Reincarnated As Villains Brother

Reincarnated As Villains Brother
• 07 •


__ADS_3

Chapter Tujuh: Ujian buah plum dan golem tanah.


Semilir angin berhembus meniup satu persatu helaian rambut putih yang bertengger di dagu seorang pria tua bertubuh pendek. Pria itu duduk diteras halaman belakang Mansion.


Matanya terpejam saat mulutnya menyesap secangkir teh bunga krisan, menahan air teh sejenak didalam mulutnya, membiarkan rasa khas dari bunga krisan menjelajah tiap sudut lidahnya, kemudian membiarkannya jatuh menuju kerongkongan.


Ketika ia membuka mata, pemandangan rindang pohon plum beserta bunga dan tanaman rambat lain memanjakan penglihatannya.


"Selamat Pagi Tuan Franz. Arthur datang, siap berlatih hari ini." Seorang anak kecil dengan pedang kayu ditangannya datang, ia meletakan tangan kanannya di dada. Tangan kiri yang memegang pedang ia sembunyikan di belakang punggung, kemudian membungkuk hormat.


Pria tua bernama Franz menatap anak kecil berambut putih yang tak lain adalah Arthur dari atas sampai bawah.


"Kau masih muda tapi sudah berapa kali kau korupsi waktu, hm?"


Seperti pada pertemuan kelas sebelumnya, Arthur akan menjawab, "Aku hanya melakukan sesuai apa yang tubuhku perlukan—seperti saat kita kurang energi, tubuh kita perlu makan, salahkan matahari yang terlalu cepat menampakan diri." dengan wajah tak bersalahnya.


Ini memang bukan pertama kalinya Arthur terlambat mengikuti kelas Franz.


Franz adalah guru berlatih pertahanan diri yang dipinta Shandechz mengajar Arthur, entah itu belajar berpedang atau bela diri—karena Arthur tidak mempunyai mana.


Franz tertawa, "Ohoho.. Anak nakal, kau selalu meremehkan ku ya."


"Arthur mana mungkin meremehkan Tuan Franz, Tuan Franz adalah guru dengan kemampuan bertarung hebat yang saya hormati." Arthur menunjukan senyum manisnya yang tentu saja dibuat-buat.


"Hoho.. Kalau kau begitu menghormati ku, petikan satu buah plum untukku."


Raut wajah Arthur berubah was-was mendengar permintaan Franz. Arthur yakin permintaan Franz adalah bentuk lain dari hukuman untuknya.


Arthur menoleh kebelakang, mencari keberadaan buah plum yang diminta. Dari kejauhan Arthur bisa melihat ada banyak buah plum menggantung di pohonnya.


Arthur membuang nafas lega.


Pohon plum itu tidak terlalu tinggi, aku bisa memanjatnya.


Jangankan satu, aku bisa memetik 5 sekaligus!


"Dengan senang hati akan saya petik banyak buah plum untuk Tuan Franz—"


Tapi tunggu dulu... Kakek tua itu tidak mungkin memberikan hukuman semudah ini.


"Hm? Lakukanlah kalau kau bisa." Tepat setelah berucap, Franz membentuk lingkaran sihir di tanah, sebuah pancaran cahaya muncul bersamaan dengan golem tanah berukuran lebih besar dari Arthur.


Sesuai dengan kemampuannya, Franz berasal dari Ras Gnome. Ras Gnome memiliki tubuh kerdil seperti Ras dwarf (kurcaci), hanya saja berbeda dengan Ras dwarf yang terkenal sebagai penempa, Ras Gnome terkenal sebagai penghancur.


Ya, mereka mampu menghancurkan apa saja karena sihir elemen tanah mereka yang kuat. Sebongkah besi pedang bahkan bisa hancur melawan sihir elemen tanah Ras Gnome.


"Kuharap magie imutku tidak menghalangimu." Franz kembali menyesap tehnya santai. Sebagai informasi, Franz memberi nama golem tanah ciptaannya Magie.


Sebagai informasi, Franz menamai golem tanah miliknya Magie.


Gaaah! Sudah kuduga!


Magie milik Franz mengambil posisi kuda-kuda siap melawan Arthur.


"Tu-tuan Franz bukankah ini berlebihan? Aku saja baru berlatih dasar mengayun pedang. Lebih baik Tuan memberiku hukuman mengayun pedang sampai seratus kali seperti sebelumnya."


"Tidak. Mengayun pedang terlalu mudah. Anggap saja ini adalah ujian praktik. Aku akan memberimu waktu satu putaran jam pasir. Semoga berhasil." Franz berujar tegas.


Haa... Kakek tua menyebalkan.


Arthur menarik nafas dalam-dalam, kemudian membuangnya perlahan.


Baiklah, ayo kita hindari golem ini!


•••


Swoooshh!!


Pyassshh!!


"Bagus!"


Seorang anak laki-laki berambut hitam yang tak lain adalah Killian tersenyum senang kala melihat nominal angka dari kemampuan sihirnya meningkat.


Latihannya hari ini adalah memperkuat Mana miliknya dengan cara fokus menyerang lingkaran sihir yang terpasang di dada sebuah manekin.

__ADS_1



Lingkaran sihir itu berfungsi mengukur berapa besar mana point seseorang. Jika diibaratkan, lingkaran sihir tersebut seperti mesin boxing yang ada di arcade game. Semakin sering kita menyerang, akan semakin besar nilai poin kekuatan serangan kita.


"Mana point anda sudah meningkat menjadi 100, kurasa kini Tuan muda Killian bisa mempelajari satu sihir element lain."


Zein, guru yang dititahkan Shandechz melatih pertahanan diri Killian, mengeluarkan sihir elemen api. "Karena Tuan muda Killian sudah bisa mengeluarkan sihir elemen air, sekarang Tuan muda Killian bisa mencoba mengeluarkan sihir elemen api."


Killian melakukan hal yang dipinta Zein. Tapi karena Killian masih belum bisa mengontrol Mana miliknya, sihir api yang dikeluarkan justru menimbulkan sebuah ledakan besar.


BOOOOMMM!!


Beruntung selama latihan Zein memasang sebuah barier pelindung dan penghalau. Zein sudah menduga hal seperti itu akan terjadi, terlebih anak yang menjadi muridnya adalah keturunan ras Arthan.


Disaat bersamaan, Arthur yang sedang berlari menjauh dari jangkauan golem, jatuh hilang keseimbangan akibat getaran yang timbul bersama suara ledakan.


"Uwaaa!"


Killian gila!


Ledakan tadi pasti ulah dia. Sebesar apa kekuatannya sampai meledak hebat begitu, huh.


Arthur bangkit, lanjut berlari menghindari golem.


Menyebalkan.


Kalau saja aku punya kekuatan sihir hebat seperti Killian, aku tidak perlu lari menghindari golem itu!


"Kau akan berlari sampai kapan? Waktu terus berjalan." Franz berdiri. Badannya yang bungkuk memperhatikan Arthur berlari mengitari pohon plum bersama dengan Magie di belakangnya, kemudian melirik kearah jam pasir. Pasir bagian atas tersisa sedikit, menandakan sebentar lagi waktu hukuman Arthur berakhir.


Kembali pada Arthur, sebenarnya Arthur bisa saja langsung memanjat pohon plum lalu memetik buahnya. Namun Magie milik Franz secara cepat menghalangi Arthur dengan cara menarik tubuh Arthur kemudian membawanya menjauh dari pohon plum.


Itu sebabnya sedari tadi Arthur hanya berlari menghindar sembari mengitari pohon plum. Arthur sedang mencoba mencari cara.


Golem itu memang tidak menyerangku, tapi dia sangat menyebalkan, selalu menyeret ku menjauh dari pohon plum!


Lalu kenapa Arthur tidak menyerang Magie saja? Tentu saja Arthur sudah mencobanya, tapi dia tidak mampu menyerang Magie tanpa kekuatan sihir. Bayangkan saja, bongkahan besi pedang bahkan bisa patah untuk menyerang Magie, apalagi pedang kayu kecil milik Arthur.


Tunggu, kenapa aku tidak mencoba kemampuan bela diriku saja?


Kali ini Arthur kembali berlari mendekati pohon plum, membiarkan dirinya tertangkap oleh Magie.


Tiga kali tertangkap Magie membuat Arthur menyadari satu hal,


Golem itu akan selalu mengincar kaki.


Aku tidak tahu apakah semua golem mengincar kaki, atau karena golem itu sudah di perintah tuan Franz hanya mengincar kaki supaya menyulitkan ku bergerak.


Seperti dugaan Arthur, ketika Arthur sudah dekat dan berniat memanjat pohon, Magie menghentakkan kedua tangannya ke tanah. Tangan Magie yang sudah menyatu bersama tanah dengan cepat menjulur lurus mengincar kaki Arthur.


Sekarang!


Arthur melompat, tubuhnya berputar kebelakang di udara.


Magie nampak kebingungan karena posisi Arthur yang sulit ditangkap.


Tanpa memberi waktu pada Magie, Arthur melempar pedang kayu miliknya, menancap tepat mengenai mata kanan Magie. Setelah itu membuka kaki kanannya lebar, bersiap melakukan tendangan.


"Rasakan tendangan udara ku!!"


Kraaak!


"Oh?" Kedua kelopak mata Franz terangkat, matanya membulat terkesiap.


Meski tidak berhasil membuat Magie tumbang, namun Arthur berhasil membuat sebagian kepala Magie hancur.


"Yosh, aku berhasil!" Arthur berseru semangat.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Arthur lekas memanjat pohon plum. Tepat ketika Arthur akan memetik buah Plum terdengar suara Franz berteriak,


"WAKTU HABIS!"


...


Sialan.

__ADS_1


•••


"Hm..." Franz memperhatikan keadaan Magie miliknya seksama.


"Ini aneh. Magieku terkenal tidak bisa ditembus pedang besi, kecuali jika dibarengi kekuatan sihir. Tapi pedang kayu kecil ini bisa menembusnya.."


Arthur diam tidak peduli. Wajahnya ditekuk kesal.


Sebagai ganti karena gagal memetik buah plum, Arthur diminta untuk mengayun pedang sebanyak dua ratus kali.


Cih, untuk apa aku tadi berusaha keras kalau akhirnya tetap di suruh mengayun pedang. Lebih baik duduk saja sampai waktunya habis.


Franz menarik pedang kayu yang menancap mata Magie. Wajah datarnya lagi-lagi dibuat terkejut. Pada ujung bagian runcing pedang kayu itu terlihat dilapisi sihir elemen tanah.


Saat sihir elemen tanah bertemu dengan sesamanya akan terjadi bentrok. Sehingga ketika pedang yang dilapisi sihir elemen tanah masuk kedalam Magie, bagian dalam Magie menjadi tidak seimbang. Di waktu terjadi ketidak seimbangan itulah yang membuat Magie jadi mudah hancur.


"Hei anak nakal. Kudengar ras Melvielle tidak punya kekuatan sihir, tapi apa ini? Di pedangmu ada jejak kau menggunakan sihir. Sihir elemen tanah seperti milikku."


Mendengar kata sihir membuat Arthur tertarik menanggapi. "Apa maksud Tuan Franz? Saya memang tidak bisa memakai sihir. Kalau bisa, pasti sudah dari awal saya hancurkan golem itu."


"Hm..." Franz memandang Arthur sembari memikirkan suatu hal. "Apa mungkin kau sudah mempelajari [ mana sense ]?"


"Ada satu kemampuan sulit yang didapat dari mempelajari [ mana sense ], yaitu [ mana authority ]. Tapi kau 'kan tidak bisa memakai sihir... Aku juga belum pernah dengar ras Melvielle bisa mempelajari [ mana sense ]." Franz lanjut bergumam yang mampu didengar Arthur.


Arthur mengernyit, tidak paham dengan pembicaraan Franz. "Apa itu [ mana sense ] Tuan Franz?"


"[ mana sense ] adalah kemampuan seseorang untuk merasakan kekuatan mana. Entah itu mana orang lain, monster atau benda." Sahut Franz menjelaskan.


Franz memejamkan mata, fokus merasakan aliran mana dalam tubuhnya. Kemudian membiarkan aliran mana miliknya merebak keluar menjadi mana aura. Ketika mana aura miliknya bersentuhan dengan mana aura orang lain, barulah Franz bisa merasakan kekuatan mana orang tersebut.


Franz mencoba melakukan [ mana sense ] pada Arthur, hasilnya nihil. Menandakan Arthur memang tidak punya kekuatan sihir. Hanya saja Franz merasakan sesuatu berbeda yang tak bisa Franz jelaskan.


Franz membuka matanya.


"Anak nakal, apa kau tertarik mempelajari [ mana sense ]? Kau hanya tidak punya kekuatan sihir, bukan berarti tidak bisa merasakan sihir."


"Walau aku tidak tahu apakah kau bisa mempelajarinya—karena kau sendiri tidak punya mana aura, tapi tidak ada salahnya mencoba."


Wajah suram Arthur berseri, ia menghentikan kegiatan mengayun pedang. "Tentu! Ajari saya [ mana sense ] Tuan Franz!"


Fufu, perasaanku mengatakan sebentar lagi aku akan bisa memakai sihir.


Pelatihan antara Franz dan Arthur terus berlanjut hingga gema lonceng bel tanda siang hari terdengar.


"Baiklah, pelajaran kita cukup sampai disini. Aku akan menunggu bagaimana perkembanganmu selanjutnya anak nakal." Ucap Franz dengan senyuman khas kakek tua. Tangan Franz bergerak mengambil sebuah kertas portal dari balik jubahnya, lalu merobeknya.


"Jangan lupa lanjutkan mengayun pedang dua ratus kali."


"Terimakasih atas pelajaran hari ini Tuan Franz." Arthur membungkuk hormat, begitu Arthur menegakkan tubuhnya Franz sudah menghilang.


Kakek tua menyebalkan.


Walau sering mengumpat, Arthur sebenarnya anak yang penurut. Buktinya ia kembali mengayunkan pedang seperti yang diperintah Franz.


"Arthur!"


Merasa dipanggil, Arthur menoleh mencari sumber suara. Ia menemukan Killian berlari kearahnya.


Sampai tersisa jarak satu meter diantara mereka, Killian mengambil posisi bersiap menyerang.


Mata Arthur melotot, "He-hei, kenapa—"


"Ayo bertarung! Arthur tidak boleh pergi sampai menang melawan ku!"


"Kau bicara apa? Hei tunggu dulu—"


Belum sempat Arthur menghindar, Killian sudah lebih dulu melepaskan sihir air beruap menyerupai geyser dibawah kaki Arthur.


"KYAAAAA!! KILLIAN BR*NGSEEEKKK!!"


Tubuh Arthur terpental jauh hingga tersangkut salah satu pohon lain yang ada di halaman belakang.


"Hmph! Aku yang menang!"


•••

__ADS_1


__ADS_2