
Berada di ruang VVIP yang megah, membuat Devan merasa bahwa dia tampak seperti setetes minyak yang masuk ke dalam air, tidak bisa menyatu dengan mereka.
Meskipun mereka dikelilingi oleh banyak pria dan wanita, tetapi mereka sering bertemu dan sudah saling mengenal. Hanya dia sendiri orang asing yang diabaikan.
Bahkan jika dia bersedia berbicara dengan mereka, tetapi karena buka satu circle jadi bicara pun tidak bisa nyambung.
Devan juga tidak tertarik.
Dia menyendiri di sudut, menuangkan secangkir Hennessy XO, sambil minum sambil berpikir mau tidak untuk membujuk Jessica pergi duluan.
Dia sudah berjanji dengan William untuk mengobatinya malam ini. Dia pikir hanya makan saja merayakan hari ulang tahunnya dan bisa segera berakhir. Tak disangka selain karaoke dilanjutkan karaoke dan sekarang bar, dia tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan di sini.
Semua orang bergiliran bernyanyi, tetapi mikrofon tidak pernah mencapai Devan.
...
Setelah beberapa saat, salah satu wanita cantik di antara mereka mengatakan ingin ke toilet.
Demi menemani pacarnya menghadiri pesta ulang tahun ini hari ini, dia berpakaian sangat dewasa.
Dia mengenakan pakaian klub malam yang sangat seksi, menunjukkan tubuhnya yang putih dan seksi. Meskipun dia baru berusia enam belas atau tujuh belas tahun, tetapi fisiknya berkembang dengan baik ditambah dengan riasan yang cantik dan sepatu heels. Jika tidak melihat dengan teliti sama sekali tidak kelihatan seperti murid SMA, sedikit kekanakan dalam kedewasaan, jalannya juga bergoyang.
Tanpa diduga saat dia keluar dari toilet dan sedang berdandan, pantatnya dia ditepuk dengan keras dari belakang dan dia langsung berteriak.
Teman Jessica yang lainnya kebetulan datang mencarinya, mendengar teriakan itu segera bergegas masuk.
Melihat pria paruh baya yang gemuk menarik rambutnya dan menamparnya dengan keras. Sambil menamparnya sambil berkata, "Dasar kamu wanita murahan, kamu keluar menjual diri malah berpura-pura lugu? Beraninya kamu menamparku?"
Teman Jessica ini memiliki pabrik pakaian dan dia juga terlibat dalam beberapa gangster. Paling suka membuat masalah, dia juga mengenal banyak orang. Tidak ada yang berani menganggunya, tetapi melihat yang seperti ini, bagaimana mungkin bisa menahannya? Menendang pria paruh baya itu dan membuatnya berguling-guling di tanah.
"Sialan, berani menganggu pacarku, kamu pergi mati saja."
__ADS_1
Dan menendang lagi dengan keras membuat pria itu berteriak.
Pria paruh baya yang gemuk itu merangkak setelah dia selesai menendangnya, menunjuk padanya berkata, "Bocah, kau tunggu, sebutkan namamu, lihat saja bagaimana aku membunuhmu."
"Oke, aku tunggu. Namaku Timothy Nicholas, jika kamu hebat silakan bunuhlah aku."
Setelah Timothy membalas dendam pacarnya, merasa sangat senang, dia mengajak pacarnya kembali ke Empress Hall.
Ada teman yang bertanya kepadanya apa yang terjadi. Dia dengan bangga, tetapi berpura-pura santai berkata: "Tidak apa-apa, barusan bertemu pria gemuk menggoda Cindy. Melarikan diri setelah aku tendang beberapa kali."
Cindy adalah pacarnya. Mereka baru jadian, masih mesra-mesranya, mana mungkin membiarkan orang lain menyentuhnya.
"Wihh, kamu hebat banget." Teman di sebelahnya memujinya membuat Timothy tersanjung.
"Lebih baik berhati-hati. Lagi pula ini bukan tempat kita. Jika ada orang yang tersinggung akan sulit untuk ditangani," kata seorang anak yang keluarganya adalah wakil camat dengan cemas.
Mereka pada dasarnya adalah orang Daerah Asemworo dan koneksi mereka berada di Daerah Asemworo. Biasanya sekali telepon masalah apa pun dapat diselesaikan, tetapi Daerah Kota Baru jauh dari daerah perkotaan dan merupakan daerah yang baru dikembangkan. Jika benar-benar terjadi sesuatu, keluarga mereka pun tidak dapat menolongnya.
Dia paling takut memicu masalah semacam ini, apalagi dia adalah seorang gadis. Tidak peduli bagaimana pun dia membalasnya, tetap saja dia yang rugi.
Timothy memegang gelasnya berkata, "Semuanya jangan takut, begitu banyak orang di sini, apa yang kalian takutkan? Lanjutkan bermain."
Setelah mendengarkannya yang lain juga ikut mengangkat gelas mereka. Jessica melihat semua orang tidak ingin pergi, jadi dia berdiri dengan ragu-ragu.
Mereka awalnya pun adalah orang-orang yang tidak takut dengan kekacauan dunia. Sekarang mereka lebih tidak takut lagi.
Devin sedikit mengerutkan keningnya dan dia akhirnya teringat bahwa dia pernah mendengar masalah ini di kehidupan sebelumnya.
Pada saat itu, Timothy bermasalah dengan seseorang yang tidak biasa di Surabaya ini. Dia diberi pelajaran. Aku tidak menyangka bahwa itu terjadi di sini.
Dia berdiri dan berkata, "Jessica, ini sudah sangat larut, Bibi masih menunggu kita di rumah, mari kita pulang saja."
__ADS_1
Setelah mendengarkannya, wajah Yunita berubah. "Apa maksudmu? Ingin membawa Jessica pergi? Tidak mengikuti pesta selanjutnya?"
"Benar, siapa kamu? Kenapa kamu megambil keputusan untuk Jessica?" kata seorang gadis di sampingnya.
Timothy menoleh dan berkata dengan tidak puas. "Bro, kamu membosankan. Kengapa, apakah kamu merasa tidak bahagia berpesta dengan kami di sini?"
"Baiklah, jika kamu tidak senang, kamu bisa pergi dulu. Tetapi, jika Jessica ingin pergi, harus bertanya padanya sendiri."
Semua orang mendengar itu, pandangan mereka terfokus pada Jessica dan Deva juga memandangi Jessica.
Jessica kesal, tetapi harus membuat pilihan. Lagi pula satu sisi adalah orang asing, satu sisi lainnya adalah teman dan sahabatnya dari kecil. Dia mengerutkan kening, tertawa dan berkata, "Jika kalian masih ingin bermain, maka aku akan menemani kalian."
Setelah berbicara, menoleh ke arah Devan dan berkata, "Kamu kembalilah sendiri, bantu aku memberi tahu Ibuku."
Jelas orang asing seperti Devan di dalam hatinya tidak sebanding dengan teman-teman dan sahabatnya.
Yunita menepuk pundaknya, menariknya dan menciumnya. "Ini baru sahabatku yang baik."
Dia memandang Devan dengan pandangan yang menghina. "Jessica sudah mengatakannya, kenapa kamu masih belum pergi?"
Setelah itu seluruh ruang VVIP semua orang tertawa dan memandang remaja yang berdiri sendirian di sana. Seolah-olah menertawakan dia tidak tahu malu.
Meskipun Jessica tidak tega, tetapi dia tahu jika dia menyesalinya sekarang sudah tidak berguna lagi.
Devan berdiri di tempat dan menggelengkan kepalanya.
Sudahlah, karena dia tidak ingin pergi, mengapa aku harus mengkhawatirkannya. Saat dia berencana meninggalkan tempat itu, tiba-tiba merasakan sesuatu, tertawa dalam hatinya berkata:
"Benar-benar apa yang ditakutkan datang juga, sekarang ingin pergi pun tidak bisa pergi."
"Aku ingin melihat bagaimana mereka menyelesaikan masalah ini."
__ADS_1