
Hari masih siang saat ini dan terik matahari masih tinggi. Diamana sebuah kereta yang didalamnya membawa keluarga dari adipati kerajaan Crenanga sedang melintasi kota tatsuka. Bukan tanpa sebuah pengawalan atau penjaga. Tapi, dalam sebuah insiden yang tidak terduga, mereka dihadang oleh penjarah yang memang merencanakannya sejak adanya sebuah kunjungan adipati ini ke kota Tatsuka.
Segerombol bandit yang mengatas namakan keadilan ini berani menjarah kereta keluarga Adipati yang melintas.
" Bagaimana ini ayah? Mereka ada banyak sekali. Apakah pengawal kita bisa mengimnangi mereka. Ini gawat sekali kalau nanti terjadi sesuatu yang berbahaya. " Anak perempuan dari Adipati itu yang masih kecil ketakutan dan memeluk ayahnya.
Sementara itu diluar kereta dengan keadaan yang cukup genting karena para penjaga tersebut dikepung oleh para bandit yang sedang menjarah mereka.
Sebuah serangan dari seorang bandit mengenai kaki salah satu pengawal tersebut. Dan ternyata mereka juga membawa pemanah yang berada di suatu pohon-pohon di pinggir jalan yang Adipati lintasi.
" Ah ... Aku terkena serangan. Kita jangan menyerah, kalau kita sampai kalah dari mereka maka nyawa Adipati dan keluarganya akan dalam bahaya. " Ternyata yang terkena anak panah pada kakinya tadi adalah komandan yang memimpin pengawalan tersebut.
Bukan dari segi pertarungan mereka bisa mengimbangi para bandit tersebut. Tapi, sebuah kerjasama tim bandit ini sangat lihai dan seperti sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari untuk menunggu momen dimana mereka bisa melakukan aksi mereka.
Satu dari pengawal itu harus bisa bertahan dari lima bandit yang menyerang bersamaan. Jelas jumlah yang bisa dikatakan sebagai kemenangan para bandit.
Di atas pohon yang cukup tinggi. Marsha yang melihat kejadian itu langsung berasumsi bahwa para penjaga itu akan kalah. Karena mereka akan kelelahan menghadapi banyaknya bandit yang mengepung mereka.
" Menurutmu, apa yang harus kita lakukan? " Marsha bertanya kepada Analitis.
" Cukup rumit keadaannya ya. Tapi, dari yang kutahu kalau mereka adalah rombongan Adipati yang berkunjung ke kota Tatsuka pada hari ini. Aneh jika pengawalan nya tidak memadai. Itu pasti adalah prajurit yang sudah terlatih. Jadi, bisa disimpulkan kalau para bandit itu memiliki kemampuan yang cukup hebat. Dari kelihatan mereka melawan para penjaga-penjaga tersebut pun bisa kita ketahui bahwa mereka tidak melakukan serangan gegabah. " Analitis menerangkan keadan dari sudut pandang sebuah sistem analisa.
" Ah, bukan itu yang aku maksudkan. Tapi, apakah ada keuntungannya buat kita nanti kalau bisa menolong gerombolan tersebut. " Jelas Marsha yang ingin mengedapankan sebuah profit dari hal yang akan mereka perbuat.
" Hah? Kau berubah jadi seorang pengarang cerita menjadi sesosok manusia yang melihat semua dari sudut pandang keuntungan yang didapat. Yah, lagian tidak salah juga sih. " Analitis sedikit menyesal karena menerangkan sesuatu yang bukan menjadi maksud dari Marsha.
" Ehehehe, kau tahu sendiri kan. Kalau semua dihitung dan dianalisa supaya kita tidak masuk dalam jurang yang kita gali sendiri. Dan dalam dunia manapun tidak ada manusia yang tidak memikirkan dirinya sendiri. Terkadang mereka akan bersikap baik saat mereka benar-benar butuh kepada kita. Dan yang lainnya adalah orang-orang yang tidak akan mau menaruh kepercayaan pada kita setelah apa yang kita perbuat. Singkatnya lebih baik aku memakai konsep iblis yang selalu meminta timbal balik yang sepadan dari apa yang mereka minta atau butuhkan dariku. Yah, memang terdengar sedikit sadis. Tapi, kita juga tidak boleh menjadi terlalu baik dalam hal semacam itu. Kita memandang semua jadi sebuah bisnis saja. Karena jika kita terlalu tidak enakan nanti yang kita dapat adalah sebuah rasa kecewa dan penghianatan. " Marsha yang kini menjadi seroang motivator. Sebenarnya pekerjaannya apa pun itu. Dia lebih suka menjadi dirinya sendiri untuk sekarang ini.
" Baiklah, dan semenjak kau terlalu banyak bicara seperti itu. Para penajaga itu akan dia bantai semua oleh bandit-bandit disana. " Analitis mencoba mengingatkan situasi yang semakin genting.
" Ehehe, lagian memang sekarang waktunya kita mengambil alih alur ceritanya. Jangan biarkan mereka menajadi pencerita disaat aku ingin masuk kedalam cerita itu. Kita perlihatkan pada para bandit itu siapa sebenarnya yang merupakan pencerita handal disini. " Marsha langsung menuju tempat kejadian perkara.
Disaat penjaga terakhir yang masih melindungi kereta itu tumbang.
" Ah ... Kalian tidak akan bisa lolos semudah itu setelah berurusan dengan keluarga Adipati. " Setelah mengucapkan kalimat ancaman tersebut, penjaga itu jatuh tersungkur ke tanah.
Terkadang sesuatu kata yang dilontarkan harus melihat seberapa besar hal yang dapat ditimbulkan dari kata-kata tersebut jika kau berada diposisi yang pantas untuk mengucapkannya, atau itu hanya dianggap omong kosong belaka.
" Omong kosong macam apa yang kau katakan. Kau berada di posisi yang tidak mungkin untuk mengucapkan hal tersebut, tapi kau masih menggertak kami dengan kata-kata konyol seperti itu. " Seorang bandit yang melangkahi tubuh penjaga yang sudah tidak berdaya itu akhirnya sampai di depan pintu kereta dan memegang gagang pintu dari kereta tersebut.
Keadaan didalam kereta. Keluarga Adipati yang sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada mereka. Sebuah pelukan ayah pada anaknya yang masih berumur dua belas tahun itu seperti sebuah ucapan selamat tinggal dan memikirkan sebuah hal terburuk yang akan terjadi.
" Baiklah, Naria. Kau tidak perlu takut ya! Ayah akan melindungimu meski nyawa ayah mejadi pertaruhannya. " Adipati tersebut memeluk putrinya dengan erat. Sampai, sebuah kekacauan terjadi diluar kereta.
" Ayah, lihat ada orang yang datang! " Naria memberitahu Adipati kalau ada orang yang sedang menghadang para bandit.
" Hah? Siapa dia. Lalu, apa yang dia bisa lakukan seorang diri. Bukankah para penjaga yang kita bawa adalah beberapa orang yang memang ahli dibidangnya. Mereka saja kalah. Lalu, apa yang akan dilakukan gadis tersebut untuk melawan para bandit tersebut. " Adipati melihat dari jendela kecil yang ada di kereta kuda tersebut.
__ADS_1
Diluar terlihat Marsha yang telah memotong lenngan dari seorang bandit tadi yang memegang gagang pintu kereta.
" Oh, hei. Maaf aku tidak suka basa-basi. Karena sesuatu yang basi tidak akan enak untuk dinikmati nantinya, ehehe. " Marsha yang melihat kearah bandit yang telah terpotong lengannya dengan pandangan yang cukup kejam.
" Siapa dia. Kehadirannya tidak terdeteksi oleh sihir deteksiku. Sihir deteksiku mampu untuk tahu siapa yang menerobos zona tersebut. Tapi, dia berhasil melewatinya tanpa ketahuan olehku. " Seorang ahli sihir yang berada di tempat tersebut kaget karena kehadiran Marsha.
" Ah ... segera akhiri ini. Dan tangkap dia dalam keadaan hidup atau mati! " Orang yang telah terpotong lengannya tersebut merasa kalau ini sudah berada di puncak keberhasilan sampai Marsha mengacaukan segalanya saat dia muncul.
" Eh, diamana dia? Dia pergi kemana. Cepat cari keberadaannya! " Seorang Bos bandit yang yang berada disebelah sisi cukup jaga jarak dari kereta itu memerintahkan anak buahnya menangkap Marsha yang tiba-tiba menghilang.
Tiba-tiba Marsha sudah berada di belakang seorang ahli sihir yang memasang zona sihir disekitar area tersebut.
" Hei, jadi kau si tukang sihir yang telah memasang Zona tersebut ya? " Kehadiran Marsha yang tiba-tiba membuat kaget ahli sihir tersebut.
" Kenapa kau bisa dengan mudah mengelabuhi kekuatanku. Itu tidak mungkin. " Ahli sihir itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.
" Ehehe, kesimpulan yang mudah kan. Berarti sihirmu masih belum ada apa-apa nya. Sihirmu sudah kalah dari penghalang sihir yang kubuat. Coba lihat diatas sana! " Marsha menunjuk keatas dan memberitahu ahli sihir tersebut.
" Hah, apa itu? Sebuah penutup sihir yang melapisi zona sihir ku. Itu tidak mungkin. Itu hanya bisa dibuat oleh ahli sihir yang lebih hebat dariku. " Ahli sihir itu terlihat frustasi dengan apa yang terjadi.
Dalam sekejap, Ahli sihir tersebut sudah tertusuk oleh Marsha.
" Hei, kau terlalu banyak celah. Jadi, perbaiki lagi kemampuanmu itu untuk menghadapi hal semacam ini ya! " Marsha langsung pergi keatas pohon dimana banyak pemanah disana dan dari semua pemanah tersebut sudah banyak yang berjatuhan dari atas pohon seperti sebuah buah yang tertiup angin tenang di siang hari.
...[ Bok ... bok-bok-bok. ]...
Para pemanah itu langsung berjatuahan.
Dari dalam kereta. Naria yang melihat itu kagum dengan aksi Marsha.
" Lihat ayah! Dia hebat sekali karena sudah mengalahkan setengah dari para bandit tersebut. " Naria memperlihatkan hal yang menjadi sangat menarik itu baginya.
" Siapa sebenarnya gadis itu? Tidak mungkin dia orang biasa yang bisa menakhlukan para bandit seorang diri. " Adipati itu kaget dengan pencapaian Marsha dalam waktu yang sangat singkat tersebut sudah mengalahkan sebagian besar kelompok bandit.
Lalu, Marsha yang muncul langsung didepan Bos bandit dengan pandangan yang cukup kosong. Marsha melesat dan menaruh ujung pedangnya pada leher Bos bandit tersebut.
" Sebenarnya siapa kau ini? Aku tidak pernah mendengar seorang prajurit yang hebat berada di pihak Kerajaan. " Bos bandit itu masih kaget karena dengan mudahnya sekarang nyawanya berada diujung tanduk dari kematian.
" Oh, aku hanya seorang petualang biasa yang tidak sengaja lewat sini tadi. Jadi, yah mau bagaimana lagi kalau aku ingin menolong orang-orang di dalam kereta tersebut.
Sebuah tusukan pelumpuh pada kedua kaki bos bandit tersebut telah membuat Bos bandit tersebut sangat lemah sekarang. Sungguh pengerjaan yang sangat menghemat waktu bagi Marsha.
Setelah semua selesai. Adipati dan anaknya yang didalama kereta keluar dan menghampiri Marsha.
" Apa sudah aman? " Ucap Naria kepada Marsha.
" Tenang saja. Mereka semua sudah tidak akan menyerang kita lagi. Baiklah, sekarang waktunya beres-beres. " Masrsha lalu pergi ke para penjaga yang terluka dan memberinya obat yang dia ambil dari sihir ruangnya.
__ADS_1
Adipati penasaran dengan apa yang dikeluarkan Marsha. " Apa itu? "
" Oh, ini hanya obat berbentuk posion yang menyembuhkan luka mereka. Ini akan berefek setelah lima menit nanti. Jadi, mereka bisa membawa bala bantuan untuk menangkap bandit-bandit ini. " Marsha memberikan pada pengawal itu untuk segera diminum.
" Maksudmu dengan menangkap para bandit bagaimana? Bukankah mereka terlihat sudah sekarat sekarang? " Adipati kebingungan dengan kata-kata Marsha.
" Hem, bagaimana ya menerangkannya. Aku tidak mau nanti ini jadi tempat yang angker karena telah menjadi tempat pembantaian seperti ini. Jadi, aku akan menyembuhkan mereka semua dengan posion yang kubawa. Jadi, mereka bisa ditangkap nanti. Oh, jangan khawatir karena aku akan mengikat semuanya terlebih dahulu. " Lalu, Marsha membuat sebuah sihir yang bisa mengikat mereka secara keseluruhan dan memberikan posion kepada mereka.
" Hah, ini sungguh hal yang membingungkan. Tapi, kau membuat sebuah promosi yang nekat sampai segininya. " Analitis tahu sebenarnya ini adalah ajang promosi posionnya kepada Adipati.
" Ehehe, keren kan caraku melakukan promosinya. " Dalam hati Marsha nyengir.
" Apa? Mereka bisa sembuh dengan sesingkat ini hanya karena meminum obat tersebut. " Adipati kaget dan hampir tidak percaya. Bahkan luka yang begitu fatal pun bisa disembuhkan.
" Aha, dia mulai melihat khasiat dari posion yang kubawa. Sebentar lagi pertanyaan yang kutunggu-tunggu akan segera kudengar. " Marsha sudah memprediksi apa yang akan terjadi.
" Apa, apakah itu bukankah obat yang mahal. Kenapa kau mau menggunakannya untuk mereka semua? " Adipati bertanya sesuai rencana Marsha.
" Oh, ini ya? Tidak apa-apa. Lagian aku juga menjual obat serupa di kota ini. Jadi, bagiku berbagi sedikit untuk hal seperti ini tidak masalah bagiku. " Marsha mulai pegang kendali dalam promosi ini.
" Maksudmu obat, atau posion yang kau katakan itu dijual di kota ini? Dan kau menjualnya. " Adipati kaget dengan apa yang didengarnya.
" Tentu saja. Yah, memang bukan aku sendiri yang menjualnya sih. Aku meminta bantuan untuk menjualkannya. Jadi, aku hanya bisa membuatnya saja. " Marsha mulai tahap ******* pada promosi kali ini.
" Baiklah, nanti aku ingin kesana dan maukah kau mengantarkanku ke tempat penjualannya tersebut! " Adipati sudah terkena promosi Marsha.
" Baiklah, tentu saja. " Promosi sudah melangkah ke tahap akhir dan sukses.
Lalu, para penjaga meminta bantuan untuk menangkap semua bandit yang sudah tidak bisa lari lagi setelah diikat oleh Marsha.
" Bagaimana kalau kau menjadi pengawalku dan anakku selama di aku berkunjung di kota ini? " Adipati meminta supaya Marsha bisa menjadi pengawalnya.
" Hem, bagaimana ya? Aku sih agak sibuk. Tapi, kalau sebentar saja tidak apalah. " Marsha sok-sok an sibuk, padahal dia tidak memiliki kesibukan yang berarti.
" Baiklah, mohon bantuannya. Dan untuk kalian semua. Tolong serahkan tugas penjagaan ini pada gadis ini. Dan tolong kalian segera bantu regu yang membawa para bandit ini nantinya. " Adipati memerintahkan para penjaga untuk membantu membawa para bandit dan tugas penjagaan sekarang di serahkan kepada Marsha.
" Tapi Tuan, apa tidak apa-apa kalau menyerahkan itu pada orang yang baru kita temui? " Salah seorang penjaga itu ada benarnya juga.
Tapi, kalau sekarang Marsha tidak mendapatkan tugas penjagaan ini. Maka, promosinya yang tadi akanlah sia-sia. Lalu, dia langsung tanggap dengan apa yang terjadi.
" Baiklah, kalau Adipati tidak bisa tidak apa-apa. " Marsha mencoba memancing sebuah keputusan yang harus diambil Adipati.
" Hei, apa kau tidak lihat berapa baiknya dia yang telah membantu kita dalam meringkus para bandit tersebut. Dan kalian sendiri juga sudah disembuhkan. Lalu, aku akan mempercayakan keamananku padanya. Dan akan kutanggung sendiri nanti akibat yang akan terjadi kedepannya. " Adipati sudah memutuskan.
" Baiklah Tuan, jika itu keinginan anda. " Penjaga itu pamit undur diri untuk membantu membawa para bandit.
" Hei, kakak cantik. Siapa namamu? Namaku Naria, bisa aku tahu siapa namamu. " Putri Adipati itu bertanya kepada Marsha.
__ADS_1
" Oh, namaku adalah Marsha. Senang bisa berkenalan denganmu. " Dengan sebuah senyuman. Marsha menjabat tangan Naria.
Lalu, mereka melanjudkan perjalanan untuk berkunjung ke kota Tatsuka.