
.
.
Selen menatapi teman-temannya yang sedang sibuk membantai goblin. Selen sendiri ingin sekali ikut, tangannya sudah gatal ingin ikut membantai goblin, tapi mau bagaimana lagi. Selen dilarang melakukannya jika tidak terdesak, lalu ada maid yang mengawasinya, maid itu menyukai Solon dan berharap Solon mau menjadikannya selir. Maidnya cantik sih... tapi mengingat Solon yang bucin dengan Abel rasanya itu agak mustahil. Maid itu bisa mengadu pada Solon dan berakhir Selen tidak akan boleh kemana-mana nantinya.
Selen melihat Jaden sedang melawan goblin king, dibantu dengan Shino.
Tapi untuk ukuran goblin king, meski dia sangat kuat, Jaden jauh lebih kuat lagi, dia bisa menebas kepala goblin king dengan pedang sihirnya hingga tumbang.
Setelah semua kawanan goblin mereka bantai, baru mereka membedah tubuh goblin untuk mengambil batu sihirnya. Jika goblin biasa memiliki satu batu sihir, maka goblin king bisa memiliki tiga sampai sepuluh di dalamnya, tergantung kekuatan goblin itu sendiri.
Sedangkan batu sihir bisa dijual, satu koin perak untuk satu batu sihir.
“Sudah selesai, kita lanjutkan lagi perjalanannya!” ucap June.
Sam kembali lagi ke dalam kereta, dia bagian yang mengumpulkan batu sihir. Tubuh-tubuh goblin sudah dibakar dengan Api oleh David, api biru yang dapat melenyapkan apapun dalam waktu singkat. Api itu hanya melenyapkan apa yang diperintahkan saja, jadi rumput dan pohon di sekitarnya tidak akan terkena api.
David juga kembali ke kereta membawa pedang goblin king dan juga kalungnya.
Semua itu akan mereka jual nantinya di Elvestra, karena mereka tidak butuh juga, tapi mungkin untuk pedang akan disimpan atau dihadiahkan pada Raja. Karena mereka mengunjungi suatu kerajaan memang sebaiknya memberi hadiah pada Raja.
Entah Raja Elvestra akan suka atau tidak, itu hanya untuk formalitas.
“Ada berapa batu sihir yang kalian punya?” tanya Selen.
“Sebentar... semuanya ada tiga puluh, ditambah lima dari goblin King, jadi ada tiga puluh lima” ucap Sam.
Kereta kembali melaju, entah kenapa Selen merasa mengantuk dan juga lapar, tapi dia menahan diri untuk tidak merengek.
Setelah hari mulai sore, mereka berhenti dan mendirikan tenda.
Jaden bersiap untuk memasak, menu makan malam itu adalah steak domba. Agar tidak ribet, Jaden sudah mempersiapkan semua bumbu instan yang dia buat sendiri, termasuk bumbu untuk steak. Kompor sihir dan wajan juga sudah membawa, untuk kompor Jaden membawa dua, yang satunya digunakan untuk memasak nasi.
Karena Jaden berasal dari Asia, dimana nasi adalah makanan wajib.
Beda dengan Abel yang berasal dari negara Barat, dia lebih menyukai roti, tapi dia juga lumayan suka dengan nasi.
Untuk berasnya, Jaden mendapatkannya dari salah satu desa yang cukup dekat dengan kekaisaran, di desa itu, mereka biasa memakan nasi atau gandum, jadi mereka memiliki lahan padi dan juga gandumnya. Jaden menjadi langganan desa tersebut.
“Beberapa desa di Elvestra juga ada yang suka mengonsumsi nasi, sebagian lagi memilih gandum atau roti gandum, ada juga yang mengonsumsi sagu, jagung atau singkong” ucap Abel, yang membantu Jaden memasak.
“Di negaraku dulu, bahkan untuk mie instan yang merupakan karbo, masih disuruh makan nasi, mie menjadi lauk” sahut Jaden.
“Wah, padahal aku satu bungkus ramen saja sudah kekenyangan” timpal Abel.
“Sepertinya kamu itu gadis kurus ya bahkan disini juga...”
“Memangnya kenapa? Apa kamu juga tidak kurus?”
__ADS_1
Jaden terkekeh, “aku kurus bukan karena sedikit makan, malah aku banyak makannya, pernah juga aku menjadi host acara kuliner, aku itu kurus karena banyak pikiran, rasanya stress terus, hidup tidak tenang. Aku senang sekarang bisa hidup tenang disini... ku harap aku akan selalu hidup tenang.”
“Ku harap juga begitu, tapi sepertinya sulit” ucap Abel.
Jaden menoleh pada Abel dengan cepat, lalu kembali lagi pada wajannya, membalik steak.
“Kenapa memangnya?”
“Jangan kira aku gak tahu, kamu diam-diam ada hubungan serius dengan Selen bukan? Apa dia diperbolehkan mengikutimu? Dia harus melepaskan gelarnya sebagai putri...”
“Selen bilang dia tidak masalah kok...”
“Coba pikirkan lagi baik-baik Jaden, apa itu keputusan yang tepat.”
“Lalu aku harus bagaimana? Merebut tahta Whitebold?”
Hanya Abel, David, dan Shino yang mengetahui jika Jaden itu sebenarnya adalah pangeran Christopher Jaden dari Whitebold yang menyamar menjadi orang biasa.
Abel menggeleng, “bukan itu maksudku... tapi – Blackwolf tidak memiliki penerus kan sekarang?”
“Raja yang sekarang masih sangat muda, lagipula, dia bahkan mungkin tidak ingat padaku, jangan bahas itu.”
Abel terdiam setelahnya, tidak berani membahs Blackwolf karena Jaden tidak menyukainya.
Padahal, dilihat dari sisi manapun, Jaden itu pantas menjadi seorang Raja. Baik Whitebold atau Blackwolf, sebenarnya membutuhkan sosok Jaden.
Tapi, itu menurut Abel.
***
Selen terbangun dari tidurnya di pagi hari karena aroma harum masakan buatan Jaden.
Dia pun mengusak matanya perlahan lalu keluar dari tenda.
“Oh, kamu sudah bangun? Selamat pagi, Selen!”
Selen menghampiri Jaden lalu memeluknya dari belakang, “selamat pagi! Kamu memasak apa?” tanya Selen.
“Karena ini pagi, aku memasak sayur sop dan telur, jika mau cuci muka, kamu bisa lakukan di sungai itu” ucap Jaden.
Selen menggeleng, “denganmu saja.”
“Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan selesai.”
Setelah masakan selesai, Jaden dan Selen pergi ke sungai yang jaraknya hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari lokasi kemah mereka.
Sungainya sangat jernih dan memiliki bebatuan besar.
Selen duduk di salah satu batu kemudian membasuh mukanya.
__ADS_1
“Kamu tidak ingin mandi?” tanya Jaden.
“Ap-apa yang kamu bicarakan? Kamu mau mengintipku ya?”
Jaden tertawa jahil, “mungkin?”
Selen yang kesal memercikkan air pada Jaden, “kau ini!”
Selesai membersihkan wajah dan tubuh, mereka berjalan kembali ke lokasi perkemahan mereka. Tapi, Jaden tiba-tiba berhenti, dia melihat sesuatu di dalam hutan.
“Ada apa Jaden?”
“Aku melihat sesuatu, mau ikut?”
Selen tidak yakin, tapi akhirnya dia mau ikut juga. Jaden mengajaknya berjalan ke dalam hutan, sampai pada suatu tempat.
“Ah, ternyata benar! Ini jamur tiram dan jamur enoki!” ucap Jaden.
“Memangnya kenapa? Itu kan tanaman liar” sahut Selen bingung. Memang jamur-jamuran tidak terlalu umum untuk dimakan.
“Ini bisa dimasak menjadi makanan yang enak lho... kamu nantikan saja ya? Mau membantuku memetiknya?”
Selen mengangguk, lalu membantu Jaden.
“Selen?” panggil Jaden.
“Iya?”
“Apa kamu – itu... serius denganku? Makusdku – kamu mungkin akan melepas gelar kebangsawanan jika denganku kan?”
Selen mengernyitkan dahinya, “kamu ngomong apa sih? Bukankah kamu sudah mendapatkan gelar bangsawan sendiri? Jadi aku tetap bangsawan jika menikah denganmu.”
Itu benar, Jaden memiliki gelar Baron dari Kaisar.
“Tapi itu kan gelar yang rendah, kamu yakin?”
Selen berhenti memetik jamur, lalu tersenyum pada Jaden.
“Jaden, aku tidak masalah hidup susah denganmu, aku serius! Lagipulaaku tahu, hidup denganmu tidak akan susah... kamu bisa memasakkanku makanan enak, kamu juga bisa mencari uang dengan caramu sendiri, aku percaya padamu.”
Jaden tersenyum mendengar ucapan Selen.
Awalnya Jaden menerima cinta Selen karena dia menyukai kecantikan Selen, namun semakin lama, dia jatuh hati dengan kepribadian Selen.
“Terimakasih, tapi... sepertinya akan lama bagiku untuk melamarmu, aku ingin pergi berkeliling dulu dan melihat-lihat dunia, kamu tidak keberatan?” tanya Jaden.
Selen menggeleng, “aku tidak keberatan, aku akan selalu menunggumu.”
Jaden kemudian melepas wadah jamurnya, lalu menarik wajah Selen, kemudian mencium bibir Selen dengan lembut.
__ADS_1
.
.