
Chapter satu: Arthur dan Killian
...⚜⚜⚜⚜⚜...
Braakkk!!
Rentetan balok plastik warna-warni yang sebelumnya tersusun rapi, satu persatu berjatuhan. Suaranya menggema seisi ruang kamar yang dihuni dua bayi laki-laki berusia 1 tahun lebih.
Bayi laki-laki berambut hitam menatap nanar mainan balok yang sudah ia susun rapi, hancur begitu saja setelah dilempar bola oleh bayi laki-laki sekamarnya. Kemudian menatap bayi lain itu kesal.
Sedangkan si pelaku, bayi laki-laki berambut putih platinum menyenderkan tubuhnya di sofa, tangan kirinya diletakan di atas sandaran tangan sofa, memangku wajahnya. Ia tersenyum miring, mengejek.
Ha.. Aku bosan.
Beberapa bulan berlalu setelah Arthur mendengar Ibunya akan menikah lagi dengan Kaisar Raja, Emma dan Shandezch sudah menggelar pernikahan. Kini Arthur tinggal di Istana utama, sekamar bersama Killian, anak dari Kaisar Raja Shandechz Tierney.
Arthur ingat, dulu Kaisar Raja pernah khawatir bahwa Killian dan dirinya tidak akan akur. Tapi, daripada mengatakan tidak akur, lebih tepat dengan kalimat tidak cocok.
Iya, Arthur merasa tidak cocok dengan kehidupannya saat ini. Sebab itu Arthur mudah bosan. Dan sebagai penghilang rasa bosan Arthur akan mengganggu Killian.
Orang lain yang melihat kelakuan Arthur pasti akan berpikir bahwa Arthur lah yang tidak akur dengan Killian.
Aku rindu novel dan komik. Menjadi bayi benar-benar membosankan.
Seperti yang dipikirkan Arthur, keseharian Arthur bersama Killian hanyalah bermain kerincingan, theeter, balok-balok plastik, bola, dan buku-buku dongeng bergambar. Herannya Arthur selalu melihat Killian tidak pernah bosan bermain sendiri, entah imajinasi apa yang ada dikepala Killian sampai terkadang Killian merasa senang sendiri menggigit theeter.
"Kill.. boo...doh." Ucap Arthur santai masih dengan posisinya yang mengejek Killian.
Seorang pelayan yang sedari tadi mengamati dua bayi itu bermain menutup mulutnya tak percaya. "Astaga Tuan Muda Arthur..."
Pelayan bernama Tina memang sering dengar dari pelayan lain kalau Arthur adalah bayi yang cerdas. Di usia 6 bulan Arthur sudah bisa memanggil kata 'mama' dan 'papa' secara jelas. Tak hanya itu ia bahkan sudah bisa jalan—walau sedikit tertatih. Padahal normalnya diusia segitu bayi baru bisa merangkak.
Lalu lihatlah posisinya sekarang, seorang bayi sudah mengerti bersikap angkuh dan mengejek.
Pandangan Tina beralih menatap Killian yang sedang merangkak mengumpulkan balok-balok plastik."Benar, bayi yang sebenarnya itu seperti Tuan Muda Killian. Merangkak pelan mengambil mainannya penuh semangat. Bukan tatapan bosan seakan menyesal dilahirkan ke dunia seperti Tuan Muda Arthur."
"Oh!" Tersadar Tuan Mudanya butuh bantuan, Tina menghampiri Killian membantu merapikan balok-balok plastik untuk Killian susun lagi.
Arthur menyandarkan kepalanya pada pegangang sofa, kepalanya menghadap langit-langit ruangan. Dua bola mata violetnya menerawang jauh.
Awalnya aku pikir ini mimpi.
Setelah waktu berlalu, akhirnya Arthur bisa menerima keadaan sekarang dan menerima kenyataan bahwa dirinya sudah mati kemudian bereinkarnasi.
Yah.. Walaupun aku masih sangat merindukan kehidupan yang dulu.
Arthur menatap pelayannya dan Killian bergantian.
Beberapa bulan tinggal di Istana, Arthur sedikit mengetahui kalau di dunia ini seperti dunia fiksi fantasi yang pernah ia baca di novel dan komik. Para pelayannya saja masing-masing mempunyai ciri khas yang berbeda, menandakan bahwa ras mereka pun tak sama.
Killian, punya ciri khas daun telinga runcing dan panjang seperti elf. Oh, jangan lupakan warna bola matanya yang seperti merah darah itu.
Pelayan Tina, punya ciri khas bertubuh mungil mirip kurcaci. Daun telinganya juga runcing namun tidak terlalu panjang.
Lalu bagaimana dengan Arthur sendiri? Yang menjadi ciri khas dirinya hanyalah rambut putih platinum dan bola mata berwarna violet. Tapi bagi Arthur, dirinya yang sekarang seperti tidak ada bedanya dengan dirinya dulu sebagai manusia.
Ciri khas dari para pelayannya yang unik lebih menarik.
Arthur berpikir sejenak, teringat sesuatu.
__ADS_1
Kalau tidak salah Kaisar Raja pernah menyebut Ibu adalah Ras Melvielle.
Sesungguhnya Arthur masih ingin tahu lebih banyak tentang dunia ini, tapi bentuk fisiknya yang masih kecil cukup merepotkan.
Setiap kali ingin pergi ke perpustakaan mencari informasi, para penjaga tak mengijinkan Arthur pergi kalau tidak bersama Emma atau Shandechz.
"Huft.."
Ceklek
Pintu kamar terbuka lebar. Arthur memperhatikan pelayan lain yang membuka pintu. Dibelakangnya seseorang yang ia kenal berjalan memasuki kamar.
Wajah Arthur berseri, ia berniat turun dari kursi dan berlari ingin memeluk sambil berteriak,
"Mamaaa..!"
Ya begitu. Sayangnya itu bukan Arthur yang berteriak, tapi Killian.
Killian sudah lebih dulu berlari memeluk Emma.
Arthur merengut.
Dia mamaku.
Namun Arthur tetap menghampiri Emma, dan memanggilnya, "Mama!"
Emma tersenyum cerah, ia berjongkok memeluk kedua anaknya. "Halo Killian, halo Arthur!" Tak lupa mencium wajah anaknya bergantian.
Ck, aku disebut kedua.
Arthur merutuk dalam hati. Ia menunjukan raut merengutnya pada Emma.
"Yaampun ada apa Arthur?" Sebuah suara berat mengikuti di samping Emma, dia adalah si Raja. Ayah Arthur dan Killian. "Killian nakal ya?"
Tapi Arthur bersikap tak peduli, ia tetap menunjukan ekspresi masam.
Emma mengelus kepala Arthur lembut, "Kenapa Arthur? Kamu bosan?"
Alih-alih menjawab, Arthur mendekati Emma dan memeluknya. Emma tersenyum gemas. "Duh, kamu cemburu ya Mama lebih perhatian ke Killian." Emma balas memeluk Arthur.
Uh.. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa bersikap begini. Mungkin memang naluri anak-anakku lebih kuat.
Tak mau kalah Killian menarik pakaian Emma. "Ma..ma.. Ta..man.."
Emma melepas pelukannya, kemudian menatap Killian. "Yaampun! Maaf Mama lupa. Padahal udah janji ke Killian setelah urusan Mama selesai kita ke taman ya.."
"Tapi..," Emma menatap tak tega ke Arthur yang kini menatap Emma seperti anak kucing. "Uhh.." Emma buru-buru memberi tatapan minta tolong pada Shandechz yang sedari tadi berdiri memperhatikan pemandangan menggemaskan.
Shandechz tersenyum kecil. "Arthur, apa kamu mau ikut Papa ke perpustakaan? Kamu pernah bilang ke pelayan ingin ke perpustakaan 'kan?"
Mendengar kata 'perpustakaan' Arthur dengan cepat berpindah aliansi. Ia memeluk kaki ayahnya manja. "Ayo Pa, perpustakaan!"
"Fiuh.." Emma menghela nafas lega. Ia mengangkat dan menggendong Killian. "Yasudah, Arthur main sama Papa ya, Mama sama Killian. Jangan nakal."
"Siap Ma!" Arthur berucap dengan semangat.
Emma jalan lebih dulu keluar kamar. Tanpa disadari Emma, Killian menoleh ke belakang, tepatnya kearah Arthur, kemudian menjulurkan lidahnya, mengejek.
"Aa..!"
Bocah sialan. Untuk kali ini saja kau kubiarkan.
...✡✡✡...
__ADS_1
Sepasang lubang hidung kecil mengembang cukup lama, menghirup dalam aroma kertas-kertas usang, menikmatinya bagai candu.
Huwaa.. Bau buku memang yang paling enak!
Di gendongan Shandechz, kepala Arthur tak berhenti menoleh kesana kemari melihat rak-rak buku yang menjulang tinggi. Sampai akhirnya sebuah lukisan foto perempuan menghentikan perhatiannya.
Disisi kanan dan kiri lukisan foto tersebut terpasang obor, seolah untuk menghangatkan sosok yang berada di dalam lukisan foto itu.
"Itu siapa?" Arthur bertanya tanpa sadar.
Shandechz berhenti. Seolah tahu siapa yang dimaksud Arthur, Shandechz membelokkan langkahnya menuju sebuah lukisan foto perempuan. Ukuran lukisan itu cukup besar sampai hampir memenuhi satu dinding penuh.
"Ibu Killian. Dia meninggal sesudah melahirkan Killian."
Arthur memperhatikan lukisan dan wajah Shandechz bergantian.
Sekarang Arthur mengerti kenapa Killian punya telinga runcing nan panjang padahal Kaisar Raja mempunyai telinga normal seperti dirinya. Fisik Ibunya menurun kepada Killian. Rambut hitam legam dengan mata merah segar seperti darah.
Dalam cerita fantasi, yang memiliki ciri seperti itu adalah Elf. Di dunia ini sebutannya apa ya?
Hm?
Tatapan Arthur yang sebelumnya fokus memperhatikan lukisan foto Ibu Killian, perlahan beralih menatap kedua iris Shandechz sedikit lebih lama.
Tatapan mata Shandechz berbeda.
Waktu menatap Mama dia penuh cinta, tapi waktu lihat lukisan itu dia seperti merasa bersalah..
Benar juga, kalau memang cinta mana mungkin baru 3 bulan sejak Killian lahir dia jatuh cinta sama Mama.
Mungkin pernikahan politik?
Benak Arthur bertanya-tanya.
"Andai dia tidak menikah denganku pasti dia tidak akan meninggal." Shanley bersuara.
"Kalau begitu Killian tidak akan lahir." Arthur berucap dengan wajah polos.
Shanley diam menatap Arthur, ingin tahu apa yang akan Arthur ucapkan selanjutnya.
"Em.. Killian bukan anak nakal. Dia pasti akan cocok jadi penerus Papa!"
"Ibu Killian juga pasti tetap senang melihat Killian tumbuh dengan sehat dan bahagia seperti anak umumnya. Jadi ayah tidak perlu menyesal!"
Ugh, aku tidak tahu bicara apa..
Shandechz mengerjapkan matanya tak percaya, seorang anak bayi 1 tahun sudah bisa mengerti apa yang dikatakan orang dewasa!
"Haha.. Apakah semua ras Melvielle cerdas sepertimu Arthur?"
Arthur menelan ludahnya.
Aku saja tidak tahu apakah ras Melvielle memang cerdas, atau ini karena aku adalah seorang reinkarnasi yang mengingat kehidupanku sebelumnya..
Shandechz kembali melangkahkan kakinya menuju salah satu bangku perpustakaan, "Kurasa dewa sungguh adil. Ras terlemah adalah kalian tapi justru kalian adalah ras paling cerdas."
Lalu meletakan Arthur di kursi dengan hati-hati. "Kau ingin baca buku apa? Biar ayah ambilkan."
Arthur menatap Shandechz ragu.
"Papa, Arthur mau membaca buku sejarah tentang dunia ini."
...⚜⚜⚜⚜⚜...
__ADS_1