ucap Ayahanda.
"Sebenarnya kerajaan Parsifal juga mendapat ultimatum dari pihak yang sama dengan kerajaan Camellia" jawab Kevin.
"Ayahanda, itu tidak buruk. Kita lakukan saja kerjasama dengan mereka, toh kita sama-sama di untungkan" ucap Hendrick menyakinkan Ayahanda.
"Benar yang Mulia, bukankah lebih baik bersatu?" tambah salah satu mentri.
"Ingat Yang Mulia. Bersatu teguh bercerai runtuh" tambah satu mentri lagi.
"Ayah, sebaiknya kita segera berangkat ke kerajaan Parsifal kediaman Al Vander, untuk membicarakan hal ini lebih dalam" ucap Wilson.
Ayahanda sempat terdiam sejenak sebelum membuat keputusan. Setakat beberapa saat akhirnya keputusan yang di tunggu-tunggu tiba.
"Baiklah. Suruh pengawal siapkan kuda. Kita berangkat ke kerajaan Parsifal sekarang" perintah Ayahanda.
Mereka langsung pergi menyiapkan kuda-kuda kerajaan untuk di tunggangi mereka. Orang yang berangkat tidak banyak, hanya Ayahanda, Alletha, Wilson, Hendrick, Kevin, Dan 1 menteri.
Tak lama kuda sudah siap menanti tuannya. Mereka pergi ke depan istana kerajaan untuk segera menuju kerajaan Parsifal. Tapi ada seorang lagi yang ikut dengan mereka. Dan ini baru pertama kalinya dia ikut dalam masalah seperti ini. Ya Pangeran Albert Giordano IV. Mungkin Ayahanda yang menyuruh Albert untuk ikut dalam hal ini, mungkin dikarnakan umurnya yang sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang dunia peperangan.
Albert tampak gagah duduk di kuda kesayangannya, bahkan saking sayangnya Albert sampai memberi nama untuk kuda itu, Lion. Lion kan singa bukan kuda?
"Albert, kenapa kau ada disini?" tanya Alletha yang menyadari keberadaan Albert.
"Ini perintah Ayahanda" jawab Albert senang.
"Albert, ingat ini. Kamu tidak bomah main-main dengan urusan ini, jika tidak bisa berakibat buruk untuk semuanya" tegas Wilson.
"Baiklah, aku janji" jawab Albert.
__ADS_1
Tak lama mereka mulai bergerak menuju kerajaan Parsifal. Karena jarak yang lumayan jauh mereka harus beristirahat di gagah perjalanan. Dan di situlah mereka mendapat kejutan yang tidak diduga-duga.
"Kita beristirahat sebentar di sini" ucap Ayahanda sambil mengangkat tangannya.
Mereka turun dari kudanya. Belum sepenuhnya kaki menginjak tanah ada bebuah kejutan besar. Ada yang melakukan penyerangan secara diam-diam dengan mereka. Orang itu sengaja memanah pada tanah tepat Alletha dan Albert yang berhenti. Sontak semuanya kaget dan bersiaga dengan musuh. Musuh tidak terlihat oleh mereka, ada kemungkinan mereka bersembunyi di balik semak-semak dan pohon yang besar.
Tapi mereka tau ini merupakan salah satu siasat musuh. Akhirnya mereka memutuskan untuk tatap tenang duduk di kudanya. Mereka memutuskan untuk tidak menyerang lebih dulu karena bisa berakibat buruk, Alletha dan yang lain nekat untuk tetap melanjutkan perjalanan sambil di hujani anak panah.
"Semuanya! suruh kuda-kuda kalian berlari sekencang mungkin!" seru Alletha.
"Albert jalan beli dulu di belakang Ayahanda atau siapa saja, jangan berasa di bagian paling belakang!" tambah Alletha.
Albert segera memacu Lion berlari kesempatan mungkin. Albert mengambil posisi tepat di belakang Ayahanda, sesuai perintah Alletha. Mereka semua sudah menjauh dari tempat itu, tinggal Alletha, Hendrick dan Kevin yang masih tinggal untuk memeriksa situasi. Sedangkan Wilson itu bersama Ayahanda mengawal. Merasa sudah aman mereka memutar kudanya dan berlalu pergi.
Gubrakk...!!
Alletha jatuh dari kudanya karena kudanya terkena panah musuh. Kudanya kehilangan kendali dan menjatuhkan menjatuhkan Alletha sampai tersungkur ke tanah dengan posisi tubuh terlentang seperti orang tidur. Posisi itu membuat luka nya kambuh lagi tapi tidak mengeluarkan darah.
"Arghhh!!" erang Alletha.
"Alletha!" teriak Kevin dan Hendrick bersamaan.
Kevin dan Hendrick langsung memutar balikkan kudanya ke arah Alletha. Kevin turun dari kudanya menghampiri Alletha.
"Kamu ga papa?" tanya Kevin sambil mengulurkan tangannya.
"I'm Okay" jawab Alletha menerima uluran tangannya.
"Alletha kudamu sudah pergi jauh, ikut Kevin saja" ucap Hendrick.
"Tapi.." ucap Alletha terpotong.
"Ingin kami tinggal?" tanya Hendrick.
"Tidak!" jawab Alletha spontan.
Akhirnya Alletha berkuda bersama Kevin dengan posisi Alletha di depan dan Kevin di belakang. Memacu kuda dengan cepat untuk menyusul Ayahanda, Wilson, dan Albert
__ADS_1