Reinkarnasi Menjadi Pangeran Terbuang

Reinkarnasi Menjadi Pangeran Terbuang
Kota Arensville


__ADS_3

.


.


“Kemana aja kalian, sampai ninggalin masakan gini” protes David pada Jaden dan Selen, bangun tidur David sudah melihat sayur sop di panci masih panas, nasi juga sudah matang, tapi telur belum dimasak, hanya disiapkan saja di dekat kompor sihir.


Kemudian Jaden menunjukkan jamur-jamur yang dia dan Selen kumpulkan, “aku akan menggoreng jamur ini, Selen, ambilkan tepungnya.”


“Baiklah!” Selen pun pergi meninggalkan mereka, menuju persediaan, terdapat beberapa tepung, gula dan lain-lain. Sebagian persediaan yang digunakan dalam waktu dekat akan disimpan di kereta saja, sedangkan yang untuk jangka panjang dimasukkan ke dalam item box.


Item box adalah semacam sihir penyimpanan, apapun yang disimpan di dalamnya tidak akan membusuk sama sekali, saat dikeluarkan masih segar seperti saat disimpan.


Tidak semuanya memiliki item box, awalnya hanya Jaden dan Abel saja yang bisa menggunakannya. Namun, setelah ada Shino, dia membantu yang lainnya untuk mendapatkan item box mereka. Meski begitu, selain Jaden dan Abel, item box milik yang lain memiliki limit yang sedikit. Hanya bisa untuk sekitar dua puluh barang. Sedangkan milik Jaden dan Abel memiliki limit sekitar seratus barang.


“Aku penasaran dengan kalian berdua, apakah kalian ada hubungan spesial?” tanya David.


Jaden menggeleng, “tidak, apa maksudmu hubungan spesial?”


“Jangan bohong, sudah lama kalian seperti itu, aku tahu kamu dan Selen sering berduaan di tempat sepi. Aku sebenarnya tidak melarang, aku juga tidak terlalu mempermasalahkannya, hanya saja Selen itu putri Kaisar, suatu saat dia harus menikah dengan pangeran lain dan menjadi Ratu, kamu tidak mau Selen mejadi rakyat biasa bersama mu kan? dia dari kecil biasa hidup mewah, dia tidak akan bisa mengimbangimu, Jaden.”


Setelah mengucapkan itu, David kembapi ke tenda, membangunkan teman-teman yang lain.


Sedangkan Jaden kembali memasak untuk sarapan. Dia memikirkan ucapan Jaden, dan Jaden tidak salah. Meski Selen sudah mengucapkan dia bisa hidup bersama Jaden, tapi Jaden tahu, selen mungkin tidak akan sanggup, dia biasa hidup mewah menjadi putri.


Setelah sarapan dan bersiap-siap, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Setelah agak sore, akhirnya mereka menemukan kota kecil yang indah bernama Arensvile, kota yang berada di pinggir hutan.


Itu adalah kota perdagangan dan wisata yang bagus, ada hutan-hutan cantik lain selain hutan yang sebelumnya, ada pula wisata pantai yang indah, bukit-bukit, sungai dan taman-taman. Karena itu, penduduk kota lain suka sekali datang, jadi pedagang makanan jalanan itu bebas disana. Yang membutuhkan ijin itu jika menggunakan toko atau menjual sesuatu yang lebih mahal.


Bisa dikatakan mahal jika harganya diatas satu keping perak kecil.


Oh iya, di dunia ini, mulai dari bawah ada uang perunggu kecil, perunggu sedang, perunggu besar, perak kecil, perak besar, emas kecil, emas sedang dan emas besar.

__ADS_1


Orang-orang yang memiliki emas besar, biasanya hanya bangsawan tinggi atau kerajaan saja.


Wisata paling dekat dengan hutan yang mereka lewati sebelumnya adalah sungai Arenze, itu sungai cantik yang dekat dengan hutan Arenze, warga suka sekali berwisata di tempat itu apalagi saat hari libur.


Ternyata di dunia itu ada hari libur juga, karena mereka ada banyak yang bekerja di toko-toko besar, rumah bangsawan, atau anak-anak sekolah jika memiliki uang lebih.


Yang masih bekerja biasanya orang-orang yang mencari uang dengan berdagang makanan atau minuman di tempat wisata saja. jadi toko-toko di kota juga rata-rata sedang tutup.


Kota tersebut cukup ramai karena merupakan perbatasan antara Kekaisaran dan juga Elvestra, jadi kota Arensville cukup terkenal menjadi kota wisata dan perdagangan. Ada banyak spot-spot menarik disana. Ramai juga dengan pertokoan.


Jaden lega telah sampai di kota kecil tersebut.


Mereka pun memesan kamar di penginapan, setelahnya jalan-jalan di sekitar sana.


Pertama-tama mereka pergi ke pantai, disana terdapat banyak perahu-perahu nelayan, lalu di sisi lain pantai ada juga yang bersih dan menjadi wisata. Pertokoan di tepi pantai juga banyak.


Ada yang menjual ikan-ikan, ada yang menjual rempah, ada yang menjual perhiasan dan pajangan kerang, dan lain-lain.


Jaden memutuskan untuk membeli beberapa ikan, cumi-cumi, gurita, tiram, dan lobster untuk persediaan makanan.


Sementara Jaden sibuk belanja, yang lain main di pantai dengan asyik, ada pula yang belanja perhiasan dan pajangan kerang.


Jaden ingat nuansa pantai seperti itu sering dia kunjungi, ramai, indah, tapi sayangnya saat itu Jaden kurang menikmati semuanya. Dia hanya sibuk dengan pekerjaannya, dan juga banyak orang mengenalnya dan membuatnya risih.


Langit sore pun akhirnya datang, mentari mulai tenggelam. Jaden melihatnya sambil duduk di tepi pantai, tidak lama kemudian Selen mendekat dan memeluk lengan Jaden, serta menyandarkan kepalanya di bahu Jaden.


“Selen?”


“Tidak apa, aku lelah menyembunyikan semuanya dari yang lain, lebih baik kita tunjukkan saja” ucap Selen.


“Baiklah.”


Saat itu, Jaden kembali memikirkan ucapan David, dia juga mulai mempertanyakan apakah dia benar-benar mencintai Selen atau tidak?

__ADS_1


Tapi sekeras apapun Jaden mencari jawaban, dia tetap tidak bisa menemukannya.


Mungkin, Jaden masih tidak bisa sepenuhnya mempercayai orang lain, apalagi jika itu menjadi pasangan hidup untuk selamanya. Ingatan tentang dirinya dikhianati masih menghantuinya.


Jika itu teman seperti David, Kevin, Sam atau June, Jaden masih bisa mempercayai mereka, lagipula mereka tidak akan bersama dengan dia selamanya. Tapi jika itu menikah... sepertinya Jaden harus memikirkan lebih matang lagi.


Lagipula, Jaden datang ke dunia itu untuk menikmati hidupnya, bukan untuk dikhianati untuk yang kedua kalinya.


Tiba-tiba, suasanya menyenangkan tersebut berubah menjadi suasana mencekam hanya dalam waktu singkat. Jeritan dari warga sekitar membuat suasana terdengar semakin genting.


Jaden berdiri dari duduknya, menatap pada sesuatu yang membuat mereka ketakutan.


Terlihat kraken yang sangat besar berenang menuju daratan.


Shino berlarian menuju Jaden dengan raut wajah... kenapa dia terlihat bahagia sekali?


“Jaden! lihat itu! Ayo kita masak itu, pasti enak sekali!!” teriak Shino sambil meloncat-loncat dan menunjuk-nunjuk kraken.


“Apa kau sudah gila?”


Bukannya menjawab, Shino langsung menarik lengan Jaden.


“Selen! Pergilah ke tempat penginapan saja, biar kami yang menangani disini!” teriak Jaden.


Maid menghampiri Selen dan meminta tuan putrinya untuk kembali ke penginapan saja.


“Tidak, aku mau melihatnya!”


“Tapi disini berbahaya tuan putri!”


“Kamu lupa jika aku ini memiliki nilai bagus di akademi? Aku tidak selemah itu!” Selen menepis tangan maid lalu kembali melihat pada kraken, monster laut yang sangat besar dan sering ditakuti warga terutama yang dekat dengan laut.


“Baru kali ini aku melihat kraken!” ujar Selen, sama seperti Shino, dia juga terlihat bahagia, bukannya ketakutan.

__ADS_1


.


.


__ADS_2