Reinkarnasi Kedunia Sihir Paralel

Reinkarnasi Kedunia Sihir Paralel
Dunia Paralel Beda Dimensi


__ADS_3

Tsurugi yang masih berada di alam mimpi sekarang ini sudah terpisah antara jiwa dan raganya ditempat berbeda. Dia sedang diperlihatkan saat Urumi sedang menaburkan serbuk asam di minumannya.


" Oh, jadi sahatku sendiri lah yang menyebabkan kematianku. Ini semua menjadi masuk akal kenapa dia selalu menolak ajakanku saat aku berhasil dalam suatu hal yang kusenangi. Tapi, tidak kusangka dia akan berbuat seperti itu. Lalu, bagaimana nasibku selanjutnya. Apakah aku akan terbang ke surga atau terpeleset dalamnya jurang neraka? Entahlah, untuk saat ini aku malah seperti sedang bermimpi. Tapi, kurasa akun akan bangun sebentar lagi. Hah, konyol sekali ya. Aku tahu kalau aku sudah mati. Tapi, bagaimana bisa aku merasa kalau aku akan bangun lagi? Apa aku akan menjadi Zombie yang akan membalas dendam pada Urumi atau menjadi hantu gentayangan yang akan menghantui kehidupan Urumi? Hah, itu tidak lucu. Tapi, aku melihat sebuah cahaya yang terang diujung sana. Mungkin itu titik dimana akun akan mengetahui nasibku selanjutnya. " Tsurugi akhirnya berjalan menuju cahaya yang ada di depannya tersebut.


Saat itu juga dia perlahan membuka matanya dan melihat sekitarnya dan bertanya pada dirinya sendiri. " Ini dimana ya? Kenapa aku berada disini. Ini bukan rumah sakit, Surga, atau Neraka. Ini lebih seperti aku hidup kembali dalam dunia yang berbeda. Apa aku akan melihat keluar saja dulu dan mengecek dunia apa yang sekarang aku tinggali. "


Tsurugi bangun dan berjalan menuju ke jendela dan perlahan membuka jendela tersebut.


...[ Kriek ... . ]...


Suara jendela yang sepertinya jarang dibuka itu menjadi bukti kalau Tsurugi hidup.


" Hah? Aku berada dimana sekarang. Ini berbeda sekali dengan keadaan kota Tokyo sebelumnya.


Tsurugi melihat keluar jendela dan menyaksikan sebuah fenomena dimana ada orang yang sedang menjemur pakaiannya dengan menggunakan angin.


" Apakah itu sihir? Sihir angin atau hanya halusinasiku saja. " Tsurugi masih mempertanyakan bahwa itu halusinasi yang dibuat otaknya atau memang dia sudah berada didunia yang berbeda.


Lalu Tsurugi melihat lagi keluar jendela dan ada seorang yang sedang mencoba memadamkan api yang tidak sengaja terpetik dari korek apinya saat menyalakan sebatang tembakau.


Pria itu memadamkan api dengan merapalkan sihir dan kemudian keluarlah air dengan volume ringan membasahi bajunya yang terbakar tadi.


" Kurasa aku tidak lagi sedang bermimpi. " Tsurugi lalu kembali ketempat tidurnya dan memikirkan dirinya yang sekarang telah berpindah ke suatu dunia yang biasanya hanya ada di cerita karangan novel atau anime yang ada di dunianya dulu.


Tsurugi melihat sekitar kamarnya dan menemukan sebuah cermin yang cukup besar untuk satu orang melihat badannya. Sepertinya itu adalah cermin dimana untuk berdandan seorang wanita.


Tsurugi kemudian berjalan kearah cermin tersebut dan melihat dirinya dari bawah sampai atas untuk memastikan bahwa dirinya memang masih benar-benar hidup.


" Baiklah, sepertinya tidak ada perubahan yang begitu berarti pada diriku. Cuma kenapa rambutku berwarna biru seperti ini dan hanya di ujungnya saja. Hah, jadi ini perbedaan dimana diriku yang lain yang berada di dimensi yang berbeda ya. Adu-duh, kepalaku sakit sekali. " Tsurugi merasakan sebuah sakit kepala dan kemudian dia mengingat semua kejadian yang entah bagaimana diterangkan karena Tsurugi memiliki tubuh lain di dunia itu dan bernama Marsha. Semua informasi tentang Marsha melintasi pikiran Tsurugi dengan begitu cepat tapi dia sanggup untuk mengerti semuanya.


Tsurugi yang memegang kepalanya karena sebuah download data yang tertunda dengan kecepatan yang melebihi handphone 5g itu membuatnya pusing.


" Kalau aku memang berpindah ke tubuhku yang lain dimana berada di dimensi yang berbeda ini. Lalu, dimana keberadaan jiwa Marsha yang dulunya menempati tubuh ini? " Dalam hati Tsurugi bertanya-tanya kemana jiwa yang mengisi tubuhnya tersebut berada.


Lalu, sebuah bisikan terdengar di telinganya. " Hei, kau yang merupakan jiwa dari diriku yang lain. Sekarang kau sudah berada di dunia yang berada di dimensi berbeda dari duniamu sebelumnya."


" Hei, siapa kau? Kenapa berbisik di telingaku. Dan kenapa kau tidak menampakkan dirimu? " Tsurugi penasaran dengan suara yang dia dengar.


" Oho, sepertinya kau tidak terlalu tahu dengan apa yang terjadi ya? Baiklah, aku akan menerangkannya padamu. Aku adalah kau dan kau adalah aku. Dan kita menyatu dalam tubuh yang sama. Jadi aku adalah jiwa kamu maksud kan tadi yang sedang kamu cari-cari. Jadi, aku adalah jiwa Marsha yang menempati tubuh tersebut sebelum kita menyatu. Yah, kau bisa lebih mengerti kalau anggap aku adalah sebuah skill yang bersamamu. Yah, itu penjelasan yang kuterima. Jadi, anggap saja seperti itu. Aku juga tidak tahu persis bagaimana ini terjadi. Tapi, karena kau merupakan seorang reinkarnasi dari dimensi yang berbeda. Kau juga membawa energi yang begitu besar pada tubuh ini. Akan aku jelaskan energi apa yang sedang kau miliki saat ini. Yaitu untuk yang pertama adalah energi mana pada tubuh ini meningkat pesat karena jiwamu baru saja masuk kedalamnya. Yah, seperti jiwa kita yang bersatu dan menghasilkan distorsi antara dua dimensi yang menyebabkan energi mana meningkat pesat. Kemudian kau juga membawa energi kehidupan dari kehidupanmu yang sebelumnya. Nama energi tersebut adalah Aether. Energi yang biasanya digunakan untuk penguatan tubuh. Dan dalam jumlah tertentu juga bisa diwujudkan dalam sebuah bentuk dan dan senjata. Tapi, yang paling membuatku kaget adalah kita sekarang memiliki energi magicullas yang merupakan energi sihir para monster. Dan skill kita juga bertambah karena wujud reinkarnasimu. Baiklah, cukup segitu saja. Karena untuk sekarang, kau yang akan menggerakkan tubuh ini. Dan aku akan menjadi pendampingmu saja. Jadi, aku tidak akan terlalu lelah karena lebih seperti ke penonton saja peranku. dan menasehatimu. Karena sekarang aku sudah berubah menjadi skillmu. "


" Hah, penjelasan yang panjang lebar ini membuatku lapar. Hei, aku harus memanggilmu siapa? Karena sekarang aku juga menjadi Marsha dan kau siapa? " Tsurugi bingung harus memanggil Marsha siapa karena dirinya sekarang juga Marsha.


" Hem, benar juga katamu. Itu akan menjadi masalah dilain hari nanti. Baiklah, panggil aku Analitis karena pekerjaanku sekarang adalah menganalisa dan semua yang akan kau butuhkan mengenai sebuah skill atau kemampuan sihir. " Nama yang tercipta dari diri sendiri yang berbicara dengan dirinya sendiri melalui sebuah media yang mereka ciptakan sendiri tanpa ada orang lain yang dapat mencampuri. Nama itu adalah Analitis.


" Baiklah, nona analitis. Bagaimana aku harus menghadapi rasa lapar yang sudah tidak bisa ditahan oleh perut ini karena perundingan ini membuatku merasa terlalu berfikir dan berdampak pada isi perut yang terkuras mencerna makanan dengan cepat. Aku lapar!!! " Marsha memang tidak tahu dia harus kemana bahkan untuk menemukan sebuah makanan. Tapi, ingatan dari Analitis ini memberinya jawaban.

__ADS_1


" Oh, untuk pertanyaan makanan dan sebagainya mungkin kita bisa kebawah untuk makan. Kita sedang berada di penginapan milik Ibu Margaret. Dia merupakan penolongku disaat aku tidak punya tempat tinggal dan dia memberi kita tempat tinggal ini dengan setengah harga. Tapi, kita harus sedikit membantunya disaat dia kerepotan mengurus makanan tamu-tamunya. Yah, aku sebut ini sebagai balas budi karena kita sudah diberi penginapan dengan setengah harga. " Analistis menjelaskan posisi sekarang, mereka berada di penginapan.


Lalu, Marsha berjalan turun dari tangga dan melihat Ibu Margaret yang sedang sibuk mengurusi makanan untuk tamu-tamunya di penginapan tersebut. Lalu, Ibu Margaret melihat Marsha dan memanggilnya.


" Hei, Marsha. Bisa bantu disini sebentar! " Sambil melambaikan tangan dan senyuman yang hangat Margaret memanggil Marsha.


Dengan bingung Marsha cuma menyimpulkan senyum di bibirnya. Dia yang sebenarnya tidak tahu Ibu Margaret adalah sosok yang sangat berjasa untuk Marsha. Dia tidak akan menolak dan membuatnya bersedih.


" Hei Marsha dialah orang yang berjasa di hidup kita. Jadi kau harus bisa berbakti padanya. Eh, kau kenapa? " Tiba-tiba setelah Analitis memperjelasnya. Marsha tiba-tiba menangis dan memeluk Margaret.


" Hei, Misa. Kau tidak apa-apa? Apa kau sakit. Kalau kau sakit, tidak membantu hari ini tidak apa-apa. " Margaret jadi sedikit merasa bersalah karena Marsha tiba-tiba menangis dan memeluknya.


Dengan mengelap air matanya. Marsha tersenyum lagi. " Tidak apa-apa kok. Aku hanya ingin memelukmu. "


Marsha merasakan kalau Margaret mirip seperti ibunya dan dia juga mersakan kalau Margaret ini merupakan sosok yang dianggap oleh Analitis.


" Hem, ternyata dia mengingat ibunya ya. Aku jadi sedikit merasa bersedih juga karena dia telah berpisah dengan ibunya yang ada di dimensi lain. " Analitis yang mengerti kalau ini memang berat bagi Marsha karena dia baru saja berpisah dari orang-orang yang dia sayangi di dimensi yang lain.


Waktu sarapan yang cukup ramai itu sedikit melelahkan tapi, Marsha tidak terasa seperti itu. Karena sebuah kenaikan level ketahanan tubuh dan skillnya membuat dia tidak akan mudah lelah meski melakukan pekerjaan berat.


" Hei, Marsha apa kau lelah? Istirahatlah dulu untuk sarapan. " Margaret yang melihat Marsha lebih berenergi hari ini juga terlihat senang.


" Ah, tidak. Ini sudah hampir selesai kok. " Marsha yang semangat mengelap meja yang dibuat makan oleh tamu penginapan itu malah dilihat oleh Margaret dengan tatapan yang cukup tajam.


" Hei, Marsha. Kau harus sarapan dulu. Kalau tidak kau tidak akan dapat jatah makan siang nanti. " Sosok keibuan Margaret yang dibalut dengan ketegasan itu membuat Marsha semakin terlihat senang. Sebuah senyum simpul terurai diwajah cantik Marsha.


" Hei, Marsha. Sana! Sarapan dulu. Nanti Margaret marah padamu. Sana! Biar aku yang selesaikan pekerjaan disini. " Pegawai itu menyuruh Marsha ke dapur untuk sarapan.


" Hem, baiklah. Tolong ya! Aku tinggal sarapan dulu kalau begitu. " Marsha langsung ke tempat sarapan dan melihat seorang koki yang juga sedang istirahat sarapan.


" Oh hai Marsha. Kau terlihat semangat sekali hari ini. Apa kau akan melakukan petualangan nanti? Hei, ini sarapan untukmu. Makanlah! Jika kurang. Nanti akan kuambilkan lagi. " Koki itu membawakan makanan kepada Marsha.


" Ehehehe, terimakasih Stuard. Akan kumakan ya? "Marsa yang tahu nama koki itu dari Analitis dan dalam benaknya ada sebuah pertanyaan tentang petualangan.


Sambil makan, Marsha bertanya kepada Analitis. " Hei, apa maksudnya dengan petualangan? "


" Oh iya, aku belum memberitahumu kan. Kita adalah seorang petualang. Jadi, pekerjaan kita adalah mengambil quest dari guild dan mengerjakannya." Sebelum Analitis menyelesaikan penjelasannya, Marsha menyela.


" Bukan itu maksudku. Aku paham dengan pekerjaan petualang. Untuk saat ini apa ranking yang kita miliki? " Marsha penasaran sampai mana karirnya sebagai seorang petualang.


" Oh, itu ya. Kita adalah petualang tingkat G. Yah, kita berada di tingkat G. " Analitis menjelaskan sesuatu yang membuatnya kaget.


" Hah? G. Lalu, selama ini kau menjadi petualang yang bagaimana,Kenapa masih di tingkat terendah? " Marsha jengekl dengan Analitis saat menjadi Marsha.


" Ah, baiklah. Akan aku jelaskan perlahan. Karena pada saat itu Marsha tidak sepenuhnya jiwa raganya menjadi satu seperti sekarang. Jadi, dia kesulitan untuk menggunakan sihir. Bahkan dia tidak bisa mengeluarkan sihir elemennya dengan baik. Maka, " Marsha menyela lagi.

__ADS_1


" Cukup, baiklah. Aku mengetahui situasinya sekarang ini. Lalu elemen apa yang dikuasai Marsha? " Dalam pertanyaan ini. Analitis diam sebentar.


" Hem ... untuk sekarang kita bisa menggunakan semua elemen sihir. " Penjelasan itu mengagetkan Marsha.


" Hah? Kenapa kita bisa menggunakan semua elemen sihir? Bukankah setiap orang hanya bisa menggunakan satu atau dua elemen sihir? " Marsha kali ini benar-benar ngecheat seperti dia adalah seorang yang mendapatkan skill hebat di dalam game.


" Iya, itu karena sebuah penjelasan yang mudah karena perbedaan dua dimensi yang kau sebrangi itu bisa membawa suatu yang menakjubkan bila kau pahami lebih lagi. " Penjelasan yang cukup masuk akal dari Analitis.


" Ada benarnya juga. Bahkan, setelah aku mati saja masih bisa hidup disini seperti tidak terjadi apa-apa. " Marsha terlihat seperti bengong karena berdiskusi dengan Analitis.


Stuard yang melihat itu mengingatkannya. " Nanti jadi dingin lo makanannya."


Marsha yang kaget merasa malu sendiri. " Ehehe, maaf Stuard. Aku sedang memikirkan sesuatu. Mungkin aku akan langsung berangkat setelah makan. "


" Oh semangat sekali. Tapi, kurangi ya saat melamunnya itu. Nanti ada lalat yang hinggap di hidungmu nanti. " Sambil memegang hidung Marsha dengan telunjuknya. Stuard meninggalkan bekas panci gosong yang berupa debu hitam yang melekat.


" Hah, apaan ini? Hem, Sekarang aku terlihat seperti badut kan? Puas kamu. " Maesha jengkel dengan perbuatan Stuard.


" Hahaha, jangan gitu lah. Aku kan cuma bercanda. " Stuard lalu keluar dari ruangan makan itu.


Setelah selesai dengan urusan perutnya. Marsha langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian petualang.


" Oh, jadi seperti ini ya rasanya menjadi petualang. Lalu, dimana senjataku? " Marsha mencari-cari pedang atau panah entah apapun itu.


" Ehehe, karena kita sangat lemah pada saat itu. Kita tidak memiliki senjata. Dan kita cuma punya pisau kecil untuk memotong beberapa tanaman obat. " Analitis menunjukkan pisau kecil seperti pisau dapur yang dibuat mengiris bawang.


" Hah? itu kan pisau untuk mengiris bawang. " Sambil memegangi pisau yang menjadi satu-satunya senjatanya.


" Hem, iya memang itu pisau untuk mengiris bawang. Dan ehehe, itu aku minta dulu sama Stuard. " Penjelasan dari Analitis ini membuat Marsha sedikit kecewa.


" Oh iya. Aku ingin mengetahui apa aku bisa menciptakan sesuatu dengan skill ku? Marsha bertanya tentang skillnya.


" Hem, coba kulihat dulu. Ah, sepertinya ada. Yaitu skill penggambaran. Dia bisa mengubah sebuah pandanganmu menjadi suatu benda tertentu dengan media yang pas. Apa mau mencobanya? " Analitis juga penasaran bagaimana skill ini bekerja.


" Baiklah, aku hanya perlu menggambarkannya dalam pikiranku kan? Baiklah, Pedang ya. Hem, pedang seperti apa yang kuinginkan. Hem, pedang dengan ketajaman yang hebat dan daya tempur tinggi. Oh itu saja. " Lalu pisau yang dipegang Marsha menjadi pedang yang sangat hebat.


Pedang dengan tempaan yang hebat. Pedang Exkalibur biru. Pedang dengan elemen air dan es sebagai elemen utamanya.


" Iya, ini adalah pedang yang indah. Pedang ekskalibur biru. Sebuah pedang dengan kekuatan yang hebat. " Saat Marsha memegang pedang itu sebuah energi mengalir kepadanya dan mencocokkan kecocokan pedang itu dengan dirinya. Dan pedang itu menerima Marsha sebagai penggunanya.


" Hem, sepertinya ini skill yang praktis. Tapi, apa ada efeknya ya? Wah, manamu tinggal seperempat karena menggunakan skill ini. Jangan sembarangan lagi menggunakan skill ini. Bahaya nanti kalau kita kahabisan mana. Bagaimanapun mana adalah energi kehidupan manusia. Kita harus melakukan heal agar mana kita segera pulih. " Analitis panik karena menyadari penurunan mana yang drastis.


" Berarti ini adalah pedang yang hebat. Tidak sia-sia aku membayangkannya tadi. " Dengan sedikit kesal Analitis menghujat Marsha.


" Hoe, kalau kau mati bagaimana karena kehabisan mana nanti. Huhuhu, aku juga akan ikut mati bersamamu tahu. Hati-hati menggunakan skill hebat seperti itu." Analitis menasehati Marsha dengan ketat.

__ADS_1


Lalu, mereka keluar dari penginapan menuju ke guild petualang untuk mencari quest.


__ADS_2