Reinkarnasi Kedunia Sihir Paralel

Reinkarnasi Kedunia Sihir Paralel
Rencana Yang bagaimanakah Itu


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, matahari yang bersinar seperti seharusnya. Dan Marsha yang kini telah berjalan ke guild petualang untuk mencari quest dihari ini.


" Hem, Keadaan kota ini terlihat seperti kota seharusnya yang ramai. " Marsha yang berjalan di kota saat padat aktifitas.


" Oh iya. Aku belum memberi tahu tentang kota ini padamu ya? Ini adalah kota Tatsuka di Kerajaan Crenanga. Ini adalah kota yang cukup damai dengan aktifitas dari para penduduknya. " Analitis seperti seorang pemandu bagi Marsha.


" Baiklah, kau bisa langsung memberitahuku tentang guild. Hem, dimana tempat guild tersebut? " Marsha ingin cepat samapai ke guild.


" Baiklah nona tidak sabaran. Aku akan menggambarkannya di pikiranmu dan kau bisa mencarinya nanti." Setelah Analitis menggambarkan sekilas tentang guild yang mereka tuju. Marsha pun mengikuti arahan dari penggambaran analitis itu.


Marsha berhenti di sebuah bangunan yang cukup besar dan menjulang tinggi keatas. Di bangunan itu ada lambang dari guild tersebut di buat sebuah bendera yang tertancap di bagian kedua dinding masuknya. Nama dari guild tersebut adalah guild Saiya. Guild yang merupakan guild besar di Kerajaan Crenanga dan satu-satunya guild di Kerajaan ini.


" Bangunannya memang seperti inilah guild. Aku akan masuk dan melihat keadaan dalam guild. " Lalu, Marsha masuk kedalam guild dan melihat keadaan dalam guild.


Terlihat dalam guild tersebut. Ada banyak petualang dan orang yang mengantri di sebuah loket. Entah itu petualang atau seorang yang sedang meminta quest dan memberikan quest.


Marsha melihat papan besar yang dikerumuni oleh petualang dan dia mendekatinya.


Saat dia mendekat kearah papan besar tersebut. Seorang memanggilnya. " Hei, Marsha. Hari ini mau mencari tanaman herbal lagi ya? Kau tidak ada kemajuan sama sekali. Lihatlah diriku yang sekarang sudah menjadi petualang E. Heh, kenapa denganmu. Kau mengabaikanku ya? "


Seorang itu diabaikan oleh Marsha. Saat ini Marsha tidak terlalu peduli dengan orang lain selain keluarganya. Karena dikehidupannya sebelumnya saja sahabatnya menghianatinya. Apalagi orang yang datang hanya untuk memamerkan statusnya.


" Hei, Marsha! Apa kau tidak bisa melihatku? " Seorang wanita yang sepertinya adalah kenalan Marsha dan sama-sama masuk kedalam guild bersama Marsha sebelumnya pada saat bersamaan itu merasa lebih baik dari Marsha karena sudah naik level.


Lalu, Marsha yang saat ini berbeda dari dirinya yang dulu dan menatap wanita itu dengan sorotan mata yang tajam.


" Hei, kau berisik sekali. " Tatapan Marsha membuat wanita itu ketakutan sampai tak sengaja jatuh kebelakang.


" Adu-duh. Hei, kau kenapa? Petualang yang tidak bisa berkembang sepertimu itu sebaiknya keluar saja dari guild. " Wanita itu bernama Selena.


Semua orang pun jadi memperhatikan mereka berdua. Selena yang membuat keonaran hanya karena hal sepele itu akhirnya ditanggapi Marsha.


Marsha berbalik dan menatap mata Selena kemudian Marsha mengeluarkan tekanan mana yang cukup besar di tempat tertutup.


Hawa dari pelepasan mana Marsha itu membuat semua orang merinding.


" Hei, apa-apaan mana sebesar ini. " Kepala guild yang sedang berada diruangannya di lantai paling atas guild tersebut pun merasakan tekanan mana Marsha.


Semua orang terperanga menyaksikan itu. Dan Selena pun tak kuat menahan tekanan mana Marsha dan dia pun sampai meneteskan air mata karena saking ketakutannya. Lalu dia pergi dari hadapan Marsha.


Marsha yang sudah selesai dengan urusannya mengembalikan tekanan mananya kembali ke keadaan semula. Marsha yang habis mengeluarkan tekanan mana sebesar itu membuat semua orang menyingkir dari hadapannya.


Marsha berjalan maju mengambil satu quest untuk mencari tanaman obat di hutan dan menaruhnya di loket.


" Oh, kau tadi benar-benar keren Marsha. Kau membuatnya sampai lari ketakutan. " Analitis yang juga tidak percaya kalau Marsha menggunakan tekanan mana itu untuk menakuti Selena.


"Oh, tadi ya. Aku banyak membaca cerita dimana tenanan mana bisa menakuti kroco seperti dia. Jadi, aku tidak perlu repot-repot menanggapinya. " Marsa merasa itu hal biasa karena dia merealisasikannya menurut cerita novel yang sering dia baca. Dan dia sendiri juga membuat novel dimana tokoh utama sering menggunakan tekanan mananya untuk menakuti kroco.


" Hem, jadi begitu ya. Kau dulu juga seorang penulis cerita kan? Mungkin itu hal yang tidak terlalu mengganggu bagimu. " Analitis mulai memahami Marsha.


" Oh iya, Analitis. Apakah kita bisa langsung pergi ke hutan dengan skill kita. Terbang mungkin? " Marsha penasaran dengan skill nya.


" Hah? Apa kau gila mau terbang diatas kota. Benar, kita memang memiliki skill untuk terbang. Tapi, tidak boleh lah. Kita kan melakukan teleportasi saja kesana. Karena tidak akan terlalu terlihat oleh orang-orang. " Analitis lalu menyarankan skill yang tidak terlalu mencolok.


Lalu Marsha melakukan sihir terleportasi di suatu gang. Tapi, ada anak kecil yang melihat itu. Dan membuat Marsha bengong.


" Heh?" Marsha sedikit bengong karena teleportasinya dilihat oleh anak kecil.


" Uwaoo ... . " Anak kecil itu melihat sesuatu yang hebat di hadapannya.


Disebuah hutan yang tidak jauh dari Kerajaan Crenanga. Hutan diamana banyak monster sihir berkeliaran. Diamana semakin dalam masuk ke hutan tersebut maka, akan lebih berbahaya monster sihir yang akan ditemui.


Marsha yang sedang mencari sebuah tanaman obat untuk dibuat posion telah masuk kedalam hutan tersebut.

__ADS_1


" Baiklah, disini kita bisa memulai menguji skill-skill kita. " Marsha mulai memakai sebuah sihir untuk membuat penghalang di sekitarnya.


Karena sebuah alasan yang simpel yaitu tidak mau ada orang yang mengganggunya atau mengetahui keberadaannya itu dia membuat sebuah pelindung yang bisa menghalau orang bahkan monster masuk. Dia juga menambahkan beberapa fitur di penghalangnya tersebut. Dengan sihir yang bisa mengelabuhi setiap orang yang berada di dekat penghalang tersebut dan tidak menyadari kalau dia menjauhi penghalang tersebut.


Sampai ada sekelompok petualang yang sedang melintasi daerah yang telah dipasangin penghalang oleh Marsha.


" Hem, sepertinya ini jalan yang benar. Tapi, entah mengapa aku tidak mau melintasinya. Ayo kita mencari jalan lain. " Seperti itulah penghalang itu menghalau orang-orang yang mendekatinya.


" Hem, sepertinya ada beberapa orang yang baru saja terlahalau oleh sihir pengelabuhan tadi. " Analitis melaporkan situasi yang terjadi.


" Hem, aku juga merasakannya. Itu menjadi lebih mudah saat digunakan terhadap manusia. " Marsha kemudia membuat sebuah target dari sihir tanah.


Beberapa target dibuat untuk menjadi sasaran pemanahannya.


" Jadi, kau mau apa dengan kelima target tersebut? " Analitis herang dan bertanya kepada Marsha.


Lalu Marsha membuat busur dari aliran mana yang mengalir menghasilkan busur dengan cahaya putih dan anak panahnya juga terbuat dari aliran mana yang dia buat.


" baiklah, kita akan membuat sebuah pencapaian dengan membidik beberapa target secara bersama-sama dan mengenainya. Ini lebih seperti saat kita dikepung dan kita harus melumpuhkan semua musuh dengan memanfaatkan tembakan jitu yang tidak terlalu menguras tenaga. " Marsha kemudian menarik lima busur panah secera bersamaan dan melepaskannya.


... [ Sueeeet ... jleb-jleb-jleb. ]...


Semua anak panah itu melesat dan mengenai sasaran dengan sanagat tepat.


Lalu, Marsha tidak membuang waktu dengan mencoba berbagai hal yang dia bisa coba untuk lebih memahami skillnya. Karena bagaimanapun dia harus mencobanya dulu sebelum dia gunakan nanti diwaktu yang tepat.


Tak terasa matahari sudah akan tenggelam. Serasa latihan kali ini Marsha banyak melakukan percobaan dan waktu mulai berlaku menuju sore hari yang indah dimana sorot mentari yang bersinar melintasi beberapa helai dedaunan pohon membuat efek sinarnya terbias oleh bayangan dedaunan yang menawan.


" Sudah waktunya kita kembali ya. Hah, sungguh tidak terasa satu hari penuh kuhabiskan didalam hutan ini. Lalu, baiklah sudah waktunya monster panggilanku kembali dan membawa tanaman obat yang sudah kusuruh memetiknya. " Lalu, beberapa tikus monster yang berukuran kecil dan beberapa burung yang telah diwakan tas kecil dipunggung mereka telah membawa banyak sekali tanaman obat.


" Ho, banyak sekali. Kau bahkan tidak perlu mencarinya lagi selama beberapa hari kedepan. " Analitis menayaksikan betapa banyaknya tanaman obat yang telah didapatkan Marsha.


" Ini akan kusimpan di item bok supaya kita bisa membawanya ke guild untuk besok juga. Yah, kurasa agak berlebihan. Tapi, mereka melakukan tugasnya dengan sangat baik. Jadi, terimakasih ya. Silahkan kalian kembali ke dunia kalian. " Lalu, para monster kecil yang telah membantu Marsha dalam mencari tanaman obat tadi dikembalikan ke dimensi mereka berada.


" Eh? " Marsha kaget kenapa bisa ketemu lagi dengan anak kecil itu.


" Hei, kakak petualang. Apa yang tadi itu sihir? " Anak itu malah menghampiri Marsha.


" Ehehe, kau melihatnya ya? Iya ini sihir. Lalu, kenapa kau terus yang berada disini? " Maesha terlihat jengkel meski sudah ditutupinya. Ekspresi tersenyum yang dengan terpaksa itu membuat sebuah gerutan di dahinya.


" Hem, sebenarnya. " Anak itu menundukkan wajahnya.


Marsha yang tahu kalau ada sesuatu yang anak kecil itu ingin katakan. Lalu, dia memegang kepala anak kecil itu. " Hei, cerita saja! Kalau aku bisa bantu, pasti akan aku bantu. " Marsha kali ini tersenyum dengan tulus.


" Sebenarnya aku memang menunggumu dari tadi disini. Oh, bukan bararti aku menunggu sepanjang hari. Tapi, aku selalu kembali ketempat ini dan melihat apakah kau sudah kembali atau belum. " Anak kecil itu menerangkan dengan sedikit pelan.


" Lalu, apa yang bisa kakak bantu? Katakan saja! " Marsha kemudian jongkok untuk lebih dekat dengan anak itu.


" Sebenarnya, ibuku sakit. Dan aku tidak punya uang untuk membeli obat. Tapi, saat aku melihat kakak petualang yang menggunakan sihir hebat. Pasti bisa menyembuhkan ibuku. " Anak kecil itu pun meneteskan air matanya.


Marsha terdiam sebentar dan bertanya kepada Analitis. " Hei, apakah sihir bisa dibuat untuk menyembuhkan orang sakit? "


" Untuk dasarnya. Sihir tidak bisa dibuat untuk menyembuhkan orang sakit. Karena pada dasarnya sihir dan heal itu berbeda persepsi. Namun, karena sudah kuanalisa kita bisa menggunakan heal untuk menyembuhkan orang yang sedang sakit atau menambahkan sebuah stamina supaya keadaannya membaik." Analitis mengembangkan Heal yang pada saat itu belum dimiliki Marsha.


" Dengan kata lain. Ibunya bisa sembuh dengan pemakaian Heal kan? " Sementara dia sudah selesai berdiskusi dengan Analitis.


" Baiklah, ayo kita lihat keadaan ibumu. Nanti akan kuusahakan dengan sihir yang kupunya. Tapi, jangan terlalu berharap ya! Karena tidak akan baik nantinya jika tidak sesuai perkiraanmu. " Marsha kemudian bangun dan memegang tangan anak kecil tersebut.


" Hem, hiks-hiks. Benarkah? Benarkah kakak akan menolong ibuku. Aku yakin kakak petualang bisa menolong ibuku. " Lalu mereka pergi kerumah anak tersebut.


Dengan keadaan ibu dari anak tersebut yang terlihat dan dari analisa dari Analitis adalah bahwa ibunya menderita keracuran.


" Hei, bagaimana ini? Bukankah ini tidak bisa disembuhkan begitu saja dengan Heal? " Marsha bertanya kepada Analitis.

__ADS_1


" Sebaiknya kau memberikan obat yang kita dapat dari hutan untuk menetralkan racunnya dulu. Dan setelah itu kita memakai Heal untuk memulihkan staminanya. " Saran dari analitis.


" Lalu, obatnya kan masih dalam bentuk tumbuhan dan belum diolah? " Marsha memikirkan bagaimana cara mengolahnya.


" Ehehe, aku sudah membuatnya menjadi obat yang siap untuk diminum. " Lalu Analitis mengeluarkan obat dalam bentuk botol kecil yang dia buat dari tanaman obat yang didapat dihutan tadi.


" Sungguh praktis ya? Untung saja kau cerdas dalam menjadi pendamping. Terimakasih sudah bisa diandalkan. " Marsha merasa terbantu dengan itu.


Lalu, Marsha memberikan obat itu untuk diminum dulu.


...[ Gluk-gluk-gluk. ]...


Dengan meminum obat tersebut, Ibu anak itu langsung merasakan efeknya untuk menit pertama.


" Hah? Tidak kusangka akan semanjur ini. " Marsha kaget.


" Ehem. " Analitis seperti sedang berbangga diri.


" Heh? " Marsha tidak mengerti maksud dari analitis.


" Ehem. " Analitis mengulanginya lagi.


" Heh? " Maesha masih tidak paham juga.


" Hah, sudahlah. " Akhirnya analitis menyerah.


Lalu, dengan heal yang ditujukan untuk ibu anak tersebut untuk memulihkan staminanya.


"Heal ... . " Sebuah lingkaran hijau terang muncul dan membuat ibu anak itu kembali bugar.


Anak itu yang melihat ibunya kembali sehat langsung memeluknya.


" Ibu ... . " Anak itu tidak bisa menahan luapan air mata kebahagiaan karena telah melihat ibunya yang sudah sembuh.


" Ho, siapa itu Fredy? " Ibu anak itu melihat Marsha yang berada disamping Fredy dan dia.


" Ehehe. Aku adalah teman anak anda. Maaf tidak memperkenalkan diri terlebih dulu. Namaku adalah Marsha, dan aku adalah seorang petualang. " Marsha memperkenalkan dirinya.


" Oh, seorang petualang ya. Maaf jika Fredy merepotkanmu. " Ibu Fredy menjadi sedikit merasa bersalah kalau-kalau Fredy menyusahkan Marsha.


" Ibu, dia adalah kakak petualang yang telah menolong ibu. Aku membawanya kemari dan meminta bantuannya untuk menyembuhkan ibu. " Dengan pengakuan Fredy tersebut membuat Marsha sedikit malu.


" Eh, bukan apa-apa kok. Aku cuma kebetulan membawa penawar racun yang kebetulan baru saja kucari dihutan tadi. Dan begitulah. " Marsha bingung menerangkan bagian penawarnya sudah diproses oleh Analitis dan tiba-tiba sudah menjadi obat siap minum.


" Oh, jadi terimakasih untuk semuanya. Maaf jika aku tidak bisa membayar untuk pengobatan ini. " Ibu Fredy menunduk menyesal.


" Eh, tidak perlu bayar. Lagian ini aku lakukan karena aku berteman dengan Fredy. " Marsha malah menjadi tidak enak membuat Ibu Fredy merasa bersalah.


" Tapi, kau telah menyelamatkan nyawaku karena keracunan. Bisa saja aku mati dan meninggalkan Fredy sendiri. Aku sungguh berterimakasih. " Ibu Fredy bangung dan membungkuk didepan Marsha.


" Eh, sudah-sudah bangun. Aku malah jadi tidak enak ini. Em, bagaimana ya. Bagaimana kalau kalian membantuku saja. Bisa kan? Daripada kalian merasa berhutang budi kepadaku. Lebih baik kalian menjualkan obat penawar racun dan obat lainnya yang kubuat. Nanti kita bagi hasilnya kalau sudah ada keuntungan. Jadi, bagaimana? " Marsha merasa itu lebih baik daripada mereka merasa memiliki budi pada Marsha.


" Kau, sudah menyembuhkanku. Dan juga memberi pekerjaan padaku. Aku sungguh berterimakasih sekali. " Ibu Fredy malah semakin memandang Marsha sebagai penyelamat baginya.


Dalam hati Marsha. " Hadeh, kok malah jadi begini. Aku jadi tidak enak dengan mereka. "


Lalu, Marsha mencoba mencari lapak buat mereka berjualan.


" Hem, kira-kira dimana ya aku bisa menemukan lapak untuk mereka? " Saat sedang berjalan sambil berfikir, tiba-tiba Analitis memberi saran.


" Bagaimana kalau di pasar saja. Disana kan ada banyak lapak. Tapi, kita harus membayar upeti dari tempat yang kita buat untuk berjualan. Dan kudengar penarikan upeti ini tidak wajar. Karena mereka terlalu memaksakan meski para penyewa lapak belum memiliki uang untuk membayar. " Analitis menjelaskan bagian baik dan bagian yang kurang baik tentang lapak di pasar.


" Ho, jadi. Ada seorang penguasa yang sedang menindas rakyat kecil ya. Bagaimana kalau kita beri sedikit pelajaran pada mereka. " Marsha merencanakan sebuah hal yang seru.

__ADS_1


__ADS_2