
Tobias menatap Devan dengan wajahnya yang pucat dan lebam.
Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Devan bisa mengalahkan puluhan anak buahnya sendirian. Bocah ini lebih dari menakutkan, kemampuan seperti itu, dia tidak pernah melihatnya selama ini di Surabaya.
Tetapi dia masih bisa menahan amarahnya saat ini dan berkata dengan tenang:
"Bro, kamu benar-benar bisa bertarung. Tetapi bisakah kamu mengalahkan pistol? Aku bukannya belum pernah melihat orang yang hebat seperti kamu sebelumnya. Tetapi pada akhirnya, orang itu dihajar habis-habis sampai sekarang dia masih lumpuh."
"Selain itu sekarang sudah jaman apa, hanya bisa berkelahi tidak bisa menakuti orang. Apakah kamu percaya hanya dengan satu telepon aku dapat memasukkanmu ke penjara sekarang?" Dia bersandar dan mengancam.
Tobias dapat menguasai Surabaya, bukan hanya mengandalkan para anak buahnya yang bisa bertarung ini, tetapi memiliki latar belakang resmi adalah kuncinya. Kalau tidak dia sudah lama dihabisi orang.
"Ya?"
Benar saja, mendengar Tobias mengancamnya, Devan tidak bisa menahan untuk mengernyit dan dia berencana membunuhnya.
"Kau biarkan mereka pergi dulu, aku tinggal di sini, mari kita bermain perlahan," katanya.
Devan berencana membiarkan Jessica dan yang lainnya pergi, kemudian menunjukkan kemampuannya dan membunuh Tobias diam-diam menyelesaikan semua masalah ini.
Bagaimanapun, metode kultivasi membunuh orang sulit dideteksi.
Tobias menatapnya, melirik bocah-bocah di luar dan memikirkannya:
"Boleh. Biarkan mereka keluar dulu, aku mau melihat bagaimana kamu bermain denganku malam ini."
Dia telah menyinggung orang yang sangat hebat, jika ditambah lagi dengan bocah-bocah dengan latar belakang yang tidak biasa itu akan sulit dihadapi.
Timothy dan yang lainnya dengan cepat melarikan diri.
__ADS_1
Meskipun Devan telah memukul puluhan orang dan membuat mereka terkejut. Tetapi Tobias memberi tekanan yang lebih besar pada mereka, jika mereka tidak pergi sekarang lalu mereka mau menunggu sampai kapan?
Jessica yang terakhir,dia menatap Devan sebelum pergi. Dia tidak menyangka bahwa pemuda itu akan membawakannya kejutan besar.
"Tidak heran dia sepertinya tidak takut sama sekali. Tapi Tobias tidak menyelesaikannya dengan berkelahi."
Dia tahu bahwa dia hanya menyusahkan Devan saja jika dia di sini, dia hanya bisa menekan kekhawatiran di hatinya dan mengikuti semua orang pergi.
Setelah semua orang pergi, Devan baru benar-benar tenang. Dia sama sekali tidak mengkhawatirkan dirinya melainkan mengkhawatirkan Jessica, karena dia adalah putrinya Bibi Thalia.
Dia tersenyum, bersiap untuk menunjukkan kemampuannya dan membunuh Tobias di tempat.
Tiba-tiba ponsel berbunyi.
Devan mengerutkan kening dan mengeluarkan telepon dari sakunya.
"Riki?"
Setelah Devan memikirkannya, dia memutuskan mengangkat telepon itu. Lagi pula, tidak langsung membunuh juga.
"Hallo, apakah ini Tuan Devan? Aku Riki, aku telah tiba di daerah apartemenmu."
Terdengar suara hormat.
Riki sangat menghormatinya setelah melihat jurus daun terbang Devan. Dia adalah tentara, sangat menghormati orang yang kuat.
"Eh, aku tidak ada di apartemen." Devan malu karena menunda janjinya.
"Oh, Anda di mana? Apakah terjadi sesuatu?" Riki bertanya dengan ragu, jelas dia takut Devan tidak senang karena dia bertanya terlalu banyak.
__ADS_1
"Aku di Daerah Kota Baru, aku ada sedikit masalah." Devan memandangi Tobias yang tenang melihatnya menelepon yang tidak bermaksud menghentikannya.
"Apakah Anda dalam masalah? Bisakah Anda memberitahuku?" Riki bertanya dengan penasaran.
Dia berhenti, jelas dia takut Devan salah paham dan dengan cepat menjelaskan: "Aku takut menunda waktu penyembuhan Tuan Besar. Sejujurnya, meskipun aku hanyalah pengawal Tuan Besar, tetapi di Surabaya jika ada masalah sepele aku masih bisa menyelesaikannya."
"Tidak apa-apa. Hanya saja tadi saat bernyanyi, ada teman yang bermasalah dengan seseorang bernama Tobias," kata Devan.
Riki terkejut berkata, "Tobias?"
"Ya? Apakah kamu mengenalnya?" Kali ini Devan yang terkejut
"Tuan Devan, Anda tunggu di sana, aku akan tiba dalam sepuluh menit." Riki buru-buru berkata, "Anda beri tahu Tobias, suruh dia menunggu, aku akan segera datang."
Devan menutup telepon dan merasa aneh.
Sepertinya RIki mengenal Tobias? Dan juga hubungannya tidak biasa?
Apakah membunuhnya sekarang? Atau menunggu Riki datang?
Tobias mengawasinya menelepon tanpa maksud menghentikannya. Melihat dia menutup telepon, baru dengan sombongnya berkata, "Bagaimana, memanggil bantuan?"
"Kamu teruslah menelepon, aku tidak akan menghentikanmu. panggillah semua orang yang bisa membantumu dan kita lihat siapa yang berani menolongmu di Surabaya ini."
"Yah, temanku berkata bahwa dia tiba dalam sepuluh menit. Sebelum itu, dia menyuruhmu menunggunya." Devan menyampaikan ulang apa yang dikatakan Riki.
Jika Riki dapat menyelesaikan masalah ini juga hal yang bagus. Lagi pula dia baru saja terlahir kembali, masih belum menikmati kehidupan modern. Jika tidak karena terpaksa, lebih baik tidak membunuh, jika membunuh maka masalahnya akan jadi lebih ribet.
"Menyuruhku menunggu?" Tobias mendengar hal yang tidak masuk akal. Dia mengangguk dan berkata: "Oke, aku tunggu. Sepuluh menit, aku hanya menunggu sepuluh menit."
__ADS_1
"Aku ingin lihat, siapa yang tidak takut mati di Surabaya ini berani melawanku."