Red Liner

Red Liner
Nasi gulung


__ADS_3

Sara menggeleng perlahan mencoba melupakan kejadian kemarin.


---Huuuuhhh--- menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan untuk meredam emosinya.


"Apakah Anda sudah mengingatnya Tuan?" Ujar Sara menyunggingkan senyum terpaksanya.


.


.


"Lupakan. Apa pesananku sudah siap?" seperti tak mendengar ucapan Sara, Azuka bertanya sambil membuka tutup yang terpasang rapi di atas piring.


Bukannya mengelak dari masalah namun karena Azuka sendiri tak membuka ponselnya sejak tadi malam. Jadi Ia tak tahu pesan yang di kirim oleh Sara.


.


.


.


"Hampir" Sara menjawab dengan setengah hati karena Azuka mengalihkan pembicaraan mereka.


Deretan gulungan nasi yang telah di iris berbaris dengan rapi, menggugah selera hanya dengan melihat penampilannya dari luar.


Dengan segera Azuka mencicipi nasi gulung yang telah di buat oleh Sara.


"Apa ini? Rasa Rendang?" Azuka mencoba nasi gulung buatan Sara yang memiliki rasa gurih yang nikmat. Tidak umum jika ada nasi gulung rasa rendang, dan itu hanya di temukan di beberapa kota di Jakarta namun saat ini makanan unik itu berada di depannya, dirumahnya.


.


.


Sebenarnya bisa saja jika Azuka menginginkannya sekarang juga, Ia hanya perlu memesan melalui salah satu asisten yang berderet-deret, siap untuk melayani perintahnya kapan saja namun jika di mansion Uchiha.


.


Dan keadaanya sekarang berbeda, kini Ia harus di hadapkan dengan penghasilan pas-pasan yang harus Ia kerahkan dengan tenaga ekstra. Keadaan ini membalikkan semua gaya hidupnya yang serba mewah, kini Ia hanya di hadapkan dengan perempuan keras kepala yang sangat aneh dan merepotkan. Namun beruntungnya, wanita ini benar-benar menyanggupi perkataannya. Sedikit salut karena Ia mampu mengerjakan semua seorang diri.


Rasa pedas level enam menyambut lidah Azuka, bersama dengan tambahan rempah yang sangat khas. 'Lezat' Azuka memuji masakan Sara yang sangat cocok dengan lidahnya. Walau berbeda namun ini lezat.

__ADS_1


'Bahkan Ia pandai memasak' Azuka merasa kini Ia menjadi seorang suami yang utuh dengan gandengan istri yang cantik juga pandai dalam urusan rumah tangga. Perasaan geli menggelitik perut bawahnya.


.


.


"Bagaimana rasanya?" Sara bertanya dengan antusiasme tinggi karena suaminya mencoba masakannya.


Berharap bahwa masakannya tidak mengecewakan, dan berharap untuk mendapatkan pujian pertamanya dari orang yang menjengkelkan ini.


Ya biar bagaimanapun Ia tetap suami Sara. Ia menginginkan pujian itu! Kenapa tidak keluar juga!


'Ahhhh orang ini sangat lamban dalam berpikir, susah sekali untuk mengakui bahwa masakanku ini enak'. Sara memperhatikan ekspresi Azuka yang sedang sok mikir itu.


.


.


Bukannya lambat dalam berpikir, Azuka hanya menyeleksi perkataan apa yang harus Ia keluarkan untuk menjawab Sara. Ia tidak pernah memuji seorang wanita selain ibunya dan tentu saja itu karena ibunya yang memaksa, jika tidak mungkin saja Ia tak akan pernah memuji wanita. Dan sekarang Ia di hadapkan dengan jenis wanita yang sama. Kenapa wanita sangat merepotkan, ini dan itu mereka selalu bertanya hal yang tidak jelas.


.


.


.


.


Azuka tak menghiraukan perkataan panjang lebar Sara yang hanya membuat kepalanya pusing. Memakan satu persatu nasi gulung hingga menghabiskan lima iris. Tak mungkin juga Sara akan meracuninya. Tak ada alasan khusus baginya untuk melakukan itu, toh Ia sendiri yang bersedia lebih dulu untuk menikah dengan Azuka.


.


.


Sedangkan Sara melihat lima satu baris nasi gulung yang berada di piring telah raib, Ia tersenyum hangat, Ia bersyukur Azuka tak menaruh curiga atau segala macam tentang perlakuan buruk seorang suami pada umumnya yang tak bisa menerima pernikahan mereka. Ia bersyukur ternyata Azuka adalah orang yang hangat walau tidak dapat dikiaskan lewat kata-kata.


.


.

__ADS_1


Setelah perutnya telah cukup terisi, Azuka mematikan kompor dan menarik tangan Sara untuk mengikutinya pergi.


Sara yang sedang memotong sayur secara mental tak siap dan menjatuhkan beberapa helai sawi ke lantai. "Tidak, tunggu sebentar. Masakan ku hampir selesai" Sara mencoba melepaskan tangan yang secara tiba-tiba di tarik oleh Azuka.


Tak menghiraukan perkataan Sara, Azuka tetap menarik lengan Sara untuk mengikutinya. Hingga mereka sampai di kamar mandi. "Bersihkan kamar mandi ini" Azuka tak tahan melihat kamar mandi yang tak sempurna bersihnya. Lihatlah lumut yang di bersihkan dengan cara yang tidak benar meninggalkan noda bercak yang terlihat kumuh. Dan Ia merasa geli melihatnya.


.


~"Bersihkan kamar mandi ini"~ bagai alunan melodi seorang majikan kepada pembantunya. Kalimat ini benar-benar membuatnya seperti pembantu, yang benar saja Sara ini adalah seorang istri, bukan pembantu!


Sara memang menyanggupi akan mengurus segala keperluan rumah tangga, tapi maksudnya di sini gunakanlah kalimat yang lembut, Ia akan mendengarkan dan menyanggupi dengan senang hati pastinya.


Karena banyak yang harus di kerjakan Sara, tadi malam Ia hanya membersihkan kamar mandi seadanya, 'maafkan istrimu ini suamiku' batin Sara tadi malam karena tubuhnya benar-benar lelah. Dan ternyata pagi-pagi begini Azuka langsung menyuruh membersihkan kamar mandi.


.


.


Sara celingak-celinguk mencari keberadaan peralatan pembersih kamar mandi. Toh Ia sendiri yang telah menyanggupi dan ini adalah konsekuensinya. Ternyata Azuka adalah orang yang sangat merepotkan dan cerewet dalam kebersihan, semua harus sempurna tanpa pengecualian.


.


.


"Suamiku. . . " panggil Sara dengan lembut, memberikan senyuman dengan penuh makna, "Aku tak dapat menemukan di mana alat pembersih kamar mandi. Apa kau bisa membantuku untuk mencarinya?" dengan tatapan memohon Sara juga menggunakan nada halus yang Ia alunkan sehalus-halusnya untuk membuat permintaan, berharap hal ini akan berhasil.


.


.


Karena Ia harus mencari cara agar Ia tak bekerja sendirian. 'Apa kau berpikir aku ingin pindah ke sini karena ingin menjadi pembantu mu?' Sara mendengus geli memikirkan hal ini. Sebenarnya Sara bukan bermaksud tak ingin bekerja sendirian tapi jika seperti ini terus Azuka akan seenak dengkulnya menyuruh nya untuk melakukan ini dan itu seperti Sara ini adalah pembantunya.


.


.


Sara sebenarnya merasa geli dan lucu, karena saat bersama Azuka Ia harus memutar otaknya lebih keras agar tak menjadi babu di rumah kediamannya sendiri, ya karena rumah ini di patenkan atas nama Sara. Walau menggelikan namun Ia harus melakukannya, Ia tak ingin di perlakukan seperti ini. Walau menggelikan namun ini ampuh menyamarkan penolakan secara kasar yang hanya akan merenggangkan hubungan yang baru Ia bina ini.


.

__ADS_1


.


"Suamiku . . ." Azuka merasa geli mendengar panggilan itu, yang Ia yakin ditujukan Sara untuk dirinya. Entah lakon seperti apa yang akan di perankan Sara di depannya. Suaranya lembut saking lembutnya sampai-sampai membuatnya merinding. Ekspresinya sangat imut namun penuh dengan tipu daya yang tersimpan di dalamnya. Sifatnya aslinya mulai keluar.


__ADS_2