
Chapter enam: Sebuah Perencanaan.
Dalam perjalan pulang di kereta kuda, Arthur sibuk berkutat dengan pikirannya.
Jadi pada akhirnya, aku tetap akan keluar dari Istana. Berpetualang menuju desa Melvielle mencari obat untuk Mama.
Arthur menatap Killian yang duduk dihadapannya memakan kue.
Kalau aku pergi, bagaimana dengan Killian? Haruskah ku bawa dia ke Desa Melvielle?
Tidak, justru akan lebih berbahaya membawa anak yang belum bisa mengontrol kekuatannya.
"Syukurlah Tuan Muda Killian tadi menemukan Tuan Muda Arthur. Kalau tidak bisa celaka saya dibentak Nyonya Kepala Dapur." Celetuk Tina yang duduk disebelah Arthur.
"Kan sudah kubilang tidak usah khawatir, Tuan Muda Killian punya genetik Ras Elves, tentu saja akan menemukan Tuan Muda Arthur dengan mudah!" Sia menepuk pundak Killian bangga.
Ras Elves terkenal mempunyai kelebihan bisa dengan mudah bersahabat dengan alam. Mereka bisa mendengar apa yang alam katakan—itu karena bentuk telinga mereka yang spesial. Dan mata merah mereka punya kemampuan untuk melihat jarak yang jauh—sekitar 50 meter.
Kendati demikian, kekuatan sihir mereka tidak terlalu hebat. Lantaran Mana mereka hanya mampu untuk mempelajari satu elemen sihir saja.
"Kau benar." Tina tersenyum memperhatikan Killian yang tak peduli obrolan mereka. Killian hanya peduli makanan manis ditangannya.
"Tuan Muda Arthur tidak ingin makan cupcake?" Tina bertanya.
Arthur menggeleng. "Aku tidak suka makanan manis."
"Eh? Kalau begitu kenapa meminta saya beli cupcake apel?"
"Untuk Aide." Arthur mengerling jahil. "Tina bisa memberikan cupcake itu untuk Aide. Aide sangat menyukai cupcake apel! Oh, tapi jangan katakan cupcake itu pemberian Arthur ya."
"Wah! Tuan Muda Arthur ternyata menyadarinya juga, hihi." Sia ikut menggoda Tina.
Tina tersenyum malu. "T-terimakasih banyak Tuan Muda Arthur."
Kereta kuda yang ditumpangi Arthur akhirnya sampai di depan halaman Mansion.
Aide menyambut kedua Tuan Mudanya. "Selamat datang kembali Tuan muda Killian, Selamat datang kembali Tuan muda Arthur."
Aide membantu membawa barang belanjaan.
"Tuan Muda Killian."
Seorang pelayan pria lain bernama Gio datang menghampiri Killian.
Arthur pernah berbincang dan menanyakan tentang ras Gio. Pengawal itu menjawab dirinya berasal dari Ras Ariu.
Dari buku yang pernah Arthur baca...,
Terkenal dengan kekuatan mampu menciptakan sihir es tanpa perlu belajar penggabungan sihir dasar air dan udara, membuat Ras Ariu menjadi Ras terkuat setelah Ras Arthan.
Berbeda dengan Ras lain yang memilih sistem kepemimpinan berdaulat, Ras Ariu memilih sistem kepemimpinan kerajaan. Seluruh Ras Ariu pun dikenal arogan karena mereka sangat sulit diajak kerja sama. Mereka tidak akan pernah mau berada dibawah perintah siapapun kecuali Ras mereka sendiri.
Namun, karena suatu perjanjian terdahulu, ada satu keluarga Ras Ariu yang menjadi pelayan penjaga kerajaan Earthania sampai sekarang. Gio adalah salah satu keturunan keluarga Ras Ariu tersebut.
Gio membungkuk hormat sebagai sapaan, sebelum bersuara kembali. "Tuan dan Nyonya Sander datang. Mereka ingin berbicara dengan anda."
Killian mengangguk sebagai jawaban. Ia mengangkat kedua tangannya. "Gendong."
Gio tersenyum tipis, ia mengangkat Killian, menggendongnya lalu pamit pergi lebih dulu.
Arthur menatap kepergian Gio dan Killian.
Sander.. Mereka berdua adalah paman dan bibi Killian.
Keluarga Sander merupakan salah satu bangsawan Ras Elf yang ikut berkontribusi dalam mengembangkan akademi sihir terkenal di Earthania, Magithania.
Karena itu, sudah bisa diperkirakan Tuan dan Nyonya Sander datang menemui Killian adalah untuk mengajaknya masuk Magithania.
Sepertinya petualangan ku sebentar lagi akan dimulai.
•••
Krieettt..
Arthur yang sedang menggambar mengangkat kepalanya, menatap pintu kamar yang terbuka.
Killian masuk ke kamar bersama pelayan Gio.
__ADS_1
Karena hanya sekedar mengantar Killian kembali ke kamar, Gio pamit pergi kembali. Kini hanya ada Arthur dan Killian di kamar.
Tubuh mungil Killian menghampiri Arthur yang sedang menggambar di lantai.
Arthur buru-buru melipat kertas gambarnya, menyimpannya di saku baju. Arthur mengubah posisi tengkurapnya menjadi duduk. Ia memperhatikan wajah merengut Killian.
"Ada apa?" Arthur bertanya ingin tahu.
"Paman dan bibi mengajakku masuk sekolah sihir."
"Bukannya bagus? Kenapa kamu cemberut begitu?"
Killian menatap Arthur lama, barulah berucap, "Mereka bicara jelek tentang Arthur."
Killian duduk disebelah Arthur. "Mereka bilang Arthur lemah, tidak punya sihir, tidak pantas berada di sekolah sihir. Jeleknya lagi, mereka bilang Arthur tidak pantas berada di dunia ini."
Arthur mengusap pipinya pelan. Bingung harus merespon seperti apa.
Ya..., memang benar aku tidak punya sihir.
Arthur kemudian teringat sesuatu. Ia mengambil selembar kertas tersisa di lantai.
"Kata siapa aku tidak punya sihir? Hei Killian, perhatikan! Aku bisa membuat kertas ini terbang jauh ke kota!"
Wajah menekuk Killian berubah penasaran.
Arthur tersenyum percaya diri. Ia lalu melipat kertas sedemikian rupa hingga membentuk pesawat.
"Wuoh.. Arthur bisa membentuk burung dari kertas!" Killian terkesima.
Ini pesawat... Tapi sudahlah, dijelaskan pun tidak akan mengerti.
Arthur berdiri, berjalan mendekati jendela. "Perhatikan baik-baik ya!" Arthur mengangkat tangannya tinggi, kemudian mengayunkan tangannya kebawah, melempar pesawat kertas sekuat tenaga hingga meluncur, melayang jauh keluar Istana hingga ke kota tepat seperti perkataannya.
Heh, padahal aku tidak serius mengatakan bisa terbang sampai ke kota.
"Wuohhh!!!" Killian meloncat girang.
Arthur menaikan dagunya, berkacak pinggang, tak lupa menunjukan senyum percaya dirinya. "Fufufu.. Lihat 'kan, aku juga punya sihir!"
Arthur menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa. Kalau aku menunjukannya nanti mereka mencontoh kemampuan hebatku!"
"Kemampuan hebatku ini jadi rahasia kita berdua, oke?" Arthur meletakan jari telunjuknya depan bibir, ia tersenyum lebar hingga matanya ikut tersenyum.
"Rahasia...? Oke!"
"Ehm, jadi...," Arthur berjalan menuju meja belajarnya, mengambil selembar kertas untuk membuat pesawat kertas lagi. "Killian menolak masuk sekolah sihir karena aku tidak bisa ikut?"
Killian mengangguk membenarkan. "Aku tidak mau pergi sendiri tanpa Arthur. Kalau aku pergi, siapa yang akan melindungimu? Arthur 'kan tidak punya kekuatan sihir."
"Hei, 'kan baru saja kamu lihat aku punya kekuatan sihir."
"Kekuatan sihir objek dasar kertas tidak bisa melukai orang lain."
Arthur meringis saat jari telunjuknya tergores sisi kertas. "Siapa bilang kertas tidak bisa melukai orang lain?" Arthur menunjukan jari telunjuknya yang berdarah.
"Darah!" Killian bergegas membungkus jari telunjuk Arthur dengan kedua telapak tangannya, kemudian berusaha melakukan sesuatu. "Kenapa tidak berhasil? Aku baca di buku, siapapun yang punya gen Ras Elf bisa menyembuhkan!"
Arthur tersenyum simpul, "Itu karena kamu belum mempelajarinya."
Killian terdiam. Lagi-lagi menatap Arthur lama. "Arthur ingin aku masuk sekolah sihir?"
"Benar! Supaya kamu bisa menyembuhkan dan melindungi siapapun!"
"Lalu Arthur bagaimana?"
"Aku juga akan berusaha supaya bisa melindungi diriku sendiri. Aku akan belajar pedang, atau mungkin bela diri."
Killian membuang nafas pelan. Arthur bisa menebak, Killian kesal karena keinginan Arthur tidak sesuai keinginan Killian, meski begitu Killian pasti akan menuruti apa yang Arthur katakan.
"Baiklah, Killian mengerti."
"Oh iya Arthur, anak yang di kota tadi, dia siapa? Dia kuat!"
Arthur mengelap darah di jari telunjuknya dengan sapu tangan yang selalu dibawa Arthur kapanpun dimanapun. "Dia pencuri."
"Saat di toko kue, dia mencuri sapu tangan ini." Arthur menunjukan sapu tangan miliknya. "Ini sapu tangan yang dirajut Tina, tentu saja aku tidak mau menghilangkannya. Tina sudah aku anggap seperti kakak, jadi aku akan menyimpan dengan baik semua barang pemberiannya." Jelas Arthur yang tentu saja berbohong.
__ADS_1
"Ohh.. Kalau begitu, beruntung tadi Killian datang 'kan? Killian menyelamatkan Arthur! Harusnya tadi kita bawa dia juga ke istana supaya di hukum!"
Arthur mengelus kepala Killian lembut, sembari tersenyum penuh makna. "Iya benar. Terimakasih Killian, terimakasih karena sudah menyelamatkanku."
Killian membeku karena perlakuan Arthur. Ia berbalik cepat, memunggungi Arthur.
Arthur sempat heran, tapi saat matanya melihat telinga Killian yang memerah Arthur tersenyum gemas.
•••
Malam telah tiba.
Seperti malam sebelumnya, sebelum tidur, Killian membawa buku dongeng ke kasur, memberikannya pada Arthur. Meminta Arthur membacakan buku dongeng untuknya.
Arthur menatap judul buku dongeng yang diberikan Killian, "Hansel dan Gretel.."
Killian bergegas mengambil posisi nyaman disamping Arthur. Setelah beberapa saat, Arthur mulai membaca buku dongeng tersebut.
Waktu berlalu hingga terdengar dengkuran kecil, Arthur menghentikan kegiatannya.
Killian sudah tidur.
Arthur meletakan buku dongeng di meja kecil sebelah tempat tidur, kemudian bergabung dengan Killian menuju dunia mimpi.
Kesunyian tercipta cukup lama didalam kamar. Sampai akhirnya dua kelopak mata Killian terbuka, ia bangkit. Tangan kecilnya menggoyang ke kanan dan kiri, di depan wajah Arthur.
Yakin Arthur sudah terlelap, Killian turun dari kasur. Berjalan pelan menuju meja belajar Arthur. Kemudian mencari sebuah kertas yang dilipat.
Sebenarnya, ketika Killian masuk ke kamar sore tadi, Killian melihat apa yang Arthur gambar. Kemampuan mata merah Killian yang membuatnya tidak sengaja melihat dengan jelas gambar milik Arthur.
Awalnya Killian tidak peduli, tapi melihat sikap Arthur yang terlihat ingin menyembunyikannya, Killian jadi ingin memastikan.
Killian menyadarinya, saat Arthur berjalan ke meja belajarnya mengambil selembar kertas sore tadi, Arthur menyembunyikan kertas yang dilipat itu diantara tumpukan buku-bukunya.
Sembari mencari, Killian membaca satu persatu judul buku yang sering dibaca Arthur. Sampai pada tumpukan buku ke-6 Killian menemukan kertas coklat yang dilipat.
Killian bergegas mengambil dan membukanya.
Sebuah gambar peta.
Di gambar itu tertulis catatan Arthur: Aku akan pergi ke sini!—desa Melvielle.
Killian termenung beberapa saat, kemudian memperhatikan Arthur yang terlelap.
Arthur tidak boleh pergi!
•••
Esok hari, Arthur terbangun dengan keadaan kasur di sebelahnya kosong.
Ini pertama kalinya Killian bangun lebih dulu daripada aku.
Atau mungkin aku yang kesiangan...
Arthur tengah berdiri di depan cermin besar vertikal, menatap pantulan dirinya setelah selesai dibantu memakai baju oleh pelayan.
Oke, aku sudah tampan.
"Tina, Killian dimana?" Arthur mendekati Tina. Walaupun ada banyak pelayan yang membantunya mandi dan merias diri tapi Arthur lebih nyaman bersama Tina.
"Tuan Muda Killian sedang berada di halaman depan, hari ini Tuan Muda Killian ada kelas berlatih sihir."
Aku tidak boleh tertinggal!
"Apakah guru pelatih kelas pedang ku sudah datang?"
"Tuan Franz sudah datang daritadi.. T-tapi Tuan Muda Arthur tidak perlu khawatir! Tuan Franz sedang menikmati teh jadi beliau tidak akan sadar sudah menunggu lama!"
Akh, sial!
Arthur bergegas keluar kamar mendahului Tina, "Tina bawakan pedang yang biasa kupakai untuk berlatih!"
"S-siap Tuan Muda Arthur!"
•••
__ADS_1