
Di sebuah pagi yang begitu ramai dijalanan kota Tatsuka yang seperti biasanya. Marsha pergi di pagi hari untuk melihat keadaan lapak yang akan disewanya untuk Fredy dan ibunya.
" Hem, bagaimana ya cara untuk bernegosiasi dengan orang yang berada disana. " Marsha sedang memikirkan sesuatu.
" Hah ... ternyata kau tidak tahu apa yang akan kau lakukan nanti. Bagaimana sekarang kau akan memulai rencanamu yang kemarin kau ucapkan? " Analitis jengkel dengan Marsha.
" Ehehe, buakankah memang seharusnya dipikirkan dan dijalani secara bersamaan. " Marsha menanggapi dengan santainya.
Dia menuju lapak tersebut dan dia melihat segerombol orang yang tengah menagih pada sebuah lapak.
" Hei, apa kau tidak dengar kalau Tuan Driku ingin pembayarannya secepat mungkin. Jadi, mana uangmu! " Seorang dengan sebuah paksaan dan melempar beberapa barang yang ada di lapak penjual tersebut.
" Tolong Tuan, beri waktu sebentar lagi. Kami tidak akan bisa membayar jika kau merusak barang dagangan kami seperti itu. " Pedagang itu terlihat meminta sebuah perpanjangan denda yang mereka sebabkan karena telat membayar.
Dari sebuah celah yang terpapar oleh beberapa orang yang melihat kejadian itu. Marsha memperhatikannya.
" Oh, apa yang sedang terjadi? " Melihat pemandangan yang cukup memuakkan itu Marsha merasa jengkel.
" Sepertinya mereka telat membayar uang untuk menyewa lapak tersebut kepada pemilik kewenangan didaerah ini. " Analitis juga memahami hal tersebut.
Marsha lalu menyelinap di celah yang terbuka diantara segerombolan orang yang hanya melihat tanpa berbuat apa-apa.
...[ Suet-set-set. ]...
Marsha langsung berada dibelakang orang-orang tersebut.
" Oh hai, ada masalah apa ya disini? " Kehadiran Marsha yang tiba-tiba itu mengagetkan para penagih utang tersebut.
" Hei nona. Kalau kau tidak mau ini jadi rumit. Kau bisa pergi dari sini! " Sepertinya orang yang memimpin para penagih utang itu meminta dengan wajah garang supaya Marsha pergi dari situ.
" Hem, kalau aku tidak mau. Kalian mau apa? " Marsha memancing mereka.
" Baiklah nona. Kau dalam masalah sekarang. Hei kalian segera singkirkan gadis ini supaya tidak mengganggu pekerjaan kita! " Setelah pemimpin itu berpaling deri Marsha dia kaget karena sebuah telapak tangan seseorang mengagetkan nya karena menepuk pundaknya.
" Hei, apa bisa kau saja yang pergi dari sini! " Marsha yang telah menyelesaikan urusannya dengan anak buah penagih hutang tersebut mengagetkan penagih hutang tersebut.
" Hah? Apa yang terjadi. Kenapa mereka semua bisa terbaring seperti itu? " Penagih hutang itu penasaran dengan apa yang terjadi.
" Sebaiknya kau juga sekarang pergi atau kubuat babak belur seperti mereka. " Marsha dengan wajah mengancamnya membuat penagih hutang itu langsung pergi.
Dengan waktu yang singkat. Lima orang penagih hutang telah di bekuk oleh Marsha.
" Maaf, terimakasih untuk hal tersebut. Tapi, mereka akan datang lagi. Dan kami tidak tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya pada dagangan kami. " Pedagang itu menjadi was-was.
" Hem, tenang saja. Karena akan kururus sisanya mulai sekarang. " Marsha kemudian mengikuti penagih hutang itu yang kembali ke tempatnya.
Sebuah rumah atau lebih terlihat seperti bangunan megah yang berdiri di sebuah tanah yang tertancap pagar dan mengelilinginya.
" Ho, jadi ini rumah Tuan Driku. " Marsha masuk saja kedalam dengan melewati pagar tersebut.
Penagih hutang tadi berjalan ke dalam dan bertemu Tuan Driku.
__ADS_1
" Oh, apa kau gagal lagi menagih itu dari pedagang-pedagang tersebut? " Driku sepertinya sudah tahu dengan hal tersebut.
" Maaf Tuan Driku, karena telah, " sebelum si penagih hutang tersebut menyelesaikan laporannya. Driku memyela.
" Lalu, dimana anak buahmu yang kau bawa sebelumnya? " Driku menyadari ada yang janggal.
Lalu Marsha dari sudud yang gelap muncul tiba-tiba dan mengagetkan semuanya.
Spontan saja Driku langsung bertanya kepadanya. " Siapa kau, dan apa maumu? "
Marsha mendekat kearah Driku. " Hem, aku hanya mengikuti anak buahmu tersebut dan tidak sengaja sampai ketempat ini. "
" Hah? Dia yang telah membantai orang-orang yang bersamaku. " Penagih hutang tersebut langsung membuat Marsha menjadi kambing hitam atas semua kesalahan yang telah menajadi kesalahannya sebenarnya.
" Oh, maaf untuk kejadian tadi. Dan mohon jangan dimasukkan ke hati. Mereka semua tidak kenapa-kenapa. Aku hanya sedikit menguras mana mereka saja. Ehehehe. " Marsha yang masih tidak terlalu bersalah karena perbuatannya tadi itu mengakibatkan anak buah penagih hutang tadi sampai lemas tak berdaya.
" Lalu, apa maumu kesini? " Driku bertanya kepada Marsha tentang apa tujuan yang membuatnya mengikuti anak buahnya sampai ketempatnya.
" Baiklah, aku akan berterus terang saja. Aku ingin satu lapak untuk jualanku. Dan bagaimana? Apa aku bisa memiliki satu lapak saja. " Marsha tanpa rasa bersalah meminta satu lapak untuknya.
"Lalu, bagaimana kau akan membayar tentang anak buahku yang sudah kau lukai gadis kecil? " Driku bertanya bagaimana bisa dia membiarkannya begitu saja.
" Eh, aku lupa soal itu. Karena aku sendiri jengkel dengan caramu dalam memperlakukan para penjual tersebut. Jadi, mau bagaimana lagi. " Marsha ternyata bukanlah seorang yang cocok dengan sebuah perundingan.
" Eh, Marsha. Sepertinya kau tidak terlalu ahli dalam menjalankan perundingan ini. " Analitis menghangatkan Marsha.
" Ehehe, tentu saja tidak boleh anak kecil. Hei, Resord. Urus gadis kecil ini. Mau kau bunuh juga tidak apa-apa. Aku sudah muak dengannya. " Driku memanggil seorang pembunuh bayaran yang dia sewa untuk menjaganya.
Seorang dengan pakaian serba hitam seperti seorang ninja keluar dari sebuah tempat persembunyian.
Marsha yang tidak membawa senjata tersebut mengeluarkan pedangnya dari sihir dimensinya.
... [ Cring ... ]...
Sebuah percikan api menaringi sisi gelap ruangan yang sekejap menjadi adu pedang antara Marsha dan Resord.
Dari sisi keahlian berpedang Resord cukup hebat. Karena dari pertama dia menyerang terus-trusan melayangkan sebuah serangan yang fatal jika tidak ditangkis oleh Marsha.
" Ho, kau cukup hebat nona. Tapi, ini semua sudah berakhir. " Resord Menggabungkan mananya pada titik tumpu pedangnya yang memperkuat daya serang baginya.
Sebuah tebasan yang cukup untuk membelah sebuah batu besar yang mungkin tidak bisa di tahan oleh orang biasa saja.
... [ Suet ... kriek ... . ]...
Tebasan itu mengarah kepada Marsha. Tapi, berhasil dihindarinya.
" Huft ... hampir saja tadi aku terbelah dua bagai durian. Eh, disini ada buah durian tidak ya? Ah, besok akan aku cari saja dihutan. " Marsha menghindar dari serangan yang mematikan dengan membuat sebuah pijakan dari elemen angin yang dipadatkan diudara.
Sebuah elemen angin bisa menjadi memadat jika dialiri oleh mana. Dari sifat tersebut. Marsha mampu membuat pijakan yang dibuatnya untuk berjalan diatas udara.
" Kali ini tidak akan meleset lagi." Dengan keyakinan yang telah terlebih dahulu di asah dan ditempa Resord yakin kalau serangan selanjutnya pasti mengenai Marsha.
__ADS_1
" Tapi, tidak semudah itu. Kau tidak akan bisa mengenaiku kali ini. Karena semua akan kuakhiri. " Sebuah tekanan mana Marsha yang disembunyikan dari tadi dilepaskan dan membuat seisi ruangan merasakan tekanan yang cukup berat pada diri mereka.
Dengan perbandingan tekanan mana yang besar dan tidak bisa diprediksi. Marsha membuat Resord tidak bisa bergerak karena efek itu.
" Tekanan mana macam apa ini? Bahkan, untuk menggerakkan kakiku sedikit saja. Aku tidak sanggup. " Resord kaget dengan sebuah tekanan mana yang cukup berat dari Marsha.
" Lalu, bagaimana kau menghadapi yang ini. " Marsha kemudian membuat sebuah tekanan angin dari sihirnya. Dan melepaskannya kearah tembok dimana tidak ada orang disana.
... [ Brell ... . ] ...
Tembok itu rubuh dan terpental akibat serangan dari Marsha.
Lalu, Driku yang menyaksikan itu segera ingin kabur. Tapi, Marsha yang dengan cepat sudah berada didepannya.
" Ehehehe, kita bisa bicarakan ini baik-baik kan? " Driku mencoba bernegosiasi dengan Marsha.
" Oh, apa yang kau maksud dengan di bicarakan baik-baik? Apakah dengan menyuruh pembunuh bayaran untuk segera membunuhku itu adalah bicara yang baik-baik. Kalau begitu bagaimana dengan kalau aku melemparmu dengan angin ini dan menjatuhkanmu dari langit tanpa membawa apa-apa dan jatuh bebas dari ketinggian dan mendarat di atas tanah kosong yang akan menjadi saksi betapa baiknya aku ini. " Marsha dengan wajah yang menyeramkan membuat Driku ketakutan.
" Baiklah-baiklah, aku akan memberimu tempat untuk lapakmu dan itu gratis tidak usah bayar uang sewa dan kami tidak akan memintanya padamu. " Driku yang dalam kondisi terdesak ini membuat keputusan yang cepat.
" Oh, apa aku boleh meminta satu hal lagi? " Marsha dengan wajah sok imut mencoba meminta satu hal tanpa terkecuali.
" Hah? Kau mau minta apa lagi. " Langsung seketika Driku berkata begitu. Marsha kemudian menerbangkan atap dari rumah Driku.
... [ Brell ... . ]...
" Oh, apakah aku tidak boleh meminta satu hal lagi? " Marsha yang masih mempertahankan ekspresi sok imutnya itu membuat Driku ketakutan.
" Baiklah, akan kukabulkan apa maumu. Cepat, tapi kau harus melepaskanku! " Driku yang panik bukan main itu sekarang sudah ada digenggaman Marsha.
" Huehehehe. " Ekspresi puas Marsha karena sudah mengerjai Driku yang ketakutan bukan main itu.
Dalam hal tersebut membuat Analitis merasa kalau Marsha sungguh kejam. " Kau kejam sekali. Aku tidak mau berurusan denganmu nantinya. "
" Ehehe, ini hanya sebuah cerita yang menarik bukan. Karena membuat sebuah cerita menjadi menarik adalah keahlianku. Dan ini akan kubuat seolah akulah rajanya sekarang. Huahahaha. " Tawa jahat Marsha dalam koridor pemikirannya dengan Analitis.
Lalu, keesokan harinya setelah hal yang cukup menguras tenaga karena kerusakan yang dibuat oleh Marsha membuat Driku menjadi sangat sibuk memperbaiki rumahnya kembali. Tembok yang berdiri kokoh dihempaskan bigitu saja. Dan atap yang menopang dari dinginnya langit malam telah hilang entah kemana, terbang melintasi awan dan hilang.
" Hei, kalian bisa langsung jualan. Dan sisanya serahkan padaku. Kalian fokus saja jualan! " Marsha yang sedang membuka lapaknya itu untuk Fredy dan ibunya sedang mempersiapkan hari pertama dia buka.
" Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang sering datang mengganggu para penjual dan menarik upeti yang begitu banyak dari hasil dagang mereka. " Ibu Fredy ingin konfirmasi dari Marsha tentang hal yang sedikit mengganjal dipikirannya untuk sekarang ini.
" Ah, tidak apa-apa. Sekarang sudah menjadi urusanku semua masalah diluar penjualan itu. Jadi, tenang dan berjualan lah dengan santai! " Marsha yang menjamin hal tersebut tidak akan terjadi karena dia sendiri lah yang telah membuat mereka tahu siapa dia yang sebenarnya.
Lalu Marsha menatap kearah langit yang damai di hari ini. Beberapa gerombol awan yang menyelimuti birunya atap dunia itu menjadikan dia merasa bersyukur bisa hidup kembali dan mengalami hal menarik lainnya yang mungkin tidak akan didapatkannya dimehidupan sebelumnya.
" Ah, sekarang tinggal bagaimana aku melakukan sistem marketingnya. Hei, analitis. Bagaimana analisamu tentang rencana kita? " Marsha kembali ke koridor pikirannya untuk berdiskusi dengan analitis.
" Baiklah, rencana kita adalah untuk memperkenalkan produk kita pada masyarakat umum dan target dari pemasaran kita adalah komoditi satu kerajaan dan sampai kita bisa menjualnya keluar Kerajaan juga. Prediksi dari rencana yang hebat ini adalah keberhasilan akan menyertai kita dan tidak begitu banyak gangguan yang akan kita alami. Karena kau sudah menyingkirkan sebagian besar dari gangguan tersebut. " analitis memperlihatkan tabel rencana mereka yang sudah terperinci dalam sebuah alur cerita yang memiliki beberapa opsi dan cabang dari setiap pilihan. Dan semakin bercabang menjadi sebuah kebulatan yang cukup untuk mengatakan rencana ini akan berhasil.
" Oh iya. Kenapa kamu bisa membuat tabel dalam koridor pikiran kita ini? Dan ini adalah sebuah kemajuan meski pada diriku yang lain. " Marsha penasaran dengan bagaimana Analitis bisa tahu cara untuk membuat rencana itu dalam sebuah tabel yang berisi beberapa opsi yang akan menjadi pilihan nantinya untuk menentukan kebijakan yang akan diambil oleh Marsha.
__ADS_1
" Bukankah sudah kubilang kalau kita ini adalah satu kesatuan sekarang. Jadi, aku bisa tahu dengan apa yang kau tahu dan begitu pula sebaliknya." Analitis yang menerangkan pada Marsha yang penasaran tadi.
Dan yang terjadi adalah, waktu itu Analitis yang sedang mempelajari apa-apa yang mungkin di lakukan dari pikiran Marsha sebelum di reinkarnasi. Dan merupakan jembatan yang mengawali adanya tempat belajar bagi analitis