Real life VS Game

Real life VS Game
Best Friend


__ADS_3

    Reza makan sandwich di kantin sekolah bersama Drian. Reza dan Drian mengobrol santai sambil memakan sandwich mereka.


" Za, kalo mau upgrade status sniper enaknya ningkatin kecepatan reload atau ningkatin damage nya? " tanya Drian.


" Reload sih. Karena reloadnya sniper tuh lama. " jawab Reza.


" Kapan mau mabar lagi? " tanya Drian.

__ADS_1


" Entar pas balik bisa kali. " jawab Reza.


" Oke. " kata Reza.


    Reza dan Drian pun balik ke kelas karena bel masuk kelas telah berbunyi. Sesampainya di kelas. Tangan Reza ditarik Dina sehingga tubuh Reza menyentuh tubuh Dina. " Ayang mau main " itu " gak? " bisik Dina. " Sadar kamu nih nafsu nya harus dikontrol. " kata Reza. " Jadi ayang gak mau " itu " sama aku? " tanya Dina sambil cemberut. Reza menyentuh ujung bibir Dina. " Hmm. Kamu ini memang selalu membuatku terpesona. " Reza pun tersenyum. Reza dan Dina berciuman didepan kelas. " CIEE. " satu kelas bersorak. " Ya ampun. " kata Drian. " Kalian ciuman emang gak mandang tempat. " kata Drian. " Santai dulu gak sih? " kata Reza.


Sore hari nya.

__ADS_1


    " Ayang mau pulang bareng gak? " tanya Dina. " Kamu kan dijemput sama abang Brian. " jawab Reza. " Iya sih. Ya udah dadah ayang see you tomorrow. ". Dina pun pergi bersama Brian. " Oi Za, lu pen ikut gua nggak? " tanya Drian. " Thanks but no. " jawab Reza. " Oke ". Drian pun pergi menggunakan motornya. Reza berjalan kaki bersama Abdul menuju tempat yang akan mereka tuju. " Lah lu pulang lewat sini? " tanya Reza. " Enggak, gua pengen beli bakso buat adik sama ibu gua. Soalnya bapak gua lagi kerja lembur hari ini. Jadi, gua pen beli bakso buat adik dan ibu gua. Apalagi adik gua yang masih SD kelas 3 pengen bakso kemaren, tapi malah pecel yang ada. Makanya gua pengen adik gua seneng. Adik gua kan cewek. Jadi gua takut dia kenapa napa apalagi gua kan kakak tertua. " jawab Abdul. " Ooh. Pasti berat ya kalo punya adik cewek. " kata Reza. " Nggak juga sih tapi, sorry ya gua malah curhat ke lu thanks udah mau dengerin. " kata Abdul. " Gak apa apa. Gua udah sering mendengar berbagai curhatan. " balas Reza. Reza dan Abdul berjalan melewati pertigaan.


    Saat mereka belok kanan ada sekelompok orang berseragam hitam. " Oh\, jadi ini yang namanya Reza. " kata seseorang berbadan kekar. " Siapa lu? " tanya Reza. " Bodo. SERANG DIA! ". Sepuluh orang berseragam hitam menggunakan pedang maju menyerang Reza dan Abdul. Reza maju menyerang mereka. BUK! BUK! BUK! BUK!. Reza memukul dan menendang lawan lawannya. Tiba tiba sekelompok orang menyerang mereka dari belakang. Abdul terkena tebasan diperutnya. Reza mundur untuk menyelamatkan Abdul. " MA*I LU! ". Seseorang hendak menusuk Reza dari belakang. " Gawat gua gak bakal sempet ngindar. SIAL! " gumam Reza. Tiba tiba. SHUSK!. Perut Abdul pun tertusuk pedang seseorang berseragam hitam. " DULLL! " teriak Reza. Abdul terjatuh tak berdaya. Reza mengamuk. Reza menyerang lawan yang menghampirinya dengan serangan yang mematikan. Dari 20 orang. Reza mematahkan kaki lawannya sebanyak 8 orang. Meretakkan lengan lawannya sebanyak 5 orang. Mematahkan tulang hidung lawannya sebanyak 4 orang. Terakhir meretakkan tulang rusuk sebanyak 3 orang. Laki laki berbadan kekar pun kabur meninggalkan Reza dan yang lainnya. Darah segar mengalir dikepala Reza. " Dul! sadar Dul! Lu gak boleh mati disini. " Reza mengguncang bahu Abdul. " Mungkin ini udah saatnya untuk gua pergi. Dan mungkin dengan meninggal seperti ini bisa membuatku masuk ke surganya. ". " JANGAN MA*I DUL! GUA GAK BAKAL BIARIN MALAIKAT MENCABUT NYAWA LU! ". " Ini udah takdirnya. Kita gak bisa melawan takdir. Za\, bilang ke semua teman kelas. " Thanks karena kalian udah mau berteman sampai akhir. " aku ingin lu bilang seperti itu. ". Abdul mengeluarkan air mata. " Makasih. Udah nyelamatin gua. " kata Reza dengan mata berkaca kaca. " Ya. ". Abdul pun menghembuskan nafas terakhirnya. Wajah Andul terlihat bercahaya karena ia meninggal dengan senyuman hangat nya.


Jam 7 malam.


    TING TONG. Bunyi suara bel. " Siapa ya? " tanya seorang anak perempuan. " Ini aku membawakan bakso untukmu. " kata Reza. " Wah! Terima kasih! kakak temenya kak Abdul? " tanya anak perempuan itu. " Iya. " jawab Reza. " Ibu belum pulang dari rumah sakit jadi sekarang aku lagi bersama sepupu sepupuku. Apakah kakak mau mampir? Diluar hujan loh nanti kakak pilek. " kata anak perempuan itu. " Nggak usah. Kakak mau pulang dulu ya. Sampai jumpa. " kata Reza. " Dadah. Kapan kapan datang lagi. " kata anak itu. Reza pun melaju dengan motornya ditengah hujan yang deras. Hati Reza hancur karena Abdul meninggal tepat dihadapannya. " Dulu ada yang mengorbankan kakinya untuk melindungiku. Sekarang, ada yang mengorbankan hidupnya untukku. ". Reza pun menangis dalam diam. Hujan semakin lama semakin deras.

__ADS_1


__ADS_2