Reinkarnasi Menjadi Pangeran Terbuang

Reinkarnasi Menjadi Pangeran Terbuang
Kerajaan Elvestra


__ADS_3

.


.


Semakin tinggi level monster, biasanya semakin tinggi juga kecerdasannya. Burung batu atau burung gunung itu adalah monster level C, sedangkan naga bisa dikatakan monster level SSS. Mungkin karena naga lebih tinggi levelnya, maka burung batu menganggap naga sebagai predator.


Jadi mereka kabur.


Yah, berhasil menangkap satu sih.


Berbeda dengan kraken yang hanya menang tubuh besar saja, kraken hanya monster level E, kecerdasannya juga kurang, jadi kraken menyerang dengan membabi-buta.


“Satu juga sudah cukup” ucap Kevin, berusaha menghibur Shino yang kesal. Sang naga kecil uring-uringan karena mereka berhasil menangkap hanya satu burung batu, jadi dagingnya hanya bisa dimakan paling lama seminggu.


“Kita bisa menangkap daging lain, red boar misalnya” ucap David.


Jaden meringis mendengarnya, dia tidak begitu suka daging redboar, karena penampilannya seperti babi tapi memiliki taring yang sangat runcing. Sama seperti babi, redboar suka berada di lumpur. Masalahnya, di negara Jaden, memakan daging itu tidak umum, yang biasa dimakan hanya sapi, kambing, ayam, ikan, kelinci atau unta jika ada.


Sedangkan Abel, berada di negara yang sangat umum memakan babi, meski daging yang paling banyak dimakan malah daging sapi. Jadi Abel tidak memiliki masalah.


Oh iya, red boar itu monster level D, warnanya merah menyala, seperti api, punya kekuatan api juga.


“Tapi Jaden tidak suka red boar” ucap Sam.


“Jangankan Jaden, aku saja tidak suka” sahut June, sebenarnya June ini alergi terhadap red boar, dia selalu mual saat memakan red boar. June juga alergi terhadap susu yang berlebihan. Dia tidak masalah minum susu, tapi tidak boleh banyak-banyak.


Akan tetapi, di dunia ini istilah alergi masih belum diketahui, dan tidak umum juga.


Bahkan jika ada orang alergi udang, kemudian memakannya dan gatal-gatal, kadang dianggap mendapat kutukan, walaupun penyembuhannya sudah tepat, dengan menggunakan sihir penyembuh tingkat rendah sudah bisa.


Dunia ini beruntung karena memiliki sihir, jadi mereka dimudahkan.


Sihir sangat berguna, untuk penyembuhan, bahkan bisa menyambung anggota tubuh yang putus, kecuali leher. Jika leher sudah putus, nyawa menghilang, percuma juga disambung.


“Tidak apa, kalian bisa memakan red boar, aku dan June hanya akan makan daging burung saja” sahut Jaden.


“Belum tentu juga kita bertemu red boar” ucap Shino.


Setelah satu hari perjalanan, mereka akhirnya sampai di wilayah Elvestra, meski bukan wilayah kerajaan, itu adalah desa di tepi kerajaan.


Meski desa, karena ada wiilayah pelabuhan, jadi cukup ramai.


Yang menghuni desa itu bukan hanya elf, tapi ada makhluk lainnya, seperti manusia, duyung, makhluk setengah manusia seperti manusia kucing, manusia rubah... dan lain-lain. Itulah kenapa desa itu memiliki beragam makanan, meski yang mendominasi tetaplah sayuran.


Mereka mampir di salah satu tempat makan yang menurut Abel sangat terkenal, karena tempat makan itu masih milik kerajaan dan menyediakan berbagai macam olahan sayur dan ikan.


Makanan disana ternyata sangat enak dan kaya akan rempah-rempah. Tidak heran, karena para elf meneliti tumbuhan, jadi pasti banyak rempah yang ditemukan. Jaden sangat bersemangat karena dia bisa berkeliling mencari rempah-rempah nanti setelah sampai kota, karena di kota pasti lebih banyak jenis rempahnya.


Meski mereka memiliki banyak rempah, tapi tetap saja cara mengolahnya jauh tertinggal dengan di dunia Jaden sebelumnya.


Selesai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ibu kota kerajaan Elvestra. Bangunan yang ada di sana agak lain dan cukup unik. Beberapa bangunan berbentuk pohon, ada pula bangunan yang memang berasal dari pohon besar. Rumah-rumah pohon itu besar-besar, membuat jalanan terasa sejuk.

__ADS_1


Hiruk pikuk kota terasa menyenangkan, nuansa hijau ada dimana-mana.


Sangat indah.


Kerajaan Elvestra juga tidak kalah indahnya, bernuansa putih-hijau yang indah dan terdapat banyak pepohonan tinggi menjulang. Itu seperti hutan yang ditinggali dan moderen, yang pasti sangat indah.


Cocok juga dengan bayangan Jaden tentang kotanya para elf.


Setelah masuk kerajaan, mereka disambut cukup meriah. Ada perbincangan sebentar, sebelum kemudian mereka diantar ke kamar masing-masing.


Di dalam kerajaan ada banyak sekali kamar tamu yang unik, karena ada kamar tamu di dalam kerajaan, ada pula kamar tamu di luar, yaitu berada di taman.


Yang berada di taman yaitu kamar di rumah pohon.


Jaden dan teman-temannya memilih kamar di rumah pohon, karena sangat unik.


Kecuali Selen, semuanya bertempat di kamar rumah pohon.


“Disini sangat unik ya?” ucap Sam, saat mereka sudah meletakkan barang-barang mereka di kamar, lalu bersantai di balkon.


Balkon rumah pohon yang besar itu cukup luas, ada kursi dan meja juga, bisa makan disana.


Pemandangan dari balkon rumah pohon juga bagus, yaitu kerajaan sekaligus pemandangan kota, karena kerajaan juga berada di ketinggian. Jadi, dari istana kota di bawahnya terlihat jelas.


“Apa kita akan diberi makan sayuran lagi?” gumam Shino, yang dapat didengar oleh semua orang.


David menoleh pada Shino, “aku mengerti perasaanmu.”


“Kita masih bisa pergi dan memasak makanan kita sendiri jika ingin daging” sahut Jaden.


“Berapa lama kita disini?” tanya Kevin.


“Mungkin setelah Jaden puas melihat-lihat, kita akan kembali ke Floutesia” jawab David.


Floutesia adalah kota kekaisaran.


“Pertama-tama, kita harus membeli banyak rempah dari sini, aku yakin mereka memiliki banyak tanaman herbal juga” ucap Jaden.


“Lebih baik kita menunggu Abel saja, dia yang lebih tahu tentang wilayah ini kan?” sahut David.


Jaden mengangguk, kemudian menguap.


Dia sangat mengantuk.


“Aku akan tidur dulu, rasanya ngantuk sekali” keluh Jaden.


Entah kenapa, dia merasa sangat mengantuk setelah sampai di istana, padahal itu masih sore.


“Aku juga ngantuk nih” ucap Sam, dia juga menguap.


Satu persatu, mereka juga ikut merasakan kantuk.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun pergi tidur di kamar masing-masing. Satu orang, satu kamar.


Suasana yang sejuk dan damai, membuat tidur Jaden sangat nyenyak, dia tidak merasakan mimpi sama sekali dalam tidurnya.


“Jaden... Jaden!”


Jaden terbangun saat merasakan seseorang mengguncang bahunya. Dia pun berusaha untuk terjaga, lalu duduk dan menguap sambil meregangkan ototnya. Setelah beberapa hari perjalanan, itu adalah tidur yang sangat nyenyak.


“Kau sudah bangun?”


Jaden menoleh ke samping, dia terkejut setelah tahu yang membangunkannya adalah Abel.


“Abel?”


“Ini masih pagi, aku ingin mengajakmu jalan-jalan, ayo!”


“Ta-tapi....”


“Ayo!”


Jaden merasa aneh, Abel masih mengenakan gaun tidur putih dan hijau muda, yang sebenarnya agak tipis. Jadi, Jaden merasa aneh melihat Abel dengan gaun tidur tersebut, mengajaknya jalan-jalan.


Setelah keluar dari kamar, ternyata langit belum terang, mentari juga belum terbit.


Suara-suara hewan khas pagi terdengar bersahut-sahutan, seperti saat di pedesaan.


Jaden pernah pergi ke pedesaan untuk sebuah film, Jaden sangat menyukai suasana disana, sangat damai dan asri. Seperti di wilayah Elvestra.


Jaden sendiri juga mengenakan piyama tidur yang agak tipis.


Udara dingin menusuk kulitnya, tapi entah kenapa, dia tidak terganggu sama sekali.


Abel menarik lengannya hingga sampai di sebuah taman samping istana, ada kolam besar juga disana.


Abel terus menarik Jaden hingga masuk agak jauh, seperti hutan, tapi masih di wilayah kerajaan.


“Jaden, lihat itu!”


Mata Jaden membelalak, dia sangat kagum melihat apa yang ada di depan mereka saat ini.


Kunang-kunang bertebaran di hutan, cahaya terangnya membuat Jaden bahagia.


“Itu bukan kunang-kunang” ucap Abel.


“Eh? Lalu apa?” tanya Jaden.


Abel menoleh pada Jaden, tersenyum kecil sebelum menjawab, “itu adalah peri!”


“Apa?”


.

__ADS_1


.


__ADS_2