
Chapter lima: Festival Panen dan Pertemuan Kembali dengan Dewa.
Riuh canda tawa, alunan musik dan ketukan tapak kaki kuda yang berirama meramaikan jalanan kota di siang hari.
Sorak sorai seruan kagum disertai tepukan tangan terdengar ketika seorang pemuda membungkuk sopan selesai memainkan accordion.
Dibalik keramaian di kota, dua anak laki-laki yang merupakan anak dari raja menghabiskan harinya di sebuah Mansion kecil, membaca buku.
Dua pelayan wanita—bernama Tina dan Sia—yang menjaga mereka, memperhatikan kedua tuan mudanya bergantian.
Arthur Melvielle, tubuhnya yang dulu buncit sekarang sudah mulai terbentuk. Tangan kecilnya memegang buku etiket yang dibaca bersama Killian.
Killian Tierney, lemak di tubuhnya yang dulu banyak menggumpal kini sudah mulai berkurang, garis wajahnya yang tegas pun sudah mulai terlihat.
Keduanya tengah duduk di atas karpet lebar berbulu yang terletak di tengah ruang kamar.
Killian yang duduk di depan Arthur ikut membaca buku etiket, menyenderkan punggungnya pada dada Arthur, merasa bosan membaca buku tanpa gambar.
"Sebenarnya aku senang melihat pemandangan Tuan Muda Killian dan Tuan Muda Arthur yang damai seperti ini... Tapi ingin rasanya aku membawa mereka pergi ke kota melihat festival panen hari ini." Ucap Tina lirih.
"Kau benar. Apalagi festival panen ini hanya terjadi 3 tahun sekali.."
Arthur melirik dua pelayan tersebut dari ekor matanya. Kepalanya kemudian mendongak, menatap hamparan langit biru di luar jendela.
Seperti yang dikatakan kedua pelayan itu, festival panen terjadi 3 tahun sekali. Tiga tahun telah berlalu semenjak kejadian Arthur bisa melihat masa depan.
Selama 3 tahun itu Arthur mempelajari perhitungan tahun di dunia ini sama seperti bumi. Tahun Solunar, satu tahun sama dengan 12 bulan.
Festival panen biasanya diselenggarakan setiap awal musim semi, bulan Tupa—pertengahan maret di bumi.
Musim dengan mudah berubah, tapi masa depan yang ku lihat tak berubah.
Jujur saja Arthur merasa gundah.
Setelah Emma melahirkan, Emma koma. Lalu Shandechz memindahkan Arthur dan Killian ke Mansion kecil yang berlokasi cukup jauh dari Istana Utama—tempat Arthur dan Killian berada sebelumnya. Tak lupa meminta dua anaknya belajar etiket kerajaan dan belajar melindungi diri sendiri.
Arthur menduga Shandechz memindahkan dirinya dan Killian dari Istana utama supaya tidak bersedih melihat Emma setiap hari terbaring di kasur.
Pernah suatu waktu Arthur mencoba melihat masa depan lagi melalui keningnya yang bersentuhan dengan kening Killian. Beruntung Arthur hanya sakit demam selama 3 hari. Tapi sayangnya Arthur harus menelan kecewa karena masa depan yang dilihatnya tidak berubah.
Arthur meregangkan tubuhnya, "Kill, menyingkir dong, badanku pegal dijadikan sandaran."
Killian pindah posisi menghadap Arthur, menatap Arthur penuh harap. Berharap Arthur mau main atau membacakan buku dongeng untuknya.
Meski tahu keinginan Killian, Arthur tak mengacuhkannya. Ia mengubah posisinya menjadi tengkurap, masih setia dengan memegang kemudian membaca buku etiket.
Kalau bukan karena aku malas ikut kelas etiket, aku tidak akan betah membaca buku etiket ini.
Padahal aku masih anak-anak yang belum genap 6 tahun, tapi sudah di bebankan belajar etiket, huft.
Walaupun begitu, semua keluhan itu hanya bisa Arthur ucapkan dalam hati.
Arthur melirik sekilas Killian yang masih menatapnya.
Killian sebetulnya bisa saja ikut kelas etiket hari ini, karena pengajarnya lebih memperhatikan Killian daripada Arthur. Tapi Killian lebih memilih masuk kelas jika Arthur juga masuk.
"Hahh..." Arthur menghela nafas pelan.
Entah sejak kapan Killian jadi terus menempel padaku.
Arthur berjengit geli ketika sebuah tangan kecil menyentuh punggungnya. Kedua matanya menatap tajam si pelaku.
"Hei."
"Katamu lelah. Para pelayan melakukan ini saat badanku lelah." Tak menghiraukan tatapan kesal—tepatnya menahan geli—Arthur, Killian kembali memijat punggung Arthur.
Anak menyebalkan ini! Masalahnya tanganmu terlalu kecil untuk memijat jadi geli!
Dan perang bantal pun terjadi diantara dua anak laki-laki tersebut.
"Mereka berdua mulai lagi..." Tina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, sudah tak heran lagi melihat Arthur dan Killian yang sering berkelahi.
Tok! Tok! Tok!
Sebuah ketukan disusul pintu ruang kamar yang terbuka menghentikan aksi kedua anak laki-laki itu.
Seorang pelayan pria bernama Aide masuk, membungkukan tubuhnya menghadap Arthur dan Killian. "Selamat siang Tuan Muda Killian, Selamat Siang Tuan Muda Arthur."
Lalu beralih menghadap Tina.
"Tina, Nyonya Kepala Pelayan mintamu membeli ini di kota." Aide memberikan secarik kertas pada Tina.
Tina terlihat gelagapan saat jarinya bersentuhan dengan Aide ketika menerima kertas tersebut.
Oho..
Insting Arthur yang memperhatikan hal itu mengatakan ada benih cinta tumbuh. Senyuman jahil mengembang di wajahnya.
Bugh!
"Akh!"
__ADS_1
Killian memukul belakang kepala Arthur dengan bantal.
"Balasanku yang tadi wlee!"
Bocah sialan.
"Nyonya juga berpesan untuk mengajak Tuan Muda Killian dan Tuan Muda Arthur. Hari ini adalah hari yang cerah, sayang untuk dilewatkan." Aide menunjukan senyum manisnya membuat Tina terdiam sesaat menganggumi senyuman Aide.
"O-oh.. Baiklah, terimakasih."
Aide mengangguk kemudian pamit meninggalkan ruangan.
"Kau enak yaa, bisa melihat festival hari ini di kota." Sia merengut.
"Hei, bagaimana kalau kamu ikut juga? Kau tahu 'kan aku sendirian tidak bisa menjaga dua tuan muda.. Nanti aku akan meminta ijin Nyonya Kepala Dapur."
"Sungguh? Yeay!" Sia berlari kecil menghampiri Arthur dan Killian.
"Tuan Muda Killian, Tuan Muda Arthur ayo kita ke kota!"
•••
"Wuohhh.."
Entah sudah berapa kali Arthur mendengar kata 'wuoh' keluar dari bibir Killian.
Ada banyak stan dan toko-toko unik bergaya klasik. Ditambah potongan kertas warna-warni bercampur kelopak bunga bertebaran setiap kali dogcart yang ditumpangi bangsawan lewat.
Tak memungkiri, suasana festival bergaya klasik memang menakjubkan!
Mereka berempat memutuskan berkeliling membeli keperluan yang diminta Nyonya Kepala Pelayan, sesekali mereka juga berhenti pada salah satu stan untuk melihat-lihat.
Tiba di depan sebuah toko kecil bercat warna-warni dengan banner papan kayu menggantung gambar lumba-lumba, Arthur menarik pelan pakaian Tina. Otomatis Tina serta Sia yang menggandeng Killian ikut berhenti.
"Ada apa Tuan Muda Arthur?"
Arthur menunjuk toko kecil unik tanpa nama tersebut.
Arthur ingat, saat mengikuti kelas etiket minum teh bersama Aide, Aide menyarankan pergi ke toko berciri khas banner papan gambar lumba-lumba. Semua olahan dessert di toko itu enak.
Sebenarnya Arthur sudah menebak kalau toko yang dimaksud Aide adalah milik keluarga Aide, dilihat dari cara Aide yang begitu membanggakan dan sangat mengharapkan Arthur datang.
Tina mengikuti arah tunjuk Arthur.
"Aide bilang dessert di toko itu sangat enak."
"Eh.. Memangnya di toko itu jual dessert? Terlihat seperti toko penjual aksesoris." Tina nampak ragu.
Tidak ingin berlama-lama, Arthur menarik tangan Tina masuk ke toko itu. Sebuah toko unik tanpa nama.
"Selamat datang!"
Seorang wanita paruh baya bercelemek merah menyambut mereka di depan meja kasir.
Tebakan Arthur pun benar. Rupa wanita tersebut mirip Aide, jika ditanya apakah wanita itu Ibu Aide, Arthur akan menjawab pasti 'iya!'.
"Woah, ternyata disini benar jual dessert." Tina berucap lirih malu karena tadi sempat ragu.
"Aromanya sangat harum!" Sia berujar riang. Sedangkan Killian..., tak perlu ditanya. Dibanding Arthur, Killian lebih menyukai dessert, sebab itu fisik Killian lebih berisi daripada Arthur.
"Tina, aku mau cupcake apel ya."
"Siap Tuan Muda Arthur!"
Kala mereka berempat asik memilih dessert yang ingin dibeli, tubuh Arthur tak sengaja menyenggol lengan anak kecil lain.
"Ma—" Belum sempat mengucapkan maaf, seorang anak berjubah putih yang disenggol Arthur berlari keluar toko.
Arthur terdiam saat dirinya sekilas melihat helaian rambut hijau panjang yang terhalang tudung jubah dari anak tersebut.
Jubah putih, rambut hijau...
Tidak mungkin.. Dewa Vita?!
Arthur bergegas mengejar anak tersebut.
"Hei Arthur, kita belum pernah makan puding alpukat 'kan?"
Tak ada sahutan, Killian menoleh mencari keberadaan Arthur. "Huh... Arthur tidak ada." Tepat setelah bergumam, mata merah Killian bercahaya.
•••
"Hosh... Hosh.. Kamu tidak bisa lari lagi. Gang buntu!"
Setelah cukup lama mengejar seorang anak yang Arthur yakini Dewa Vita, mereka berdua akhirnya berhenti pada sebuah gang buntu.
Anak kecil berjubah itu membalikan tubuhnya menghadap Arthur. Tudung jubahnya ia turunkan, menampakan wajah yang tidak asing lagi.
Arthur tersenyum bangga.
Tebakan ku benar!
__ADS_1
"Ternyata memang kamu, Dewa Vita."
Vita dihadapan Arthur sekarang nampak berbeda dari yang sebelumnya Arthur temui. Wujud Vita saat ini ialah anak kecil, memiliki ukuran tubuh tak jauh berbeda dari Arthur.
"Halo Arthur. Bagaimana kabarmu? Apakah kamu sudah menemukan jawaban tentang dirimu?" Vita tersenyum hingga kedua matanya membentuk bulan sabit.
"Tentu saja. Terimakasih, berkatmu setiap hari aku selalu bertanya-tanya kapan bisa menemuimu lagi. Karena masih ada banyak hal yang ingin kutanyakan."
"Haha, aku sudah menduganya. Karena itu aku datang menemuimu dan membawamu kemari. Katakanlah, apa yang membuatmu bertanya-tanya?"
Arthur menegakkan tubuhnya. Mengatur nafasnya yang masih tersengal.
"Ada urusan apa kau menemuiku?"
Terjadi keheningan beberapa detik sebelum gelak tawa keluar dari mulut Vita. "Bwahaha, tidak ku duga pertanyaan pertamamu seperti itu."
Arthur mengedikkan bahu tak peduli. "Anggap saja aku mudah curiga pada siapapun. Sebelumnya kau menemuiku untuk memutar waktu supaya aku tidak mati lagi 'kan?"
Vita tersenyum simpul menyahutinya. "Aku menemuimu untuk memberi tahu, sekeras apapun kamu berusaha mengubah dan memikirkan, masa depan tidak akan berubah."
Raut wajah Arthur berubah sedih, "Kalau begitu tidak ada harapan Mama akan bangun ya?"
Vita berjalan mendekati Arthur. Kedua tangannya memegang pundak Arthur erat. "Siapa bilang tidak ada harapan? Kau saja belum pulang ke kampung halamanmu."
Arthur mengangkat kepalanya. Menatap mata emas Vita yang berkilauan. "Pergilah ke desa Melvielle, temukan tanaman perangkap masa lalu. Lalu mintalah ke Ras Naiad membuat ramuan dari akar tanaman itu."
"Tapi aku tidak mengerti."
Vita diam menunggu Arthur lanjut berbicara.
"Apakah Ras Melvielle yang sekarang ini kebanyakan adalah campuran dari ras lain?"
Vita menatap dalam mata Arthur seakan sedang membaca pikiran Arthur.
"Sepertinya Ayahmu mengatakan kalau Ras Arthan sebenarnya adalah Ras Melvielle, hm."
Arthur mengangguk membenarkan. "Karena itu, bukankah seharusnya Mama baik-baik saja setelah melahirkan anak keturunan Ras Arthan? Tapi setelah melihat keadaan Mama dan berbicara padamu, kurasa tebakan ku benar."
Ayah Ras Melvielle murni, Mama Ras Melvielle campuran.
"Kau benar soal Ras Melvielle yang sekarang lebih banyak ras campuran, sehingga tidak semua Ras Melvielle mempunyai kekuatan sepertimu. Tapi perihal seharusnya Ras Melvielle mampu melahirkan Ras Arthan adalah hal yang berbeda." Ujar Vita menjelaskan.
Akal Vita berpikir cepat mencari kalimat yang pas untuk menjelaskan maksud penjelasannya. "Dari awal, walaupun Ras Arthan adalah Ras Melvielle, mereka tetap berbeda. Bisa dibilang Ras Arthan adalah Ras Melvielle yang berevolusi."
Arthur bergeming. Berbagai macam pertanyaan baru bermunculan di benaknya.
"Kalau begitu... Apa yang harus kulakukan jika tidak bisa mengubah masa depan? Apa yang harus kulakukan supaya bisa menjadi Ras Melvielle yang berevolusi?"
Vita menyunggingkan senyum penuh makna. Mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu kalau saja tidak diinterupsi sebuah teriakan..,
"MENJAUH DARI ARTHUR!"
Teriakan itu menggema seisi gang diikuti sebuah gumpalan sihir air yang melesat cepat begerak kearah Vita.
Namun seakan ada barier yang melindungi tubuh Vita, sihir itu memantul berbalik menyerang ke arah si penyerang.
"Eh.. Sihirnya...?" Si penyerang terkejut karena sihirnya memantul berbalik akan menyerangnya.
"Gawat..." Vita buru-buru membentuk perisai untuk melindungi si penyerang kecil tersebut.
Gumpalan sihir air itu pecah menjadi rintik air kala menyentuh perisai yang Vita ciptakan.
"Killian?" Arthur menghampiri Killian yang terduduk di tanah, nampak sedikit syok.
"Tenang saja, tubuh dia hanya kaget karena dipaksa mengeluarkan sihir. Untuk bisa kemari mencarimu saja dia sudah menggunakan sihir." Vita berujar santai.
Arthur berjongkok membantu Killian berdiri, tapi bukannya menerima bantuan Arthur, Killian justru memeluk Arthur erat.
"Arthur tidak boleh pergi!" Suara Killian bergetar. "Mama sudah tidak bangun lagi, Papa tidak peduli pada Killian lagi. Kalau Arthur juga pergi, Killian sendirian hiks.."
Mata Arthur terasa panas saat mendengar ucapan Killian.
Jadi selama ini dia juga sangat sedih Mama koma.
Arthur mengingat lagi sikap Killian saat melihat Emma terbaring di kasur, ekspresi wajah datar, lalu sikap acuh seolah menganggap Emma hanya sedang tidur seperti biasa.
Kupikir dia tidak mengerti karena masih kecil.., tapi ternyata dia juga merasa kesepian..
"Hueeeeee... Maaf... Aku janji tidak akan pergi tiba-tiba lagi...!" Arthur menangis kencang.
"Huaaaa..." Diikuti tangisan Killian yang juga tak kalah kencang dari Arthur.
"Haish... Dua bocah ini. Aku lupa mereka masih bocah jadi mudah menangis." Vita memijat keningnya, pening.
Setelah cukup lama menangis, Vita menyuruh Arthur kembali menemui pelayannya dan bersenang-senang di kota.
Sebelum pergi meninggalkan Vita, Arthur mendengar sebuah suara di pikirannya.
"Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan meskipun tidak bisa mengubah masa depan dan supaya kau bisa berevolusi adalah berusaha menjadi kuat."
__ADS_1
Dan ketika Arthur berbalik mencari keberadaan Vita, Vita sudah pergi.
•••