Reinkarnasi Dewa Naga

Reinkarnasi Dewa Naga
Bab 2 Jessica Evelin


__ADS_3

Saat ini di luar stasiun bus Surabaya, para penumpang di sekitar dengan tatapan terpesona melihat ke suatu tempat.


Sebuah Mercedes-Benz yang mempesona berhenti di sana.


Mobil dengan versi ini saat masa itu dijual dengan harga 12 sampai 14 miliar, termasuk mobil mewah pada saat itu di Surabaya, dan yang terpenting adalah ada dua wanita cantik yang berdiri di depan mobil itu.


Wanita yang lebih tua kelihatan sudah usia tiga puluhan. Dia mengenakan rok hitam dengan kemeja putih, kaus kaki berwarna kulit ditambah dengan sepatu heels, serta dengan riasan yang cantik. BerpakaianĀ seperti pekerja kerah putih elit.


Wanita yang muda masih remaja kelihatan masih usia enam belas atau tujuh belas tahun. Dia tinggi, wajahnya mirip dengan wanita yang tua, tetapi penampilannya lebih menarik, hanya dia terlihat sedikit dingin dan sombong.


Sudah pasti itu Bibi Thalia dan putrinya Jessica Evelin.


Saat ini Jessica sedang mengerutkan keningnya dan melirik pintu keluar stasiun bus.


"Bu, kapan dia akan tiba, bagaimana jika Anda meneleponnya lagi," kata Jessica dengan tidak sabar.


"Kamu ini, baru saja menunggu sepuluh menit sudah tidak sabaran lagi." Bibi Thalia mengerutkan kening tak berdaya.


Anak ini adalah anak teman terbaiknya. Dia disuruh belajar di Surabaya. Dan ini adalah pertama kalinya anak itu berpergian jauh sendirian. Permohonan dari temannya, sudah pasti dia akan melakukan yang terbaik.


Saat ini terdengar perkataan, "Bibi Thalia, maaf Anda menunggu lama."


Seorang pemuda menyapa Ibunya dengan senyum lembut.


Apakah ini Devan?


Jessica melihatnya dengan saksama.


Tidak tinggi, sekitar 170cm, dia menggunakan sepatu kanvas saja hampir sama tingginya dengan Devan.

__ADS_1


Dia tidak terlalu tampan, seperti orang pada umumnya, hanya saja kelihatannya fresh.


Dan yang terpenting dia bisa dengan pasti melihat yang Devan kenakan hanya barang-barang murah tidak bermerek, bahkan baju, celana dan semua yang dikenakan saja harganya sangat murah.Jika sahabatnya yang mengenakan barang bermerek itu juga ada di sini, pasti akan langsung mengejeknya.


Bibi Thalia memandang Devan sambil tersenyum. Dia sangat puas dengan pemuda yang ada di depannya ini serta berinisiatif untuk memperkenalkan:


"Devan, ini putriku Jessica."


"Dia tiga bulan lebih muda darimu, satu sekolah denganmu, ke depannya kamu jaga dia baik-baik ya."


Devan mengangguk dan tertawa. "Tenanglah, Bibi Thalia. Ke depannya aku akan menganggap Jessica sebagai adikku, aku akan melindunginya."


Dia berbalik dan menyaksikan gadis yang pernah disukai, membuatku terluka dan gadis yang dilupakannya.


Jessica!


"Sayangnya, selera Jessica tinggi, bagaimana mungkin bisa menyukai aku saat itu."


Dia menggelengkan kepalanya.


"Aku ingat bahwa dia menyukai orang terkenal di sekolah pada saat itu, Lionel Ramisan, putra wakil walikota Surabaya. Kemudian, keduanya juga bersama-sama masuk ke Universitas Surabaya. Aku terpuruk sangat lama saat itu. Sekarang setelah diingat-ingat saat itu benar-benar konyol."


Dia bukan lagi dia yang lima ratus tahun yang lalu.


Devan berinisiatif mengulurkan tangan. "Halo, nama saya Devan, dari daerah Lakarsantri. Ke depannya kita adalah teman. Jika kamu ada apa-apa bisa mencariku."


"Oke, jangan lupa dengan apa yang kamu katakan."


Meskipun Jessica berkata demikian, sebenarnya dia menertawainya dan sama sekali tidak menganggapnya.

__ADS_1


Ayahnya adalah pejabat tinggi pemerintahan Ibunya memiliki perusahaan dengan aset yang banyak. Dia cantik dan para penggemarnya memiliki kekuasaan di keluarga mereka.


Bibi Thalia berkata sambil tersenyum. "Naiklah ke mobil, kami akan mengantarmu pulang."


"Oke." Devan mengangguk sambil tersenyum.


Setelah masuk ke mobil, mereka pergi menuju ke lokasi apartemen Devan.


"Citraland Apartemen."


Ini adalah apartemen yang baik di Surabaya. Penghijauannya bagus, dekat dengan danau. Pemandangannya sangat indah. Tidak jauh dari sekolah dia, jika berjalan hanya membutuhkan waktu 10 menit. Apartemen dengan tiga kamar satu ruang tamu dan lengkap dengan peralatannya. Bisa dilihat Bibi Thalia juga berusaha keras mencari apartemen ini.


"Terima kasih Bibi Thalia, maaf sudah merepotkan Anda." Devan berterima kasih dengan tulus.


Pada kehidupan sebelumnya Bibi Thalia adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar baik padanya.


Dia adalah partner Ibu Devan. Dia menjalankan perusahaan desain arsitektur dengan aset yang banyak dan merupakan wanita tangguh dengan karier yang sukses.


Saat kehidupan sebelumnya, nilainya saat SMA sangat jelek. Dia dikirim belajar di SMA terbaik di Surabaya oleh ibunya. Bibi Thalia yang menjaganya, membantunya mencari apartemen, menyuruhnya datang ke rumah untuk datang makan bersama, serta juga ingin menjodohkan putrinya dengan dia.


Tidak peduli bagaimana pun keadaan Devan, Bibi Thalia tetap memperlakukannya dengan baik.


"Lihat apa yang kamu katakan, Ibumu mempercayaiku untuk menjagamu. Bibi hanya memiliki seorang putri dan selalu menginginkan seorang putra. Ke depannya, kamu anggap saja rumah Bibimu ini sebagai rumahmu sendiri," kata Bibi Thalia dengan senyuman lembut.


"Ya." Devan mengangguk keras.


Dia kembali pada kehidupan ini juga karena ingin membalas kebaikan Bibi Thalia di masa lalu.


Mereka bertiga berbicara sebentar, lalu Bibi Thalia dan Jessica pergi. Devan duduk di kamarnya dan berpikir tentang kultivasi pada kehidupan ini.

__ADS_1


__ADS_2