Reincarnated As Villains Brother

Reincarnated As Villains Brother
• 00 •


__ADS_3

Prolog: Insiden dan awal mula.


...⚜⚜⚜⚜⚜...


Di tengah-tengah padatnya jalanan kota, seorang anak laki-laki asik mendribble bola sepak sendiri di pinggir jalan sambil menunggu ibunya masuk kedalam salah satu toko bunga.


Awalnya anak laki-laki itu percaya diri mampu mendribbling—mempertahankan bolanya tidak menyentuh tanah— cukup lama, sampai sedikit kesalahan terjadi.., bolanya tergelincir menggelinding jauh menuju jalan raya.


"Ah tidak boleh!"


Si anak laki-laki berlari mengejar bola. Pada saat bersamaan sebuah mobil melaju kencang tanpa anak itu sadari, pandangannya fokus pada bola.


Melihat seorang anak laki-laki yang berlari menuju jalan raya tanpa memperhatikan ada mobil melaju kencang, seorang perempuan melompat menarik tubuh anak laki-laki tersebut menjauh dari jalan raya.


Perempuan itu berhasil menyelamatkan si anak laki-laki, tapi karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya perempuan itu terjatuh ke jalan.


Brakk


Dan seperti yang di duga, kecelakaan terjadi.


Kalut, anak laki-laki itu tidak tahu harus berbuat apa. Wajahnya panik bercampur takut, rasa bersalah nenyelimuti pikirannya.


Disamping itu, semua orang disekitar berteriak histeris. Pemandangan tubuh seorang perempuan dikelilingi cairan merah dan penabrak yang kabur menjadi berita hangat siang itu.


...✡✡✡...


Seketika kegelapan yang dirasakan Tiara menghilang. Penglihatannya perlahan kembali.


Sebuah lampu klasik dengan ornamen cantik bergaya Eropa menggantung di langit-langit ruangan adalah hal pertama yang dilihat Tiara.


"Raa... wawaa.."


Matanya membulat tersadar dirinya hidup lagi, terlebih sewaktu Tiara mencoba bersuara mengatakan 'aku dimana' mulutnya tak bisa berucap jelas.


Apa ini.. Suaraku...


Merasa asing dengan keadaannya, Tiara mencoba mengingat kembali apa yang terjadi.


Tiara adalah seorang pegawai honorer disebuah instansi pemerintah. Meski bekerja di tempat yang mengharuskan dirinya bertemu banyak orang, Tiara lebih suka meluangkan waktunya menyendiri membaca buku, komik, atau menonton film dan animasi favoritnya.


Bertepatan pada hari kecelakaan, buku dan komik favorit Tiara rilis. Tiara memutuskan istirahat diluar, pergi ke toko buku untuk membelinya.


Dalam perjalanan kembali menuju kantor —ketika dirinya tengah menunggu lampu pejalan kaki berubah hijau— mata Tiara tak bisa lepas menatap kagum seorang anak laki-laki di pinggir jalan yang asik mendribbling bola. Tiara teringat salah satu karakter dalam animasi yang pernah ditontonnya.


Kalau ada captain tsubasa di dunia nyata mungkin seperti anak laki-laki itulah cirinya. Begitu pikir Tiara saat melihat anak laki-laki tersebut.


Sampai kecelakaan itu terjadi, membuat nyawa Tiara harus pergi begitu saja.


Meski begitu Tiara tidak menyesal, melakukan hal baik sebelum ajal menjemput adalah perbuatan mulia.


Hanya saja...


Tiara mengangkat tangannya perlahan, terlihat bentuk tangannya kecil dan buncit. Kedua tangan kecil itu Tiara gerakan menuju wajahnya, menyentuh pipi berisi yang lembut nan kenyal.


A-apa ini?? Apa yang terjadi?? Apakah aku bermimpi?!

__ADS_1


Batinnya panik. Tiara berusaha menenangkan pikiran.


Apakah aku sedang bereinkarnasi kedalam cerita novel? Komik? Atau mungkin game? Aku juga pernah bermain dating game...


Tiara ingat di toko buku bahkan website membaca buku online sedang ramai alur cerita tentang seseorang yang bereinkarnasi ke dunia fiksi.


Pikiran Tiara kembali pada keadaannya kini, tanpa bercermin pun Tiara sudah paham bahwa dirinya berubah menjadi bayi. Apalagi cara bernafas yang sedikit tersengal merupakan ciri khas bayi.


Cairan berlendir yang mengalir dari hidung secara tiba-tiba menyebabkan Tiara menjerit histeris dalam hati.


Akh.. Tidak! Kenapa aku jadi menjijikan begini huaaaa..!!


Nyatanya, bayi adalah sesuatu yang tidak ingin Tiara dekati. Air liur yang sering menetes, ingus yang sering keluar tiba-tiba, tangisan nyaring memekakan telinga, lalu aroma tak sedap dari popok bayi, semua hal itu sangat merepotkan bagi Tiara.


Seorang wanita bersurai panjang datang menghampiri keranjang bayi tempat Tiara berada. Rambut putih platinumnya berkilau terkena pantulan cahaya lampu. "Ada apa nak?"


Sebuah suara lembut yang menyiratkan kekhawatiran, iris violet yang menatap cemas dan sentuhan hangat tangan penuh kasih sayang membuat Tiara berpikir wanita itu adalah Ibunya.


Penampilan wanita itu begitu anggun.


Apakah warna rambut dan mataku sama seperti wanita itu?


Diam-diam Tiara memikirkan penampilannya sekarang ini.


Ekspresi wanita tersebut berubah lega setelah melihat keadaan si bayi. "Yaampun ternyata hanya ingus keluar.."


"Apa ada hal buruk?" Sebuah suara bariton bertanya penasaran.


"Oh.. Tidak ada Yang Mulia Kaisar Raja." Selesai mengelap ingus anaknya, wanita itu menghadap pria yang bertanya padanya tadi. "Mohon maaf Yang Mulia Kaisar Raja, anak saya sering menangis tiba-tiba." Wanita itu membungkukkan tubuhnya. "Yang Mulia Kaisar Raja tenang saja tadi bukanlah masalah penting."


"Haha, baiklah. Silahkan duduk. Mari kita lanjutkan obrolan kita."


Ornamen klasik bergaya eropa, seorang Kaisar Raja, dan penampilan rambut hingga bola mata yang lebih berwarna daripada manusia di Bumi, Tiara semakin yakin dirinya bereinkarnasi ke dunia fiksi.


Kalau aku tahu namaku, mungkin aku akan tahu aku bereinkarnasi ke dunia fiksi apa.


Tiara yang sebelumnya menangis akhirnya memilih tenang sambil menguping pembicaraan antara seseorang yang dia duga adalah ibunya dengan seorang Kaisar Raja dunia tempat Tiara hidup sekarang ini.


"Jadi apakah bisa saya menyelenggarakan pernikahan segera mungkin? Saya cemas mungkin anda masih bimbang memikirkan kematian suami anda."


"Saya ingin cepat menyelenggarakan pernikahan juga untuk melindungi anda dan anak anda dari rumor-rumor buruk yang beredar. Dan juga dari musuh-musuh dari ras lain."


"Setelah menikah akan saya pastikan keselamatan anda. Anda tahu 'kan ras suku Melvielle adalah yang terlemah di dunia ini." Ujar Kaisar Raja menambahkan.


Wanita itu memejamkan matanya sebentar. "Ya, saya tahu." Ada jeda sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Sejujurnya saya masih sering sedih memikirkan suami saya. Tapi sebulan yang lalu, saat tidak sengaja bertemu Yang Mulia Raja untuk pertama kalinya saya melupakan kesedihan itu. Jadi saya pikir tidak apa kalau Yang Mulia Raja ingin segera menikah. Saya juga tidak ingin terus berlarut dalam kesedihan dan juga, saya ingin segera merawat Tuan Muda Killian seperti anak saya sendiri."


Sang Kaisar Raja tersenyum malu. "Saya juga merasakan hal yang sama saat pertama kali melihat anda."


"Omong-omong saat kita berdua tidak perlu berbicara formal."


Si wanita ikut tersenyum malu. "I-itu karena Yang Mulia Kaisar Raja juga berbicara formal ke saya. Saya tidak enak kalau langsung bicara santai."


"Oh.." Kaisar Raja berdeham sebelum lanjut bicara, "Kau benar. Jadi mulai sekarang panggil saja namaku Emma."

__ADS_1


Emma tersenyum lembut, "Dengan senang hati akan ku lakukan Shandechz."


Keduanya saling berpandangan penuh cinta sebelum akhirnya suara tangisan bayi memecah suasana romantis diantara mereka.


"Ra.. Waraa.. Waaa!"


Sialan kalian!! Kenapa malah membiarkan bayi sepertiku jadi obat nyamuk!


"Yatuhan!" Emma mengangkat dan menggendong anaknya, menggoyang-goyangkan tubuh anaknya pelan supaya berhenti menangis.


"Haha, anakmu sangat lucu. Oh iya, siapa namanya? Ini pertama kalinya aku melihat anakmu. Selama ini setiap kita bertemu pasti hanya aku yang membawa anak, sedangkan anakmu pasti di rumah." Shandechz berdiri menghampiri Emma, lalu menatap dan mengelus wajah bayi tersebut.


Ingatan Shandechz kembali ke masa dimana dirinya melakukan pendekatan dengan Emma. Mereka berdua selalu melakukan pertemuan di sebuah bukit dekat Istana. Selama pertemuan itu Shandechz menyempatkan mengajak Killian, sedangkan Emma belum pernah membawa anaknya.


"Pipinya sangat lembut.. Wajahnya juga tampan." Shandechz bergumam.


Eh tampan?


Si bayi perlahan berhenti menangis. Mata bulatnya yang sembab menatap Shandechz ingin tahu.


Emma tersenyum gemas melihat wajah lucu anaknya, "Nama dia Arthur."


Huh??


"Hm.. Nama dia mirip dengan Kaisar Raja Earthania terdahulu. Sepertinya memang sudah takdir kita bertemu."


Emma tertawa kecil, "Iya, ku harap dia bisa jadi Raja suatu saat nanti. Tapi kurasa tidak perlu, kamu juga punya anak yang ingin dijadikan Raja 'kan?"


Huhh???


Shandechz tersenyum kikuk, "Daripada memikirkan siapa yang akan ku jadikan Raja, aku lebih memikirkan apakah Killian dan Arthur bisa akrab..."


Apa maksudnya Raja? Siapa pula Killian?


"Ehhh tidak usah cemas! Aku yakin mereka berdua pasti akur!"


Aku tidak ingat ada cerita dalam novel atau komik yang punya tokoh bernama Arthur dan Killian!


Tiara mencerna kembali informasi yang ia dapat.


Kini, dirinya bereinkarnasi ke dunia lain dari seorang wanita janda yang akan menikah lagi dengan Kaisar Raja. Kebetulan Kaisar Raja itu juga seorang duda yang punya anak bernama Killian.


Tapi ada sesuatu yang mengganggu, kenapa Kaisar Raja menyebutnya tampan?


Tidak mungkinkan..


Tiara menggerakan kaki dan pinggulnya.


Sesuatu terasa ada yang mengganjal di bagian bawahnya.


Aku benar-benar bereinkarnasi jadi anak laki-laki!!!!


"Oeeeekkkkkk!!! Uwaaaa!!!"


Sekali lagi bayi Arthur menangis kencang.

__ADS_1


Dan begitulah awal mula kehidupan Tiara berada di dunia lain sebagai bayi berwajah tampan bernama Arthur.


...⚜⚜⚜⚜⚜...


__ADS_2