
Beberapa hari kemudian, hal tentang Rona mulai mereda dan hanya beberapa orang yang masih diam-diam menunggu lelucon.
Pada Jumat siang, Devan sedang memikirkan mau pulang atau tidaknya ke kota asalnya minggu ini? Dia sudah pergi selama setengah bulan, sejak terlahir kembali dia belum melihat Ayahnya dan teman-temannya saat kecil.
Saat ini, teleponnya berdering, telepon dari Zizi yang telah lama tak berjumpa.
"Halo, apa ini Tuan Devan? Malam ini ada pelelangan barang antik, apakah kamu ingin berpartisipasi?" Devan tertegun mendengarnya.
"Ya, pelelangan kali ini sebenarnya adalah pesta prasmanan minuman alkohol. Tujuan utamanya adalah memperluas koneksi. Sebagian besar barang antik yang dilelang juga sedikit misterius, seperti Hope Blue Diamond berlian terkutuk yang terkenal itu." ZIzi berbicara dengan hormat.
"Dan katanya juga akan dilelang senjata ajaib misterius. Aku pikir karena Tuan Devan adalah seorang kultivator dan sepertinya akan tertarik dengan aspek ini."
"Senjata ajaib?" Devan mengerutkan kening.
Apakah 'senjata ajaib' itu pendang ajaib yang dia kenal?
"Benar, aku dengar bahwa senjata ajaib semacam ini memiliki kemampuan menstabilkan rumah, mengatur Feng Shui, untuk menjaga keberuntungan dan menghindari nasib buruk dan bahkan dapat melindungi pemiliknya. Masalah benar atau tidaknya, tentu saja tidak ada yang tahu." Zizi menjelaskan dengan sabar.
"Baik,setelah mendengarkan kamu, aku sangat tertarik," kata Devan.
"Baik, aku akan menjemput Anda malam ini?" Zizi berkata dengan berhati-hati.
"Tidak perlu." Devan menggelengkan kepalanya.
Dia tahu kecantikan Zizi. Jika dia mengendarai mobil mewah lalu berhenti di gerbang sekolah menunggunya, belum sampai besok seluruh sekolah mungkin akan menyebarkan berita bahwa Devan telah berpaling hati!
Dia sudah sangat populer di pesta penyambutan itu, tetapi dia tidak ingin menjadi pusat perhatian semua orang.
"Kau memberitahuku alamatnya, nanti aku akan naik taksi langsung."
__ADS_1
"Baik, jika Anda sudah sampai sebutkan saja namaku." Zizi mengangguk.
Setelah menelepon, Toni yang berada di depannya kebingungan bertanya, "Siapa?"
"Tidak apa, seorang teman mengundangku pergi main malam ini," jawab Devan.
Setelah kelas sore selesai, Devan langsung pergi.
Setelah dia pergi, Windy mencibir, "Jack, jangan sedih untuk wanita itu. Dia lebih suka memilih bocah nakal yang suka berkelahi dan tidak memilihmu. Ini membuktikan bahwa dia buta."
"Aku mendapatkan undangan pesta pelelangan barang antik dari pamanku. Ayo kita pergi bersama."
"Pesta ini adalah pesta besar yang diadakan oleh sebuah perusahaan besar di Surabaya. Jika kekayaan kurang dari 100 miliar tidak akan bisa mendapatkan tiket masuk. Dan katanya barang antik yang sangat misterius dijual di tempat itu, jadi ada baiknya bagi kita pergi belajar."
"Benar, jika bukan karena Pamanku juga berkuasa, tidak mungkin akan meendapatkan tiga undangan. Orang seperti Devan seumur hidupnya mungkin tidak akan pernah menghadiri pesta kelas atas seperti itu."
Jack mengangguk.
...
Pesta ini berada di villa elit di daerah Gunung Welirang, Surabaya. Tempat itu bernama 'Villa Arjuno', jauh di pinggiran kota dan lingkungannya sangat tenang.
Setelah Devan pulang dan mengganti pakaiannya, ia naik taksi ke Villa Arjuno dan melihat banyak mobil mewah terparkir di sana.
BMW dan Audi hanyalah mobil level terendah, Mercedes-Benz dapat dianggap di level tengah. Ada banyak lagi lamborghini, porsche dan mobil mewah lainnya, dia bahkan melihat sebuah mobil Rolls Royce Phantom dengan plat nomor 6 sebanyak 8. Harga mobil ini lebih dari 12 miliar pada tahun 2007 dan hanya ada beberapa mobil yang ada di Surabaya ini.
"Tampaknya ada banyak orang kaya di Surabaya ini," pikirnya.
Setelah dia memyebutkan nama Zizi, kemudian dia disambut dengan hormat.
__ADS_1
Dekorasi di Villa Arjuno sangat mewah, unik dan jelas levelnya sangat tinggi di Surabaya. Melihat sekeliling, aula itu terang benderang, penuh dengan tokoh-tokoh kelas atas yang berpakaian mewah.
Juga banyak anak yang seumuran dengan Devan, diperkirakan mereka diajak orang tuanya untuk belajar. Pada dasarnya semuanya sudah saling mengenal dan mereka sedang berkomunikasi dengan penuh semangat.
Seperti Devan yang datang menggunakan pakaian kasual, dia tampak satu-satunya yang berbeda dan menarik perhatian banyak orang.
Karena pesta ini sistem prasmanan, Devan melihat lelang masih belum dimulai dan Zizi tampaknya masih belum tiba.
Dia ke arah prasmanan dan mengambil piring, mencari makanan sendiri. Saat dia sedang menikmati lobster besar Australia, tiba-tiba terdengar suara dari sampingnya:
"Devan?"
Suara lembut seperti itu sepertinya hanya seseorang.
Devan berbalik melihat Rona yang terkejut dan tidak bisa menahan tawa berkata:
"Kenapa? Kamu bisa datang, aku tidak bisa datang?"
Melihat Devan, Rona teringat kembali kejadian pesta penyambutan itu dan wajahnya memerah. Dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan:
"Aku datang bersama dengan Yunita. Dengar-dengar bahwa barang yang dilelang kali ini sangat menarik dan ada banyak barang lelang ajaib, jadi kami datang untuk melihatnya."
Setelah dia selesai berbicara, dia menatap Devan. "Kakak Devan datang dengan siapa? Apakah juga berencana untuk menawar?"
"Hum, jangankan menawar, jangan-jangan lobster besar Australia ini saja dia tidak mampu membelinya." Jessica dengan cepat berjalan kemari dan menatap Devan dengan waspada.
Melihat gadis yang elegan dan sombong ini.
Devan tertawa dan berkata dengan samar. "Benar, aku memang tidak punya uang untuk berpartisipasi dalam pelelangan, hanya datang untuk makan saja. Belum lagi, makanan di sini sangat enak, apakah kamu ingin mencobanya? "
__ADS_1
"Benarkah?" Rona tertawa dan sepertinya sedikit tergerak.
Melihat Devan dan Rona berbicara dan tertawa, Jessica mendengus dingin dan pandangan peringatannya semakin kuat.