
Chapter empat: Rahasia Ras Melvielle dan Masa Depan Killian.
Arthur mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Aku dimana?" Gumamnya sambil melihat sekeliling.
Nuansa rumah kayu tua yang gelap, debu-debu kecil yang tersorot cahaya dari luar nampak menari-nari, dan suara merdu tonggeret di luar yang terdengar hingga ke dalam ruangan. Seolah menunjukan waktu dan tempat Arthur berada sekarang yaitu musim kemarau, di sebuah pedesaan.
Tatapan Arthur jatuh pada sebuah tangga kayu yang terlihat menyatu dengan langit-langit.
Sepertinya ini ruang bawah tanah. Pikir Arthur. Ia kemudian berjalan menuju meja tua dimana banyak buku berserakan.
Sampai akhirnya fokus Arthur berhenti pada sebuah buku lusuh berukuran sedang. Nampak jelas dibuku itu tertulis 'Catatan Dewa Earthania'.
Tanpa berpikir lagi, Arthur membuka halaman pertama buku tersebut.
...Beribu-ribu tahun yang lalu, seorang dewa yang merasa bosan melihat tingkah laku manusia di bumi, menciptakan sebuah dunia baru. ...
...Dunia dimana sihir merupakan hal biasa....
...Dewa memberi nama dunia itu Earthania. ...
...Makhluk ciptaan pertamanya berperawakan seperti manusia di bumi. Hanya memiliki keistimewaan di mata violet dan rambut putih platinum. Dewa memberi sebutan kepada mereka, Melvielle. ...
"...!"
Arthur membaca lembar selanjutnya.
...Melvielle tidak punya kekuatan sihir namun masing-masing individunya punya kekuatan tak biasa. Ada yang bisa melihat masa depan, melihat masa lalu, meminjam atau mencuri kemampuan sihir, maupun berteleportasi menuju dunia lain. Hal itu sebagai penanda bahwa Ras Melvielle adalah ciptaan pertama—Ras istimewa—dewa....
...Kemudian dewa menciptakan tujuh ras lain. Ras Elves, Ras Naiad, Ras Dwarf, Ras Gnome, Ras Dalphin, Ras Agio, dan Ras Ariu....
...Ke-delapan Ras saling hidup berdampingan dengan damai. Namun entah bagaimana, perlahan dunia baru yang tentram itu berubah menjadi kacau. Pertengkaran sihir terjadi dimana-dimana. ...
Arthur membuka lembaran selanjutnya.
...Melvielle, ras ciptaan pertama yang dewa kenal begitu pengasih, perlahan mulai iri dengan Ras lain yang mempunyai kekuatan sihir....
...Elves, ras yang selalu merasa cukup hidup sederhana bersama alam, lambat laun merasa tak cukup dengan kekuatan sihir mereka. Akhirnya Elves mengajak Ras lain untuk mendiktator Ras Melvielle supaya menjadi budak. Ras lain memanfaatkan kelemahan ras Melvielle yang tidak mempunyai sihir. ...
...Tapi ditengah kekacauan itu, seorang anak laki-laki dari ras Melvielle menarik perhatian Dewa. Dia Arthurdio. ...
"Arthurdio...? Apakah dia raja Earthania pertama itu?"
Ketika Arthur ingin membaca kalimat selanjutnya. Suara decitan langit-langit terbuka menggema.
Akhhh gawat, aku sembunyi dimana??
Seorang pria berambut putih platinum menuruni tangga, tanpa sempat membiarkan Arthur kecil bersembunyi.
Arthur menahan nafas ketika pria itu berjalan mendekati meja tempat Arthur berada. "Huft.. Ternyata buku itu ada disini. Kupikir aku meninggalkannya di dunia lain."
Huh?
Dia tidak bisa melihatku?
Arthur terheran ketika seorang pria satu Ras dengannya itu, berjalan melengos begitu saja didepannya.
Buku yang sempat Arthur baca tadi pun kembali menutup seperti semula. Seakan buku itu belum tersentuh.
Arthur memperhatikan gerak gerik pria itu.
Pria Melvielle itu membuka laci meja menggunakan kunci yang dikalungkan di lehernya.
Mengambil sebuah kertas yang dilipat kecil, lalu diselipkan kedalam buku lusuh yang dipegangnya. Kemudian mendekati lemari kecil berisi brankas, memasukan buku tersebut kedalamnya dan mengunci brankas.
Arthur memicingkan matanya untuk melihat sandi angka yang diatur pria itu.
"Kuharap kamu menghafal sandi yang ku atur."
Arthur tersentak. Ia mendekati pria itu sembari melambaikan tangannya. Tak ada respon dari si Pria.
"Dia sungguh tidak bisa melihatku..."
Lalu apa maksud kalimatnya tadi?
"Untuk kamu, anakku di masa depan nanti, entah kekuatan apa yang akan kamu dapatkan. Kuharap kamu mampu mewarisi kekuatanku nanti."
__ADS_1
"Ras kita kuat, bahkan tidak satupun yang tahu kalau ras Arthan sebenarnya adalah ras Melvielle."
Huh???
Arthur mencoba memegang tubuh Pria Melvielle tersebut, namun menembusnya. Seolah Arthur transparan seperti hantu.
"Sayang."
Sebuah suara perempuan memanggil diiringi ketukan langkah kaki, tak lama setelah itu sebuah kepala menyembul dari langit-langit yang terbuka.
"Ah, rupanya kamu disini."
Nafas Arthur tercekat. Ekspresi wajahnya tidak bisa dijelaskan, antara terkejut, bingung dan penasaran.
Wanita itu turun, menghampiri si Pria. "Sedang apa disini? Apa kau membaca buku-buku dari dunia lain lagi?"
Si Pria menggeleng pelan seraya tersenyum lembut. "Tidak, aku hanya sedang membereskan ruangan ini. Kita 'kan akan pindah." Ia memeluk wanita itu sambil mengelus pelan perut si wanita yang nampak besar.
"Anak kita.. Diberi nama Arthur saja bagaimana?"
Arthur ingin mendengar lebih lanjut lagi, tapi pandangannya memburam. Hingga akhirnya pandangan Arthur menjadi gelap gulita.
Beberapa detik setelahnya cahaya kembali muncul.
Dan dihadapan Arthur kini adalah Emma yang sedang menyuapinya bubur.
Arthur mengucek matanya pelan.
Apa ini?
Apa waktunya sudah habis?
Kepala Arthur menoleh ke kanan dan kiri.
Aku... Benar-benar kembali ke 15 menit yang lalu.
"Mata kamu kenapa Arthur? Kelilipan?" Emma meniup pelan mata Arthur.
"Ma.. Papa.. Apakah Mama punya gambar papa?"
"Hm? Bukankah kamu bisa melihatnya dari dekat? Untuk apa perlu gambar papa?"
Emma terdiam sebentar. Senyum kecil tak lama mengembang di wajah Emma.
"Tentu saja Mama punya. Tapi tidak Mama bawa, gambar Papa ada di rumah kita, di desa Melvielle. Apakah kamu merindukan ayah, Arthur?" Emma mengelus kepala Arthur penuh cinta.
Arthur mengangguk.
Tepatnya aku ingin tahu apakah laki-laki yang kulihat tadi adalah Ayah.
"Baiklah, setelah Mama melahirkan adikmu, ayo kita pulang kampung. Ayah juga pasti merindukan Arthur."
"Tapi Ma... Setelah melahirkan adik nanti, apakah Mama masih hidup? E... Bukan! Maksud Arthur.. Arthur pernah dengar siapapun yang mengandung anak ras Arthan pasti mati, atau anaknya nanti cacat."
Arthur ingat, sewaktu dirinya membaca buku cerita bergambar yang diberikan Shandechz di perpustakaan, ada sedikit penjelasan bahwa tidak ada seorangpun wanita selain Ras Arthan sendiri yang mampu melahirkan anak keturunan Ras Arthan. Kalaupun berhasil pasti wanita selain Ras Arthan itu akan mati, atau anak yang dilahirkan cacat.
Hal itu karena kekuatan sihir keturunan Ras Arthan yang besar sejak masih dalam kandungan menggerogoti mana milik wanita si pengandung.
Ingatan Arthur terjeda. Sepintas Arthur teringat tentang 'catatan dewa Earthania'. Tertulis bahwa Ras Arthan sebenarnya adalah Ras Melvielle.
Bukankah itu berarti ada kesempatan kalau Emma akan baik-baik saja ketika melahirkan nanti?
Tapi...
"Yatuhan..."
Pelukan tiba-tiba Emma memecah pikiran Arthur. "Kamu masih kecil tidak seharusnya mendengar dan paham tentang itu."
"Tenang saja, Mama pasti akan hidup dan adikmu akan baik-baik saja. Mama janji."
Arthur tersenyum masam dibalik pelukan Emma. "Mama harus menepati janji itu ya."
Masih teringat jelas dalam memori Arthur tentang masa depan yang Arthur lihat saat menyentuh kening Killian. Di dalam ingatannya, Emma tidak baik-baik saja setelah melahirkan adiknya.
Selepas makan, Arthur meyakinkan Emma bahwa dirinya tidak takut dengan Killian, sehingga Emma mengijinkan Arthur untuk membawanya ke tempat Killian berada.
Untuk saat ini aku akan terus bersama Killian!
__ADS_1
Persis seperti sebelumnya, Killian dengan wajah polos penuh semangat berlari tergopoh-gopoh menghampiri Arthur. Lalu memberikan mainan dan buku dongengnya.
Sebelum Killian bertanya, Arthur menggandeng tangan kecil Killian. Menariknya untuk bermain dan membaca buku bersama.
"Aku sudah baik-baik saja Kill. Ayo kita bermain dan membaca bersama!" Arthur berucap diiringi senyuman lebar.
Kill termangu dengan perlakuan tiba-tiba Arthur, ia pun ikut tersenyum. "Hem!"
•••
"Arthur, lihat."
Merasa dipanggil, Arthur menoleh. Menemukan Killian berada disebelah mainan balok-balok plastik yang dibangun membentuk istana kecil.
"Woah hebat! Tapi itu terlalu biasa. Biar kutunjukan padamu seni membangun balok!"
Killian berjalan mendekati Arthur, fokus memperhatikan Arthur membangun sesuatu yang Killian tidak tahu namanya.
"Tada!! Lihatlah yang kubuat!"
"Wuohh... Tapi..,itu apa?"
"Mobil!"
Killian memiringkan kepalanya.
"Aa.. Benar juga kamu pasti tidak tahu. Padahal mobil sangat penting di jaman sekarang."
"Jaman..sekarang?"
Er.. Aku lupa kalau aku sekarang adalah Arthur. Dulu terbiasa bermain bersama keponakan haha..
"Sudahlah, ayo kita membaca buku saja. Biar kubacakan buku untukmu."
Arthur mengalihkan topik. Arthur mengambil salah satu buku dongeng. Tubuh kecilnya memanjat ke sofa, lalu memberi aba-aba pada Killian untuk duduk disebelahnya.
Killian menurutinya.
"Baiklah, buku yang akan kubaca tentang seorang putri dan Pangeran katak."
Ck, dongeng klasik.
Arthur melirik kearah Killian.
Killian nampak tak sabar menunggu Arthur membacakannya membuat Arthur tersenyum gemas.
Arthur menarik nafas dalam, membuka mulutnya lalu mulai membaca buku dongeng tersebut.
Hingga waktu berlalu cukup lama, Arthur merasakan pundak kanannya terasa berat. Ia menoleh, mendapati Killian tertidur di pundaknya.
Huh, pasti membosankan sampai dia saja tertidur.
Diam-diam Arthur memandangi wajah damai Killian.
Anak manis seperti Killian, bagaimana bisa jadi penjahat di masa depan?
Arthur bergidik ngeri saat tak sengaja mengingat lagi Killian dewasa memenggal kepala, sadis.
Setelah kupikir-pikir, sepertinya kemampuanku adalah melihat masa depan.
Kalau benar, berarti aku harus membuat Killian merasa di perhatikan.
Dari ingatannya, Arthur yakin penyebab Killian menjadi jahat karena kurang perhatian dari orang tersayangnya.
Setelah adik mereka lahir, Shandechz lebih memperhatikan anak bungsunya. Emma mengalami koma, dan Arthur sendiri ia pergi dari istana, berkelana. Semenjak itu yang memperhatikan Killian adalah paman dan bibinya, namun mereka berdua memperlakukan Killian hanya sebagai 'alat'.
Killian yang kesepian menjadi tersesat, sehingga memanggil kekuatan jahat, membuat Killian membunuh siapapun yang mengganggu ketenangannya.
"Huft.. "
Memikirkan banyak hal membuatku mengantuk.
Arthur akui, selama menjadi anak bayi dirinya jadi lebih sering mengantuk.
Sore hari itu, berakhir dengan pemandangan kedua anak laki-laki saling tidur bersandar satu sama lain di sofa, menghangatkan hati siapapun yang melihatnya.
__ADS_1
•••