
Chapter tiga: Pertemuan dengan dewa.
Emma mondar-mandir di depan kasur tempat Arthur berada. Arthur kini tengah terlelap tenang, namun Emma cemas. Ia takut kalau Arthur tidak bangun lagi mengingat sudah dua hari berlalu semenjak kejadian sebelumnya.
Yang membuat Emma takut karena sebelumnya Arthur muntah tidak biasa, ia muntah darah. Tubuh kecilnya bergetar, menangis meraung-raung memanggil Emma. Saat di tidurkan di sebelah Killian, Arthur berteriak ketakutan. Alhasil Arthur dipaksa tidur menggunakan sihir dan ditempatkan di kamar terpisah dari Killian.
Killian juga tidak diijinkan mendekati Arthur sementara, jika Killian ingin tahu kabar keadaan Arthur, Emma atau pelayan lain akan memberi tahu.
"Hiks Arthur... Hiks.."
"Yang Mulia Ratu... Lebih baik Yang Mulia Ratu istirahat atau setidaknya duduk, tidak baik untuk bayi dalam kandungan anda kalau Yang Mulia Ratu panik seperti itu." Dokter kerajaan yang ikut menemani dan memeriksa rutin keadaan Arthur berujar lembut.
"Saya yakin Tuan Muda Arthur pasti baik-baik saja." Lanjut Dokter bernama Janzeph itu. "Dia masih bernafas dengan tenang."
"... Kau benar." Emma membuang nafas pelan. "Aku lupa kalau aku sedang mengandung. Terimakasih sudah mengingatkanku." Emma berucap tulus seraya mengelus perutnya lembut.
"Bukan masalah Yang Mulia Ratu."
Emma dan Janzeph menunggu keadaan Arthur. Janzeph sesekali mengelap keringat di wajah Arthur, ia juga sesekali mengecek nafas Arthur.
Beberapa kali Janzeph memikirkan gejala yang dialami Arthur. Gejala yang dialami Arthur mirip dengan reaksi seseorang yang tidak mampu menahan kekuatan sihir kuat, tapi Janzeph pikir Arthur tidak mungkin punya sihir karena Rasnya—Ras Melvielle— tak dikaruniai mana.
Apa mungkin karena selama ini tinggal dengan Tuan Muda Killian?
Tapi itu juga tidak mungkin, buktinya semua pelayan disini baik-baik saja. Mana aura dari seseorang yang punya sihir kuat tak mempengaruhi fisik orang disekitarnya.
Atau mungkin tubuh Tuan Muda Arthur yang terlalu lemah?
Ditengah rumitnya otak dia berpikir, Janzeph tersentak ketika tangan kecil yang digenggamnya bergerak pelan.
"Tuan Muda Arthur!" Janzeph berseru tanpa sadar membuat Emma bergegas menghampiri Arthur.
Kedua kelopak mata kecil Arthur bergerak, perlahan hingga matanya terbuka sempurna.
Arthur mengedipkan matanya beberapa kali, membiarkan netranya terbiasa dengan cahaya yang masuk ke mata.
"Arthur, bagaimana keadaanmu?" Emma bertanya lembut meski ekspresi cemas dan senangnya tak bisa disembunyikan.
Di sisi lain Janzeph mengecek suhu tubuh Arthur dan aliran darah Arthur. "Tuan Muda Arthur sudah baik-baik saja Yang Mulia Ratu."
Emma mengangguk, "Baiklah, terimakasih."
"Uhuk.." Arthur terbatuk karena tenggorokannya terasa sangat kering. "Mama..."
Menyadari hal itu Janzeph segera mengambil segelas air lalu diberikan pada Arthur untuk diminum.
Arthur menggelengkan kepalanya. "Mama.. Killian dimana?" Arthur menarik pelan pakaian Emma.
Hal pertama yang diingat Arthur adalah saat ia mengecek suhu Killian dengan menempelkan jidat mereka.
"Killian ada di kamarnya. Sekarang Arthur minum dulu ya, suara kamu serak." Emma mengambil alih gelas yang dipegang Janzeph, memberikannya ke Arthur, kemudian membantu Arthur minum.
Selesai minum, Arthur langsung berniat turun dari kasur menuju kamar tempat Killian berada.
Emma dengan cepat menahan Arthur, ia memberi isyarat pada Janzeph mengangkat Arthur.
"Uwaa..! Mama!"
"Kamu tidak sadar selama 2 hari, harus isi perut dulu." Emma kemudian memanggil pelayan untuk membawakan bubur.
Aku tidak sadar 2 hari...? Pantas saja rasanya lemas.
Arthur menurutinya. Tubuh kecilnya juga terasa sangat lemas untuk sekedar mengedipkan mata.
Setelah selesai dengan acara makan, Emma menginterogasi Arthur. Menanyakan banyak hal tentang apa yang dirasakan, apakah ada yang sakit, dan bagaimana perasaan Arthur sekarang.
Meski sedikit bingung dengan apa yang terjadi padanya, Arthur menjawab pertanyaan Emma jujur, "Arthur sudah baik-baik saja Ma, tidak ada yang sakit."
"Killian sudah sehat ma?"
Sembari mengelap mulut Arthur yang sedikit belepotan bubur, Emma menjawab, "Sudah, justru Mama lebih khawatir sama kamu Arthur. Kamu sungguh baik-baik saja 'kan? Sudah tidak takut lagi dengan Killian?"
Huh? Untuk apa aku takut dengan Killian?
Arthur menganggukan kepalanya pelan sedikit ragu, namun segera berucap dengan yakin supaya Emma tidak cemas. "Arthur baik-baik saja Ma!" Arthur turun dari kasur dengan semangat, kemudian menatap Emma meyakinkan. "Lihat 'kan, Arthur tidak apa-apa!"
Emma tersenyum melihat kelakuan Arthur. "Baiklah, ayo kita temui Killian. Killian juga sudah menunggumu."
__ADS_1
Emma menghampiri Arthur, menggandeng tangan kecil Arthur dan berjalan bersama menuju tempat Killian berada.
•••
Setelah merasa yakin Arthur baik-baik saja Emma membiarkan Arthur bermain berdua dengan Killian, namun tetap meminta seorang pelayan memperhatikan mereka.
Ditinggal berdua dengan Killian, Arthur memanfaatkan kesempatan yang ada. Arthur berniat mencari tahu apa yang terjadi sebelum dirinya tidak sadar selama dua hari.
Aku harus mencari tahu apa yang terjadi. Kenapa Mama sampai cemas? Kenapa juga aku harus takut Killian?
"Kill." Arthur memanggil Killian yang berjalan tertatih-tatih penuh semangat dengan wajah polos sambil membawa buku dongeng bergambar dan satu balok plastik warna merah—mainannya.
"Art.. Ini.." Killian menjulurkan mainan dan buku dongeng yang digenggamnya pada Arthur.
Arthur menatap bingung Killian, namun tak urung menerimanya.
Killian tersenyum.
Oh..
Untuk pertama kalinya Arthur melihat Killian tersenyum padanya.
Killian benar-benar manis kalau tersenyum.
"Arthur sudah sehat?"
Arthur melirik sebentar kearah pelayan yang memperhatikan mereka berdua.
Sepertinya aku harus bertanya diam-diam.
Ia mendekatkan kepalanya ke telinga Killian. "Eum.. Kill, memangnya aku kenapa?" Arthur berbisik.
"Art tidak ingat?" Killian balas berbisik.
Arthur mengangguk.
Detik berikutnya Killian menangkup kedua pipi Arthur kemudian menempelkan keningnya dengan kening Arthur.
Mata Arthur membulat terkejut.
"Ini." Killian berucap. "Arthur melakukan ini waktu Killian sakit, Arthur bilang jidat Killian panas."
"Tapi jidat Arthur sekarang tidak panas. Berarti Arthur sudah sehat!"
Arthur mengedipkan matanya beberapa kali, sadar kalau posisi mereka masih saling menempelkan kening. Buru-buru Arthur mendorong Killian menjauh.
Mendadak Arthur jadi salah tingkah.
"Ehm.." Arthur berdeham, sedangkan Killian menatap polos Arthur, tak mengerti kalau Arthur salah tingkah.
"Jadi mungkin aku juga demam sepertimu, ya.."
Arthur berpikir sejenak.
Tapi kenapa aku merasa ada yang mengganjal?
"Ya sudah, ayo kita main bersama saja. Aku 'kan sudah sehat."
Killian mengangguk senang. "Ayo!"
Disaat Arthur akan melangkahkan kakinya, kepala Arthur berdenyut kencang, rasanya seperti kepalanya ditindih dan ditekan batu besar. Sebuah ingatan asing yang ia lupakan kembali muncul, membuat Arthur tak bisa bernafas.
Perasaan itu sama seperti sebelum Arthur tidak sadar selama dua hari.
Sekarang Arthur mengerti kenapa Emma mencemaskan dirinya ketika ingin bertemu Killian.
Tapi rasa sakit kepala ini benar-benar...
"Arghh!!"
"Tuan Muda Arthur!!" Pelayan yang bertugas mengawasi kedua anak laki-laki tersebut berteriak histeris.
•••
Arthur bisa merasakan cahaya menyilaukan dari balik kelopak matanya. Merasa terusik dengan cahaya tersebut, secara perlahan Arthur membuka matanya.
Ketika mencoba bangkit, Arthur terkejut merasakan cairan dingin menyelimuti tubuhnya. Tepatnya, Arthur terbaring di genangan air luas yang tidak dalam, lebih mengejutkan lagi pakaian yang dikenakannya tidak basah.
__ADS_1
Ini pasti mimpi...
Atau aku sudah mati?
Padahal aku baru saja bereinkarnasi.
Arthur mengangkat kepalanya, memperhatikan sekitar. Hanya ada hamparan air, dan langit biru yang luas. Airnya sangat jernih sampai pemandangan langit biru yang luas itu tercermin oleh air.
Sebuah cahaya hangat menyilaukan tiba-tiba turun dari langit. "Bagaimana kabarmu Arthur?" Cahaya itu bersuara.
"Siapa?" Arthur membalas dingin.
"Ahaha, maaf aku lupa memperkenalkan diri."
Cahaya menyilaukan tersebut perlahan berubah menjadi bentuk tubuh seperti manusia. Rambut panjang hijau muda, mata kuning keemasan dengan bulu mata lentik, tubuh ramping yang dibalut jubah putih bertudung, perawakannya terlihat cantik elegan.
Cantik seperti perempuan, elegan seperti laki-laki.
"Perkenalkan, aku Vita. Dewa pencipta Earthania."
Mulut Arthur yang sedari tadi menganga takjub melihat kemunculan Vita, langsung menutup rapat.
"Pasti bohong."
"Mana mungkin dewa menemui langsung orang sepertiku.." Arthur bergumam pelan.
"Pasti malaikat pencabut nyawa."
"Hei.." Vita mendesah kecewa. "Bukankah aku terlalu indah untuk seukuran malaikat?"
Vita mendekati Arthur, meraih tangan kecilnya, membuat Arthur menatap Vita ingin tahu.
Tangan Vita terasa dingin, namun menyejukan.
"Dasar kau anak nakal. Sudah tahu tubuhmu masih belum mampu menahannya, tapi kau tetap kukuh mencari tahu. Bisa-bisa kau mati karena kekuatanmu sendiri."
Dia bicara apa..? Kekuatan?
"Kamu sungguh dewa?"
Mengacuhkan apa yang Vita bicarakan sebelumnya, Arthur lebih ingin tahu apakah seseorang dihadapannya sungguh dewa.
Vita tersenyum lembut, mengiyakan.
"Kau pasti penasaran kenapa aku menemuimu."
Arthur diam, menunggu Vita melanjutkan bicaranya.
"Itu karena kau spesial, Arthur. Ah, bukan... Haruskah ku panggil Tiara?"
"..!"
Dia tahu aku seorang reinkarnasi! Itu berarti dia sungguh dewa.
Mulut Arthur terbuka ingin menanyakan banyak hal, tapi ditahan jari telunjuk Vita yang menyentuh bibirnya.
"Sebelum kau ingin tahu banyak hal, tolong terimalah permintaan maafku." Vita menunduk, ekspresi wajahnya berubah sedih. "Karena kelalaian ku, membuatmu seorang manusia dari bumi, harus mati."
"Apa maksudmu?" Kening Arthur berkerut.
Kematianku terjadi karena kelalaian...?
Bukannya menjawab, Vita justru menutup kedua mata Arthur dengan salah satu telapak tangannya.
"Aku akan memutar waktu 15 menit sebelum kau pingsan dengan 'ini'. Setelah waktunya habis kau akan sadar kembali."
"Yah, sebenarnya aku harus memutar waktumu supaya kau tidak mati lagi. Akibat kekuatanmu cukup merepotkan, huh."
"Semoga dengan kekuatanku ini bisa menjawab semua rasa ingin tahu mu. Dan menjawab kenapa kau bereinkarnasi ke dunia ini." Vita berucap lembut.
Tidak... Tunggu dulu! Apa maksudnya dengan 'ini'?
Arthur mencoba bersuara tapi tak bisa. Seolah Vita melarangnya berbicara dan hanya ingin didengarkan.
"Sampai bertemu lagi, Arthur."
Seketika pandangan Arthur menjadi sangat silau hingga Arthur terpaksa memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Detik berikutnya pemandangan yang Arthur lihat berubah.
•••