
Ditempat yang begitu asing bagi Marsha saat ini. Mereka yang tidak tahu menahun sedang digiring kesuatu tempat oleh kelapa guild entah kemana dengan sihir teleportasi yang kepala guild gunakan.
Marsha yang penasaran dengan keberadaan mereka saat ini pun bertanya kepada kepala guild karena tempat yang mereka injak sekarang sangat begitu kelihatan asing baginya.
" Hem, maaf terlebih dulu tentang pertanyaanku ini. Sekarang kita sedang berada dimana? " Marsha yang bingung dan melihat sekitar pun bertanya kepada kepala guild.
" Benar saja kau bertanya demikian. Jadi, tempat ini adalah sebuah tempat biasa di bumi ini. Tapi, aku melapisi area ini dengan sihir penghalang supaya orang luar tidak bisa masuk sembarangan. Karena disinilah kita akan melakukan ujian kenaikan status padamu dan pada orang yang ingin cepat-cepat dan tidak mengalami sebuah petualangan yang lama seperti seharusnya. Dan levelnya sudah kusesuaikan dengan keinginanmu naik ke level berapa. " Kepala guild menerangkan sembari mengitari lima orang yang akan menguji Marsaha dalam ujian kenaikan status petualang nya kali ini.
" Hah? Memangnya aku meminta naik ke level berapa. Aku kan tidak meminta itu, Dia sendiri yang menentukannya. " Marsha dalam hatinya bingung kenapa jadi dia yang menentukan level berapa nanti yang akan dia terima. Bahkan dia sendiri tidak tahu sedang mengikuti ujian level berapa sekarang ini.
" Baiklah, bagaimana? Ada pertanyaan lagi yang bisa kujawab atau kita mulai saja ujian tersebut. " Kepala guild terus terang saja karena tidak mau terlalu banyak menjawab sebuah pertanyaan yang tidak begitu penting baginya.
Dalam fikiran Marsha. Dia juga tidak mungkin berlama-lama disini karena dia harus melanjutkan menjaga Adipati yang sedang ingin berkeliling kota Tatsuka. Mungkin ada banyak hal penting lain yang harus dia lakukan nanti. Jadi, Marsha juga berfikir ini akan lebih cepat maka lebih baik.
Adipati dan Naria juga ikut ke zona tersebut sebagai saksi nantinya. Karena keinginan kepala guild jadi mereka juga masuk dalam zona ini. Tapi, nanti mereka akan bersama kepala guild dan berada di zona yang berhimpitan dengan zona utama. Disana mereka bisa melihat ujian apa yang akan dilakukan Marsha nantinya.
" Baiklah, demi keamanan Adipati dan anaknya. Saya dan Adipati akan segera ke zona yang ada disana. Yah, itu adalah zona khusus penonton. Dan kami merupakan penonton disini. Jadi, nikmatilah nanti ujianmu dengan kelima orang tersebut. Jangan sungkan pada mereka. Tidak apa-apa kau gunakan kekuatan maksimalmu. Karena belum pernah ada yang mengalahkan mereka. Kami pergi dulu. Dan ujiannya akan dimulai saat kami sudah sampi di zona aman. " Kepala guild mengajak Adipati dan Naria berjalan ke zona aman yang dibatasi oleh dinding pemisah yang transparan.
Kelima orang yang akan dihadapi Marsha merupakan lima orang dengan mana yang berbeda. Dan mereka merupakan orang-orang yang dipilih oleh kepala guild yang katanya merupakan orang-orang yang ahli di setiap elemen sihir yang mereka kuasai.
Marsha melihat mereka dan menyimpulkan sesuatu. " Jadi, mereka memakai topeng menurut jenis elemen yang mereka kuasai ya? Kalau begitu bagaimana jika aku melawan mereka dengan elemen yang menjadi musuh alami dari elemen yang mereka kuasai. Yah, mungkin akan sedikit sulit karena mereka berlima. Jadi, mereka akan saling melindungi satu sama lain. Lalu, bagaimana aku akan menghadapi mereka semua secara bersamaan. Ini memerlukan sebuah analisa yang cukup lihai dan tepat. Jadi, bagaimana Analitis? Apakah kau siap membantuku. "
" Baiklah, akan aku bantu. Karena kita merupakan satu kesatuan yang menjadi satu dalam satu tubuh. Jadi, kita akan bekerja sama dalam menghadapi mereka berlima. " Analitis pun bersiap dengan pertarungan tersebut.
Saat ini kepala guild sudah sampai di zona aman dan memberi aba-aba kepada kelima orang tersebut untuk segera memulai ujian tersebut.
Naria yang terlihat khawatir terhadap Marsha pun menggenggam tangan ayahnya.
" Ayah, apakah Marsha akan baik-baik saja? " Naria terlihat khawatir sekali.
" Hem, tenanglah Naria. Kita tahu kalau Marsha bisa melakukan ini. Jadi, kita percayakan kepada Marsha saja ya! " Adipati menenangkan Naria supaya lebih percaya kepada Marsha.
Sebuah serangan dari si api. Seorang yang paling hebat dalam mengendalikan api. Sebuah tembakan api dari beberapa sudut ditembakkan kearah Marsha dengan cepat.
...[ Drell-drell-drell ... . ]...
Sebuah serangan cepat langsung dengan aliran air yang menyapu seperti tsunami kecil langsung mengarah kepada Marsha.
" Apa sudah berakhir? " Si api bertanya kepada si air.
" Kurasa kita meremehkannya. Dia masih bertahan. " Si air menunjuk kearah Marsha.
Naria yang melihat kalau serangan itu mengenai Marsha pun sedih. " Marsha ... . "
" Tenanglah, sedikit Naria. Lihat Marsha! Dia masih menahan serangan tadi. " Adipati menunjukkan pada Naria kalau tidak perlu ada yang dicemaskan.
__ADS_1
Kepala guild yang melihat pun terkesan." Ternyata dia hebat juga bisa menahan serangan kombinasi dari air dan api. Tapi, kalau kemampuanmu sebatas itu tidak akan cukup untuk mengalahkan mereka. " Sambil mengamati apa yang terjadi. Kepala guild tersenyum.
" Hei, lihat dia sedang menggunakan apa? " Si angin menguruh para penguji untuk melihat Marsha.
" Hah? Dia memakai sebuah energi yang terlihat bukan seperti mana. Lalu, energi apa itu? " Si kegelapan tercengang dengan apa yang digunakan oleh Marsha.
" Hei-hei kalian tidak boleh curang ya! Kalian sudah mengeroyokku. Kalau aku masih main-main maka aku sendiri nanti yang celaka. " Dalam hati Marsha bergumam.
Energi yang dipancarkan oleh Marsha memang bukan mana. Tapi, Aether yang merupakan energi kehidupan yang dia dapatkan dari kehidupan sebelumnya karena melintasi dua dimensi.
Sebuah luapan energi berwarna biru terang itu membuat semua orang bingung dan tidak menyangka apa yang telah terjadi di depan mata mereka. Dalam benak mereka semua berfikir apakah Marsha monster atau bagaimana, tapi itu berbeda dari magicullas yang dimiliki oleh monster sihir. Meski padahak Marsha sendiri memiliki energi magicullas tapi dia tidak mau membuat semua orang kaget disini. Jadi, cukuplah dia memakai Aether saja.
" Baikalah Analitis. Mungkin aku sedikit mengetahui cara memakai kekuatan ini. " Marsha yang sedang berbicara di zona dirinya sendiri.
Keliama orang penguji itu masih tidak melakukan apa-apa. Jadi, mereka berfikir serangan macam apa yang akan dikeluarkan Marsha nantinya. Dengan energi yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya itu membuat waspada pada serangan Marsha.
" Ho, apa kalian menungguku menyerang kalian? Baiklah, akan aku ajak kalian bermain sebentar. " Marsha menarik pedang ekskalibur biru dari zona ruang dan waktunya.
Ketua guild kaget karena Marsha memiliki pedang ekskalibur biru.
" Hem, jadi aku tidak memandang enteng dirinya lagi kali ini. Aku jadi tahu alasan kenapa kalian ingin Marsha segera naik peringkat. Hem, jadi begitu. " Ketua guild membuat Adipati bingung dengan apa yang dikatakannya.
" Dia sedang berbicara apa ya? Aku jadi bingung. " Adipati melihat kearah Ketua guild yang tiba-tiba tersenyum dan tertarik dengan pertarungan ini.
" Hah? Pedang Ekskalibur biru. Jadi, dia memilikinya ya. Bahkan aku sendiri yang telah menguasai elemen air tidak dapat memilikinya karena tidak ada keterikatan dengan pedang ekskalibur biru. " Si air memandang Marsha dengan pandangan yang tajam.
" Entah, kita belum melihat kemampuannya. Dia memang hebat atau hanya sekedar beruntung menemukan pedang tersebut. " Si air kemuadian menghindari serangan Marsha yang di arahkannya.
...[ Slasshh ... wruelll ... . ]...
" Serangan apa tadi. Sebuah ombak yang konsentrasinya sangat hebat dan perpusat ke satu titik. Jika kita tadi tidak menghindar. Maka kita bisa saja terpotong oleh serangannya tadi. " Si air sampai berkeringat dingin saat menghindari serangan dari Marsha yang tadi.
" Ho, kenapa kalian ini? Tadi menyerangku tanpa bertanya kalau aku siap atau belum dan sekarang kalian hanya akan menghindar dan tidak membalas seranganku. " Marsha mencoba memancing mereka untuk melakukan serangan balasan.
Lalu, si api yang tersulut oleh pancingan Marsha mulai kelihatan marah. " Jangan senang dulu kau gadis kecil! Akan kutunjukkan neraka padamu. "
" Ho, dia terpancing ya. Sudah kuduga kalau setiap elemen memiliki kadar emosi yang berbeda. Kalau dilihat dari kadar emosi yang dimiliki, si api lebih mudah emosi karena elemennya adalah api. Sesuai dengan elemen yang mereka sandang sendiri. " Analitis sedang memberi tahu Marsha.
" Hehehe, rencana kita berhasil ternyata. Dan sekarang kita harus bersiap atas serangan yang akan dia lancarkan. Apakah bola api, atau yang lainnya? Tapi, aku sudah siap. " Marsha bersiap dengan memegang pedang yang menyimbolkan dia siap menerima semua serangan yang akan dilancarkan kepadanya nanti.
Setelah semua yang terjadi. Si api emosi dengan meluapkan semua mana apinya. Sebuah tetakan pada tanah yang mereka injak dan keluarlah semua lava dalam tanah tersebut. Dan mengalir kemudian menyembur keatas. Panas yang tercipta dari kekuatan si api ini sangatlah panas sampai menyentuh 500 drajat celcius.
" Hoe, panas tahu. Akan kubuat ini berhenti. " Marsha kemudian menancapkan pedangnya ke tanah dan seketika yang tadi adalah seperti berada di dekat gunung berapi yang sedang erupsi pun menjadi Es dan membeku.
" Apa? Ini diluar nalar. Bagaimana bisa kekuatanku dibekukan semudah itu. " Si api kaget tak terhingga karena efek dari kekuatannya menjadi sirna dan membeku menjadi lautan es.
__ADS_1
" Jadi, dinginkan pikiranmu. " Marsha melihat kearah si api.
" Hah? apa. " Sebelum si api bertindak lebih jauh, dia dihentikan si air.
" Tunggu dulu, dia sedang memancing kita. Jadi, kita harus berhati-hati dengan segala ucapannya. Bagaimanapun kita harus mengalahkannya. Jadi, tetaplah tenang! " Si air lalu mengumpulkan sebuah mana dan membuat air berputar dan mengelilingi mereka. Dia menciptakan naga air.
Lalu, si api membuat sebuah lingkaran sihir api mengitari naga tersebut dan membuat naga air tersebut memiliki tameng yang terbuat dari api. Masih berputar-putar naga air tersebut.
" Baiklah, kalian boleh menambahkannya! " Air melihat kearah tanah dan angin.
" Apa tidak terlalu berlebihan jika kau menggunakan itu? " Si kegelapan mengingatkan.
" Jika kau tidak mau ikutan jangan banyak bicara! " Si air sedikit tidak senang dengan si kegelapan.
Kali ini naga itu memperoleh sebuah tambahan mana dari si air dan si angin.
Sebuah monster yang mengerikan pun tercipta dari penggabungan semua itu.
" Baiklah, kita lakukan dengan cepat. Karena untuk mempertahankan bentuk tersebut cukup memakan banyak mana. " Si air langsung menyerang dengan naga tadi.
Sebuah serangan pertama yaitu tembakan empat elemen dari mulut naga tersebut.
...[ Brell ... . ]...
" Mereka sampai menggunakan naga itu. Dulu saat mereka menggunakan naga itu adalah disaat perlawanan melawan pasukan Raja iblis. Memang benar bukan mereka yang menggunakan. Tapi, itu adalah jurus turun temurun dari leluhur mereka. Aku bahkan baru pertama kali melihat itu. Dan konon katanya itu adalah jurus yang digunakan untuk melawan Raja iblis pada saat dulu. " Kepala guild melihat kasihan terhadap Marsha.
" Lalu, bagaimana dengan Marsha. Apa dia akan baik-baik saja? Hei, hentikan ini! " Adipati mencoba memerintahkan kepala guild untuk menghentikan ujian ini.
" Maaf, aku tidak sanggup menghentikan itu. Walau kau yang memerintahkan. Karena aku sendiri tidak akan sanggup melawan mereka saat ini. Apalagi dengan jurus mereka yang seperti itu. " Kepala guild terlihat tidak punya pilihan.
" Lalu bagaimana dengan Marsha? Dia bisa mati kalau begini terus. " Adipati sangat mencemaskan Marsha.
" Ini tidak akan berhenti jika salah satu dari lawan tidak ada yang menyerah. Jadi, maafkan aku. Aku tidak bisa ikut campur lebih jauh dalam pertarungan ini. " Kepala guild sendiri tidak bisa masuk begitu saja keadalam zona tersebut.
Saat Marsha diserang oleh semburan naga tersebut. Dia tidak menghindar. Lalu, dari sekeliling Marsha juga sebuah air mengitarinya dan menepis semburan naga tersebut.
Pusaran air yang mengelilingi Marsha kemudiab berputar dan menjadi besar seperti seekor ular dan mengeras menjadi es dengan sayap yang menyemburkan api dan elemen tanah sebagai cakarnya, dan kemudian sebuah hembusan dari sayap naga buatan Marsha itu pun menghembuskan angin panas yang membakar semua.
Kelima penguji itu kaget karena Marsha baru saja menciptakan monster yang lebih kuat dari naga yang mereka ciptakan.
" Bagaimana ini? Dia bahkan bisa menggunakan jurus yang sudah kita latih selama bertahun-tahun ini. Dan itu terlihat lebih kuat dari naga kita. " Si angin bingung dengan apa yang sedang terjadi didepan matanya.
" Sungguh mengejutkan karena dia bisa menciptakan hal yang mirip dengan naga kita. Tapi, apakah dia bisa menahan serangan kita nanti. " Si air membuat bentuk naga itu menjadi mode menyerang dengan sebuah pola serangan yang memadukan empat elemen sihir menjadi satu, berputarnya semua elemen sihir yang berporos di elemen sihir air itu perlahan naik ke atas dan turun dengan cepat ke arah Marsha.
Marsha yang tidak tinggal diam membuat naganya menyemburkan semua elemen dalam satu serangan dan mematahkan serangan para penguji tersebut.
__ADS_1
... [ Bruell ... . ]...
Sebuah hentaman empat elemen dan semburan naga Marsha yang juga merupakan perpaduan empat elemen tersebut membuat sebuah distorsi yang menggelegar dan memancarkan percikan yang dahsyat sampai menyilaukan mata dan tidak disangka oleh semua orang kalau naga Marsha berhasil membalik keadaan dengan lebih kuatnya tekanan mana yang dipancarkannya sampai menembus langit-langit yang menjadi penghalang dan membuat pecahnya penghalang yang kokoh tersebut.