
Chapter dua: Dunia Earthania dan kejadian tak terduga
Arthur menatap pria di hadapannya masam.
Yatuhan.. Bisa-bisa aku jadi berwajah tua karena sering kesal!
Tapi bagaimana tidak kesal, raja menyebalkan ini justru memberikanku buku dongeng yang biasa dibaca Killian huh!
"Papa..." Arthur merengek.
"Ada apa? Papa yakin anak kecil sepertimu pasti menyukai buku dongeng bergambar. Buku ini berbeda dari buku dongeng yang diberi Mama." Shandechz menarik hidung bulat kecil Arthur gemas.
Sengaja Shandechz memberikan Arthur buku cerita bergambar, karena bagaimanapun dimata orang dewasa Arthur masihlah anak bayi yang belum genap menginjak 2 tahun. Pelajaran membaca yang diajarkan juga masih dasar.
"Kamu baca buku ini dulu ya. Papa mau ke ruang baca."
Ruang baca adalah ruang khusus untuk raja atau ratu membaca. Letaknya di sebelah barat perpustakaan.
Shandechz memanggil penjaga. "Tolongjaga Arthur. Kalau ada masalah segera lapor padaku, dan kalau dia mengantuk langsung antar saja ke kamar." Pesan Shandechz.
Penjaga itu membungkuk hormat, "Baik Yang Mulia Kaisar Raja."
Arthur menatap kepergian Shandechz geram. Ia kemudian berbalik, menghadap si penjaga.
Penjaga Arthur saat ini adalah seorang laki-laki muda dengan warna rambut dark grey. Telinganya sangat kecil, jika terhalang rambut, penjaga tersebut terlihat seperti tidak punya telinga. Yang paling menarik perhatian Arthur adalah bentuk bibirnya, tercetak jelas seperti bentuk hati.
Hm.. Penjaga itu menarik. Aku penasaran dia ras apa.
"Tuan penjaga bisakah aku minta tolong?" Arthur memanggil si penjaga pelan. Tidak ingin obrolan mereka di dengar Shandechz.
"O-oh.. Tentu boleh Tuan Muda Arthur." Si penjaga nampak kikuk.
Arthur tersenyum bersemangat, "Bisakah Tuan penjaga ambilkan aku buku tentang sejarah dunia ini? Buku apa saja selain buku seperti ini." Tangan Arthur menunjuk buku cerita bergambar yang diberikan Shandechz usai berujar.
"Ini buku dongeng bergambar. Pasti kurang detail. Aku ingin yang bentuk tulisan." Arthur lanjut menjelaskan.
"Ma.. Maaf Tuan Muda Arthur. Saya tidak bisa mengambilnya." Penjaga itu membungkukkan badannya cepat, "Saya tidak bisa membaca, jadi kalau Tuan Muda menyuruh saya, saya tidak tahu buku apa yang harus diambil."
Ah...
Arthur terdiam.
Sekarang Arthur mengerti kenapa Shandechz justru memberikannya buku cerita bergambar.
Shandechz pasti menganggap Arthur seorang anak kecil yang belum bisa membaca.
"Tch."
Si penjaga bergidik takut dan terkejut. Seorang anak 1 tahun sudah bisa berdecih? Begitulah pikirnya.
•••
Teng!!
Sebuah bunyi lonceng bel pertanda tengah hari telah tiba berbunyi. Lonceng yang Arthur belum ketahui dimana tempatnya itu berbunyi 3 kali sehari, saat pagi, siang—tengah hari—, dan sore menjelang malam.
Arthur meregangkan tubuhnya.
Ternyata hanya dengan membaca buku cerita bergambar tanpa terasa waktu cepat berlalu bagi Arthur. Arthur juga mulai memahami dunia tempat dirinya berada kini.
Dunia ini bernama Earthania.
Earthania adalah dunia yang dipenuhi berbagai macam ras dan elemen sihir.
Dari peta yang ada di dalam buku cerita bergambar, Arthur sudah sedikit paham tentang wilayah dan Ras-ras di Earthania.
Ada sembilan wilayah di Earthania. Wilayah Arthur berada sekarang ini adalah Kekaisaran Earthania, terletak di tengah dikelilingi delapan wilayah lain—yang mana artinya Kekaisaran Earthania ialah pusat wilayah Dunia Earthania.
Masing-masing ke-sembilan wilayah dihuni oleh Ras yang berbeda. Tapi ada satu hal yang pasti digambarkan dalam buku cerita, Ras terkuat di Earthania adalah Ras Arthan—Ras keturunan anggota Kekaisaran Earthania. Dikatakan kuat karena para Arthan mempunyai mana—sebuah aliran dalam tubuh yang mampu menciptakan sihir—tak terbatas. Karena mana mereka tidak terbatas, Ras Arthan mampu mempelajari berbagai macam elemen sihir.
Oh benar juga, di dunia Earthania mempunyai kekuatan sihir adalah hal wajar. Justru seseorang akan dianggap lemah jika tidak punya kekuatan sihir.
Elemen sihir dasar yang dipelajari ada enam, yaitu elemen sihir api, air, tanah, angin, cahaya, dan kegelapan. Jika berhasil mempelajari elemen sihir dasar, biasanya seseorang akan mampu mempelajari elemen sihir tingkat lanjut. Seperti ketika menyatukan air dan angin maka bisa menciptakan elemen sihir es.
Kembali pada Ras Arthan, selain dikatakan kuat karena punya mana tidak terbatas juga disebutkan hanya Ras Arthan lah yang dapat mengalahkan 'monster'. Namun karena informasi tersebut didapat dari buku cerita bergambar, Arthur tidak tahu monster seperti apa yang dimaksud.
Wah, itu berarti Killian di masa depan pasti akan sangat kuat. Haruskah aku mulai berlagak jadi saudara yang baik?
Sedangkan ras terlemah adalah ras Melvielle. Wilayah Ras Melvielle berada di utara Kekaisaran Earthania. Ras Melvielle dikatakan lemah karena mereka tidak mempunyai kekuatan sihir.
Pantas saja banyak orang yang berbicara buruk tentang Mama. Mereka bilang pasti Mama memakai sihir yang diciptakan Ras Naiad untuk mendapatkan hati Kaisar Raja.
Ras Naiad sendiri wilayahnya bersebelahan dengan Ras Melvielle, bisa dibilang arah Timur laut Earthania.
__ADS_1
Arthur menutup buku cerita bergambar nya. Entah kenapa kedua kelopak matanya terasa berat.
Aku mengantuk.
Mungkin karena masih kecil, aku jadi sering merasa ngantuk.
Arthur mencoba turun dari bangkunya, namun kakinya yang pendek membuatnya kesulitan.
Uh.. Aku masih merasa aneh dengan bagian 'bawah'ku. Apalagi saat bergesekan dengan celana...
Tanpa sadar wajah Arthur memerah.
Akh kenapa juga kakiku pendek!!!
"Tu-tuan penjaga.."
"Oh yaampun Tuan Muda Arthur!" Si penjaga bergegas mengangkat Arthur dan menggendongnya.
"Anda ingin kemana Tuan Muda?"
"Aku ingin kembali ke kamar. Ngantuk."
Si penjaga tersenyum, "Baik Tuan Muda!"
"Tidak usah lapor ayah, langsung ke kamar saja."
"Siap Tuan muda!"
"Nama kamu siapa Tuan Penjaga?" Arthur bertanya di tengah perjalanan mereka menuju kamar Arthur.
"Saya Aide, Tuan Muda."
"Aide.. Apakah aku boleh tahu rasmu?"
Aide tersenyum mendengar pertanyaan sopan Arthur. "Tentu saja boleh Tuan Muda. Saya dari ras Dalphin."
Ras Dalphin atau Ras lumba-lumba adalah salah satu Ras unik yang Arthur ingin tahu keberadaannya.
Aku ingin bertanya banyak hal, tapi aku sudah lelah.
Tak perlu waktu lama untuk sampai ke kamar Arthur. Aide membuka pintu kamar, lalu membawa Arthur ke kasur.
Di kasur, Killian sudah tidur siang lebih dulu.
Aide membaringkan Arthur hati-hati, setelah itu menarik selimut sampai dada Arthur.
Aide tersenyum lembut, "Selamat tidur siang Tuan Muda."
"Terimakasih Aide."
Tepat setelah bersatu dengan kasur, Arthur tak bisa lagi menahan rasa kantuk yang menyerangnya. Sebelum terlelap ia bisa dengar Aide mengucapkan, "Dengan senang hati, semoga mimpi indah Tuan Muda."
•••
Arthur mengucek matanya pelan. Setelah berhasil mengumpulkan nyawa Arthur mulai sadar kalau hari sudah malam sebab lampu di kamar menyala.
Arthur menoleh ke sebelahnya.
Killian sudah bangun.
Ia kemudian turun dari kasur dengan tangga kecil yang sengaja disiapkan di sisi kasur untuk Arthur dan Killian pijak agar mudah turun.
Arthur ingin mengambil air, haus.
Sambil meminum air di gelas, kepala Arthur berputar melihat keadaan kamar. Matanya menangkap Killian sedang asik bermain sendiri dengan balok-balok plastik dan buku dongeng bergambar disampingnya.
Seketika rasa iba merambati batin Arthur.
Entah kenapa aku jadi kasihan melihatnya bermain sendiri.
Setelah menaruh gelas, Arthur mendekati Killian.
"Kill.." Panggil Arthur. Killian tak menyahut, seperti biasa.
Arthur menatap garang Killian.
Bocah itu kalau sama aku pendiam, tapi didepan Mama dan Papa sok cari perhatian, cih.
Sedetik kemudian Arthur mengatur emosinya.
Jangan marah.. Dia calon pahlawan di masa depan, siapa tahu aku juga bakal ikut dikenal banyak orang.
Arthur mengintip buku dongeng bergambar yang dibaca Killian. "Oh itu buku dongeng baru ya? Aku mau lihat dong!"
__ADS_1
Arthur merebut buku dongeng bergambar tersebut. Killian berusaha menahan Arthur mengambil bukunya tapi kemudian mengalah. Killian memilih fokus bermain balok-balok plastik.
Arthur menaikan salah satu alisnya. Merasa aneh dengan sikap Killian.
Tak biasanya dia tidak pakai tenaga untuk menahanku.
Tidak mau memusingkannya, Arthur membaca buku dongeng bergambar itu.
Gara-gara Ayah aku jadi mulai suka buku dongeng!
...
Eh?
Mata Arthur menyipit.
Aku tidak salah lihat 'kan?
Ia kemudian menatap Killian tak percaya. "Haha....." Lalu mengembalikan buku dongeng tersebut pelan. "Ma.. Maaf, ini ku kembalikan bukunya."
Buku yang baru saja Arthur rebut adalah buku dongeng tentang Putri Salju.
Tidak kuduga Killian suka baca buku dongeng romantis!
Astaga..
Arthur menghela nafas pelan.
Sudahlah, lebih baik main balok-balok plastik ini saja.
Arthur mengambil balok-balok plastik, ikut membangun seperti Killian. Dirinya bermain sekedar untuk menemani Killian.
Hingga pada sebuah balok plastik warna merah, tangan mereka berdua tak sengaja menyentuhnya bersamaan.
Killian menarik baloknya, Arthur yang tak mau kalah juga menarik balok tersebut.
"Aku duluan yang mengambilnya." Arthur membuka suara.
Sebenarnya Arthur mau saja mengalah, tapi Arthur gemas ingin melihat Killian marah.
Killian masih diam namun tenaganya menguat, menandakan bahwa balok itu milik Killian.
Terjadi adegan tarik-menarik antara kedua anak bayi tersebut, sampai Killian akhirnya berteriak, membentak Arthur.
"HEI INI MILIKKU! SEMUA MAINAN YANG ADA DISINI MILIKKU!"
Killian membentak dengan raut wajah merah. Mau tak mau Arthur melepaskan genggamannya.
Uwah... Akhirnya dia marah.
Eh tunggu wajahnya kenapa merah?
Arthur buru-buru menangkup kedua pipi, mendekatkan wajahnya ke wajah Killian, lalu menempelkan jidatnya ke jidat Killian.
Killian diam mematung, matanya membulat. Kejadian Arthur menempelkan jidat sangat cepat, Killian tak sempat menghindar.
Awalnya Arthur hanya ingin tahu wajah Killian memerah akibat marah atau karena hal lain—seperti demam.
Raut wajah Arthur berubah panik ketika merasakan kening Killian panas, "Killian kamu demam! Tunggu ya aku panggil pelayan." Arthur bergegas keluar kamar memanggil pelayan. Beberapa pelayan masuk dengan panik, mereka ramai menggendong Killian ke kasur dan memanggil dokter Istana.
Killian hanya diam menurut, namun ia masih tak bisa melupakan kejadian mengejutkan sebelumnya. Di atas kasur diam-diam Killian menatap Arthur yang melihat kearahnya panik.
Hati Killian kecil menghangat.
Untuk pertama kalinya Killian merasa senang punya saudara.
Sementara itu, sambil menunggu dokter dan pelayan merawat Killian, Arthur merasa ada yang aneh dengan dirinya.
Pandangannya sedari tadi serasa berputar-putar memusingkan.
Sekelebat ingatan-ingatan asing memenuhi otaknya, rasanya sangat penuh seolah otak Arthur bisa meledak kapan saja.
Ugh, kepalaku seperti ingin pecah.
Hingga salah satu ingatan menampilkan dengan jelas Killian dewasa membunuh dan memenggal kepala banyak orang, berjalan diatas tumpukan mayat tanpa beban lalu menodongkan ujung pedang ke arah Arthur dan dengan secepat kilat memenggal kepala Arthur.
Perut Arthur bergejolak hebat.
"Hoeekkk...!!"
Seorang pelayan yang mendengar suara muntahan menoleh penasaran. "YATUHAN TUAN MUDA ARTHUR!!!"
•••
__ADS_1