Reinkarnasi Menjadi Pangeran Terbuang

Reinkarnasi Menjadi Pangeran Terbuang
Membantu melepaskan nimfa


__ADS_3

.


.


Saat sarapan pagi bersama anggota kerajaan, Jaden melirik Abel dengan perasaan tidak menentu, terutama setelah nimfa meniru wajah dan tubuh Abel kemudian menggoda Jaden dengan penampilan seksi. Sekarang Jaden jadi merasa canggung dengan Abel.


Untuk saat ini, Jaden masih meninggalkan nimfa dan para peri di dalam hutan kerajaan, dia masih harus berunding dengan teman-temannya, terutama Abel dan Shino. Karena takutnya, Jaden yang ditipu oleh nimfa.


Jadi setelah dari hutan, Jaden kembali lagi ke rumah pohon, kemudian sarapan bersama yang lainnya.


Anggota kerajaan terlihat baik pada mereka, tidak ada tanda-tanda mereka jahat. Tapi, bisa saja itu cuma kedok mereka, karena tidak mungkin mereka bersikap buruk di depan putri Kaisar.


Setelah sarapan selesai, Jaden mengumpulkan teman-temannya lalu menceritakan tentang nimfa.


“Tadi pagi-pagi sekali, sekitar jam empat pagi, saat mentari belum terbit, aku diculik oleh seseorang yang menyerupai Abel, dia membawaku ke dalam hutan, ternyata itu nimfa, aku ingat tentang nimfa yang Shino ceritakan, jadi aku bisa langsung mengenalinya. Dia mengatakan tentang dia dikurung di dalam hutan dan kekuatannya diperas kerajaan, dia juga harus mempekerjakan peri-peri kecil, apa itu benar? Dia memintaku untuk menolongnya” ucap Jaden.


Abel mengernyitkan dahinya, “dia mirip aku?” tanya Abel.


“Bisa jadi itu benar, karena nimfa bisa digunakan untuk mengendalikan para peri, kekuatan sihir mereka juga besar, itu bisa saja terjadi” sahut Shino.


“Tapi aku tidak pernah mendengar tentang itu, aku hanya pernah mendengar kerajaan ini memperoleh kekuatan dari suatu sumber yang rahasia, mungkin yang tahu hanya Raja,” ucap Abel.


Shino menggeleng pelan, “tidak, aku sudah melihat Raja Elvestra dan tidak melihat kekuatan nimfa atau peri disana, tapi... ada seseorang yang memiliki kekuatan tersebut” ucap Shino.


Abel mengernyitkan dahinya, “Oh ya? Siapa itu, katakan!”


“Tunggu dulu! Jadi itu benar ada yang memanfaatkan nimfa dan mengurung di hutan kerajaan?” tanya June.


“Aku jadi penasaran” sahut Selen.


“Tidak, jangan penasaran!” ucap Jaden, Selen mengernyitkan dahinya kesal, “kenapa sih?”


“Itu benar, aku melihat ada kekuatan lain, tapi aku tadinya berpikir itu sudah biasa, karena elf kan memang berhubungan dengan peri” ucap Shino.


“Jadi itu siapa?” tanya Jaden.


“Pangeran mahkota” jawab Shino.


Abel menundukkan kepalanya, pangeran mahkota, atau penerus dari kerajaan Elvestra tidak menyukai Abel, terutama sejak Abel membuat inovasi teknologi dan membuat Raja menyukainya.


Seingat Abel, pangeran Alexis, atau pangeran mahkota, tidak memiliki kekuatan besar saat masih kecil. Tapi setelah Abel membuat beberapa inovasi untuk membantu kerajaan, kekuatan tersebut tiba-tiba ada. Setelahnya, Alexis banyak disanjung, lalu disebut sebagai calon raja terkuat, hingga kemudian dinobatkan sebagai pangeran mahkota.


Abel sendiri tidak mau berpikir panjang, dia hanya ingin hidup tenang, bukan mendapatkan kekuasaan. Bahkan Alexis tidak terlalu setuju saat Solon datang meminta untuk bertunangan dengan Abel. Itulah kenapa Abel dan Solon belum bertunangan, Alexis membuat syarat bolehnya bertunangan hanya setelah Abel lulus dari akademi.


Alexis memang aneh, tapi dia tidak pernah menyangka jika Alexis akan menggunakan nimfa dan para peri untuk mendapatkan kekuatan, padahal kekuatan asli Alexis juga sudah cukup.


Apalagi, Alexis itu elf murni, bukan half elf seperti Abel.


TAP!

__ADS_1


Abel tersentak saat Selen tiba-tiba menepuk bahunya.


“Abel, kenapa melamun?” tanya Selen.


“Ah, it-itu... aku hanya berpikir, sepertinya memang benar Alexis yang melakukannya” ucap Abel.


“Apa kamu tahu sesuatu tentang dia?” tanya Kevin.


Abel mengangguk pelan, kemudian bercerita tentang Alexis yang membencinya dan tiba-tiba memiliki kekuatan besar.


Setelah mendengar cerita Abel, Jaden memutuskan untuk membantu nimfa pergi dari sana.


“Tapi bagaimana caranya melepaskan nimfa?” tanya Jaden.


“Itu agak sulit, Jaden... mereka dikurung dengan mengambil batu inti dari dalam tubuh mereka, itu seperti jantung pada manusia, hanya bedanya, jika batu inti diambil dari tubuh nimfa, biasanya mengambil dengan sihir, nimfa tetap bisa hidup, bisa lenyap jika batu inti dihancurkan, jadi harusnya Alexis memiliki batu inti tersebut” ucap Shino.


“Biar aku yang mengambilnya dari Alexis” ucap Abel, dia pun berdiri hendak pergi.


“Tunggu! Aku ikut juga, Abel! Alexis menyukaiku” sahut Selen, dia juga ikut berdiri.


“APA?” teriak Jaden tiba-tiba.


Selen menoleh pada Jaden, “kenapa? Dia memang menyukaiku, berkali-kali memintaku menjadi calon ratunya” ucap Selen dengan santainya.


“Sejak Selen kecil memang pangeran Alexis mengincar Selen, jika tahu kalau Selen memiliki kekasih, dia pasti marah besar” timpal David, yang tentu saja menyindir Jaden.


“Kalau begitu, aku juga ikut untuk mengawasi saja” Jaden pun ikut berdiri.


“Setuju!” sahut David semangat.


***


Istana Elvestra sangatlah besar, suasana putih dan hijau sangat mendominasi design, memiliki khas yang entah kenapa tidak terasa membosankan.


Abel membawa Jaden dan Selen ke kamarnya terlebih dahulu.


“Aku tidak ingin Jaden terlihat saat bertemu Alexis, jadi pakailah ini,” Abel memberikan sebuah gelang pada Jaden. itu adalah gelang dengan batu sihir sebagai hiasan.


“Apa ini?”


“Itu akan membantumu tidak terlihat dan tidak terdeteksi, bisa berfungsi satu jam setelah di pakai.”


Jaden pun memakai gelang tersebut, Selen terkejut saat tiba-tiba Jaden menghilang.


“Ja-jaden? kau masih disini?” tanya Selen.


Kemudian Jaden menyentuh bahu Selen, membuat Selen hampir berteriak.


“Ini aku!” suara Jaden masih bisa terdengar.

__ADS_1


“Ingat untuk tidak mengatakan apapun, Jaden, ayo kita berangkat ke kamar Alexis” ucap Abel.


Mereka pun pergi kekamar Alexis, Jaden mengikuti di belakang mereka.


“Jaden tunggu disini, jika Alexis datang, usahakan untuk menahannya, ayo Selen!”


Abel memiliki kunci kamar Alexis, jadi mudah saja untuk masuk, dia menarik lengan Selen agar masuk ke dalam kamar Alexis.


Kamar itu memiliki banyak sekali barang, beberapa diantaranya berharga.


Bahkan, Abel menemukan salah satu barang miliknya yang dia cari bertahun-tahun tapi ternyata ada disana, yaitu kalung ruby peninggalan ibunya, kalung itu memiliki sihir khusus. Abel merebut kalung kembali dan mengantonginya, sebenarnya dia marah karena kalung itu ternyata ada bersama Alexis, dia memang sangat menyebalkan.


“Batu inti itu seperti apa Bel?” tanya Selen.


“kalau tidak salah warnanya ungu, seperti berlian, keras, berkilauan... cantik juga” ucap Abel.


“Oh, apa seperti itu?” Selen menunjuk ke atas, sebuah pajangan yang cukup tinggi.


Dengan sihir, Abel menurunkan pajangan tersebut, “sepertinya kamu benar, ini batu intinya, besar juga ya.”


Batu inti itu seukuran genggaman tangan Abel.


“Ayo kita keluar sebelum kakakmu datang!” ucap Selen.


Abel mengangguk, menyimpan batu inti ke kantung yang dia bawa lalu keluar kamar Alexis.


Namun, mereka tidak beruntung, karena setelah keluar kamar, pemilik dari kamar tersebut malah baru datang.


“Sedang apa kalian keluar dari kamarku?” tanya Alexis, dia terlihat marah, tapi menahannya setelah melihat ada Selen.


Selen buru-buru maju dan tersenyum manis pada Alexis.


“Sebenarnya kami mencarimu, kamu pikir kamu ada di dalam kamar, aku sedang ingin berjalan-jalan di sekitar sini, mau kah kamu mengantarku?” tanya Selen.


Mendengar itu, tentu saja Alexis sangat senang.


“Boleh! tentu saja boleh, ayo berangkat! Akan ku ajak kamu berkeliling!”


Selen menarik Alexis untuk pergi dari sana.


“Jaden?” bisik Abel.


“Iya? Aku disini” Jaden menyentuh bahu Abel.


“Oh, Ambil batu ini, lalu berikan pada nimfa, dia akan otomatis terbebas setelah mendapatkan batu intinya kembali, biar aku yang menemani Selen dan mengawasinya, cepat ya!”


“Baiklah, jangan sampai Alexis menyentuh Selen, ya!”


“Iya, jangan khawatir.”

__ADS_1


.


.


__ADS_2